7. Telepon

1580 Words
 Naya sudah makan siang. Naya sudah salat zuhur. Naya sudah melipat baju-bajunya. Naya sudah mengerjakan tugas kuliahnya. Yang belum Naya lakukan adalah meminta maaf pada Dean. Kalian harus tahu apa yang terjadi beberapa jam tadi. Tiap berpapasan dengan Naya, Dean akan langsung memalingkan wajah. Dia bahkan bergegas ke kamar saat melihat Naya di dekat kamar mandi meski pun hasrat ingin pipisnya memanggil. Hubungan di antara mereka yang aslinya memang tidak terlalu dekat kini bertambah jadi canggung. Naya jadi merasa tidak enak. Sepertinya dia melakukan kesalahan yang cukup fatal. Pertama, diaㅡtanpa sengajaㅡmelihat itunya Dean. Kedua, dia menabrak Dean, pun itunya juga. Ketiga, Naya malah blak-blakan soal itunya Dean. Dari ujung matanya, Naya dapat melihat Dean sedang berjalan menuju area jemuran, mungkin ingin mengambil bantal yang dijemurnya. Tak mau kehilangan kesempatan, Naya langsung mengekor. Dean sendiri tampaknya tak sadar dengan kehadiran Naya. "Mas Dean," panggil Naya. "Hmm?" Dean yang sedang menumpuk bantal-bantalnya menoleh dengan satu alis terangkat. Tapi saat menyadari bahwa Naya yang memangilnya, Dean langsung memalingkan wajah. Dia melihat ke arah lain asal bukan ke Naya. "Mas Dean," panggil Naya lagi. "Hmm?" Dean masih tak mau menoleh. "Mas Deaaaan," ulang Naya dengan nada sedikit panjang, biasanya papa akan luluh jika Naya memanggilnya begitu. "Apa sih, Nay?" Dean akhirnya menoleh, meski dengan tampang tidak ikhlas. "Aku mau minta maaf ya soal tadi pagi." "Iya." "Harusnya aku nggak ngomong, ya?" "Hmm." "Mas maafin aku kan?" "Iya." "Tapi Mas Dean nggak perlu malu, loh. Morning wood itu kan...." "Nay," potong Dean. "Beneran Mas, itu normal! Kan bukan karena...." "Nay!" potong Dean lagi. "Aku serius! Mas Dean itu...." "Nayaaaaaa!" Dean sudah mendelik pada Naya. Naya berusaha keras menahan agar tawanya tak keluar. Tadi dia sengaja menggoda Dean, lucknut memang. "Lagi pada ngapain nih berdua?" Dian tiba-tiba muncul dari belakang punggung Naya. "Nggak apa-apa, kok," jawab Dean. "Nggak apa-apa kok sampai manggil Naya gitu? Terus kuping kamu merah banget, De." Dian tak bisa menyembunyikan tawanya. "Kenapa sih, Nay?" "Jadi tadi pagi Mas Dean itu...." "Nayaaaaa." "Mas Dean nggak sengaja aku tabrak terus aku minta maaf," ujar Naya cepat sebelum Dean memotongnya lagi. "Masa cuma itu?" "Ya emang cuma itu, Mbak." Dian sebenarnya masih curiga, namun dia teringat tujuannya mencari Naya. "Nay kamu ada tamu, tuh." "Tamu?" Alis Naya bertaut. Sepertinya dia tidak punya janji dengan siapa pun. "Iya. Cowok terus pakai mobil." Mendengar penjelasan Dian, tanpa sadar bibirnya sedikit naik. Naya bergegas ke teras untuk menemui tamu. Semoga tebakannya tidak salah! "Hai, Nay." "Hai! Kok kamu di sini?" Naya mempersilakan tamunya duduk. "Mampir. Perasaan tadi dari dalem senyam-senyum, kok sekarang senyumnya ilang?" Naya tersenyum tipis. "Heran aja. Ada apa gerangan seorang Arjuna Bagaskara datang ke sini." Juna terkekeh. "Yakin? Bukan karena ngarep diapelin yang lain?" "Jangan ngomong sembarangan, deh!" Naya memukul pelan lengan Juna. "Kok dipukul? Aku ke sini bawain kamu sesuatu, tau." Juna mengelus lengannya yang habis dipukul. "Emang bawain apa? Pacar?" "Kalau pacar cari sendiri sana! Nih aku bawain wingko babat, kemarin kakakku yang kuliah Semarang pulang." Juna menyerahkan satu kresek besar bungkusan-bungkusan berisi wingko. Naya menerimanya dengan mata berbinar. "Banyak banget, Jun." "Bagi-bagi sama yang lain. Tadi aku juga udah ngasih tante." "Baik banget, sih," puji Naya. "Iya dong, namanya ju...." Kalimat Juna terpotong karena sosok Dean yang keluar dari dalam kost. Naya dan Juna mengangguk kecil saat Dean melewati mereka. "Perasaan tadi panas, kok sekarang dingin?" tanya Juna sarkas setelah motor Dean meninggalkan area kost. "Ngawur!" Naya menyenggolkan lengannya ke badan Juna. "Ya udah Nay, aku mau pulang dulu." "Sekarang?" "Iya, dong. Itu dibagi-bagi lho, jangan dimakan sendiri." "Iya tau! Udah sana pulang!" Naya melambai pada Juna yang telah berada di dalam mobil. Tak bisa Naya pungkiri, tadi dia sempat berharap bahwa dokter Dimas yang datang. *** "Kelompok tiga siapa aja?" tanya Rachel. Dia sedang mencatat kelompok tugas. "Ada Naya, Lisya, Farah, sama aku." Melodi membacakan coretan di papan tulis yang sempat ia potret. "Itu tiga serangkai kok kebetulan banget bisa satu kelompok?" "Takdir kali. Eh nanti kalau aku ngerjain tugas dikacangin nggak ya?" "Ya nggak lah, Mel. Mereka tuh baik, kok. Lagian ada si Naya. Tau sendiri dia tuh friendly-nya kayak apa," sahut Sarah. "Iya juga ya. Ngomong-ngomong soal Naya, kalian sadar nggak kalau dia banyak yang suka?" "Nyadar banget, Mel. Aku sering tuh ngegap anak cowok liat-liatin dia. Wajar sih, Naya cantik gitu." "Iya kita nyadar, tapi dianya yang nggak nyadar. Naya tuh cantik tapi nggak sadar kalau dia cantik." "Bagus, dong! Daripada jelek tapi sok cantik, mendingan si Naya." "Hayo ngapain Naya-Naya?" Suara Naya yang baru masuk ke kelas membuat mereka bertiga terkejut. "Nggak, Nay. Cuma ngomongin kalau Melodi satu kelompok sama kamu." "Oh, kalau gitu aku duluan, ya!" pamit Naya. Dia memang kembali ke kelas karena charger-nya tertinggal. Lisya dan Farah sudah pulang duluan, jadi dia berjalan sendiri menuju parkiran. Tangannya sibuk memasukkan charger ke dalam tas. "Naya." "Ya?" Naya menoleh karena namanya dipanggil. Ternyata yang memanggilnya dokter Dimas. Pria itu memakai celana hitam dan kemeja cokelat muda. Tangan kirinya memegang kunci mobil, sementara di tangan kanan tersampir jas dokter. "Buru-buru banget mau ke mana, sih?" "Mau pulang, Dok. Nggak buru-buru, kok. Dokter Dimas kok ada di sini?" "Iya tadi saya habis operasi terus ngobrolin sesuatu sama dokter Adam. Pas saya mau pulang liat kamu jalan cepat ke kelas, terus sekalian aja saya tungguin." "Nungguin saya? Kenapa?" "Emmm." Dokter Dimas memejamkan satu matanya dengan hidung berkerut, mencari jawaban yang pas untuk Naya. "Ya nggak apa-apa, sih. Kamu asyik, jadi nggak ada salahnya kan saya mau temenan sama kamu?" "Jadi Dokter Dimas mau temanan sama saya?" "Iya. Ini kalau kamu nggak keberatan, sih. Kecuali kamu nggak suka temenan sama om-om kayak saya karena saya udah tua terus...." "Dokter apaan, sih?" potong Naya. "Emang saya pernah bilang Dokter Dimas kayak om-om?" "Nggak, sih." Naya menengok arloji di tangannya, sudah cukup sore. "Dok saya sebenarnya nggak buru-buru, tapi saya mau pulang." "Oh, mau saya antar?" "Nggak usah, Dok. Saya naik motor sendiri, kok." "Saya antar sampai parkiran aja gimana?" "Emmm... Kayaknya jangan, deh. Soalnya saya parkirnya jauh. Kalau Dokter nganterin saya, malah saya yang jadi nggak enak." "Beneran?" "Beneran, Dok." Dimas terdiam sambil berpikir. Melihat raut Naya yang sudah kelelahan, Dimas akhirnya setuju. Dia tak tega menahan Naya lebih lama lagi. "Ya udah tapi kasih nomor kamu dulu, ya." "Buat apa, Dok?" "Buat ngabarin saya kalau kamu udah sampai rumah." Naya terkikik, pria berusia dewasa juga bisa modus ternyata. *** Naya menggerakkan kepala. Begini nih kalau terlalu fokus membaca, tubuhnya langsung pegal! TOK, TOK! TOK! Mendengar pintu kamarnya diketuk, Naya segera bangkit dan membukanya. "Kenapa, Mas?" tanya Naya pada Bagus yang kini berdiri di depan pintu kamarnya. "Ikut aku, yuk!" "Kemana?" "Cari makan. Yang lain udah pada makan. Kamu dari tadi di dalam kamar pasti belum makan, kan?" "Duh gimana ya, Mas?" Naya melirik ke buku di meja belajarnya. "Kalau belajar tapi perutnya masih kosong juga nggak akan masuk, Nay." Naya berpikir sebentar sebelum mengiyakan. Mereka berboncengan menuju salah satu tenda yang menjual pecel lele. Tenda ini cukup jauh dari kost-kostan mereka. Sebenarnya ada beberapa tenda khas Lamongan lain sepanjang perjalanan, tapi Bagus malah memilih di sini. "Yang lain minyaknya kotor kayak nggak pernah diganti. Kalau ketahuan sama Dean makan makanan kayak gitu, bisa dimarahin aku." Begitu jawaban Bagus ketika Naya menanyakan alasan kenapa memilih tempat makan yang lebih jauh. "Mau apa, Nay? Lele, ayam, atau burung?" "d**a ayam kampung." "Oke. Mas d**a ayam kampung satu, lele satu, sama sayap satu. Minumnya es jeruk sama....." Bagus melirik ke Naya. "Es jeruk juga." "Minumnya es jeruk dua. Makasih, Mas." Bagus tersenyum setelah penjual pecel itu kembali ke depan kompor. Memang bukan warung besar, jadi pesanan dicatat dan dimasak oleh orang yang sama. "Mas Bagus tumben nggak ngapelin mbak pacar." "Mbak pacarnya lagi ngambek." "Diapain sama Mas Bagus?" Bagus menaikkan bahu. Malu jika mau menjawab pacarnya ngambek karena ia ketiduran hingga tidak membalas pesan berjam-jam lamanya. "Kamu sendiri udah punya pacar?" tanya Bagus yang dijawab Naya dengan gelengan. "Masa nggak ada yang ngedeketin?" Naya terdiam,diliriknya Bagus yang kini sibuk menata makanan yang baru datang. Bagus ini palinh tua di antara penghuni kost lain. Jika Dean dianggap seperti "ibu", maka Bagus dianggap sebagai "ayah". "Mas, aku boleh cerita sesuatu?" Bagus yang sedang mencuci tangan di kobokan mengerutkan dahi. "Boleh, dong. Mau cerita apa?" "Aku lagi dekat sama cowok." "Iya tahu." "Mas Bagus tahu?" "Iyalah, nih kamu lagi deketan sama aku." Bagus menatap Naya jahil. "Mas Bagus nyebelin!" "Maaf, deh. Jadi gimana ceritanya? Kamu lagi dekat sama cowok, tapi..." "Tapi umur kita bedanya jauh." "Emang dia umur berapa?" "Ya anggap aja tiga puluh." "Wow." Bagus menjeda kalimatnya. "age gap kalian lumayan berarti," lanjutnya. "Ya kita belum deket yang giman-gimana sih. Cuma aku sebagai perempuan taulah dia lagi mulai gerak. Aku bingung aja nanti kalau maksud dia beneran mau deketin aku, terus hubungan kita mau dilanjut atau nggak." Bagus mangut-mangut. Dia memakan dua suapan makanannya sebelum berbicara lagi, "Kalau kamu mau lanjut, kamu harus siap, Nay." "Siap apa?" "Siap nikah. Umur segitu pasti orientasinya ke pernikahan, dia udah bukan masanya lagi main-main gitu." Naya menekuk wajahnya. Menikah? Dokter Dimas memang tampan, mapan, dan beruang. Tipe calon menantu idaman semua orang tua. Tapi masa iya menikah?. *** Hai semuanya! Terima kasih sekali telah memberi dukungan pada cerita ini ???❤️❤️❤️❤️ kalau ada kritik dan saran, sangat boleh, lho! Di part 10 akan ada QnA singkat. Kalau ada yang mau ditanyain boleh nih. Untuk Naya Untuk Dean Untuk Dimas. Warung tempat Naya sama Bagus makan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD