Bab 8 - Kontrak Pernikahan

2246 Words
Begitu berjalan menuju ruang kerja Jayden. Sayup suara baling-baling Helikopter menyapa pendengaran Aruna. Melirik ke arah pintu kaca itu dan melihat Helikopter berwarna putih sedang terbang menuju ke arah Helipad. “Pak...” Pak Rudi menolehkan kepalanya begitu mendengar panggilan Aruna, “Boleh saya ikut melihat?” tanya Aruna dengan tatapan menatap ke arah Helikopter itu. Pak Rudi tersenyum, berjalan ke arah belakang Aruna lalu mengangguk. “Silakan, Non.” Aruna kembali berjalan di belakang Pak Rudi menuju pintu kaca ke arah taman samping dengan hamparan rumput hijau yang luas. Di tengah taman, ada stepping stone yang memberi akses jalan. Suara baling-baling Helikopter mulai bergema semakin keras, bersamaan dengan angin yang menerpa tubuh dan membuat rambutnya berkibar. Dari kejauhan, dia melihat lapangan tempat turun Helikopter itu begitu luas. Di pinggirnya ada puluhan atau belasan orang yang berdiri tegap dengan pakaian yang sama dengan orang yang mengejarnya kemarin malam. Tangan Aruna menghalau rambutnya yang beterbangan karena sapuan angin yang begitu kuat semakin helikopter itu terbang rendah. Begitu Pesawat itu mendarat, dia merasakan debaran jantungnya yang berdetak semakin kencang. Tak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang. Semua bergerak slow motion di sekitarnya, layaknya scene dalam sebuah film dimana semua bergerak lebih lambat dan fokusnya hanya tertuju kepada pintu Helikopter yang terbuka. Aruna tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tak mengerti dengan perasaannya. Apakah dia sudah mulai tertarik dengan pria yang usianya bahkan hampir dua kali lipat darinya itu. Pria yang bahkan merenggut kesuciannya yang begitu dia jaga. Pria gila yang juga menawarkan pernikahan dan memberikannya uang dua ratus juta dengan begitu mudah. Napas Nadya tercekat saat pria-pria berbadan tegap itu berlari ke depan Helikopter bersamaan dengan pintu Helikopter yang terbuka. Dia melihat bagaimana ketampanan Jayden langsung menyapa pemandangannya. Sama seperti pagi tadi, saat Aruna kembali bertemu dengannya setelah malam itu berakhir. Pria itu masih terlihat sempurna mengenakan setelan mahal yang dibuat khusus untuknya. Aruna memperhatikan wajah tampan Jayden yang baru saja keluar dari pintu Helikopter itu, menyapa Pak Rudi yang ternyata sejak tadi meninggalkannya untuk menyambut Tuannya. Alis tebal sangat sempurna berpadu dengan rambut hitam dan mata cokelat miliknya. Dia tahu sejak pertama kali melihat Jayden berpapasan dengan pria itu saat di hotel, Aruna sudah begitu kagum denganya. “Itu...” Aruna bergumam, begitu tatapannya menatap ke arah penyangga yang berada di tangan sebelah kanan Jayden. Tangannya menutup mulut, cukup terkejut dengan apa yang dia lihat. Cara berjalan Jayden terlihat aneh. Tongkat besi kecil yang dia gunakan seolah menyangga tubuh tegapnya. Bagaimana mungkin kemarin saat bertemu dengan pria itu, Aruna tak menyadari bahwa Kaki Jayden tak bisa berjalan dengan normal. “Kamu sudah sampai?” suara bariton Jayden yang menyapa pendengarannya membuat Aruna mengangkat kepala. Dia tersentak saat melihat pria tampan dan rupawan itu berdiri tepat di depannya. Tubuhnya yang tinggi semampai seolah menutupi tubuhnya yang mungil. Mata hitam Aruna berkedip beberapa kali, mencoba menyadarkan dirinya yang terpaku. Sorot matanya tampak sedih melihat tongkat yang ada di tangan kanan pria itu. Jayden menyadari tatapan Aruna, dia terkekeh. “Kau baru menyadari bahwa aku cacat?” tanyanya to the point sontak membuat wajah Aruna memerah. “Bukan begitu,” ujar Aruna gelagapan, tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ha... ha... ha...” tawa renyah Jayden yang menggelegar mengejutkan Aruna. Dia tersentak saat tangan pria itu mengusap rambutnya dengan begitu lembut. Kepalanya mendongak menatap Jayden sehingga tatapan mereka bertemu. Aruna tak tahu, bagaimana dia bisa menjelaskan bagaimana memesona pria di depannya ini. Gurat-gurat halus kedewasaan terlihat dari wajahnya. Rambut halus tipis yang tumbuh di sekitar bibir dan pipinya membuat Jayden terlihat lebih dai sekedar tampan. Tapi begitu memukau. Dia yakin semua wanita akan terpukau dengan ketampanan Jayden meskipun umurnya di akhir 30 tahunan. “Sebelah kakiku memang tidak bisa berjalan normal. Tapi, bukan berarti aku harus kamu kasihani.” “Siapa yang mengasihani, Om. Orang yang harusnya dikasihani itu aku, bukan Om,” gerutu Aruna mendenguskan napasnya mendengar ucapan Jayden. Dia sedikit tersinggung. Apa maksud pria itu dengan mengasihaninya. Meskipun, sebelah kaki pria itu tidak bisa berjalan dengan benar tapi bukankah dia adalah salah satu Crazy Rich Indonesia. Hidupnya bergelimang harta dengan segala fasilitas terpenuhi. Rumah yang super duper luas dengan belasan atau bahkan puluhan pelayan. Belum lagi pengamanan super di setiap lingkungan rumah ini. Bagaimana bisa dia mengasihani pria yang mungkin bahkan belum pernah makan di warteg atau makan indomie campur nasi di akhir bulan. “Om?” Jayden membulatkan matanya mendengar gadis baru pagi dia lamar menjadi istrinya itu memanggilnya seperti itu. “Iya, Om. Umur Om kan dua kali lipat umurku, cukup pantas untuk jadi orang tua atau adik orang tuaku,” celetuknya begitu saja kini membuat Jayden kembali tertawa. Dia menatap gadis kecil dengan sorot mata teduh. Tinggi badan gadis ini yang hanya sedikit di atas dadanya, membuatnya terlihat begitu mungil. Mata bulat itu berani menatapnya lantang, tak ada orang lain yang berani menatapnya seperti itu kecuali kakek dan juga kedua orang tuanya. Sebagai Pewaris Edzard Company, tak ada orang yang berani memanggilnya Om. Dan gadis kecil ini dengan berani melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan orang lain, termasuk menyelamatkannya malam tadi. Itu yang membuatnya kagum. “Memang saat boleh memanggil Anda Om?” kata-kata yang berubah begitu formal yang diucapkan gadis itu kembali membuat Jayden tertawa. “terserah kamu,” ujar Jayden pada akhirnya tak tahan dengan kepolosan gadis ini. Dia melirik, menatap gaun berwarna putih layaknya putri kerajaan Inggris yang dia kenakan tadi pagi, menandakan bahwa gadis ini baru saja sampai dari rumahnya. Dia tahu apa yang terjadi dengan gadis ini dalam waktu sehari. Bima -tangan kanannya mendapat banyak informasi yang membuatnya merasa iba dengan gadis itu. Jayden merasa dirinya adalah orang paling malang. Kecelakaan yang disengaja oleh orang yang tak suka kepadanya membuat kaki kanannya terluka dan sampai sekarang tak bisa digunakan dengan benar. selama ini dia selalu mengasihani dirinya sendiri yang cacat padahal seluruh keinginannya di dunia ini terpenuhi. Uang keluarganya selalu berlimpah. Meskipun cacat, dia masih bisa membeli apa pun yang dia inginkan. Berbeda dengan gadis kecil di depannya ini. “Kau sudah memutuskan semua hubungan dengan keluargamu?” Aruna menangguk cepat, Jayden menatapnya lekat. Membayangkan seberapa parah perlakuan kedua orang tua gadis itu sehingga gadis kecil itu bisa tersenyum lega ini begitu mengatakan bahwa dia sudah memutuskan hubungan keluarga mereka. “Kau senang?” Gadis kecil itu terdiam, mencembungkan bibirnya, lalu kembali mengangguk. “Aku pikir tadinya aku akan sedih begitu memutuskan hubungan keluarga dengan mereka. Tapi....” Aruna menghentikan ucapannya dan menghela napas dalam. Tangannya merapikan lengan pakaiannya dengan mengusapnya lalu menatap mata Jayden dengan pandangan bahagia, “... ternyata semua tidak semenyedihkan itu. Om tahu, Ayah kandungku sendiri mengira aku menjual tubuhku kepada pria tua bangka untuk mendapatkan uang itu.” “Yah.... walaupun hal itu tidak sepenuhnya benar,” ucapan yang bersamaan dengan sorot mata gadis kecil ini yang meredup membuat perasaan bersalah memenuhi diri Jayden. Ingatan malam tadi saat dia merengut kesucian gadis itu kembali berpendar di kepalanya. Obat Perangsang yang diberikan oleh lawan bisnisnya berikan membuatnya hilang akal dan merenggut sesuatu yang harusnya tak dia rebut. “Sorry...” lirih Jayden yang disambut gelengan dan senyuman Aruna. “It’s okay, Karena hal itu juga, saya akhirnya bisa bebas dari Ibu Tiri saya yang mengerikan.” Senyuman dan binar di mata Aruna membuat Jayden menyadari betapa baik dan polosnya gadis ini. Gadis ini tahu cara membalas budi dengan baik dan itu membuat Jayden yakin menikahi gadis kecil ini adalah cara terbaiknya untuk tetap bisa mengamankan posisinya sebagai Pewaris Edzard Company, setidaknya lawan bisnisnya tak akan bisa mempengaruhi gadis itu. “Mari kita bicarakan urusan kita di ruang kerjaku,” ajak Jayden sembari meminta para pengawalnya untuk pergi terlebih dahulu. Aruna menoleh begitu melihat jajaran pengawal Jayden pergi terlebih dahulu, meninggalkannya dengan Jayden berdua. Bukan, bertiga dengan Pak Rudi yang sadar diri dan berdiri agak jauh tanpa mengganggu pembicaraan mereka. Dia melirik ke kaki Jayden yang terlihat tak nyaman berjalan. Sontak, dia berjalan mendekati pria penolongnya itu dan mengambil tangan kirinya agar dia gandeng. Jayden tampak terkejut dengan tingkah gadis kecil yang tiba-tiba mengambil tangan kirinya itu, “Om bisa berpegangan dengan saya. Meskipun, tubuh saya kecil tapi terbukti cukup kuat untuk membawa Om kan?” ucapnya riang dengan mengedipkan mata kanannya. Suasana yang awalnya tegang perlahan mencair dengan sikap gadis kecil itu. Jayden terus memperhatikan gadis kecil yang akan menjadi istri kontraknya ini. Usianya baru 19 tahun, terpaut 17 tahun dengannya. Sangat sadar, Ya... dia sangat sadar bahwa dia gila. Menjadikan gadis yang bahkan belum genap menjadi istrinya. Dia terus memperhatikan bagaimana Aruna berjalan dengan begitu hati-hati, seolah dia adalah benda yang ringkih dan mudah terluka padahal jika dilihat, dialah yang ringkih dan perlu dijaga dengan baik. “Kamu bisa duduk di sana,” ujar Jayden begitu mereka masuk ke dalam ruang kerjanya. Aruna tampak bingung sekaligus takjub melihat ruang kerjanya yang dipenuhi dengan koleksi berbagai macam buku, baik itu dari luar maupun dalam negeri. Rak-rak bukunya tersusun membentuk dinding, di sebelah kanan. Di tengah ada meja kerjanya yang membelakangi dinding kaca yang memperlihatkan taman rumah. Aruna duduk di sofa yang di bawahnya dilapisi oleh karpet turki super mahal yang membuat gadis kecil itu hampir saja melepaskan sepatu yang dia kenakan. Beruntung, Pak Rudi langsung menegurnya. “Nona mau minum apa?” tanya Pak Rudi. Aruna menatap Jayden tak biasa dengan perlakuan istimewa yang dia dapatkan dari siapa pun. “Jus Jeruk boleh?” tawar Jayden yang disambut dengan anggukan. “Buatkan jus jeruk. Dan bawa beberapa makanan manis untuknya. Tubuhnya terlalu kurus,” perintah Jayden kepada Pak Rudi. Bibir Aruna langsung mengerucut, tersinggung saat mendengar Jayden mengatakan bahwa dirinya terlalu kurus. Dia mencibir dengan mata mendelik memperhatikan Jayden yang berjalan tertatih menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahal. Aruna hanya bisa kembali berdecak kagum begitu masuk ke dalam ruangan ini. Luas ruangan ini bahkan hampir seluas seluruh rumahnya dulu. Aruna menggeleng. Bukan rumah. tapi tempat tinggalnya dulu. Ruangan dengan gaya Victorian ini didominasi dengan warna putih degan ukiran dan pahatan unik dan berkarakter di setiap sudut. Chandelier cantik di tengah langit-langit ruangan yang tinggi. Kursi dengan bantalan empuk dengan ukiran di lengan, kaki dan sepanjang sandaran kursi dengan warna kayu yang megah. Lantai dengan ubin bersilang dengan desain dan pola yang mewah. Serta lukisan dari pelukis terkenal dunia yang menggantung di dinding membuat Aruna sadar bahwa dunia Jayden begitu berbeda dengannya. “Ini sebenarnya ruang kerja Kakek. Aku menggunakannya hanya saat aku tinggal di rumah ini.” “Berarti Om tidak tinggal di rumah ini setiap hari? Kenapa?” celetuk Aruna sontak menutup mulut dan memukulnya pelan karena kembali keceplosan. “Maaf, mulut saya terlalu kepo kadang.” Jayden terkekeh geli. “Kamu tak perlu memukul mulutmu seperti itu.” Begitu dia berjalan mendekati gadis kecil itu, wajah khawatir Aruna langsung terlihat membuatnya tanpa sadar menyunggingkan bibirnya. Perlahan, dia menarik kaki kanannya ke arah depan, untuk bisa duduk di kursi single di samping gadis kecil itu. “Mari kita bicarakan tentang kontrak kita.” Jayden memberikan secarik kertas ke depan Aruna yang sontak membuat tubuh gadis itu condong. Dia mengambil kertas itu, mengangkatnya ke atas lalu membacanya dengan seksama. “Kau bisa baca dulu, lalu katakan kepadaku jika ada yang harus di Revisi.” Aruna begitu larut membaca kumpulan kalimat perjanjian formal itu dengan begitu hati-hati, menelaahnya, menyipitkan matanya saat ada kata-kata yang tak dia mengerti. “Kontrak kita beneran lima tahun?” tanyanya. “Kakekku akan curiga jika kita menikah sebentar. Jadi menurutku, lima tahun waktu yang pas untuk kita berpisah. Lagipula, umurmu saat itu sudah bisa dianggap dewasa untuk menentukan pilihan.” Aruna menarik napasnya dalam, “Lalu saya beneran bisa menyelesaikan kuliah saya.” “Aku lebih suka seperti itu. Kau akan menjadi istri CEO Edzard Company, tentu saja kau harus berpendidikan tinggi.” Sudut bibir Aruna naik, tak dapat menutupi senyumannya begitu mendengar bahwa Jayden akan membiarkannya kembali kuliah. Baginya pendidikan adalah hal nomor satu yang bisa membuatnya mengakhiri hidupnya yang sengsara ini. “Yang kau harus lakukan selama menikah denganku adalah bersikap baik, menemaniku ke setiap pesta yang memerlukan kehadiranmu, patuh kepadaku,” jelas Jayden yang terus dianggap dengan anggukan Aruna sembari terus membaca perjanjian itu. Jari telunjuknya membaca satu persatu syarat itu sebelum kemudian berhenti di baris terakhir yang tak dia mengerti. “Selama menikah, Pihak kedua harus bersedia melayani pihak pertama apa pun, termasuk Skinship dan siap mengandung anak pihak per....” Aruna tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia menatap Jayden yang kini bersandar di kursinya dengan aura kepemimpinan yang menguar dari dirinya. Sikapnya tenang tak terganggu dengan Aruna yang kini terlihat gelagapan. “kita akan menikah selama lima tahun. Tidak mungkin, kita tak akan ada hubungan selayaknya suami istri. Dan aku juga memerlukanmu untuk mengandung pewaris dari Edzard Company.” “A-apa?” “Kau tenang saja. Kita bisa mempunyai anak saat kau sudah siap. Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan masa depannya. Setelah kita berpisah, anak itu akan berada dalam tanggung jawabku. Kau bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa,” kata Jayden santai. Dia melihat wajah Aruna yang terkesiap, tatapan matanya kosong. Tubuhnya membeku seolah tersinggung dengan apa yang baru saja Jayden katakan. “Dua milyar per tahun.” Jiwa Aruna yang awalnya kosong, perlahan kembali masuk ke dalam dirinya lalu menoleh ke arah Jayden. “Aku akan memberimu dua milyar per tahun selama lima tahun. Tentu saja, itu tidak termasuk, biaya pendidikan, perawatan, bahkan biaya hidup selama kau menikah denganku. Dan juga, aku akan memberikanmu sebuah rumah mewah untukmu di mana pun kau menginginkannya. Bagaimana?” tawar Jayden dengan nada yang tak dapat Aruna bantah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD