Kejadian tak terduga
"Tidaklah … itu tidak mungkin. Aku nggak bisa merusak anak orang. Yang lain aja insyaallah aku bisa." Wajah lugunya menatap satu persatu di antara mereka membingkai sesak yang menyeruak dalam d**a. Kemudian netranya menatap gadis yang sejak tadi masih berdiri menunggu keputusan Arkana dengan wajah menunduk dan jemari saling bertaut menambah rasa berat dalam hati. "Jika aku melakukannya pasti akan ada banyak orang yang membenciku, itu tidak mungkin, kita tuh harus menjaga kehormatan wanita."
"Aku nggak pedul! lakukan kalo kamu mau gabung sama kita-kita" Dengan penuh penekanan Rio membentak dan berjalan mendekati Syakila, tangan yang dimasukkan kedalam saku celana dan wajah yang mendongak keatas menambah kesan kesombongan yang ada pada lelaki bertubuh gendut itu.
"Orang lain pasti akan mengejek kelakuanku dan gimana kalau sampai salah satu guru kita tau, aku pasti dalam masalah besar. Nggak! aku nggak mau ngelakuin yang kalian minta" tutur Arkana menggeleng lemah.
"Sudah kuduga dia nggak akan berani. Sudah biarkan saja cemen terus" Rizal mengangkat suara setelah sedari tadi hanya diam mendengarkan temannya berbicara. Ia berjalan keluar kelas dan melewati Syakila yang masih tertegun dengan jawaban Arkana. "Ayo tinggalkan dia!" lantas semuanya bergerak meninggalkan Arkana yang masih diam mematung kecuali Syakila yang berjalan mendekat dan berusaha menenangkan dengan mengusap pundaknya.
"Kenapa mereka selalu mojokin aku ya Syakila, padahal aku selalu berusaha supaya tidak nyakitin mereka" Arkana menerawang jauh ke depan sana. " Cuma kamu yang selalu ada untukku, Syakila" jemarinya meraih tangan gadis bertubuh kurus di depannya dan menariknya menuju sebuah kursi.
Syakila hanya tersenyum malu dan membiarkan tangannya tetap berada di genggaman pujaan hatinya dengan wajah tertunduk. Bibirnya tercekat tak mampu bagaimana menanggapi ucapan lelaki yang masih duduk di hadapannya itu.
"Eh Syakila … tas ku di mana?" Arkana sontak berdiri dan melepas genggamannya begitu saja. Ia beranjak ke kursi tempat ia meletakkan tas kemudian beralih memeriksa laci meja. "Aw … apa ini!"
"Kamu kenapa Arkan" Syakila bangkit dan menghampiri Arkana yang terlihat meringis kesakitan. Raut cemas tergambar jelas di wajah gadis mungil itu.
"Nggak tau. Ini apa?" Arkana mengangkat jarinya yang terjepit sesuatu, darah segar membasahi permukaan meja di antara mereka.
"Hah itu kan -" kalimatnya menggantung Syakila hanya melotot tak percaya dengan kejahilan teman sekelasnya.
"Emang ini apa" Arkana meringis menahan sakit dan berusaha untuk melepas jepitannya itu. Meski darah segar tetap mengalir.
"Itu biasanya untuk menjebak tikus. Aku nggak tau namanya tapi mamaku sering gunain itu kalo ada tikus di rumah" ujar Syakila berusaha menjelaskan, tatapannya berubah menjadi iba tatkala melihat pemuda di hadapannya mengeluarkan begitu banyak darah. "Sini aku bantu" ia menarik tangan Arkana yang terjepit, sesaat manik mereka pun saling beradu.
"Aw … pelan Syakila. Sakit tau" sungut Arkana menarik paksa jemarinya karena Syakila ternyata salah menekan sehingga menambah rasa nyeri yang sudah ada.
"Iya-iya maaf. Sekarang aku lebih hati-hati lagi. Sini!" Dengan paksa Syakila menarik kembali jemari yang sudah terlepas. Perlahan ia menekan untuk membuka jepitannya diiringi tiupan-tiupan kecil berharap bisa mengurangi rasa sakit.
Sangat lincah gadis mungil itu membersihkan dan mengobati luka yang menganga meskipun sesekali Arkana mengeluh perih.
"Aduh berdarah. Anak pak polisi terluka, siapa yang berani sama anak pak polisi ini ha … ha … ha …"
Tiba-tiba saja Rio dan sekelompok temannya memasuki ruangan dan langsung berkerumun, ejekan serta sindiran terus saja dilontarkan dari mulut-mulut kejam mereka. Apalagi melihat darah segar yang masih berada di atas meja, mereka semakin terbahak-bahak.
"Berhentilah kalian! Apa belum puas kalian selama ini!" tidak disangka Syakila mendorong kuat tubuh Ri
o yang gemuk meski gadis kurus ini hanya mampu membuat Rio bergeser beberapa centi.
"Hah kamu! Mau jadi pahlawan kesiangan? Dasar kerempeng!" Rio menggebrak meja yang terdapat banyak darah dengan mata melotot dan memerah.
Syakila tidak bisa mengatakan apapun lagi, bibirnya tertutup rapat tapi maniknya masih menatap tajam indra penglihatan Rio meski ada gumpalan air di pelupuk yang hendak luruh. Saat ini kakinya bergetar hebat karena selama hidupnya ia belum pernah mendapat gebrakan semacam ini.
"Hah digituin aja nangis gimana mau jadi pahlawan" oloknya lagi melihat buliran bening telah menetes ke wajah milik Syakila.
Tidak ada yang membela dua insan malang ini, mereka semua hanya melihat ibarat tontonan gratis. Hal ini membuat Rio semakin gencar karena dialah orang pertama yang paling suka membully.
"Aw … sakit loh" Arkana menarik jemarinya saat ditekan dengan sengaja oleh Rio menggunakan penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu.
"Rasain kau!" Rio berjalan pergi meninggalkan Arkana yang kesakitan diikuti oleh beberapa temannya karena bel pulang telah berbunyi.
"Hey dimana tas kami" teriak Syakila yang berhasil menghentikan langkah mereka.
"Cari sendiri" sahut Rio dengan memalingkan wajahnya kembali ke arah depan. Dengan santai ia melangkah meninggalkan ruangan.
"Masih di ruangan ini" teriak salah seorang dari mereka sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
"Gimana ini Ar, kita tinggal apa kita cari tas kita" tanya Syakila bingung menatap Arkana yang masih menunduk lesu. Dengan cepat ia membenahi kotak p3k yang sebelumnya ia ambil dan menaruh di tempat semula.
"Maafin aku, kamu jadi ikut di bully mereka" Arkana menatap sendu wajah Syakila, menelisik pahatan unik yang terpampang jelas di hadapannya.
"Kamu apaan sih. Ini sudah biasa kan mereka lakukan" Syakila menjawab gugup. Ia pun mengalihkan pandangan ke sembarang tempat dan berusaha menguasai getar dalam hati. Tatapan dari Arkana selalu meluluhkan hatinya sehingga ia menjadi salah tingkah sedangkan Arkana hanya tersenyum ringan melihat sahabatnya itu.
"Ya sudah kita cari sama-sama tasnya yuk" Arkana berdiri dan mulai memeriksa setiap laci meja yang ada. Melihat hal ini Syakila tidak tinggal diam, dia pun memeriksa laci meja dari arah yang berlawanan.
"Gimana" tanya Arkana setelah semua selesai diperiksa, mereka pun bertemu di tengah-tengah ruangan.
"Aku nggak nemu, dimana ya. Apa jangan-jangan di lab sana" Syakila menunjuk keruangan lab sains yang berada dalam ruangan yang sama hanya dibatasi oleh dinding tipis dan diberi pintu.
"Disana, mungkin … ayo!" Arkan berlari kecil ke arah lab dan diikuti Syakila dari belakang.
"Kenapa gelap sekali" bisik Syakila berjalan meraba-raba. Ruangan ini memang tidak diberi ventilasi udara bahkan jendelanya pun tertutup tirai-tirai yang tebal.
Ceklek … Arkana menekan saklar lampu yang tak jauh dari daun pintu sehingga tampaklah semua yang ada di dalam lab itu.
"Ha …" teriak Syakila terkejut setelah semua ruangan telah diisi oleh cahaya lampu. Reflek ia pun memeluk tubuh Arkana dari belakang.