8. Kafe

1581 Words
 Beberapa pasangan duduk dan saling bermesraan. Beberapa lainnya bergerombol bersama teman-temannya. Mereka menikmati makanan dan minuman yang tersaji ditemani musik dari live music. Suasana kafe yang homy plus sajiannya yang enak membuat mereka merasa senang. Kecuali seorang perempuan yang duduk di kursi agak ujung. Harusnya kursi itu untuk empat orang, namun hanya dia sendiri di sana. Berkali-kali Naya menilik ponselnya. Kemarin, dia beruntung karena mendapat voucher diskon 60% di kafe ini. Kafe yang baru buka tadi pagi itu memang membagikan voucher melalui i********: bagi beberapa orang yang beruntung. Naya sebagai anak kost yang sering hemat demi melangsungkan kehidupan tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Meski pun nyatanya dia malah jadi sedikit tidak nyaman karena duduk sendirian. Harusnya dia ke sini bersama Dimas. Lelaki itu berjanji akan datang segera setelah jam kerjanya selesai. Tapi sudah dua puluh menit Naya menunggu, Dimas tak juga menunjukkan batang hidungnya. Kling! Pesan yang Naya kirim akhirnya dibalas. From: Dokter Dimas Nay maaf... Saya ada operasi mendadak. Ini saya sempatkan buka hp, yg lain sdh menunggu di OR. ? Naya memanyunkan bibir. Dia rasanya kesal, namun tidak bisa juga marah pada Dimas. To: Dokter Dimas Iya nggak papa dok, saya maklum. Ditatapnya segelas creamy matcha yang baru ia minum setengah. Dia sengaja tidak langsung memesan makan, ingin menunggu Dimas dulu. Naya bimbang. Jika ia pesan makan, artinya dia harus menghabiskan bermenit-menit lagi duduk di sini sendiri. Tapi jika dia langsung pulang, sayang sekali voucher yang ia miliki. Mengamati isi kafe, mata Naya tak sengaja menangkap beberapa orang di atas panggung. Sepertinya ada pergantian penampil. Seseorang yang kini tengah mengatur gitar menjadi perhatian Naya. Rasanya seperti de ja vu. Sudut bibir Naya terangkat ketika pria yang kini memegang mic itu melihatnya. Tak sampai dua detik, pandangannya langsung beralih. Naya berdecak, pasti karena kejadian beberapa hari lalu. Mereka mulai memainkan musik. Musiknya familiar di telinga Naya. Sebuah lagu populer dari band asal negeri ginseng. ??? I don't even know how I can talk to you now It's not you, the you who talks to me anymore And sure I know that sometimes it gets hard But even with all my love what we had You just gave it up Dean sebagai vokalis sekaligus gitaris mulai menyanyikan liriknya dengan sangat baik. Suara Dean bulat dengan sedikit c***k voice yang membuat lagunya jadi sangat enak. Naya bahkan sudah tersenyum lebar sambil mengetukkan jarinya. Tiba-tiba saja dia lupa rasa kesal karena Dimas tak jadi datang. ??? Thought we were meant to be I thought that you belonged to me I'll play the fool instead Oh but then I know that this is the end Tanpa sadar Naya merasa bangga saat pengunjung lain memperhatikan Dean dengan serius. Selain suaranya yang menawan, visual Dean juga tidak main-main. Wajahnya yang tampan membuat orang-orang betah memandangnya. ??? Congratulations Glad you're doing great Congratulations How are you okay How could you be so fine I can see it in your eyes The same look that u gave me that kills me inside Ketika Dean menyanyikan bagian reff yang sering Naya sebut sebagai killing part, Naya menyadari sesuatu. Dean bukan hanya sedang menyanyi. Lelaki itu, lelaki yang kini bernyanyi dengan memejamkan mata itu, dia sedang mengungkapkan perasaannya. Setelah putus dari Maura, Dean memang jadi lebih pendiam, tapi tidak terlihat seperti irang yang baru patah hati. Naya menghela napas. Apa begini cara Dean mengungkapkan perasaannya? Melalui nyanyian? Hingga lagu usai dan pengunjung bertepuk tangan, Naya masih setia memandangi Dean. Pun saat band itu turun panggung, Naya melambai pada Dean dan teman-temannya. Naya kenal salah satunya, anak pemilik bengkel tempat Naya service. Di luar dugaan Naya, Dean malah berjalan ke mejanya. Lelaki itu duduk di hadapan Naya. "Sendirian?" tanyanya. Tadi di panggung, dia merasa miris melihat hanya Naya yang sendirian di sini. Maklum, di hari pertama buka pasti banyak yang ingin mencoba kafe bersama pasangan atau teman. "Iya, Mas." Dean kemudian memanggil pelayan, memesan minuman dan beberapa camilan. Berhubung belum makan, Naya ikut memesan makanan. "Mas Dean kok duduk di sini? Nggak gabung sama teman-teman yang lain?" "Kasihan liat kamu. Duduk sendirian, celingak-celinguk kayak orang ilang." Naya meringis karena sindiran Dean. Sayangnya, apa yang dikatakan Dean sangat benar. "Beneran ke sini sendirian?" tanya Dean setelah mengamati penampilan gadis di depannya itu. Malam ini Naya memakai kulot berwarna milo dan atasan pendek berwarna dusty pink. Wajahnya juga dipolesi make up yang lebih terlihat daripada saat dia ke kampus. "Mas Dean kan lihat sendiri aku nggak sama siapa-siapa." "Oh, aku kira sama pacar kamu." "Pacar?" "Iya. Cowok tengil yang dateng pakai mobil terus bawain kamu makanan." "Cowok tengil?" Naya mengerutkan dahi. "Juna? Itu sih temen aku, bukan pacar. Lagian dia itu keponakannya Budhe Nia, makanya sering mampir." "Berarti sama cowok tinggi yang nganter kamu pulang pakai SUV." Naya tidak menjawab, dia meneguk creamy matcha yang masih tersisa di gelasnya. "Dia, ya?" tanya Dean memastikan. Naya sebenarnya heran Dean jadi kepo begini. "Tapi dia nggak bisa dateng, Mas. Katanya ada operasi mendadak. Padahal tadinya aku seneng karena dapet voucher grand opening, eh malah jadi kesel gini." Dean tampak memainkan banana nugget yang tadi ia pesan. "Kalau dia dokter, kamu yang harus ngertiin, Nay. Dia kan nyelametin nyawa orang, masa mau kamu ganggu? Lagian kamu juga calon dokter." Naya mengangguk mendengar nasihat "super panjang" dari Dean. "Mas Dean sendiri sering manggung di sini?" tanya Naya ketika mereka hanya diam selama beberapa saat. "Nay." "Ya?" "Ini kan hari pertama kafenya buka." "Iya, terus?" Dean memicingkan mata. Ia memberi isyarat dengan matanya "Masa kamu tidak paham?" "Oh iya baru buka, berarti Mas Dean baru pertama kali tampil hari ini. Maaf ya aku agak lemot." "Ya," jawab Dean singkat. Naya menelan ludah, otaknya berpikir keras mencari topik lain. "Mas, aku pernah bilang belum kalau aku ngefans sama kamu?" "Ngefans?" "Iya!" Dean berpikir sebentar, lalu menggeleng. "Belum, tuh." "Jadi ya Mas, aku tuh udah tau Mas Dean dari pas OSPEK. Inget nggak Mas Dean nyanyi di depan anak FK karena dekan kita belum dateng? Mas Dean pas itu nyanyi All of Me, kan? Dari situ aku udah ngefans sama Mas Dean. Mana sambil main gitar, lagi," jelas Naya panjang lebar. Dean mendengus geli. Naya cerewet. "Aku juga sebenernya tau kamu dari pas OSPEK," ujar Dean membuat Naya terperangah. "Kok bisa? Jangan-jangan pas Mas Dean nyanyi terpesona sama aku di barisan penonton, terus Mas Dean inget aku, gitu?" "Kepedean. Aku bisa naik panggung karena kebetulan lagi di sana ketemu teman. Nah, tadinya biasa aja sampai tiba-tiba ada cewek yang rambutnya kayak pohon kelapa lari ke panggung buat nge-dance." "Mas Dean lihat aku ngedance?!" seru Naya. Dean mengangguk, membuat Naya langsung menenggelamkan wajah di meja. Naya masih ingat apa yang terjadi kala itu. "Ayo yang mau tau lagunya boleh ke depan! Yang narinya paling bagus dapet hadiah, lho!" teriak seorang kating yang bertugas menjadi MC. Naya di tempat duduknya sama sekali tak tertarik. Bahkan ketika beberapa orang berlari ke depan untuk menari, Naya masih enggan bangkit. Dia memang dancer, tapi malas jika harus ke panggung untuk menari. Pokoknya Naya tidak mau dia memberi kesan bahwa dia itu lincah, atau yang kata teman SMA-nya sih agak hiperaktif. Tapi semua berubah ketika lagu Growl dari EXO diputar. Mata Naya melebar, ia tak menyangka lagu kesukaannya akan diperdengarkan. Tak tahan melihat tarian ngawur dari beberapa orang di atas panggung, Naya segera berlari. Dia harus memberi tahu gerakan tepat yang sudah ia hafal di luar kepala itu. Jadilah Naya saat itu menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan tiga orang lain yang hanya menari heboh, Naya menari dengan sungguhan, sesuai koreo asli. Bahkan Naya juga berhasil membawa pulang hadiah berupa makanan ringan. "Mas Dean mending melupakan itu semua sekarang!" "Kenapa?" "Aku malu, Mas." "Bagus, kok. Kamu pasti suka banget sama lagunya EXO." "Lho, bentar, Mas Dean inget lagunya?" "Growl, kan?" "Mas Dean dengerin lagu Korea juga? Ck! Ya iyalah, kan barusan juga nyanyi lagu Korea." Naya memarahi dirinya sendiri. "Selama lagunya bagus kenapa nggak?" "Yang barusan itu kan, lagu habis putus, Mas. Mas Dean pas nyanyi bagus ya penghayatannya," ucap Naya sarkas. "Emang baru putus." "Berarti pas dulu nyanyi All of Me itu Mas Dean lagi fase cinta-cintanya ya sama Mbak Maura?" Dean hanya mengedikkan bahu sebagai respons dari pertanyaan Naya. "Ciyeeee nggak nyangka ya Mas Dean bisa gitu. Pasti seneng jadi Mbak Maura bisa dinyanyiin terus sama Mas Dean." "Nay, jangan bahas itu bisa?" Naya langsung mengangguk ketika menyadari raut wajah Dean yang berubah gelap. "Ke sini naik apa?" "Naik ojek online, Mas." "Nanti bareng aku." Naya menatap lelaki di hadapannya. Dia kira Dean itu dingin, heartless, mindless, eh, maksudnya heartless, dan bisanya membuat orang merasa canggung. Tapi ternyata dia punya sisi hangat juga. Naya tersenyum saat menyadari dia bisa mengobrol banyak dengan Dean. *** Hai semuanya! Terima kasih banyak telah mengikuti cerita ini! Oh ya, di sini aku mau menyampaikan sesuatu. Mungkin kalian nanti akan menyadari dimana karakter Naya mengalami perubahan. Bukannya nggak konsisten, tapi ini perkembangan sesuai alur. Naya awalnya masih berusaha masuk ke dunia barunya. Dari Kost-kostan yang antar penghuni tidak saling menyapa ke Kost-kostan yang isinya seperti keluarga. Naya mungkin akan berubah jadi lebih childish, karena dia jadi yang termuda dan sering dianggap adik kecil. Apalagi di hadapan Dimaz yang jauh lebih tua darinya. Tapi nanti akan masuk lagi ke fase Naya jadi lebih dewasa. Ikutin teru, ya! Oh ya kalian udah ngasih pertanyaan? Kalau belum scroll ke part sebelumnya, ya! Supaya rasa penasaran kalian kejawab di QnA. Tapi kalau pertanyaannya terlalu sedikit mungkin aku ga jadi QnA hehe... Pssst. Kalian tim mana? Tim Dean. Tim Dimas. Atau tim oleng?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD