"Dwika Kencana, 21 tahun, reporter muda dari Veritas." Aku terkejut mendengar suara berat dari Satrio yang menyebutkan nama dan profesiku.
"Selamat siang, Pak Satrio!" Sapaku.
"Saya gak suka dipanggil Pak, I prefer Bang, jadi Bang Sat!" Ucapnya sambil tersenyum khas penjahat.
Aku diam. Belum apa-apa, aku merasa terintimidasi oleh suaranya itu.
"Yeah, itu kan yang dipikirkan orang-orang, saya b*****t!!" Ucapnya dengan nada tinggi yang sama beratnya.
Aku tersenyum kepadanya.
"Muka Anda, saya tebak... Anda sedang marah. Siapa? Pacar? Orang tua? Adik? Kakak?"
Aku menelan ludah. Kenapa pembunuh ini banyak bicara sekali? Ini tidak sesuai ekspektasiku. Kukira, ia semacam psikopat yang lebih sering diam dan banyak mengamati.
"Bang Satrio." Akhirnya aku membuka suara, bersamaan dengan itu, aku juga membuka buku catatanku.
"Apa? Anda mau nulis berita apa? 7 hal yang dilakukan Satrio di penjara? Atau apa? 7 hal tentang masalalu Satrio? Atau Anda mau tanya-tanya siapa mantan pacar saya? Nomor tiga bikin kaget? Apa?!!" Ia membentakku.
"Bukan itu, Bang Satrio." Kataku dengan nyali seadanya.
Tanpa kuduga, Satrio mengeluarkan sebuah smartphone dari saku celananya.
"Kaya gitu kan yang ditulis media tempat Anda kerja?!" Ia menunjukkan layar ponselnya padaku.
"Iya, Bang. Tapi saya tidak menulis berita itu saat ini."
"Jadi apa?" Ia meletakan ponselnya di meja, melipat tangan lalu bersandar ke kursinya.
"Saya penasaran, dengan kekuasaan yang Bang Satrio miliki, bisa saja Anda mencari kambing hitam atas perbuataan Anda, tapi, kenapa Anda malah meyerahkan diri?" Tanyaku.
Sial, kenapa aku tidak mengembangkan berita? Kenapa aku langsung tertuju pada pertanyaan inti??
"Sederhana. Saya bukan pengecut, Dwika Kencana! Dan, saya tidak merasa terpenjara di sini."
Aku tersenyum dan ia membalas senyumku.
Memerhatikannya, aku seperti menemukan sisi lain di wajahnya yang tersenyum ini.
Ia tampak lepas, tidak seperti orang yang dihukum seumur hidup di penjara. Ia santai dan bahkan... wajahnya amat sangat tampan.
"Ada lagi?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Alasan Bang Satrio membunuh mereka, kenapa Bang Satrio tidak menyewa pengacara dan malah menerima pengacara yang diberikan negara?"
"Saya membunuh 5 orang dengan rencana yang matang, yeah, mereka semua mati. Saya menghilangkan nyawa, apa menurut Anda saya berhak membela diri padahal saya sudah menghilangkan seorang anak, seorang suami, seorang ayah, seorang kakak atau mungkin seorang adik?"
Aku diam.
"Saya tahu, saya patut dihukum karena perbuatan itu." Lanjutnya.
"Lalu mengenai alasan?" Tanyaku.
Satrio kali ini tidak membuka suara, ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, membuatku bingung.
"Di negeri ini, mungkin Anda satu-satunya reporter ter-naif yang ada." Ucapnya membuatku makin bingung.
Apa maksud dari perkataannya itu? Apa orang-orang tahu alasan dari Satrio? Aku sudah membaca semua berita tentangnya dan tidak ada pernyataan valid mengenai alasannya membunuh.
"Ada lagi? Saya harus membereskan beberapa onderdil motor yang sedang saya preteli."
"Sebentar Bang Satrio, emmm," aku berfikir, kenapa semua pertanyaan di kepalaku ini mendadak hilang??
"Iya, Dwika Kencana??" Ia menunggu.
"Apa kah ada hal yang ingin Bang Satrio sampaikan kepada keluarga korban?" Tanyaku.
"Okee, ini pertanyaan baru. Saya ingin menyampaikan kalau saya sama sekali tidak menyesal telah membunuh, tapi saya mohon maaf karena sudah menghilangkan sosok yang mungkin sangat berharga untuk keluarganya. Sudah ya??"
Jariku menari di atas kertas, mengutip apa yang baru saja dikatakan oleh Satrio Pamungkas, agar kalimat yang bisa kumasukan ke dalam berita merupakan kalimat asli darinya.
"Baik, Bang Satrio, terima kasih untuk waktunya."
Satrio mengangguk, ia bangkit dari kursinya lalu meninggalkan aku sendirian di ruangan ini.
Wow. Untuk sosok yang menghilangkan 5 nyawa, ia terlihat berbahaya namun sangat kharismatik dalam waktu yang sama.
******
Aku hanya bisa bengong di hadapan layar monitorku. Views berita-berita lamaku tiba-tiba saja melonjak drastis, membuatku heran.
Tidak mungkin kan ini berhubungan dengan interview dengan Satrio Pamungkas siang tadi?
Wow, tapi kalau begini, aku jadi deg-deg-an, takut terjadi sesuatu gitu.
"Gimana berita hari ini??" Krisna tiba-tiba mengagetkanku.
"Ya gitu-gitu, masih seputar artis yang nikah." Jawabku.
"Lo bikin juga? Gue udah bikin, tadi dari lokasi pernikahannya, tapi tertutup, lagian, nikah kok weekday."
"Yeah, tanggal bagusnya mereka mungkin hari ini Kris."
Krisna mengangguk, ia membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan plastik yang kuketahui berisi gorengan.
"Nih, mau gak lo?"
"Nanti, lagi nulis gue."
"Nulis apa?"
"Biological weapon, orang gak banyak sadar kalau ini bahayanya lebih-lebih dibanding nuklir, atau serangan alien."
"Yeah, berita lo itu baru rame pas kita udah diserang virus, bakteri dan mikroorganisme lain, tapi sayang, gak banyak juga yang baca karena mereka udah mati duluan."
Aku nyengir, aku tahu Krisna menyindir, tapi entah kenapa komentar pedas darinya tidak pernah masuk ke hati.
"Maka bersyukurlah orang-orang yang baca artikel gue sekarang, mereka tau harus gimana."
"Yeah, coba jelasin ke gue biar gue jadi orang yang bersyukur."
"Gak! Lo baca aja nanti kalo udah terbit."
"Oke siaap!" Serunya sambil hormat.
"Jijik lo!"
"Oh iya, gue tadi mau telfon lo, kok gak bisa ya?"
"Oh sorry, pas lo telfon gue tadi pagi kayanya gue gak sengaja pencet blokir deh hahahah!" Jawabku santai, padahal itu bohong.
"Sableng lu dasar!" Serunya, lalu fokus pada ponsel.
Gara-gara ini, aku jadi ingat Pram lagi. Aku malas pulang ke tempatnya, tapi barang-barang pentingku tertinggal di sana.
Huh! Aku malas bertemu dengan pacarku itu.
"Tangan kenapa tuh??" Krisna menunjuk tanganku yang biru. Bekas borgol dan cengkraman kencang Pram tadi pagi.
"Ohh ini, gue pake karet gelang kelamaan hahahah."
"Buat apaan karet gelang?" Tanyanya.
"Buat bungkus es batu di rumah, Ayah gue akhir-akhir ini suka minta es teh manis." Aku menjawab seadanya.
Krisna hanya mengangguk.
Aku melirik tanganku sekilas, biru ini gak ada apa-apanya dibanding bagian tubuhku yang lain, untung saja pipi yang Pram tampar tidak membekas merah terlalu lama.
"Makan nih gorengan! Gue gak bisa abisin sendiri." Krisna membuyarkan lamunanku barusan.
"Iyeeeee!" Seruku, kesal karena kaget.
******
TBC