Aruna menunduk lesu. Ia menghela napasnya dalam, , ia berdiri dan berjalan ke arah sofa sebelum menyandarkan tubuhnya di sana. Saking besarnya sofa itu, seolah ingin menelan tubuh mungil Aruna. Melihat hal itu Jayden pun mengikuti Aruna. “Apa ada masalah?” tanyanya lagi. Aruna kembali menghela napasnya, “Baru saja sehari masuk kuliah, sudah bertemu dengan titisan Mak Lampir gila,” keluhnya mencemberutkan bibirnya. Jayden mengangkat sebelah alisnya, “Apa ada yang mengganggumu?” tanyanya penasaran. “Ya, dia adalah Marion, putri dari Brian si dekan yang jelek, gendut dan tua. Selain itu dia juga pemegang saham di kampus itu. Menyebalkan!” “Brian?” Aruna mengangguk. “Ternyata si tua bangka itu mulai bermain-main dengan istri kecilku ya,” gumamnya. Mendengar Jayden bergumam, Aruna segera

