Erika menundukkan kepalanya dan mengiriminya pesan singkat yang mengatakan, "Nomor rekeningku sudah kukirim ke nomor teleponmu. Kelak langsung saja mentransfer cicilanmu ke rekening itu."
Begitu kalimat itu terlontar, notifikasi pesan singkat pun berbunyi dari ponsel pria itu.
Pria itu menunduk untuk melihat ponsel di sakunya, pandangannya tersirat tatapan yang penuh arti.
Ketika dia hendak berbicara, ponsel wanita yang ada di hadapannya pun berdering di saat yang tidak tepat.
Jacky yang menelponnya lagi.
Erika menjadi kesal ketika melihat nomornya yang muncul di layar ponselnya, dan mengangkat telepon, tidak menunggu orang yang ada di ujung telepon untuk berbicara, Erika pun memakinya dengan ketus, "Jangan menggangguku lagi! Biar kukatakan padamu, aku tidak punya uang dan tidak akan membayar tagihan pesanan makanan malam itu. Aku juga tidak memerlukan pekerjaan di PT Tirta lagi, terserah kamu mau melakukan apa, aku katakan padamu, aku berhenti bekerja!"
Setelah mengumpat, Erika langsung menutup telepon, dan memblokir nomor kontak Jacky, dia merasa sangat puas.
Lagipula dia sekarang memiliki gigolo tampan ini sebagai mesin ATM, pekerjaan di PT Tirta sudah bukan merupakan ancaman lagi baginya.
Palingan dia besok akan mulai mencari pekerjaan baru lagi, sama sekali bukan masalah besar!
Erika menyimpan ponselnya dan menghembuskan napas panjang, dia berjalan ke meja dan mengambil segelas anggur lalu menenggakknya.
Setelah menenggak habis segelas anggur, Erika pun bersendawa dan duduk di sofa, dan mulai mengutarakan unek-uneknya..
"Sebenarnya, aku juga tidak ingin mencarimu lagi, tetapi apa daya, Jacky si pria licik itu terlalu keterlaluan, dia mengancamku dengan pekerjaan yang baru kudapatkan dan bahkan menggunakan namaku untuk memesan sebotol anggur yang seharga ratusan juta, seluruh hartaku sekarang hanya ada belasan juta, aku mana sanggup membayar tagihan sebesar itu!"
Pria itu mendengarkannya dengan tenang, tatapannya menjadi tajam.
"Hais, sudah lah, jangan dibahas lagi, pokoknya, terima kasih kamu tidak menolak permintaanku, setelah kamu melunasi hutangmu, maka masalah kita berdua sudah bisa dikatakan impas."
Setelah mengatakannya, Erika berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan terhuyung-huyung.
Pria bertopeng itu segera bangkit untuk memapahnya, "Aku akan mengantarmu pulang."
Erika tidak biasa minum anggur, dia akan mabuk setelah menghabiskan segelas anggur.
Erika bersandar di pelukan pria itu dan mengulurkan tangan untuk mendorongnya, "Tidak, tidak perlu!"
Pria itu tidak bergeming, dia memeluk pinggang Erika yang ramping dengan mantap dan berjalan keluar dari bar. Pengawal pintu yang melihat Erika bersandar di dalam pelukan pria itu seketika terperangah dan terbelalak: "Tuan Muda hmm.."
Pria itu meliriknya sekilas, tatapan itu langsung membuat pengawal itu tercekat.
"Johanes." Pria bertopeng itu berpesan pada asistennya dengan dingin, "Pergi bayar tagihannya."
Johanes yang bersembunyi di sudut segera menampakkan diri dan menjawab: "Baik!"
......
Keesokan harinya, Erika yang tersadar tetap berangkat kerja ke PT Tirta seperti biasanya.
Meskipun dia tidak ingat bagaimana dia sampai di rumah tadi malam, tetapi Erika mengingat dengan jelas bahwa dirinya yang lepas kendali telah melampiaskan amarahnya pada Jacky, dia bahkan memblokir nomornya.
Meskipun pada saat itu amarahnya terlampiaskan, tetapi setelah Erika menenangkan diri, Erika tetap memilih untuk tunduk pada kerasnya hidup, dia tetap berangkat kerja ke PT Tirta.
Lagipula dia tidak punya uang untuk membayar kompensasi pembatalan kontrak kerja, isi dompetnya juga kian menipis, selain bekerja, Erika tidak memiliki pilihan lain.
Dia pergi ke kantor dengan hati yang gelisah, Erika tadinya berpikir dia akan menjadi bahan tertawaan segerombolan orang, tidak disangka rekan kerjanya langsung mengelilinginya ketika melihat dirinya tiba di kantor.
Semuanya sibuk bergumam: "Erika, mengapa kamu pulang begitu cepat kemarin malam?"
"Benar! Tadinya kami masih ingin mengajakmu minum-minum, terima kasih ya atas traktiranmu, kami cukup bersenang-senang semalam."
"Benar!" Erika, ternyata kamu sangat tajir, kamu bahkan tidak mengedipkan mata ketika membayar tagihan yang hampir tembus empat ratus juta, benar-benar royal!"
Erika yang dikelilingi segerombolan rekan kerjanya terbelalak dengan takjub.
Dia membayar tagihan? Sejak kapan dia membayar tagihan?
Di rekeningnya sama sekali tidak ada uang kan?
Jangan-jangan... Gigolo itu yang membantunya membayar tagihan?
Tetapi bukankah dia mengatakan dia tidak punya uang?
Erika menjadi bingung, dia duduk di meja kerjanya dan menundukkan kepalanya untuk mengirim pesan singkat pada gigolo papan atas itu, "Apakah kamu yang membantuku membayar tagihan makanan tadi malam?"
Tidak berapa lama, pria itu membalas pesan singkatnya, "Ya, akan dipotong dari hutangku padamu."
Erika yang membaca pesan singkat itu langsung menjadi kesal dan menggertakkan giginya!
Dasar pria licik! Dia mengatakan padanya bahwa dia tidak punya uang, tetapi malah sok pintar membayar tagihan yang tidak perlu dibayarnya, dan membuatnya mengalami kerugian sebesar empat ratus juta!