Terpaksa karena keadaan

1165 Words
"Keluarlah, kalau kamu nggak keluar, aku yang akan keluar." ucap Sena dengan gemetar, ia benar-benar merasa sakit hati dengan Stevan. Sena sadar kalau caranya mendapatkan pekerjaan memang salah. Namun bukan berarti Stevan bisa menginjak-injak harga dirinya. Stevan kemudian berdiri, menatap Sena dengan tajam lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Stevan geram pada Sena karena berani mengancamnya. Stevan pergi begitu saja tanpa berpikir apa yang akan Sena lakukan setelah kepergiannya. Sementara Riyan masih tinggal di ruangan Sena. "Apalagi?" tanya Sena lantang, "Kalau Anda mau pekerjaan, melamarlah dengan benar. Bukankah Anda pernah menjadi CEO? Bagaimana bisa Anda bersikap seperti penjahat seperti itu? Selamat tinggal." ucap Riyan tegas, kali ini Riyan bersikap layaknya sekretaris profesional. Riyan mengikuti Stevan yang sudah lebih dulu melangkah menuju ke tempat parkir. Ketika Stevan sudah berdiri di dekat mobil, Riyan buru-buru membuka pintu mobil untuk bosnya itu. Bukannya langsung masuk, Stevan malah menengok lagi ke belakang, memikirkan ancaman Sena lagi. "Apa yang kamu ucapkan sama dia?" tanya Stevan, Riyan tampak bingung. "Tidak ada Pak, saya hanya mengingatkannya untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara yang benar." sahut Riyan tegas. Stevan kemudian masuk ke mobil, duduk di bangku belakang. Stevan menurunkan setengah saja kaca mobilnya lalu mengambil rokok dari saku jasnya, tangannya dengan lincah menyalakan korek api, tak lama kemudian asap mulai mengepul keluar dari mulutnya. Riyan yang sudah siap duduk di bangku kemudi lansung membawa bosnya itu pergi meninggalkan rumah sakit. "Awasi dia, jangan sampai ada sedetik pun video buruk tentangku yang muncul di media sosial." ucap Stevan lirih, "Baik Pak." sahut Riyan patuh, selama ini tugasnya memang cukup berat. Bukan hanya sebagai sekretaris CEO, tetapi juga sebagai kaki tangan untuk menutupi semua kasus-kasus sang CEO di masa lalu. . . Sena malam ini memaksa pulang karena tak ingin berlama-lama meninggalkan ayahnya yang sedang sakit-sakitan. Sena tak yakin kalau ibu tirinya akan mengurusi ayahnya itu. Ibu tirinya masih sibuk keluar bersama teman-temannya walau sudah tak punya apa-apa. Bahkan ketika sudah dicibir banyak teman-temannya, ibu tirinya masih saja ikut kumpul-kumpul. Sena berjalan sedikit lunglai karena pandangannya masih kabur, ia merasa pusing dengan luka di kepalanya. Belum lagi dari rumah sakit ke rumahnya, Sena memilih jalan kaki karena ia harus menghemat uangnya. Betapa mengejutkan, Sena disambut dengan pemandangan di mana ayahnya sedang meringkuk di tanah, di depan rumahnya dan ditendang oleh 2 pria berbadan kekar. Sekarang Sena sudah tak tinggal di rumah mewah lagi. Sena dan keluarganya memilih mengontrak rumah kecil di pinggiran kota dan jauh dari kata layak. Sena buru-buru lari mendekati ayahnya lalu mencoba membantu ayahnya bangun. "Kalian apa-apaan? Bagaimana bisa kalian main keroyok begitu saja?" teriak Sena tak terima dengan perbuatan kedua pria itu. Kedua pria itu malah tertawa keras, membuat bulu kuduk Sena berdiri. "Hei, gadis manis, kami ke sini cuma mau nagih hutang ayah kamu." sahut seorang pria sambil mencolek dagu Sena. Sena yang merasa jijik dengan colekan pria itu langsung mengelapnya berkali-kali secara kasar. "Hutang? Aku kan udah bayar sesuai jadwal, kenapa kalian main pukul sama orang tua? Beraninya keroyokan pula!" ucap Sena yang marah pada pria-pria itu. Sena memang memiliki hutang ke rentenir demi membayar biaya pengobatan ayahnya. Namun sampai detik ini, Sena berusaha keras membayar hutangnya itu. Sena tak terima kalau ayahnya yang masih sakit-sakitan harus dikeroyok pria-pria itu karena masalah hutang yang selalu ia bayar secara rutin sampai kemarin. "Gadis cantik, ayah kamu ini pinjem duit lagi sama bos kami. Hari ini waktunya dia bayar hutangnya, tapi dia bilang kami boleh memukulinya sebagai ganti karena dia nggak bisa bayar sekarang. Ini bukan salah kami, sayang..." sahut pria itu, Sena terkejut mendengar penjelasan pria itu. Tanpa mendengarkan penjelasan ayahnya, Sena tahu kalau itu pasti perbuatan Lea atau ibu tirinya. Mereka berdua masih belum menyadari kondisi mereka yang sudah tak punya apa-apa lagi. Yang mereka lakukan hanya belanja, jalan-jalan dan bersenang-senang. Bahkan ketika pria-pria utusan rentenir ini datang, tak ada Lea ataupun ibu tirinya. Sena menggertakkan giginya menahan kesal, marah dan kecewa. "Kasih aku waktu, aku akan segera melunasi hutang-hutang ayahku." ucap Sena pelan, kedua pria itu tertawa terbahak-bahak. "Hutang kamu yang dulu aja belum lunas, bagaimana kamu mau melunasi hutang ayahmu? Apa kamu mau jual diri?" tanya seorang pria, Sena memejamkan matanya. Ia tak menyangka, menjadi orang miskin akan sesakit ini. Sudah berkali-kali ia disepelekan karena kondisinya yang sudah tak memiliki apa-apa itu. "Iya, aku akan jual diri kalau perlu jual ginjal atau organ tubuh aku buat bayar hutang-hutangku. Sekarang kalian pergilah." ucap Sena lantang, kedua pria itu saling melirik. "Baiklah, karena selama ini kamu bayar hutang kamu dengan baik, aku akan melepaskan ayahmu untuk malam ini. Seminggu lagi, kalau kamu belum bisa membayar hutang ayahmu, aku yang akan mengambil ginjalmu langsung dari perut kamu." ancam pria itu yang kemudian pergi meninggalkan Sena dan ayahnya. Sena memapah ayahnya masuk ke dalam rumahnya lalu membantu ayahnya berbaring di kasur tipis. "Ibu kan yang udah pinjem duit itu?" tanya Sena yang kini matanya sudah berkaca-kaca. Sena masih tak mengerti bagaimana bisa ayahnya menikahi wanita yang tak peduli dengannya dan hanya menginginkan uang. Ayahnya Sena hanya diam dan menunduk malu, ia masih lemah dan kondisinya semakin buruk. "Sekarang ibu sama Lea kemana?" tanya Sena lantang, ayahnya lalu menatap Sena lekat. "Kamu kenapa sayang? Kepala kamu sakit? Apa kamu tadi kecelakaan? Bagaimana kondisi kamu sekarang? Sakit sekali ya sampai diperban?" tanya ayahnya Sena dengan suara gemetar, Sena hanya bisa menitikkan air mata. Sena ingin sekali marah pada ayahnya karena selalu menutupi kesalahan ibu tirinya. Namun mendengar suara ayahnya yang terdengar lemah dan gemetar itu, Sena tak tega harus menyakiti perasaan ayahnya. Sena kemudian pergi keluar rumah, ia memilih menangis di depan rumah sambil berjongkok. Cukup lama, sampai akhirnya Sena mulai memikirkan kembali ancamannya pada Stevan. Sena pikir, inilah satu-satunya cara baginya untuk bisa memiliki banyak uang dalam waktu dekat. Bekerja dengan Stevan dan meminta jabatan tinggi di perusahaan Stevan dengan mengancamnya menggunakan video-video Stevan. Sena masuk ke dalam rumah lalu menyalin video-video Stevan dari laptopnya ke ponselnya. Sena membuka instagramnya lalu mengirim sepenggal video Stevan sedang memukuli teman sekolahnya. Dalam video tersebut, tampak Stevan sedang memukuli seorang pria tampa ampun. Sena dengan sengaja memilih posisi di mana wajah Stevan belum tertangkap kamera. Lalu menyisipkan caption "Masa lalu CEO yang sedang naik daun.". Tak lupa, Sena menggunakan banyak tagar agar postingannya segera dibaca oleh Stevan. #CEOmuda, #MasalalusangCEO, #CEOtukangpukul dan masih banyak lainnya. Tanpa menunggu lama, ada pesan pribadi masuk ke i********: Sena. Siapa lagi kalau bukan Riyan, sekretaris Stevan. "Nona Sena Kiara, apa anda serius ingin mengibarkan bendera perang dengan Pak Stevan? Anda yang akan kalah di sini, Riyan." isi pesan Riyan, Sena sudah tak peduli lagi dengan resiko dari perbuatannya. Setidaknya Sena sudah berusaha mencari cara untuk membantu ayahnya. Sementara di tempat lain, Stevan baru saja membanting ponselnya setelah melihat postingan Sena di i********:. Postingan Sena pun langsung menjadi viral, ada banyak netizen yang berspekulasi kalau itu adalah Stevan. Siapa lagi CEO muda yang sedang naik daun kalau bukan Stevan. Stevan yang mengetahui namanya mulai disebutkan banyak orang, langsung membanting ponselnya sekeras mungkin. Stevan mengepalkan tangannya sambil menggertakkan giginya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD