Di inggris.
Setelah makan dan meeting di Hotel Rose, Jonnatan ingin berbincang-bincang sebentar dengan Robert, tentu pasti dengan hal penting. Karna Jonnatan sangat pelit dengan waktunya.
"Sebulan ini aku sangat sibuk, tapi kau tidak lupa dengan tugas yang ku berikan tentang wanita itu kan?." Jonnata duduk dengan menyilang kakinya, bersandar di sofa.
"Tentu tidak tuan, nona Jullia, ee.. maksud saya wanita itu sekarang bekerja di cafe, dia berhasil mengelola cafe yang akan bangkrut jadi ramai pengunjung bahkan sudah membuat cabang baru dengan sebagai maneger cafe di sana tuan," ucap Robert.
"Lalu ??." Jonnatan melirik Robert.
"Tidak ada tuan," ucap Robert ragu ragu.
Jonnatan menatap tajam Robert."Kau yakin??."
"Maaf tuan, saya tidak yakin anda ingin mendegarkannya atau tidak," ucap Robrt.
"Jelaskan semuanya tentang wanita itu, tanpa ada yang kau tutupi!!," ketus Jonnatan.
"Pemilik cafe sepertinya menyukai wanita itu dan_." Belum sempat Robert menyelesaikan ucapnya tiba-tiba.
"Brakk!." Jonnatan menggebrak keras meja.
"Bisa-bisanya orang lain menyukai wanita seperti itu, laki laki itu pasti bodoh!. Tidak tau siapa wanita jahat yang dia sukai!," ucap Jonnatan meluapkan emosinya.
"Tuan, menghawatirkan laki laki itu??," dengan polosnya Robert bertanya.
"Hancurkan cafenya hari ini juga!!, dan buat laki-laki itu tidak memiliki uang sama sekali!, dia harus di beri hukuman juga, agar dia sadar siapa wanita licik yang dia sukai."
Tanpa menjawab pertanyaan Robert, Jonnatan benberikan perintah. Tangannya mengepal kencang.
"Heh, sepertinya dia cemburu. Bagaimana mungkin, dia mencemaskan orang asing?," batin Robrt.
"Kenapa kau hanya diam Robrt ? aku bilang hari ini juga!," Tegas Jonnatan.
"Baik tuan!."
Robert meraih ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
Hari sudah gelap, menuju pertengahan malam. Akan tetapi tidak membuat Jonnatan mengantuk, di ruang kerjanya ia akan selalu minum -minuman beralkohol setelah menyelesaikan pekerjaanya, kadang sampai terlelap di ruang kerja.
Setelah Jullia meninggalkan dirinya, Jonnatan tidak pernah tidur denagan nyenyak. Kadang otaknya berselancar menjelajah masalalunya bersama Jullia.
***
Di Amerika, waktu lebih lambat lima jam dari Inggris. Jullia melenggang pergi dengan kaki jenjangnya, keluar dari cafe Welcome. Ketika sudah di parkiran mobil, terlihat seorang pria yang tengah menunggu berdiri di samping mobilnya.
"Apa dia tidak lelah megganggu ku?," guman Jullia.
"Beby, kau lama sekali ..," ucap Ronal.
"Kenapa kau di sini?," tanya Jullia.
"Aku ingin mencoba mobil baru mu, beby..," ucap Ronal.
"Tidak masuk akal, mobil mu lebih bagus!." Jullia mengngela nafas kasar.
Tanpa di duga Ronal menerobos masuk, setelas Jullia membuka kunci mobilnya.
Jullia tidak ingin terlalu dekat dengan orang lain, ia membiarkan Ronal ikut karana males untuk mendengarkan ocehannya, yang akan menggangu pendengarannya."Minggirlah!, aku yang menyetir."
"Beby, apa benar kau suka wanita?," ucap Ronal, sambil melirik Jullia yang sedang menyetir.
"Tentu saja," bohong Jullia.
Ronal menggang apa yang keluar dari mulut Jullia adalah kebenaran, dengan polos ia bertanya, "kenapa?."
"Entahlah, aku sangat menyukau bentuk tubuh wanita sexy," bohong Jullia.
Entah mengapa Ronal yang mendengar merasa geli, namun ia tidak bisa menahan tawanya lagi. "Hahaha. Benarkah beby?"
Padahal, jawaban Jullia agar membuat Ronal bungkam, namun telinganya harus mendengar tawa pecahnya.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di tempat tapi bukan sebuah rumah melainkan sebuah gedung.
"Beby, ini tempat apa? Kita berhenti di sini?, tidak pulang kerumah mu?," tanya Ronal.
"Diam lah!, jika ingin tetap ikut." Jullia berjalan di depan seentara Ronal mengekor di belakang.
"Hei Jullia ..!." pria baya menggunakan baju khas jepang serba hitam, bertubuh kekar melabaikan tagan setelah Jullia keluar dari mobil.
"Hei coach, maaf aku datang terlambat," Jullia menunduk memberi salam.
"Kau membawa anggota baru, Jullia?," Tanya pria baya itu.
“Ya," saya anggota baru, saya Ronal." ikut menyapa padahal dia hanya ingin mengikuti Jullia saja.
"Saya Neo, saya pelatih Jullia dan akan menjadi pelatih mu juga." ia memberi tangannya untuk berjabat tanagan. Mereka saling berjabat tagan.
"Aku akan mengganti pakaian coach, Permisi." Jullia melangkah pergi di ikuti ronal yang mengekor.
"Beby, kanapa kau ikut olaraga kendo?, ini extrim beby!," terang Ronal.
"Bernentilah mengomel. Kau bisa ganti baju di sebelah sana!, seragamnya ada di sana,” ucap Jullia, ia menunjuk sisi lemari di sudut kanan.
Ronal menjawab seperti anak kucing penurut, "Ya ya baiklah."
Setelah di Amerika, Jullia mempunyai hobi baru yaitu kendo. Kendo adalah olahraga bela diri dari Jepang yang menggunakan pedang atau samurai.
Empat kali dalam seminggu Jullia akan berlatih, dia tidak pernah tergores menggunakan pedang atau samurainya. karna ia ingin yang di gunakan adalah benda asli. Dia seperti sudah senior dalam menggunakanya.
Dentingan besi yang sangat tajam memenuhi ruanagan mereka berlatih. Tak terasa sudah tiga jam berlalu, Jullia berhenti beranjak meraih minuman di susul Ronal yang mengikutinya.
"Beby aku sudah lelah.. lihat ini! aku sudah tergores," Ronal tidak ingin kalah ia ingin menggunakan samurai asli.
Selesai meneguk minuman Jullia mengarahkan pedangnya ke leher ronal
"Jika kau lelah pulanglah! Berhenti mengomel dan mengikuti ku!," tatapan sinis Jullia.
"Tuhan.. berikan wanita ku kelembutan sedikit saja," Ronal menadahkan kedua telapak tanganya seolah sedang berdoa.
"Aku pulang!," tambahnya pasrah Ronal menatap ketus Jullia dan melangkah pergi melewatinya.
Baru saja Jullia akan melangkah melanjutkan latihanya tiba tiba tangan pria melingkar di pinggang sexy Jullia.
"Lima menit saja ..biarkan aku memelukmu beby!," Ronal memeluk erat Jullia dari belakang.
Jullia yang refleks ingin membanting badan laki laki yang berani memeluknya, tapi kalah dengan tenaga Ronal.
Sang pelatih yang melihat mereka hanya menggelengkan kepala, Pelatih yang biasa melihat pertarungan sedang melihat adegan drama.
"Brukkk!," Jullia berhasil membanting badan Ronal dengan menendang milik Ronal yang bersarang di balik celananya, dengan posisi yang membelakangi Ronal.
"Shhht Beby.. ini sudah dua kali kau berlaku kasar pada senjataku, yang akan menjadi milik mu juga nanti," Ronal meringis sakit di lantai sambil memegangi miliknya.
“Hahah," suara tawa memenuhi ruangan. Pelatih yang mendengarkan tertawa geli.
"Heii pulang lah!, atau aku kan menebas milik mu hah?," Jullia kesal dan malu pelatihnya telah menertawaan mereka.
Ronal yang selalu mendapatkan perlakuan kasar Julliat membuat makin tertantang meluluhkan hatinya. Ronal berpamitan ke neo dan pergi meninggalkan Jullia.
Jullia menghampiri Neo. "Maaf menunggu coach," ucap Jullia.
"Dia sangat menyukai mu Jullia, bersikaplah lembut sedikit atau kau akan menjadi perawan tua, Hahaha," goda Neo.
Jullia hanya diam membiarkan sang pelatih menertawakanya. Bagi Jullia sekarang dendamlah yang terpenting.
Hari ini Jullia sangat lelah setelah olahraga kendo. Dia merendamkan diri dengan air hangat di bathub seperti sedang menghilangkan beban di pundaknya.
Jullia bukan tipe yang menceritakan segala sesuataunya pada orang lain bahkan mengekspresikan perasaanya sendiri.
Setelah selesai beredam dan mandi Jullia duduk di jendela dengan menggunakan kimono padahal malam sangat dingin dengan di temani segelas wine. Ada rasa sesak di dalam dadanya hingga satu botol wine sudah habis ia teguk.
Matahari pagi sudah menerangi kota New York. Dirumanya Jullia sedang menyatap sarapan yang ia buat sendiri.
"Drrrtt." Panggiilan telpon dari Ronal.
"Ya, ada apa?," ucap Jullia.
"Beby apa kau masi di rumah? Cafe kita telah hancur!," panik Ronal.