Hujan sudah berhenti sejak tadi malam, tapi jejaknya masih tertinggal di trotoar, di kaca jendela, dan di udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Matahari enggan bersinar cerah, seperti masih segan menyingkirkan suasana sendu dari kemarin. Elira membuka jendela kamar kosnya perlahan, membiarkan udara lembap masuk dan mengalirkan rasa dingin ke kulit wajahnya.
Matanya menatap langit yang masih kelabu, lalu beralih ke tanaman kecil di pot jendela yang sempat ia lupakan beberapa hari terakhir. Daunnya basah, seperti ikut menangis semalam.
Pikirannya masih penuh. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Pertemuan itu dengan Arel masih tertinggal jelas di kepalanya. Tatapan mata pria itu, sikap dinginnya, dan kata-kata terakhir yang diucapkan sebelum melangkah pergi. Bukan kebencian yang Elira rasakan. Bukan pula penolakan. Tapi semacam dinding tak terlihat yang terbangun di antara mereka. Dinding yang entah bisa diruntuhkan atau tidak.
Ia duduk di pinggir kasur, memeluk lututnya sendiri. Di dalam diam, pikirannya kembali memutar kenangan-kenangan yang pernah ia kubur. Tentang Arel, tentang tawa mereka di masa lalu, tentang malam-malam yang mereka habiskan hanya dengan berbicara tanpa lelah. Tentang perpisahan yang tidak pernah diakhiri dengan kata selamat tinggal.
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Dira.
Dira: "Lu masih hidup nggak? Gue mau traktir sarapan. Jangan nolak."
Elira tersenyum tipis. Jari-jarinya bergerak cepat.
Elira: "Oke. Tapi jangan ngajak bahas kemarin."
Dira: "Gue nggak janji."
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah duduk di sebuah warung kopi kecil dekat kampus. Dira memesan dua kopi s**u dan sepiring roti bakar keju. Elira hanya memainkan sedotan di dalam gelasnya, sesekali menatap luar jendela yang basah.
“Gue liat cara lo ngelihat Arel kemarin,” kata Dira, tanpa basa-basi.
Elira tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menyeruput sedikit kopinya.
“Dan gue juga liat cara Arel liat lo. Itu bukan tatapan orang yang udah lupa.”
Elira menghela napas. “Tapi itu juga bukan tatapan orang yang siap memaafkan.”
Dira mengangguk pelan. “Makanya, pelan-pelan aja. Tapi jangan berhenti.”
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, kecuali bagi Elira. Setiap langkah menuju kampus terasa seperti melintasi medan ranjau. Ia tidak tahu kapan akan bertemu Arel lagi. Tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau itu terjadi. Tapi yang pasti, rasa gugup itu selalu ada.
Dan seperti menjawab kecemasannya, hari itu, Arel muncul.
Di perpustakaan kampus, tepat saat Elira sedang memilih buku referensi seni, seseorang berdiri di ujung lorong rak buku. Arel. Dengan hoodie abu dan celana hitam, rambutnya sedikit berantakan, dan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Mereka sama-sama terkejut. Tapi tidak ada yang berpaling.
“Hai,” sapa Arel lebih dulu, suaranya pelan.
“Hai,” balas Elira, sambil mencoba tersenyum.
“Kamu masih suka baca buku-buku seni?”
Elira mengangguk. “Masih. Nggak banyak yang berubah, kayaknya.”
Arel mengangguk pelan. “Itu bagus.”
Hening. Tapi tidak semenyesakkan seperti dulu. Entah karena tempatnya atau karena mereka sama-sama berusaha.
“Dulu kamu yang ngenalin aku sama buku mural Spanyol itu, inget nggak?” tanya Arel tiba-tiba.
Elira menatapnya. “Iya. Kamu bilang muralnya mirip isi kepala aku yang berantakan.”
Mereka tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara itu kembali terdengar.
“Boleh aku bayar kopi kamu besok?” tanya Arel. “Sebagai ganti... masa lalu yang belum dibayar.”
Elira tidak langsung menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang mekar perlahan.
“Boleh.”
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi. Kali ini di kafe tempat Elira biasa bekerja. Arel datang tidak lama setelah Elira selesai shift. Ia menunggu di meja pojok, membaca sesuatu dari laptopnya. Wajahnya lebih tenang. Dan untuk pertama kalinya, Elira merasa bisa bernapas lebih longgar.
“Pesan apa?” tanya Elira sambil duduk di seberang.
“Kopi hitam. Sama kue coklat itu. Kamu masih suka?”
“Masih. Selera manisku nggak berubah.”
Percakapan itu berlangsung lebih lama dari yang mereka kira. Dari kopi pertama, berlanjut ke dua gelas, lalu ke cerita-cerita lama yang perlahan muncul lagi ke permukaan. Mereka membicarakan teman-teman lama, guru yang menyebalkan, proyek seni yang gagal, dan malam ketika mereka pernah lari dari acara perpisahan karena hujan turun deras.
“Waktu itu kita basah kuyup,” kata Arel sambil tertawa. “Tapi kita malah duduk di emperan toko dan makan mi instan bareng.”
“Kita bodoh, ya.”
“Bukan bodoh. Bebas.”
Tawa mereka mengisi ruang. Pelan, tapi hangat. Tidak ada pembicaraan serius. Tidak ada kata maaf lagi. Hanya dua orang yang pernah saling menyakiti, kini mencoba untuk tidak saling menjauh.
Saat Elira berjalan pulang malam itu, langit cerah. Tidak ada hujan. Tapi dadanya terasa penuh. Bukan karena luka, tapi karena harapan yang mulai tumbuh.
Ia tahu ini belum berarti apa-apa. Tapi satu langkah kecil sudah cukup untuk membuatnya yakin. Bahwa mungkin, hanya mungkin, tidak semua yang patah harus dibuang.
Beberapa hari setelahnya, giliran Arel yang terlihat lebih aktif. Ia tidak langsung menghubungi Elira, tapi mulai membalas pesan-pesan pendek yang dikirim Elira di hari-hari biasa. Sekadar bertanya kabar, mengomentari story, atau menyebutkan lagu yang dulu mereka suka. Bagi Elira, itu seperti embun di pagi hari. Tidak banyak, tapi menyegarkan.
Suatu sore, Arel duduk bersama Rayhan dan Gio di taman kampus. Mereka membawa kopi dan cemilan, membahas tugas, politik kampus, dan sedikit tentang perempuan. Ketika Gio menyebut nama Elira secara tiba-tiba, Arel tidak langsung menyangkal atau mengganti topik.
"Gue liat lo duduk bareng dia kemarin," kata Gio. "Wajah lo nggak sedingin biasanya."
Arel hanya mengangkat bahu. "Gue nggak tahu harus gimana. Dia berubah. Tapi gue masih takut."
Rayhan mengangguk. "Takut itu wajar. Tapi jangan sampe rasa takut lo nutupin semua peluang."
"Gue cuma... nggak pengen jatuh ke tempat yang sama lagi."
"Mungkin lo nggak akan jatuh," ucap Rayhan tenang. "Mungkin lo akan terbang kalau lo mau percaya."
Arel diam. Tapi kata-kata itu membekas. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi malam itu ia duduk lama di depan laptopnya, menulis sesuatu yang akhirnya ia kirim ke Elira.
"Besok sore, kamu kosong? Mau bantu aku foto-foto tugas desain buat pameran. Lokasinya tempat lama. Kalau kamu nggak nyaman, nggak apa."
Butuh waktu tiga menit sebelum Elira membalas. Tapi saat balasannya datang, Arel tersenyum pelan.
"Boleh. Aku suka tempat lama itu."
Mereka akan bertemu lagi. Di tempat yang dulu pernah menjadi saksi awal cinta mereka. Di mana semuanya pernah dimulai. Dan mungkin, akan dimulai kembali.
Sore itu, Elira menyiapkan kamera lamanya. Bukan DSLR atau mirrorless mahal seperti milik Arel, tapi kamera analog yang pernah mereka beli bersama di toko barang bekas dua tahun lalu. Kamera itu kini sudah agak berkarat di pinggirnya, tapi masih menyala, masih hidup. Seperti kenangan mereka yang ternyata belum benar-benar mati.
Ia mengenakan sweater hijau sage, celana krem, dan sepatu putih yang sudah mulai pudar warnanya. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup nyaman untuk bergerak. Di dalam tas kainnya, ia membawa beberapa roll film, catatan kecil, dan sebotol minuman.
Tempat yang dimaksud Arel adalah taman kecil di pinggir kota, dekat rel kereta yang sudah tak lagi aktif. Dulu, mereka sering datang ke sana hanya untuk melukis mural di dinding batu, atau sekadar berbagi cerita saat malam mulai larut. Tempat itu sepi, nyaris tidak pernah ada orang kecuali mereka berdua.
Ketika Elira tiba, Arel sudah lebih dulu ada di sana. Ia tengah menyiapkan tripod di sisi jembatan tua, dengan beberapa properti desain berupa kain panjang dan papan kayu bergambar simbol abstrak. Musik pelan terdengar dari speaker portabel yang ia bawa, lagu-lagu instrumental yang biasanya menemani proses desainnya.
“Elira,” sapa Arel sambil melambaikan tangan. “Tepat waktu.”
“Belum lupa cara ke sini,” jawab Elira sambil mendekat.
Arel menunjuk ke salah satu papan. “Aku butuh kamu bantu pegang ini. Cahaya sore ini bagus banget. Nggak bisa aku lewatkan.”
Elira mengangguk dan segera membantu. Mereka mulai bekerja sama. Tidak banyak bicara, tapi gestur mereka saling memahami. Arel sesekali meminta Elira mundur sedikit, menoleh ke kanan, atau menggenggam sesuatu lebih erat. Elira menurut, tak keberatan. Justru ada rasa nyaman dalam kolaborasi diam itu.
Setelah satu jam, mereka beristirahat di bawah pohon besar. Duduk bersebelahan tanpa banyak jeda. Arel membuka botol air dan menyerahkannya pada Elira.
“Tempat ini masih terasa sama,” kata Elira pelan.
Arel mengangguk. “Tapi kita yang udah beda.”
Elira menatapnya. “Tapi juga nggak sepenuhnya.”
Mereka terdiam. Angin sore menyapu pelan rambut Elira. Di kejauhan, suara burung terdengar samar. Suasana begitu tenang, nyaris seperti dunia hanya milik mereka berdua.
“Waktu itu, aku marah banget,” ucap Arel tiba-tiba. “Tapi bukan cuma karena kamu pergi. Lebih karena kamu nggak pernah kasih alasan.”
Elira menunduk. “Aku nggak tahu cara ngomongnya. Dan aku takut... kalau aku jujur, kamu bakal makin benci.”
Arel menarik napas panjang. “Padahal yang aku butuhin cuma satu hal. Penjelasan.”
Elira mengangkat wajahnya. “Boleh aku jelasin sekarang?”
Arel menatapnya. Matanya tenang. “Boleh.”
Elira menggenggam kedua tangannya. “Waktu itu aku lagi jatuh. Bukan karena kamu. Tapi karena aku. Aku nggak percaya diri, ngerasa nggak layak. Dan saat itu... ada orang lain yang datang bukan karena aku lebih baik, tapi karena aku lemah. Aku salah pilih jalan. Dan aku tahu aku nyakitin kamu.”
Arel menunduk. Tidak langsung menjawab.
“Sekarang aku nggak minta dimengerti. Tapi aku pengen kamu tahu, aku nyesel. Bukan cuma karena kehilangan kamu, tapi karena aku kehilangan diriku sendiri.”
Arel mengangguk pelan. “Gue juga pernah salah. Gue terlalu diam. Terlalu percaya kalau semua baik-baik aja.”
Mereka saling menatap cukup lama. Lalu Arel tersenyum kecil.
“Kita bodoh, ya?”
“Bukan bodoh,” jawab Elira lembut. “Kita cuma muda dan terlalu takut.”
Mereka tertawa kecil. Arel lalu berdiri dan mengulurkan tangan.
“Ayo, masih ada beberapa foto lagi yang belum selesai.”
Elira menerima uluran tangannya dan berdiri. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang perlahan membaik. Mungkin ini bukan akhir dari kisah yang menyakitkan. Mungkin ini awal dari sesuatu yang belum punya nama. Tapi ia siap menunggu dan menjalani. Selama Arel juga mau berjalan bersamanya.
Sementara itu, seseorang mengamati mereka dari kejauhan. Seorang perempuan dengan jaket merah marun berdiri di balik batang pohon besar, memegang ponsel dan menatap ke arah Arel dengan pandangan tajam.
Namanya Clarisa.
Dan dia belum selesai.
Clarisa memandangi mereka dari balik pohon, giginya mengatup, dan jarinya mengepal kuat di sisi ponsel. Udara sore yang sejuk tidak cukup untuk menenangkan bara di dadanya. Ia menatap Elira seperti menatap mimpi buruk yang datang kembali setelah ia pikir telah dikubur. Jantungnya berdebar bukan karena gugup, tapi karena kemarahan yang menumpuk bertahun-tahun.
Ia ingat jelas malam ketika Arel memutuskan hubungan mereka tanpa penjelasan. Hanya satu kalimat pendek yang ia terima.
“Aku nggak bisa lanjut. Aku masih terikat sama masa lalu.”
Masa lalu itu ternyata bernama Elira. Gadis yang dulu pernah Clarisa dengar namanya, tapi tidak pernah sempat ia kenali. Dan kini, perempuan itu kembali. Bukan sebagai bayangan, tapi sebagai kenyataan yang berdiri di depan matanya.
Clarisa melangkah mundur. Ia tidak ingin terlihat hari itu. Belum. Tapi dalam kepalanya, sudah mulai tersusun rencana. Elira mungkin tidak tahu siapa dirinya, tapi ia tahu banyak tentang Elira. Termasuk hal-hal yang Elira sendiri mungkin tidak ingin Arel ketahui lagi.
Malamnya, Elira pulang dengan hati yang ringan. Ia belum tahu tentang Clarisa. Belum tahu ada bahaya yang sedang diam-diam mengamati langkahnya. Yang ia tahu, hari itu hatinya sedikit lebih tenang. Dan senyuman Arel masih terbayang jelas di benaknya.
Ia membuka jendela kamarnya dan memandang langit malam yang bertabur bintang. Angin membawa aroma tanah basah dan daun yang baru kering. Elira duduk di tepi jendela sambil membawa buku sketsanya. Ia membuka halaman baru dan mulai menggambar.
Kali ini bukan wajah, bukan kenangan, tapi sebuah tangan yang saling menggenggam. Di bawahnya, ia menulis kalimat kecil.
“Tidak ada pelukan yang lebih hangat dari pengertian.”
Ponselnya bergetar.
Arel: “Terima kasih hari ini. Rasanya seperti… pulang.”
Elira menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Elira: “Aku juga. Semoga kita bisa pelan-pelan bangun rumah baru. Meski pakai puing yang lama.”
Keesokan harinya, Clarisa mengirim pesan ke seseorang yang tersimpan di ponselnya hanya sebagai “Vano”.
Clarisa: “Gue punya sesuatu yang bakal lo tertarik. Tentang Elira.”
Balasan datang cepat.
Vano: “Akhirnya. Kirim alamat. Kita ketemu.”
Dan badai pun mulai menyusun awan di kejauhan. Tapi Elira belum tahu. Untuk saat ini, ia hanya perempuan yang sedang belajar berharap lagi. Dan Arel adalah seseorang yang perlahan membuka pintu lamanya untuk membiarkan cahaya masuk kembali.
Tapi tidak semua bayangan senang dengan cahaya.
Dan tidak semua luka siap untuk sembuh.