Karamel terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam dan kepala nyeri seperti dihantam palu Thor. Ia memegangi kepalanya sembari berjalan tertatih keluar dari kamar untuk mengambil minuman.
Pukul berapa sekarang? Ia bahkan lupa bagaimana ceritanya bisa tidur di kamar setelah dibuat ternganga oleh lelaki bernama Jeki yang tak hanya partnernya di kantor, melainkan juga tetangga sebelah rumahnya. Pas bersebelahan dengannya.
Sempurna sekali! Jadi dia harus berhati-hati mulai sekarang, karena bahkan kamarnya berhadapan dengan kamar si Jeki.
“Aw! Sakit banget ini kepala.” Karamel mengobrak-abrik sebuah kotak yang biasa menjadi tempatnya menyimpan obat-obatan jika tiba-tiba dia merasakan sakit seperti saat ini.
Biasanya ada asisten rumah tangga yang akan mengurusnya, tetapi untuk kali ini setelah pindah ke rumah baru, ia memutuskan untuk tidak menggunakan jasa ART melainkan melakukan segalanya seorang diri. Entah mampu atau tidak. Karena biasanya ia hanya duduk-duduk, dan hanya tinggal tunjuk setiap kali menginginkan sesuatu.
“Kalau lagi sakit gini baru deh kerasa butuh pembantu,” gerutunya, lantas merebahkan tubuhnya di lantai karena tak berhasil menemukan apa yang dia cari.
Dia tidak peduli pukul berapa sekarang, pastinya dia tidak mungkin masuk bekerja dengan kondisi kepala yang nyut-nyutan.
Sementara itu, Jeki yang sudah sejak setengah jam lalu tiba di kantor dan di ruangan kerja mereka, tak menemukan kehadiran Karamel dan mengira gadis itu pasti akan terlambat lagi. Ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum tuntas kemarin.
Namun, setelah berlalu satu jam, tak juga tampak-tanda-tanda kehadiran Karamel dan itu membuatnya sedikit cemas.
Ia lantas bangkit dan melangkah cepat menuju ke ruangan HRD dan menemui salah satu pegawai di sana.
“Mbak, punya nomor mbak Kara, gak?” tanya Jeki, pada pegawai perempuan yang tengah sibuk memusatkan perhatian pada tumpukan kertas di hadapannya.
“Karamel anaknya Pak Satriyo?” tanya perempuan itu. Jeki mengangguk cepat. “Kenapa emang tanya-tanya nomor Karamel? Ati-ati, lho ... dia itu galak dan anti sama cowok.”
Mendengar peringatan dari pegawai HRD, Jeki justru tergelak. Pegawai HRD itu menggulir ponselnya, lantas menunjukkan layarnya pada Jeki yang segera mengetik dan menyimpan nomor tersebut pada perangkat pintar miliknya.
“Saya tahu dia galak, Mbak. Tapi masak ada yang bisa menolak pesona Jeki? Masak saya kurang ganteng, ya?” timpalnya, pongah dan dijawab cebikan oleh pegawai tersebut.
“Berani taruhan sama aku? Kalau berhasil nggaet Karamel, aku kasih kamu jempol dua. Empat deh sama jempol kaki!” kelakarnya.
“Males kalau jempol, gak bisa ditukerin sama duit. Ya udah, Mbak. Saya balik ke ruangan dulu. Makasih nomornya, ya.”
Jeki bergegas kembali ke ruangannya khawatir kalau Karamel ternyata datang dan bisa mengamuk kalau melihat tidak ada siapa-siapa di ruangan, meski ternyata tidak ada siapa pun di sana.
“Ke mana dia, ya? Apa dia udah nyerah sama hukuman bapaknya, sampai-sampai nekat bolos?”
Jeki sudah mencoba menghubungi Karamel berulang kali, tetapi tak ada jawaban dari gadis itu. Ia mulai cemas, karena Karamel baru pindah ke rumah barunya dan Jeki tahu kalau perabotan miliknya belum lengkap.
Jangan-jangan Karamel pingsan karena kelaparan sehingga tidak bisa masuk kantor. Atau mungkin terkunci di dalam karena tidak tahu cara menggunakan pintu yang dilengkapi dengan pemindai sidik jari itu.
Berbagai pikiran absurd membuat Jeki tak tenang.
Ia akhirnya mengambil jaketnya dan memutuskan untuk pulang demi memastikan kondisi Karamel. Ia harus tahu kalau gadis itu baik-baik saja.
Ia mengendarai motor sport-nya melewati warteg langganannya dan mampir untuk membeli sebungkus nasi campur untuk Karamel, kemudian bergegas menemui gadis itu.
Ia mengetuk beberapa kali tetapi tidak ada jawaban, hingga ia memutuskan kembali menghubungi nomor milik Karamel.
“Mbak Kara ... ini saya, Jeki! Tolong buka pintunya. Mbak Kara baik-baik aja, kan? Mbak ....”
Tak berapa lama, yang Jeki harapkan terjadi. Pintu terbuka dan menampakkan wajah Karamel yang pucat dan tampak kesakitan.
***
Jeki baru menyuapkan suapan ketiga, tetapi Karamel sudah menolak makanan yang Jeki berikan. Kepalanya terasa berdenyut tak karuan. Mungkin karena dia terlambat makan, atau mungkin masuk angin karena tidur terlalu malam.
“Minum dulu obatnya, Mbak.” Jeki menyodorkan obat yang dia beli dengan tergesa di minimarket setelah tahu kalau Karamel ternyata mengalami sakit kepala hebat.
Ia tidak tega melihat gadis itu beberapa kalo hanya meringis sembari memegang kepalanya. Kelihatan sekali kalau Karamel tidak pernah tinggal sendiri sebelumnya.
“Saya hubungi pak Satriyo ya, Mbak,” tawar Jeki, tetapi Karamel dengan cepat menolaknya.
“Gak usah! Gue udah gapapa, cuma sakit kepala gini aja. Udah makan, udah minum obat, pasti entar mendingan,” jawabnya. Masih tetap terdengar ketus, meski agak lemah dibanding biasanya.
Karamel melirik lelaki di sampingnya yang hanya tertunduk, membuatnya jadi sedikit merasa bersalah.
“Maaf, harusnya gue gak ketus sama lo.”
Lelaki itu menyunggingkan senyum tipis, memaklumi sikap Karamel yang mungkin tak nyaman berada dekat dengan orang asing. Bagaimana pun, dia dan Karamel baru saling mengenal beberapa hari belakangan. Sangat wajar jika memang itu yang dirasakan oleh gadis itu.
“Gak apa-apa, Mbak. Sepertinya saya juga terlalu berlebihan. Saya Cuma panik dan agak cemas waktu tahu Mbak Kara sakit,” jawabnya, masih tertunduk. “Ya, udah kalau begitu. Saya pamit dulu.”
“Mau ke mana?”
“Balik ke kantor. Tadi saya tinggalin gitu aja kerjaannya pas Mbak Kara saya telepon tapi gak jawab. Saya takut terjadi apa-apa, karena Mbak Kara juga baru aja pindah.”
Tidak ada respon balasan dari Karamel selain gumaman tak berarti ia akhirnya membiarkan Jeki pergi setelah membereskan nasi bungkus yang ada di meja, ia simpan di meja makan dan kotak yang berserakan saat Karamel mencari obat beberapa jam lalu.
Karamel merasa bersalah ketika melihat kebaikan Jeki, tetapi perasaan tidak nyaman yang selalu ia rasakan setiap kali berada dekat dengan lelaki membuatnya harus menepis perasaan itu.
Jeki adalah laki-laki, jadi bagaimana pun, dia tidak akan menderita kerugian meski Karamel bersikap ketus terhadapnya. Begitulah yang Karamel pikirkan.
Dan hingga motor sport itu bergerak menjauh dari halaman rumahnya, Karamel tidak berkata apa pun bahkan sekadar ucapan terima kasih.
Biar saja. Mereka masih bisa bertemu keesokan harinya. Atau ... sekali waktu Karamel bisa mengundang Jeki untuk sekadar ngobrol di rumahnya sebagai bentuk lain dari ucapan terima kasih yang tertunda.
***
“Halo. Ada apa, Pa? Tumben nelpon?” sapa Karamel melalui sambungan telepon. Ayahnya tengah berbicara di seberang dan dari nada bicaranya, terdengar kalau lelaki paruh baya itu tengah mencemaskan dirinya.
“Jeki bilang kamu lagi sakit,” ucap sang bos besar di keluarga Karamel, sekaligus di perusahaan.
Karamel hanya memutar bola matanya sembari menggerutu dengan suara lirih. Namun, sang ayah tentu saja mendengar sedikit yang dia katakan.
“Siapa yang ember?” tanya sang ayah.
“Jeki, lah! Siapa lagi? Aku udah bilang gak usah ngomong apa-apa sama Papa, malah dia aduin. Emang dasar ember!”
Mendengar perkataan gak pakai rem yang terlontar dari putri semata wayangnya itu, bukannya marah, Satriyo justru tergelak. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, heran dengan putri tunggalnya yang tidak bisa sedikit saja bersikap lemah lembut.
“Dia mencemaskan kamu, Kara. Jangan malah marah-marah begitu.”
“Tapi aku gak suka! Apalagi kalau Papa sampe ikutan bocor bilang ke mama. Aku bakal marah sama Papa dan mogok kerja!”
Satriyo menggeleng heran sembari mendesah panjang. Jika Karamel masih sering bersikap kekanakan, itu adalah kesalahannya dan juga Monika, sang istri. Mereka memang terlalu memanjakan Karamel sejak kecil. Untungnya, setelah dewasa Karamel justru tidak suka terlalu dikekang dan dimanjakan.
Sebagai bukti bahwa dia bisa menjalani hidup yang mandiri, ia membeli rumah dengan tabungannya dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Terlebih setelah usianya menginjak tiga puluh tahun. Sudah saatnya Karamel memiliki kebebasan dan kehiduoannya sendiri
“Kara ... Kara. Udah dewasa kok masih ngamukan,” ujar Satriyo dengan logat jawanya yang kental. “Ya sudah. Papa mau lanjut kerja dulu. Kamu baik-baik di rumah. Apa mau papa minta bi Sumi buat bantu kamu di sana?”
“Iya, boleh. Tapi, biar bi Sumi berangkat sendiri ke sini. Gak usah dianterin.”
“Lho, kalau nyasar gimana, Kara?”
“Ya, entar sampe terminal biar aku jemput. Papa sama mama gak usah rempong. Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Bisa lakuin semua sendiri.”
Satriyo menghela napas berat.
Memang benar apa yang dikatakan oleh putrinya, bahwa dia bukan lagi anak-anak yang harus dimanja dan disiapkan segala sesuatunya. Namun, namanya orang tua, bagaimana pun tetap saja akan cemas dan kepikiran kondisi anaknya. Terlebih, ini adalah pertama kalinya Karamel tinggal seorang diri.
Karena itu, Satriyo merasa sedikit lebih tenang dengan adanya Jeki sebagai tetangga Karamel. Setidaknya, sikap Jeki yang suka membantu bisa berguna jika sewaktu-waktu Karamel mengalami kesulitan.
Setelah permintaannya disetujui oleh sang ayah, Karamel bersiap untuk menjemput bi Sumi di terminal. Sayangnya, belum sempat dia menyalakan mesin mobilnya, terdengar suara deru motor Jeki berhenti di halaman rumahnya.
***
“Papa kebiasaan banget!” gerutu Karamel, yang membuat Jeki tersenyum memandangi wajah Karamel yang cemberut.
Semakin memberengut, wajah Karamel tampak semakin menggemaskan di mata Jeki.
“Pak Satriyo cuma khawatir sama Mbak Kara, karena kan lagi sakit,” jawabnya dengan intonasi yang menenangkan dan terdengar hangat. “Kepalanya sudah gak sakit lagi? Sudah gak demam lagi, kan?”
Karamel sesekali melirik ke arah lelaki rupawan yang berdiri tak jauh darinya, di teras rumah. Karamel memang sengaja tidak menawarinya untuk masuk. Sudah sore dan ia ingin sekali kembali berbaring di kasur empuknya.
Sayang, si Jeki masih juga berdiri di sana seolah sengaja berlama-lama.
“Sudah mendingan, kok. Thanks udah bantuin gue.”
“Sama-sama, Mbak. Syukurlah kalau Mbak Kara udah mendingan. Gak usah masuk kerja dulu. Input datanya sudah saya selesaikan. Tinggal kurang untuk yang tahun dua ribu dua dua.”
Mendengar penjelasan Jeki, bola mata Karamel nyaris mencelus karena tidak percaya kalau lelaki itu sudah melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra itu dengan cepat. Mungkin lain waktu Karamel harus mempertimbangkan untuk memberi Jeki bonus atas kerja kerasnya.
“Ya, udah kalo gitu. Gue masuk dulu. Sekali lagi makasih, ya. Lo balik, gih! Pasti capek, kan, pulang kerja dan seharian bolak-balik karena bantuin gue?”
Jeki mengangguk, pamit. Karena tak mungkin dirinya berlama-lama kalau sang tuan rumah tidak mengizinkannya masuk untuk sekadar mampir.
Ia kemudian memutar tubuh dan mulai menuntun sepeda motornya. Toh, jarak antara rumahnya dan Karamel tidak terlalu jauh, jadi tidak perlu menyalakan mesin, dia bisa sampai di rumah dengan cepat.
Baru hendak melangkah, tetangga yang juga merupakan calon atasannya itu memanggil.
“Jeki, gimana kalau mampir bentar? Bi Sumi bawa kue dari rumah papa, aku gak mungkin habisin semua sendiri.”
Mendengar tawaran Karamel, senyum Jeki terkembang. Sayangnya, saat selesai memarkir motor dan hendak melangkah, seseorang menarik lengan Jeki dan menghalangi dirinya untuk mengekor langkah Karamel masuk ke dalam rumah.