bc

Bertemu Lagi Setelah Terluka

book_age16+
18
FOLLOW
1K
READ
BE
fated
second chance
goodgirl
bxg
campus
like
intro-logo
Blurb

Elira pergi setelah melihat Arel dengan perempuan lain. Tanpa klarifikasi. Tanpa pamit.

Dua tahun kemudian, hujan mempertemukan mereka kembali—dengan luka yang belum sembuh dan rahasia yang belum dibuka.

Kali ini, pergi atau bertahan sama-sama menyakitkan.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Pertemuan di Tikungan Jalan
Hujan datang tanpa aba-aba, seolah langit menumpahkan seluruh beban yang disimpannya sejak pagi. Rintiknya deras, menampar atap-atap bangunan dan jalanan kota yang mulai lengang. Genangan air meluas di trotoar, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang lalu lalang dalam kilau remang. Suasana kota sore itu tidak berbeda dari biasanya. Tapi bagi Elira, semuanya terasa sedikit lebih berat. Langkahnya terburu, menjejak trotoar basah sambil menahan napas. Payung biru tua di tangannya terangkat tinggi, berusaha melindungi tubuh kecilnya dari hujan yang semakin liar. Jaket yang dikenakannya sudah basah di bagian lengan, dan celana panjang hitamnya dingin menempel di kulit. Wajahnya pucat, bukan hanya karena udara yang menusuk, tapi karena beban hari itu yang terasa tidak ada habisnya. Shift sore di kafe tempatnya bekerja berakhir satu jam lalu. Tapi seperti biasa, ia selalu butuh waktu lebih lama untuk beranjak pulang. Tidak ada yang menunggu di kamar kos kecilnya, tidak ada keluarga di kota ini, hanya suara hujan dan kesepian yang setia menemani. Ia berjalan menuju halte yang biasa ia gunakan setiap sore, berharap bisa berteduh sejenak sebelum memesan ojek daring. Namun langkahnya terhenti begitu saja. Di bawah atap halte yang kecil dan nyaris tak layak, berdiri seseorang. Sosok pria yang terlalu familiar, terlalu dalam tertanam di memorinya. Rambut hitamnya sedikit basah, jaket abu tua melekat di tubuh tegapnya, dan pandangan matanya lurus ke depan seolah tidak terusik oleh sekeliling. Jantung Elira mencelos. Dunia berhenti bergerak. Untuk sejenak, hanya suara hujan yang mengisi gendang telinganya. Ia berdiri membatu, matanya tak berkedip. Napasnya tercekat. Ia tidak tahu harus melangkah maju atau mundur. Tapi tubuhnya, entah mengapa, tetap berjalan. Arel. Nama itu muncul tanpa perlu dipanggil. Lelaki yang pernah mengisi hari-harinya, yang pernah ia tinggalkan, kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Tubuhnya sama. Wajahnya tidak banyak berubah. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang kini terasa asing. Dingin. Seperti tak ada ruang untuk kenangan. Elira mengangkat wajahnya sedikit, mencoba mengatur napasnya. Ia melangkah ke bawah atap halte, berdiri di sisi yang masih kosong. Payungnya ia lipat dengan gugup. Ia tahu Arel menyadari kehadirannya. Tapi pria itu tidak menoleh. Tidak memberi sapaan. Hanya tetap diam dengan pandangan lurus ke depan. “Elira.” Suara itu akhirnya keluar. Lirih, dalam, dan tajam. Hanya menyebut namanya, tapi cukup untuk membuat jantung Elira berdetak dua kali lebih cepat. “Hai.” Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh rintik hujan. Ia menoleh, mencoba tersenyum. Tapi bibirnya kaku. Hatinya berisik. Kepalanya penuh kata-kata yang ingin ia sampaikan, tapi semuanya terhenti di ujung lidah. Mereka berdiri dalam diam. Hanya suara hujan dan deru kendaraan yang menjadi pengisi jeda. Elira melirik Arel beberapa kali. Lelaki itu tetap bergeming, bahkan tak menoleh kembali setelah menyebut namanya. Namun Elira tahu, Arel bukan tidak peduli. Ia hanya memilih untuk tidak menunjukkan apa-apa. “Kamu lagi nunggu hujan reda?” tanyanya, memecah keheningan. “Enggak juga.” Jawaban itu singkat. Datar. Tapi tidak tajam. Tidak seperti kemarahan, lebih seperti… ketidakpedulian yang dipaksakan. “Oh… oke deh” Elira menggigit bibir bawahnya. Ia menatap jalanan di depan, mencoba menenangkan pikirannya yang berputar terlalu cepat. Rasanya seperti dilempar kembali ke masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam. “Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini.” Kali ini, Arel menoleh. Matanya menatapnya sebentar. Lalu kembali lurus ke depan. “Aku juga nggak nyangka.” Jawaban yang sama. Datar. Tapi cukup membuat Elira yakin bahwa pertemuan ini tidak sesederhana kebetulan. “Aku sering ngelewatin tempat ini,” katanya pelan. “Tapi biasanya lebih malam.” “Masih kerja di kafe?” Elira mengangguk. “Iya. Barista tetap. Masih bertahan di situ-situ aja.” Arel tidak menjawab. Tapi sorot matanya berubah sedikit lebih lembut. “Kamu gimana?” Elira bertanya lagi. “Udah lulus?” “Belum. Lagi ngerjain skripsi. Sibuk juga kerja freelance.” “Oh, bagus. Desain ya?” “Iya.” Keduanya kembali terdiam. Hujan mulai mereda. Rintiknya mengecil, menyisakan bunyi lembut di atap halte yang berkarat. Elira menarik napas panjang. Dadanya sesak. Bukan karena dingin, tapi karena semua kenangan itu menyerbu dalam sekejap. Tawanya. Tangisnya. Pertengkaran. Dan perpisahan. “Arel,” katanya pelan. “Aku minta maaf.” Arel menoleh, menatapnya lebih lama kali ini. “Aku tahu ini udah lama. Dan mungkin nggak penting buat kamu sekarang. Tapi aku harus bilang. Aku minta maaf karena udah ninggalin kamu waktu itu. Karena aku nyakitin kamu.” Arel diam. Wajahnya sulit terbaca. Tapi ia tidak menolak kata-kata itu. Ia mendengarkan. “Aku udah lama pengen bilang,” lanjut Elira. “Tapi aku pengecut. Aku takut kamu benci aku. Dan aku pikir kamu lebih baik tanpa aku.” Arel akhirnya membuka suara. “Aku memang sempat benci.” Elira menunduk. “Tapi aku lebih benci diri sendiri karena masih sayang.” Suara itu keluar lirih. Tapi jelas. Seperti batu yang jatuh ke danau tenang, menciptakan riak yang tak bisa dihentikan. “El…” “Ya?” “Apa kamu bahagia sama dia waktu itu?” Elira menggeleng. Matanya berkaca-kaca. “Enggak. Bahkan sejak awal, aku tahu aku salah. Tapi waktu itu, aku ngerasa nggak pantas buat kamu.” “Kenapa?” “Karena kamu terlalu baik. Dan aku… hancur.” Arel menghela napas panjang. Ia menunduk, mengusap wajahnya pelan. Kemudian, ia melangkah keluar dari halte. Menatap langit yang mulai cerah, seolah mencari jawaban dari awan-awan yang menggantung pelan. “Aku nggak tahu harus ngomong apa, El.” “Kamu nggak perlu ngomong apa-apa,” jawab Elira. “Aku cuma pengen kamu tahu.” Arel berjalan perlahan, lalu menoleh ke arahnya. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya kini lebih jujur. “Hati-hati pulang.” Kemudian ia pergi. Menjauh. Meninggalkan Elira yang berdiri sendiri di bawah atap halte. Tapi tidak sepenuhnya sendiri. Karena untuk pertama kalinya setelah dua tahun, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ia mengangkat wajah ke langit. Menatap warna jingga pucat yang mulai muncul di balik awan. Mungkin ini bukan akhir, dan belum tent awal. Tapi mungkin, ini saatnya untuk menapaki jalan yang dulu ia tinggalkan tanpa pamit. Di kejauhan, Dira berdiri di balik jendela toko buku. Menyaksikan semua tanpa diketahui. Ia memeluk buku di tangannya erat-erat, matanya menyipit penuh cemas. Ia tahu, pertemuan itu akan mengguncang dunia sahabatnya. Tapi mungkin, inilah yang Elira butuhkan untuk pulih. Bukan dari Arel. Tapi dari rasa bersalah yang selama ini membunuhnya pelan-pelan. Langkah kaki Arel menghilang dari pandangan, tapi suara detaknya masih menggema dalam kepala Elira. Ia masih berdiri di tempat yang sama, membiarkan waktu lewat pelan sementara pikirannya hanyut pada segala hal yang tidak pernah benar-benar selesai. Payungnya tetap terbuka, tapi ia tidak tahu untuk siapa ia berlindung sekarang. Hujan sudah reda, namun dadanya masih banjir oleh rasa sesak yang tak tertahan. Ia memutar badan, memandangi kembali bangku tua di halte itu. Tempat ia dan Arel pernah duduk, dulu, sebelum semuanya berubah. Sebelum ia memutuskan untuk pergi dengan laki-laki yang kini bahkan tak ingin ia sebut namanya. Dulu, mereka sering duduk berdua di situ, menertawakan hal-hal kecil, membicarakan masa depan yang kini terasa terlalu asing. Elira melangkah pelan ke bangku itu. Ia duduk, meremas jemari yang dingin, lalu menarik napas panjang. Dunia di sekelilingnya tampak berjalan seperti biasa. Mobil-mobil melintas, orang-orang lewat, langit perlahan menunjukkan rona lembutnya. Tapi dalam dirinya, semuanya terasa berbeda. Ada sesuatu yang bergeser. Hatinya yang tadinya hanya berisi penyesalan, kini mulai dipenuhi oleh keinginan untuk memperbaiki. Meski tidak tahu apakah masih ada yang bisa diselamatkan. Ingatan-ingatan lama mulai datang satu per satu. Saat Arel pertama kali menyatakan cinta padanya, di lapangan sekolah, dengan suara gugup dan wajah yang berusaha terlihat berani. Waktu itu Elira tertawa, bukan karena mengejek, tapi karena ia tak menyangka seseorang seperti Arel bisa menyukai gadis sepertinya. Ia tidak sempurna. Ia penyendiri. Ia terlalu takut untuk berharap. Tapi Arel datang seperti musim semi yang memaksa bunga-bunga bermekaran. Mereka bertahan hampir dua tahun. Melewati banyak hal. Sampai Vano datang. Membawa badai yang menghancurkan semuanya. Elira masih ingat bagaimana ia perlahan menjauh dari Arel. Tidak karena cinta yang hilang, tapi karena dirinya yang mulai rusak. Vano memberinya perhatian yang berbeda, membuatnya merasa penting, lalu menjebaknya dalam pusaran toxic yang sulit ia tinggalkan. Arel tidak tahu. Tidak pernah tahu betapa ia menangis hampir setiap malam, betapa ia ingin pergi tapi tidak tahu caranya. Saat ia akhirnya pergi dari Vano, dirinya sudah hancur. Dan ia tidak punya keberanian untuk kembali. Tangannya menggenggam ujung lengan jaketnya. Gemetar. Ia tidak tahu apakah ia bisa menebus semuanya. Tapi melihat wajah Arel hari ini, bahkan hanya untuk beberapa menit, sudah cukup membuat harinya terasa lebih berarti. Langkah seseorang mendekat. Elira menoleh. Dira berdiri di sana, mengenakan jaket kuning mustard dan membawa dua gelas kopi kertas di tangannya. “Kukira kamu udah pulang,” ucap Dira sambil menyerahkan satu gelas kopi. Elira menerima tanpa berkata apa-apa. “Dari dalam toko, aku lihat semuanya,” lanjut Dira sambil duduk di sebelahnya. “Aku nggak sengaja liat kamu masuk halte, terus... ada Arel.” Elira menatap lurus ke jalanan. “Aku nggak tahu dia bakal ada di sana.” Dira mengangguk. “Tapi kamu nggak kabur.” Elira menghela napas panjang. “Aku udah terlalu lama lari, Dir.” Sunyi sejenak di antara mereka. Hanya suara plastik pembungkus kopi yang berdesir pelan tertiup angin. “Gimana rasanya?” tanya Dira akhirnya. “Campur aduk,” jawab Elira pelan. “Kayak dihantam ombak, tapi juga kayak ketemu matahari habis badai.” “Dia masih marah?” “Dia bilang pernah benci, tapi lebih benci sama dirinya sendiri karena masih sayang.” Dira mengangkat alis, lalu menyeruput kopinya. “Kata-kata kayak gitu nggak keluar dari orang yang udah sembuh. Dia masih belum selesai juga.” Elira menoleh ke sahabatnya. “Aku takut nyakitin dia lagi.” “Terus terang aja, Li. Kamu bukan takut nyakitin dia. Kamu takut dia nggak mau disakitin sama kamu lagi.” Kata-kata itu menampar, tapi benar. Elira tahu ketakutannya lebih pada penolakan daripada kesalahan. Ia terlalu lama menghindar dari kenyataan bahwa memperbaiki butuh lebih dari sekadar niat. Butuh keberanian. “Kamu mau nyamperin dia lagi?” tanya Dira pelan. “Aku nggak tahu. Aku nggak mau maksa. Tapi aku juga nggak mau nyesel.” Dira tersenyum tipis. “Itu berarti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Mereka kembali diam. Sore mulai berubah menjadi senja. Langit mulai berwarna oranye keemasan. Burung-burung kecil kembali ke sarangnya. Dan Elira masih duduk di halte yang kini terasa begitu asing, namun juga begitu akrab. Satu hal yang ia tahu pasti hari ini adalah bahwa takdir telah memberinya kesempatan. Entah sebagai peringatan, penebusan, atau pembuka jalan baru. Ia belum tahu. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia siap untuk tidak lari. Ia berdiri, merapikan jaket, lalu menatap jalanan yang kini mulai ramai kembali. “Aku mau pulang,” katanya. Dira ikut berdiri. “Yakin nggak mau mampir dulu ke tempat biasa kita nongkrong?” Elira tersenyum kecil. “Nanti. Aku pengen sendiri dulu malam ini.” “Kalau butuh cerita, tinggal chat aku.” Mereka saling berpelukan singkat. Lalu berpisah. Elira berjalan menyusuri trotoar, menuju arah kosnya yang tidak jauh. Tapi langkahnya terasa lebih ringan. Bukan karena beban menghilang, tapi karena ia tahu ke mana arah hatinya ingin melangkah. Dan malam itu, saat ia membuka jendela kamar dan memandangi langit yang kini bersih dari awan, Elira tahu satu hal. Perjalanan untuk memperbaiki diri baru saja dimulai.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook