Bab 6 - Memutus Tali Keluarga

1453 Words
Aruna masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Kamar yang dulunya adalah gudang yang akhirnya diberikan kepadanya setelah Bella merengek meminta kamar sendiri. Dia duduk di kasur apek miliknya sembari meremas keras kasur yang ada di bawahnya. Dia sudah terbiasa dengan ketidakadilan. Adik tirinya mendapatkan kamar yang besar dan cerah. Dipenuhi boneka dan berbagai hadiah lainnya, sedangkan kamarnya hanya ada kasur apek, meja kecil yang biasa dia gunakan untuk belajar secara lesehan dan juga lemari kayu yang begitu lapuk. Kamar Pembantu bahkan lebih bagus dari kamarnya sendiri. Kamar itu hanya 2 x 3 meter dengan lantai dilapisi karpet plastik murahan, buku-buku pelajaran milikna dia taruh di rak buku yang dia buat sendiri dari kardus-kardus bekas. Lemari kayunya berisi beberapa lembar pakaian murah yang dia beli dari sisa gajinya. Ketika dia sibuk dengan berbagai kerja sampingannya sejak SMP, Bella malah mendapatkan banyak kursus. Piano, Seni, balet, renang atau bahkan kursus-kursus lain yang sebenarnya tak pernah dia ikuti. Sedangkan dirinya harus bekerja keras di restoran ayam goreng, bekerja di Kafe, Di SPBU bahkan sebagai guru les private SD. Baginya waktu 24 tak pernah cukup untuknya. Selama bertahun-tahun, tidur terlamanya hanya lima jam. Dia akan pulang sekitar jam 11 – 12 dan kembali terbangun di jam 4 pagi sebelum kembali bekerja sebagai penjual koran. Dia menutup mata, menahan air matanya yang ingin keluar. Dengan cepat, dia menghapus bulir air matanya yang sempat mengalir. Menengadahkan kepalanya menatap platfon kamarnya yang bahkan mau runtuh. Umurnya dengan Bella hanya berjarak 1 bulan. Tapi, Bella dapat dengan mudah mendapatkan cinta dari semua orang, sedangkan Aruna bahkan cinta dari ayah kandungnya sendiri tak pernah dia dapatkan. Ayahnya selalu mencap buruk dan menanggap dirinya sebagai hinaan. Pelukan hangat yang selalu Bella dapatkan, tak pernah Aruna rasakan sama sekali. Selama 19 tahun, Aruna tak pernah mendapatkan kebahagiaan dari keluarganya sendiri. Hal itulah yang membuatnya bertekad kuat untuk pergi dari rumahnya dan memutus tali keluarga ini. Dia tak ingin lagi mendapatkan ketidakadilan ini. Dia ingin pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri yang entah mengapa, akan dia dapatkan dari seorang pria dewasa yang melamar untuk menjadikan Aruna istri kontraknya. Lima tahun. Ya, Lima tahun. Waktu itu terlihat sangat panjang, namun tak akan terasa begitu lama saat mereka menjalaninya. Setidaknya, Om itu berjanji untuk membiarkannya menyelesaikan pendidikan. Itu sudah cukup baginya, meskipun kontrak mereka selesai dan akhirnya di bercerai dari pria itu. Setidaknya masa depannya jauh lebih cerah daripada tinggal di tempat yang bahkan tidak memanusiakannya ini. Aruna menghela napas keras, berdiri dengan cepat lalu mengambil satu-satunya tas besar yang dia miliki, lalu memasukkan semua barang yang dia perlukan ke dalam tas itu. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tak akan pernah menginjakkan kaki lagi ke rumah ini. Setelah semua selesai, Aruna turun dengan membawa barangnya yang benar-benar sedikit itu. Begitu dia melangkahkan kaki menuju lantai satu, dia berhenti di dua tangga terakhir dan melihat Ibu tiri, Ayah dan juga Bella yang sedang menghitung uang yang dia lemparkan tadi. “Menurut Mama, Darimana si Runa bisa dapat duit sebanyak ini dalam satu malam?” Suara Bella terdengar sinis langsung terdengar oleh Aruna dari tempat dia berada. “Dia bilang, Bos dia minjamin.” “Sebanyak ini? Mama yakin?!” Decak Bella tak percaya. Dia mengambil salah satu kebatan uang itu lalu memainkannya. “Mana ada bos yang mau minjamin dua ratus juta padahal baru kerja, Kecuali ...” Bella sengaja menggantungkan ucapannya ucapannya sehingga Marni dan Amin langsung menatap putri mereka itu. “Kecuali apa?” tanya Marni dengan ada kepo. Bella memutar matanya, mengebas rambut mahalnya lalu mencondongkan tubuh sehingga membuat kedua orang tua itu melakukan hal yang sama, “... kecuali dia jual diri sama pria tua bangka yang bisa ngasih dia sebanyak ini,” ujar Bella mulai mengompori kedua orang tuanya yang sontak merah padam. Aruna menghela napas, berjalan mendekati mereka. “Kamu beneran jual diri?” tanya Amin dengan suaranya yang menggelegar. Aruna muak melihat sikap Ayahnya yang selalu memakan mentah-mentah perkataan Bella. Dia melirik Bella yang kini tersenyum kemenangan melihat kemarahan ayahnya. “Ibu sama Anak ga ada bedanya,” celetuk Ibu Tirinya membuat Amarah yang Aruna tahan sejak tadi mulai meninggi. “Jangan bawa IBUKU dalam masalah ini,” geram Aruna dengan amarah yang meninggi. Ibu Tirinya menoleh tajam, sontak berdiri tak terima mendengar suara Aruna yang meninggi. “Bukankah benar, Dia dulu juga menjual dirinya sama seperti yang kamu lakukan sekarang.” “Ck, sepertinya Anda tidak berkaca?!” pekik Aruna membalas ucapan ibunya. “Bukankah itu sebenarnya Anda, berselingkuh dengan suami Kakak Anda sendiri dan melahirkan anak haramnya?!” pekik Aruna dengan berani. Plak Tamparan keras yang Aruna rasakan, membuat dia menyentuh pipinya yang terasa panas. Dadanya berdenyut melihat wajah penuh amarah yang ayahnya perlihatnya, matanya berkilat penuh kebencian. “Kenapa? Ucapanku tak salah kan?! Kalian memang berselingkuh sehingga membuat Ibuku meninggal!” pekik Aruna kini tak lagi memedulikan perasaan ayahnya. Bukannya menangis, Aruna membalas tatapan Ayahnya itu dengan kilat kebencian yang sama. “Kau bahkan tak peduli saat selingkuhanmu ingin menjualku kepada Pria tua bangka itu dan sekarang seolah peduli jika aku menjual diri kepada siapa pun.” “Dasar Anak sialan tak tahu terima kasih. Aku sudah merawatmu sejak keci!” “Bukankah dua ratus juta itu cukup sebagai ganti rugi karena telah merawatku. Ah, Aku berterima kasih karena selama ini kalian telah membiarkanku hidup dalam kesengsaraan seperti ini. Aku sudah memberi kalian dua ratus juta yang kalian inginkan dan mulai sekarang tak akan muncul di depan kalian pagi. Puas kan?” ujar Aruna menguatkan hatinya lalu menghempas bahu ayahnya lalu berjalan keluar dari rumah itu meninggalkan semua kenangan yang menyakitkan itu. Begitu dia keluar dari rumah itu, Langkahnya terhenti saat sopir pribadi Om Jayden menghampirinya, “Sudah selesai, Non,” sapa sopir itu dengan lembut. Aruna sontak menutupi pipinya yang memerah dengan rambut lalu melihat satu tas besar berisi semua barangnya. “Sudah, Pak,” Aruna mencoba untuk tersenyum. “Mari, Non.” Pak Amri mengambil tas yang dia bawa lalu membukakan pintu mobil untuknya. “Terima kasih, Pak.” “Sudah tugas saya, Non.” Pak Amri kemudian menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu memasukkan tasnya ke dalam bagasi. Aruna menarik napas, Bahkan orang lain memperlakukannya dengan baik ketimbang keluarganya sendiri. Tiba-tiba, Aruna merasa merindukan Pria itu. Tatapan pria itu yang tajam berbeda dengan suara baritonnya yang terdengar lembut dan seolah bisa Aruna andalkan. Dia baru saja mengambil ponselnya. Saat ponselnya tiba-tiba berbunyi dengan nomor tidak dikenal. Entah mengapa, dia berharap Om Jayden yang menghubunginya, walaupun dia rasa itu tak mungkin karena dia sama sekali belum memberi nomor teleponnya kepada Jayden. Dia sudah begitu pesimis, “Haloo...” Suara Bariton yang khas yang terdengar begitu Aruna mengangkat panggilan itu sontak membuat kesedihan dan kemarahan yang dia rasakan awalnya menghilang. Suara itu mengalun indah di telinganya memberikan rasa nyaman dan entah mengapa seperti mengulur tadi yang sejak tadi mengikat jantungnya yang membuatnya sesak. Rasa lega langsung memenuhi dirinya. “Ini aku,” Aruna sontak mengangguk-angguk seperti orang bodoh. “Hallo.” “Ah, Iya,” ujar Aruna menyadari kebodohannya. “Are you okay?” Mendengar pertanyaan yang aling tak ingin dia dengar membuat Aruna menggigit sudut bibirnya. Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Ayah kandungnya menamparnya dengan begitu keras dan menghinanya. Tak ada anak yang bahagia mendengar hal itu. Namun, Aruna berdeham. “Yeah, Aku baik-baik saja,” ujarnya bukan hanya membohongi Jayden, melainkan dirinya sendiri. Helaan napas terdengar dari seberang panggilan, “Kau sudah menyelesaikan masalahmu?” “Iya,” ujar Aruna menarik napasnya dalam mencoba untuk ceria, “Om. Aku tadi memberikan mereka uang 200 juta yang mereka inginkan sehingga membuat mata mereka hampir saja jatuh,” tawa Aruna menggelegar. Ada rasa sakit yang dia rasakan, tapi dia tutupi dengan kebohongan. “Setelah ini aku terlepas dari mereka,” kata Aruna lirih. “Jangan takut. Mulai sekarang aku akan bersamamu.” Aruna memainkan rambutnya, “Om...” “Ya ...” “Terima kasih sudah menyelesaikan masalahku,” ujar Aruna tulus. “No Promblem. Kamu juga akan menyelesaikan masalahku. Jadi kita anggap ini sebagai Win-win Solution.” Aruna menyunggingkan senyum tipis, “Benar.” “Kamu mulai sekarang akan tinggal di Mansionku, Pak Amri akan mengantarmu ke sana. Kita akan bahas perjanjian dan kontrak yang harus kita lakukan lebih lanjut di sana. Sampai jumpa,” ujarnya menutup panggilan. Aruna menatap layar ponselnya yang kini sudah gelap. Dia menarik napasnya dalam dan mengenggam ponselnya dengan begitu kuat. Dia menutup matanya, mencoba memikirkan apakah keputusan ini adalah keputusan terbaik yang bisa dia lakukan di tengah keputusasaan yang sedang dia rasakan sekarang. Dia menoleh ke arah kaca jendela, melihat ke arah jalan-jalan yang seolah berjalan meninggalkannya. Ah, Bukan jalan itu yang meninggalkannya. Melainkan dirinya yang meninggalkan semuanya dan memulai hidup barunya bersama dengan orang yang baru saja dia kenal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD