Setelah sampai di Amerika, Jullia menyewa tempat tinggal sederhana rumah kayu Klasik di kota new York.
Ketika mengelilingin rumah itu, ia terlihat terpukau dengan loteng berlapis kayu tebal di sudut kamar tidurnya. Entah apa yang dipikirkan, Jullia lalu mengambil tangga, ia masuk ke dalam loteng itu.
"Uhkk uhkk!," sepertinya cocok untuk tempat rasahasia!," Jullia tersenyum tipis.
bayak debu dan sarang laba laba membuat bersin dan batuk. Setelah puas mengecek mengelilingitempat barunya, Jullia pergi keluar rumah berniat mancari pekerjaan.
Setelah berjalan lumayan jauh Jullia berdiri tepat di depan cafe. Berdiri cukup lama seakan sedang Mengamati, setelah dirasa cukup dia masuk ke cafe.
"Permisi, aku ada janji bertemu pemelik cafe ini?," bohong Jullia.
"Silakan nona mr.Ronal ada di sana." whiters itu menunjuk laki laki tampan berkemeja hitam,berbadan tegap sedang duduk di sudut meja chasier.
Tanpa berterimaksih Jullia melangkah pergi menghampiri laki-laki itu.
"Permisi Mr. Ronal," sapa Jullia.
"Ada yang bisa aku bantu?." Ronal mengamati Jullia, tampak bukan pengunjung tetap cafenya.
"Perkenalkan saya Jullia, saya kemari untuk melamar kerja," ucap Jullia, tersenyum ramah.
"Maaf nona!, di cafe ini sedang tidak membutuhkan karyawan," tegas Ronal.
"Anda butuh manager tuan!," ucap Jullia.
Ronal mengerutkan dahinya. "Bagaimana kau tahu di sini tidak ada manager?."
"Cafe sesepi ini, di tambah karyawan hanya lima orang untuk gedung dua lantai, itu salah satunya membuat cafe anda jarang di kunjungi," ucap Jullia denga santai.
"Brakk!. siapa anda beraninya mengajari saya!." Ronal menggebrak meja keras.
Para karyawan seketika memandag ke arah mereka.
"Terima aku sebagai maneger di sini, berikan aku waktu dua minggu. Akan ku buat cafe ini ramai," ucap Jullia tanpa menghiraukan kemarahan Ronal.
"Haha apa kau sedang mabuk nona?, jika kau tahu cafe ini sepi, kenapa aku harus menambah beban untuk membayar mu!?," Ketus Ronal.
"Jika kau tetap dengan pendirian mu seperti ini, dengan harga sewa tempat yang mahal, mungkin cafe anda bertahan enam bulan saja," Jullia menatap intens.
Lagi-lagi Ronal di buat heran, apa wanita ini seorang peramal?, dengan sikap dingin, ia bertanya, "Bagaimana kau tahu aku hanya penyewa?."
"Dengan mengamati cafe anda lima menit saja aku sudah tau. whiters! berikan aku jus orange!." Tiba tiba Jullia memesan minum saat mereka sedang berbicara.
"Cantik, tapi sangat tidak sopan," batin Ronal.
Tak selang lama whiters memberika pesanan Jullia. Jullia meneguk jus orange yang telah di letakan di meja.
"Kau tidak memberikan pelatihan pelayanan kepada karyawan mu, tuan?. Dia sangat buruk!, meski haya cafe kecil, pengunjung bisa menikmati pelayanan seperti di hotel bintang lima, dan jus ini rasanya tidak nyaman apa lagi untuk anak anak.
"Kadar gula lebih tinggi dari pada sari dan serat buahnya, kau berniat menghemat tapi membuat mu merugi. Lalu karyawan anda lupa membuang sampah di depan cafe, dan lihatlah! kaki kaki kursi ini sangat berdebu, orang kaya tidak ingin pergi kemari ," terang Jullia panjang lebar.
Ronal merasa Jullia memang bakat, namun ia tidak ingin memperlihatkan kekagumannya, dengan nada dingin ia berkata, "Tinggalkan nomer mu akan ku fikirkan nanti."
"Jika kau menerima ku sekarang, besok kau sudah melihat perubahannya. Maaf aku tidak ingin menunggu seseorang berfikir, tuan," ucap Jullia.
"Sombong sekali dia," batin Ronal.
"Ya sudahlah ..tapi aku tidak bisa memberi gaji tinggi," ucap Ronal.
"4500$ itu gaji ku, kau bisa membayar ku 50% dulu, dan 50% setelah cafe ini ramai, tuan," ucap Jullia tanpa basa basi.
Itu tidak masuk akal, Ronal menjadi sangat marah."Apa kau gila!?, Apa kau ingin memerasku hhah?!."
"Uang itu tidak seberapa dengan keuntungan yang akan kau dapatkan, tuan," Jullia menjawab denga santai.
Belum sempat Ronal berbicara, Jullia mengambil kertas dan pena di meja chasier.
"Ini nomor saya, aku hanya menunggu sampai tengah malam tuan, terimaksih untuk waktunya," Jullia tersenyum lalu meninggalkan cafe itu.
"Heh kenapa aku bersikap bodoh?, seperti aku yang sedang melamar kerja padanya, tapi dia sangat cantik," guman Ronal.
Sudah satu bulan Jullia di Amerika tepatnya di kota New York, tepat satu bulan juga Jullia bekerja di cafe welcome milik Ronal. Dengan managemant baru yang di buat Jullia, ia bisa mebuat cafe welcome sangat ramai pengunjung.
Tak sia-sia Ronal menerianya bekerja, bahkan akan membuka cabang baru. Atas kemajuanya, satu bula Jullia bekerja mampu memiliki mobil baru.
Pagi hari, wanita sexy berambut abu keemasan dengan poninya. memakai high heels lima cm, ia memasuki cafe welcome.
"Hei beby, kenapa sudah datang,?"tanya Ronal, menyabut kedatangannya.
"Cefe kita masi jauh dari target ku Ronal," ucap Jullia., ia merubah penampilannya lebih modis dan mengikuti gaya di New York.
"Aku akan memberikan sarapan special untuk mu, beby," ucap Ronal dengan senyum cerah.
Setelah satu bulan entah mengapa sikap Ronal berubah menjadi bucin ke Jullia, tapi Jullia tidak pernah menanggapinya.
"Tidak perlu, aku sudah sarapan," singkat Jullia.
Ronal tidak menanggapi sikap dingin Jullia, ia tetap memuat sarapan untuknya.
Di inggris Jonnatan sangat sibuk dengan perusahaan yang baru di bangun, setelah menarik semua sahamnya di Jons COmpany milik keluarganya.
"Tuan, makanlah dulu ini sudah jam makan siang. Saya kahwatir tuan satu bulan ni selalu lupa untuk makan," ucap Robert.
"Jika kau terus mengomel kau mengganggu, membut pekerjaan ku semakin lama selesai Robert," Jonnatan menjawab dengan fokus membaca dokumen-dokumenya.
"Tuan, jika anda sakit, apa anda tidak kasihan kepada saya?, tenaga tua saya akan terkuras untuk menggantikan anda bekerja," keluh Robert.
Jonnatan melirik Robert, ia memiliki ide untuk menggodanya."Sepertinya saat ini, aku punya ide untuk memberikan makanan kepada buaya-buaya paman, dengan tubuh mu Robert."
"Ma-maaf tuan." Robet menunduk.
"Haha dasar kau asisten kurang ajar. Setelah satu bulan ini kau bertingkah seperti baby sister ku, Robert." Jonnatan lalu menaikan kedua sudut bibirnya.
Robert berhasil membuat Jonnatan tersenyum bahkan tertawa, karna sudah lama Jonnatan tidak seperti itu, semenjak Jullia meninggalkannya.
"Maaf tuan, saya hanya khawatir, anda sangat bersemangat satu bulan ini, sampai melupakan diri anda sendiri," ucap Robert.
"Kau tau? kau sudah membuang lima menit ku!, sekarang siapkan dokumen untuk pertemuan klien kita di hotel Rose!, kita berangkat lebih awal untuk makan siang di sana," ucap Jonnatan, sambil merapihkan dokumen yang di mejanya.
"Baik tuan." Robert bergegas melakukan tugasnya.
Jonnatan tidak memiliki sekretaris, di hanya percaya pada Robrt, Robert adalah sekretaris dan asisten pribadai Jonnatan.
Di New York.
"Hey beby, ini sarapannya telah selesai ku buat." Ronal lalu menaruh hasil masakannya di meja kerja Jullia.
Namun, Jullia tetap fokus pada layar monitornya, tanpa merespon Ronal. Tiba-tiba sendok yang berisi makanan menyentuh bibir Jullia.
Jullia malas mendengarkan omelan Ronal, menurutnya berdebat dengan Ronnal sangat tidak penting.
Ia membuka mulutnya menerima suapan Ronal yang berdiri di sampingnya. Namun tangan dan matanya tetap fokus pada layar monitor, sampai makanan tak sadar kandas ia makan.
"Beby, kau sangat mempesona hari ini dengan penampilan baru mu, berhentilah seperti robot. Ini cafe milik ku, setidaknya responlah aku, beby" ucap Ronnal.
Suara Ronal seperti angin berlalu, Jullia bahkan tidak merespon sama sekali.
"Cup." Tiba-tiba bibir Ronal menciu Jullia.
“Brukk!."
Dengan gerakan cepat, Jullia menendang milik Ronal dengan kaki jenjangnya, sampai Ronal terjatuh d lantai.
"Ahhk," Ronal meringis sakit.
"Jika kau tetap mengganggu ku, gaji ku akan naik 80%!," ucap Jullia, yang masi menatap monitornya.
"Kenapa aku menyukai wanita kaku seperti mu?. Lihat kayu meja mu!, jika dia bisa bicara pasti hanya dia yang bisa mengobrol dengan mu, sama -sama mahluk kaku!," gerutu Ronal.
"Berhentilah bersikap bodoh Ronal, jika kau tidak ingin cafe ini, berikan saja pada ku. Diamlah di rumah saja tanpa menggangku ku," ucap Jullia.
"Apa kau sudah meiliki kekasih, beby?," ucap Ronal, lalu mengangkat tubuhnya untuk berdiri lagi.
"Tidak!."
"Baguslah," Ronal menyeringai senang.
"Aku menyukai wanita!," bohong Jullia.
Ronal tak habis fikir, ia menaggapi dengan sikap konyolnya."Haha kalau begitu aku harus jadi Waria, beby." Ronal pergi meninggalkan Jullia dengan tawanya.
"Aku pasti sudah ikut gila, karnanya," gumman Jullia.