Demam
"Apa sih, ini cuma potongan kaki tengkorak doang" Arkana berusaha menenangkan sahabatnya meski ia sendiri juga sangat terkejut. Bahkan suara degup jantungnya pun sangat sulit ia kuasai. Perlahan Arkan melepas tangan Syakila yang melingkar di pinggang yang begitu erat. "Lepas Syakila, kamu nggak usah takut. Kamu nggak sendiri. Kan, ada aku" lanjutnya meyakinkan Syakila yang masih gemetar hebat. Ia yakin sahabatnya itu saat ini sangat ketakutan.
"Tapi aku takut, kita keluar aja yuk. Biarin tasnya ya" Syakila memberi usul dengan wajah yang masih menunduk dan mata terpejam. Ia masih tidak berani membuka matanya setelah apa yang dilihatnya barusan.
"Ya sudah kamu keluar aja. Biar aku yang nyari sendiri" Arkana menuntun Syakila untuk keluar tetapi ditolaknya sehingga membuat Arkana bingung. "Kamu mau ikut nyari atau nggak. Ini udah sore, kalau takut mendingan keluar aja deh. Jangan bikin ribet" sungut Arkana seraya melepas tangan Syakila kasar.
"Kok kamu bilangnya gitu, Ar" mata sipit Syakila menatap Arkana sayu, ia tak mengira sahabatnya yang ia bela malah mengatakan hal yang menyakiti hatinya.
"Ya sudah ayo cari sama-sama, bentar lagi aku mau les privat. Jangan jadi penakut" lelaki pemilik mata bulat itu kemudian pergi setelah pandangan mereka sempat beradu. Ia tak ingin lagi membuang banyak waktu untuk berbincang.
Syakila pun mengikuti dari belakang dan tidak membiarkan Arkana jauh darinya. Susana ruangan yang sangat sunyi dan juga sejuk menambah rasa takut dalam diri gadis itu, bahkan berulang kali ia pun mengusap-usap tengkuk lehernya dan juga tangannya yang selalu meremang. Apalagi tengkorak manusia ada di setiap sudut dan juga berbagai macam organ-organ tubuh manusia lainnya.
"Apa kamu yakin mereka nyimpannya di sini" Syakila memberanikan diri untuk bersuara setelah sekian lama mereka diam. Tubuhnya bersandar pada sebuah lemari putih yang cukup tinggi. Ia dongakkan kepala dan menatap langit-langit, betisnya sudah terasa pegal. Hingga ia melihat sesuatu diatas sana. "Hei lihat mungkin tas kita di sana" tunjuk Syakila semangat setelah melihat warna biru seperti tasnya yang sedikit terlihat dari bawah lemari.
"Coba aku periksa" Arkana berjalan mendekat dengan menarik sebuah kursi menggunakan salah satu tangannya yang tidak terluka. " Ayo bantu dorong mejanya mendekat" perintah Arkana dengan memajukan dagu memberi tanda. Ia menarik meja setelah meletakkan kursi yang di bawa. "Sudah-sudah" ucapnya lagi setelah meja itu berada tepat di sebelah lemari, kemudian dengan menggunakan satu tangannya ia mengangkat kursi yang tidak jauh darinya.
"Biar aku bantu" usul Syakila dengan merebut kursi yang dipegang Arkana. "Hah kenapa tanganmu panas, kamu demam" tanya Syakila bingung yang tidak sengaja kulitnya bersentuhan dengan Arkana, ia pun segera memastikan dengan menempelkan punggung tangannya di kening Arkana.
"Aku nggak apa-apa hanya sedikit demam, mungkin karena luka ini" Arkana memandangi tangannya yang terasa semakin berdenyut nyeri. Ia pun berusaha kuat meski tubuhnya sudah sangat lemas bahkan wajahnya pun sudah terlihat pucat.
"Tidak-tidak. Kamu sakit! Ayo kita pulang sekarang. Aku antar, tasnya biarin aja. Besok lagi kita cari"ujar Syakila sangat khawatir melihat keadaan Arkana yang semakin lemah. Tak henti-hentinya ia memeriksa suhu tubuh pemuda di hadapannya karena sangat khawatir. "Nggak usah membantah ayo pulang" Syakila memapah Arkana meski sebelumnya sempat menolak hingga wajah mereka pun beradu sangat dekat sehingga gadis berkerudung putih ini bisa merasakan nafas Arkana yang panas.
"Gimana mau pulang, kunci motor ku di tas" sahut Arkana lemah dengan mata masih menatap sayu manik milik Syakila.
"Oh iya …" Reflek Syakila melepas tangannya sehingga Arkana nyaris terjungkal, untung ada meja sehingga tubuhnya bersandar di sana. "Tapi kunciku aku kantongi kok" Syakila memasukkan tangannya ke dalam saku rok dan mengambilnya untuk ditunjukkan kepada Arkana.
"Tapi motor ku gimana, itukan kuncimu nggak mungkin bisa masuk ke motorku" sahut Arkana sedikit terengah. Kini wajahnya pun semakin pucat dan ia tak mampu lagi berdiri hingga duduk di lantai.
"Kamu aku antar pake motor ku dan motor mu di titipkan ke ibu kantin" Syakila berusaha memberi solusi dengan ikut duduk di lantai menghadap Arkana. "Ayo berdiri"
Dengan tertatih Arkana pun berdiri dan berjalan perlahan meskipun beberapa kali ia berhenti karena sangat lemas. Melihat hal ini Syakila menjadi tidak sabar dan berjalan mendahuluinya. "Kamu tunggu sini, jangan kemana-mana"
Selang lima menit gadis itu kembali ke depan kelas dengan membawa motor jadul miliknya, Astrea.
"Ayo pake motorku" teriak Syakila masih di atas motor. "Arkan … cepetan" lama hening tak ada jawaban sehingga dengan terpaksa Syakila turun dan masuk kedalam kelas. "Lama banget sih" gerutu Syakila lagi dengan sedikit berlari. "Kamu dimana" pandangan Syakila menyapu seluruh ruangan kelas tapi ia tak juga menemukan sosok sahabatnya itu. Kemudian ia beranjak ke dalam lab. "Astagfirullah kamu kenapa?" Syakila panik melihat Arkana terjatuh di lantai tepat di balik pintu dengan tubuh tengkurap.
Dengan susah payah Syakila menarik tubuh Arkana yang sedikit berisi, dia sangat kesusahan sehingga matanya tertuju pada sebuah tirai jendela. Ia pun segera melepas tirai itu dan menjadikannya gendongan untuk menggendong Arkana. Meskipun keberatan tapi gadis itu tak menyerah, ia menggendong Arkana di punggungnya dan berjalan membungkuk.
"Pak tolong dong" teriak Syakila kepada suami dari pemilik kantin yang melintas di ujung kelas.
Dengan tergopoh lelaki paruh baya yang biasa disapa dengan pak Salim mendekat "ada apa Mba, dia kenapa? Sakit?" Raut wajahnya terlihat sangat bingung, dengan segera beliau memasukkan segerombol kunci kedalam saku kantong, "bukankah ini anaknya pak polisi Bimo?" tanyanya kemudian seraya memperhatikan wajah Arkana yang terkulai lemas diatas punggung Syakila.
"Iya Pak benar, tolong dong pak naikkan dia keatas motor saya" pinta Syakila dengan menurunkan Arkana perlahan. Kemudian dia meliukkan badan ke kanan dan ke kiri karena terasa pegal begitu juga dengan tangannya yang sedikit keram.
"Ya sudah ayo bapak bantu lagi pula sekolah sudah sepi bapak mau kunci semua pintunya dan bapak juga ada acara setelah ini jadi maafin bapak nggak bisa bantu ngantar Arkana" jelas lelaki bertubuh gempal ini menjelaskan. Dengan segera beliau membantu membimbing Arkana menuju motor milik Syakila. "Bisa nggak Mba?" tanyanya lagi memastikan setelah Syakila dan Arkana sudah berada di atas motor.
"Insyaallah bisa, Pak" Syakila mencoba menghidupkan motornya tapi entah mengapa selalu gagal sehingga pak Salim sedikit ragu meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa motornya, Mba" tanya pak Salim mendekat kemudian mencoba menghidupkan motor Syakila.
" Nggak tau pak, tadi juga bisa kok waktu saya bawa kesini" Syakila mencoba menjelaskan dengan raut wajah yang gusar. Ia sungguh bingung dengan semua ini. Motor yang mati dan Arkana yang semakin panas terasa oleh punggung Syakila karena Syakila telah mengikat Arkana menggunakan tirai sehingga suhu tubuhnya juga terasa oleh Syakila.