Bab.11 Anak-Anaknya Tidak Boleh Hidup Menderita

667 Words
  Mengambil kesempatan pagi hari yang biasanya tidak begitu sibuk, Erika menyelinap ke toilet dan meneleponnya.   Sambungan telepon itu berdering lama sebelum diangkat oleh orang yang ada di ujung telepon.   "Mengapa kamu membantuku membayar tagihan? Bukan aku yang memesan makanan itu, aku dikerjai oleh rekan kerjaku!" Erika berkata dengan suara yang rendah, kekesalannya masih belum mereda.   Pria itu terdiam selama dua detik dan terkekeh: "Kamu menyayangkan uang empat ratus juta itu?"   "Tentu saja aku menyayangkannya!"" Erika berkata dengan kesal: "Kamu tidak pernah merasakan penderitaan saat tidak punya uang, jadi pasti tidak mengetahui betapa pentingnya uang itu bagiku!"   Hidup tidak lepas dari kebutuhan pokok, dan semua kebutuhan itu memelukan uang. Jika dia hanya seorang diri, Erika tidak keberatan hidup miskin dan menderita.   Tapi dia memiliki tiga orang anak, tidak apa-apa jika dirinya menderita, anak-anaknya tidak boleh hidup menderita!   Keheningan untuk beberapa saat, dan kemudian pria itu berkata: "Kalau begitu aku akan mentransfer pendapatanku tadi malam padamu."   Setelah dia mengatakan kalimat itu, pria itu menutup telepon, sepuluh detik kemudian, Erika menerima notifikasi uang masuk sebesar sepuluh juta rupiah. Erika terbelalak dan menatap saldo yang bertambah di rekeningnya dengan tatapan tidak percaya.   Pria itu bisa menghasilkan dua puluh juta rupiah dalam satu malam! Gigolo itu sudah menerima tamu semalam!   Perasaan Erika campur aduk, dia terdiam di situ untuk waktu yang lama sebelum menyimpan ponselnya dan kembali ke meja kerjanya.   Ruang rapat.   Johanes memperhatikan atasannya yang sedang melamun sambil menatap layar ponsel, dia memanggil dengan suara pelan, "Pak Immanuel?"   Barusan ponsel atasannya berdering, dan atasannya itu memecahkan rekor dengan mengangkat telepon di ruang rapat, seulas senyum tipis juga terukir di wajah tampannya itu. Hal ini baru pertama kalinya terjadi di ruang rapat.   Johanes bekerja dengan atasannya ini selama bertahun-tahun, dia sama sekali tidak pernah melihat atasannya yang dingin ini mengangkat telepon saat sedang rapat.   Jangan-jangan, Pak Immanuel yang melajang selama bertahun-tahun telah jatuh hati pada seorang wanita?   Immanuel tersadar dari lamunannya, "Lanjutkan."   Sekelompok petinggi perusahaan yang ada di ruang rapat kembali melaporkan perkembangan pekerjaan padanya.   *   Tadinya Erika mengira Jacky akan datang mencari masalah padanya, tetapi di luar dugaan, sampai waktunya pulang kerja, pria m***m itu masih tidak kunjung muncul.   Hal ini membuat Erika menghela nafas lega.   Keesokan harinya sudah akhir pekan, Erika berencana menggunakan uang yang ditransfer ayah dari anak-anaknya itu untuk pergi ke pusat perbelanjaan, membeli persediaan barang untuk kebutuhan sehari-hari.   Erika baru kembali dari desa, kondisi rumah yang disewanya sangat memprihatinkan, banyak tempat yang harus diperbaiki.   Segala sesuatu sudah berubah, setelah lima tahun, dirinya yang sebelumnya merupakan putri sosialita, terpuruk sampai saat ini dan menjadi seorang ibu tegar yang tunduk pada kerasnya kehidupan.   Untuk menghemat uang, Erika sengaja menunggu waktu yang tepat, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mutiara akan mengadakan promo di akhir pekan.   Pagi-pagi sekali, Erika membawa ketiga anaknya dan juga Bibi Fatihah pergi ke pusat perbelanjaan.   Tangan kirinya menggandeng putri bungsunya, Erline, tangan kanan menggandeng putra keduanya, Harold, sedangkan putra sulungnya, Hendry, dengan patuh menggandeng tangan Bibi Fatihah. ketiga anaknya itu sangat menggemaskan, kulit mereka mulus dan putih, paras mereka terlihat seperti boneka yang imut.   Sepanjang jalan, mereka sudah menarik banyak perhatian dari kakak-kakak yang ada di pusat perbelanjaan.   "Ya Tuhan! Kembar tiga ini sangat menggemaskan! Paras mereka juga sangat cantik dan tampan!"   "Bagaimana mungkin ada anak yang begitu rupawan, lihat anak kecil itu! Sangat tampan dan menggemaskan, aku rela menunggunya selama 20 tahun!"   "Apakah wanita itu adalah ibu mereka? Tampangnya sangat polos dan menawan, ayah anak-anak itu pasti tampannya bukan main!"   "Cepat buruan! Keluarkan ponsel untuk mengambil foto, foto-foto mereka pasti akan menjadi viral jika diunduh ke f*******:!"   Erika mendengarkan gadis-gadis kecil yang sedang kasmaran itu, dan melihat ketiga anaknya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.   Penampilan ketiga anaknya ini sangat mencolok, tidak peduli seberapa sederhananya penampilan mereka, asalkan membawa mereka keluar jalan-jalan, mereka pasti akan menarik perhatian dan membuat heboh banyak orang.   Rombongan tiba di area bermain anak-anak, Erika berjongkok dan berpesan pada ketiga anaknya, "Anak-anak, Ibu akan pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu, kalian bermain di sini bersama dengan Bibi Fatihah, harus patuh, mengerti?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD