4. Telefon

1304 Words
"Belanja yuk? Aku pengin kamu masak malam ini, dan besok pagi. Kulkasku kosong." Ajak Pram ketika aku keluar dari kamar mandi. "Ini udah pukul 7, gak kemaleman kalau aku masak dulu? Nanti kamu kelaperan." "Gak apa, aku mau nahan laper asal bisa makan masakan kamu." "Yaudah, aku ganti baju sebentar, nanti kita ke supermarket." Kataku, dan Pram pun mengangguk. Menuju lemari, aku tidak mengambil piyama tidur, tapi baju santai yang akan kukenakan untuk belanja. Saat memilah baju, aku merasa sebuah pelukan hangat dari belakang, dan kecupan lembut di pundakku. "Aku mau ganti, sayang." Kataku. "Yeah, tapi aku suka aroma kamu, bau sabun mandi biasa, campur feromon kamu, gosh! Aku bisa gila." Ucapnya sambil menggigit kecil telingaku. "Nanti ya, kita kan mau ke supermarket, nanti kamu makannya makin malem." "Oke, oke." Pram mengambil pakaian dari tanganku, ia membantuku mengenakannya, mengaitkan bra, dan menggulung lengan kaus yang agak sedikit kebesaran ini. "Kamu cantik! Kamu cewek tercantik yang pernah ada." Pujinya. Aku tersenyum, mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibirnya. "Yuk!" Ajakku setelah selesai menggelung rambut. Pram mengangguk, dan kami pun keluar bersama. Berhubung tempat tinggal Pram itu berada di tengah kota, kami hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai supermarket terdekat. "Masak steak ya?" Pintanya saat kami melewati counter daging. "Yaudah, kamu daging, aku salmon." "Yeah, paginya aku mau sandwich pakai salmon, sayang." Aku mengangguk. Kemudian memilih daging lalu lanjut ke bagian ikan mencari fillet salmon. Selesai belanja bahan masak plus bumbu untuk hari ini dan besok, beserta stok cemilan dan makanan instan untuk 3 hari. Kami kembali ke tempat Pram. Aku langsung memasak sedangkan Pram merapikan bahan-bahan lainnya. "Kamu tahu? Aku kalo mau nikah, maunya sama kamu sayang, aku gak bakal nikah kalau gak sama kamu." Ucap Pram yang sedang menonton aku memasak. Aku tersenyum. Aku belum terfikir untuk menikah. Masih banyak tanggunganku. Aku mungkin akan menikah saat Trinity sudah mandiri, karena hanya akulah yang mungkin bisa diharapkannya. Ayah sudah sakit-sakitan, sedangkan Bang Eka?? Entah lah kemana perginya dia, ia seperti meninggalkan kami, keluarganya. "Yuk, makan!" Ajakku saat makanan sudah tersedia. Kami duduk di meja makan kecil berkapasitas dua orang milik Pram, menikmati makan malam yang sudah terlalu malam ini. Kalau begini, rasanya aku mau menghabiskan seluruh hidupku bersama Pram. Tapi kalau ia mulai kasar? Ingin rasanya aku menghilang saja dari hidupnya. "Makasi, makanannya enak, perut aku kenyang, ditambah kita main, pasti tidurku nanti makin nyenyak." Ucap Pram sambil menenggak anggur merah dari gelasnya. "Kamu yang cuci piring, mau?" Tawarku iseng. "Gila kali lu ya? Masa gue disuruh cuci piring?!!" Pram mendadak meledak, membanting gelas yang ia pegang, membuatku terkejut. Aku menarik nafas panjang, bangkit dari kursi, aku langsung mengambil tasku, menyambar barang-barang pentingku yang berceceran di tempat ini lalu berjalan ke arah luar. "Mau kemana lo?!" Tanganku ditahan saat aku hendak membuka pintu. "Aku mau pulang." "Lo mau ninggalin gue?!" Serunya, dan tentu saja, sebuah tamparan mendarat di pipiku. "Aku capek, Pram. Aku cuma tanya kamu mau cuci piring gak, bukan nyuruh, nanya Pram, nanya, tapi kamu langsung marah." "Ya lo, pertanyaannya gila." Bibirku berdarah, karena tamparan kedua mendarat ketika aku sedang menggigit bibir bawahku. Menarik tanganku yang ditahan Pram, aku langsung membuka pintu dan lari dari tempat ini. Gosh! Kenapa orang yang mencintaiku adalah orang yang menyakitiku juga? Kenapa ini harus sepaket? Ponselku berdering, tapi aku mengabaikannya, aku memilih mematikan ponselku lalu mencari angkutan umum yang bisa membawaku pulang ke rumah Ayah. **** Pagi ini, ketika aku menyalakan ponselku, ada puluhan panggilan tak terjawab, tiga di antaranya dari Pram sementara yang lainnya dari nomor asing yang tidak ada dalam daftar kontakku. Selesai sarapan bersama Ayah dan Tri, ponselku berdering, dari nomor tak dikenal itu lagi. Karena penasaran aku langsung mengangkatnya. "Hallo?" Sapaku. "Dwika Kencana." "Ya? Siapa ya?" "Satrio Pamungkas. Saya dapat nomor Anda dari petugas penjara di depan." Aku diam. Aku memang menuliskan nomorku di buku tamu, namun tak menyangka kalau aku bisa mendapat panggilan dari Satrio Pamungkas. Dan tentu saja, mendengar namanya saja sudah membuatku sedikit gemetar. "Iya, Bang Satrio. Ada apa?" Aku mencoba berani bertanya. "Anda bisa kembali ke penjara siang ini? Jam yang sama dengan kemarin." Aku diam. Aku tak punya rencana apapun sih siang ini, selain mengembangkan berita tentang Satrio. Tapi rencanaku adalah mengunjungi keluarga korban, bukan bertemu kembali dengan pelaku pembunuhan sadis ini. "Okee, saya bisa sepertinya Bang." "Rumah Anda di mana? Biar saya kirim orang untuk menjemput." Jantungku berhenti sekian detik. Gila aja, bisa dibantai aku sama seluruh sisa anggota keluargaku kalau ia tahu alamat rumah. "Saya ke sana sendiri, Bang Satrio, tidak perlu dijemput." "Oke, baik. Anda saya tunggu di ruangan kemarin, jam yang sama." Panggilan terputus, entah kenapa, kalimat terakhirnya itu terdengar seperti ancaman di telingaku. "Siapa Mbak?" Tanya Ayah. "Ini, orang yang mau jadi narasumber, tumben banget telefon." "Yaudah, harus manfaatin kesempatannya ya?" Aku mengangguk. Merapikan meja bekas sarapan, aku mencuci piring, setelah itu baru membantu Ayah meminum obatnya. "Ayah jangan keluar-keluar dulu Yah, di luar udaranya lagi gak bagus, polusi di mana-mana. Kalau mau makan siang goreng telur aja, atau nunggu Tri pulang." Kataku mengingatkan. Ayahku ini sakit, membuatnya kesulitan bergerak bebas. Tapi, Ayah yang dulunya merupakan seorang pengantar paket, suka sekali jalan-jalan. Itulah yang sedang aku dan Trinity tahan. "Iyaa, nunggu Tri aja." "Oke Ayah, Kika mandi dulu ya? Mau ke kantor, abis itu ketemu narsum." "Iya!" ****** Aku datang lebih awal, dan hebatnya kali ini alat-alat elektronikku boleh kubawa, yang ditinggal hanya tas ranselku saja, masuk ke dalam loker. Sendiri di ruangan, Satrio Pamungkas belum ada di sana, tidak seperti kemarin. Sekitar 5 menit menunggu, pintu dibuka, Satrio Pamungkas yang ucapannya sangat formal ini masuk dengan membawa dua botol cola. "Anda datang awal." Ucapnya seraya mengulurkan sebotol cola padaku, lalu duduk di kursinya yang kemarin. Kuterima cola itu, namun kuletakkan di meja. "Saya gak mau bikin narasumber saya menunggu." "Saya? Narasumber? Anda terlalu percaya diri." Katanya dingin. "Emm, lalu untuk apa saya datang ke sini?" Tanyaku. "Saya suka berbincang bersama Anda, saya sudah baca semua berita yang Anda buat, dan... menurut saya itu bukan berita ecek-ecek seperti yang ada di platform tersebut." Aku diam, "Dan, saya tidak menemukan berita baru yang memuat tentang saya. Apa yang sedang Anda kerjakan? Kenapa Anda tidak langsung mempublish hasil interview kita kemarin?" Lanjutnya. Aku sedikit mengangkat bahu, "Dari interview kemarin, belum ada yang ingin saya tulis. Masih kurang." "Halah, sekarang ini, orang nonton youtube vlog artis aja bisa dibikin kok beritanya." "Saya gak seperti itu, Bang." Ucapku singkat. "Diminum!" Titahnya seraya membuka botol cola miliknya sendiri lalu menyesapnya. Aku tak meminum cola tersebut, aku takut kalau minuman itu sudah dicampur racun. "Kenapa gak minum? Takut saya racun?" Ia seperti bisa membaca pikiranku. "Saya lagi gak haus, dan tenggorokan saya kurang enak, takut makin parah kalau minum cola." Satrio mengangguk. "Saya boleh bertanya?" Izinku. "Yeah, silahkan. Tapi jangan pertanyaan yang sudah pernah Anda ditanyakan sebelumnya." Aku mengangguk. "Sosial media Anda masih ada semua, tidak ada yang hilang. Ada alasan kenapa Bang Satrio tidak menutupnya?" Tanyaku. "Oh itu sengaja, supaya saya bisa liat kehidupan orang di internet, orang bisa melihat kehidupan saya sebelum ini. Dan, gak ada aturan kalau tahanan lapas gak boleh punya sosmed." Aku menangguk, kali ini tidak perlu repot mencatat karena recorderku menyala. "i********: Anda, Dwikaken kan?" Aku tertegun memandangnya, kenapa dia bisa tahu? "Kenapa di semua sosial media Anda gak pernah pakai foto sendiri?" Tanyanya. Tak ingin ini menjadi pembicaraan satu arah, aku memberanikan diri menjawab. "Ada banyak hal yang menarik di dunia ini kalo dibandingkan selfie, jadi saya pilih post hal-hal yang menarik di mata saya." "Tapi di mata saya, Anda menarik, Dwika Kencana." Aku tersentak mendengar itu, dan detik berikutnya kulihat ia mengeluarkan ponselnya, sedikit berbalik lalu mengarahkan kamera depannya ke kami berdua. "Ini akan jadi postingan baru saya. Kita lihat, siapa sekarang yang akan dikejar-kejar." Aku sudah tak mampu berkata-kata. Selesai. Hidupku selesai di sini. ******* TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD