Malam di tengah hutan, terdengar beberapa hewan liar meski jauh juga tampak sunyi tidak ada mobil melintas sama sekali. Kinan melihat kakinya yang masih di rantai, beruntung rantai itu bias sampai kamar mandi jika tidak mungkin Kinan sudah buang air di tempat. Kinan merogoh ponselnya berisikan sederetan pesan dari Hilda juga rekan kerjanya.
Kinan berfikir sejenak, tampaknya untuk sementara menghilang ide bagus tidak perlu membuang uang untuk keluarga tirinya. Mereka juga tidak akan mencari Kinan. Kinan memilih mematikan ponselnya, lagi pula hidup disini pun Kinan tidak rugi hanya di rantai tapi tetap bias makan tanpa harus menghasilkan uang terlebih dahulu.
Ceklek….
Suara pintu di buka, Kinan menoleh melihat seorang lelaki masuk ke ruangan dan menyalakan lampunya. Mereka saling pandang, Kinan mencoba mengingat bahwa lelaki bernama Sam yang ia temui tidak seperti lelaki yang kini menatapnya dengan diam.
Kinan baru sadar, ia dikurung di kamar bos mafia ini. Kinan memilih membalikkan badannya. Ia belum siap untuk bercengkrama dengan Rega, dari sorot matanya saja tampak jelas lelaki itu kejam dan berhati dingin.
“Kamu tak juga memakai baju yang aku berikan?” Suara barithon lelaki itu membuat Kinan merinding ngeri.
“Aku tidak bisa memakainya dengan kaki dirantai seperti ini.” Ucap Kinan dengan tatapan datarnya.
Dia bukan pemberani, lebih tepatnya ia sedang membentengi dirinya agar lelaki itu tidak beranggapan bahwa Kinan takut kepadanya. Kinan sebisa mungkin akan beradaptasi dengan tempat yang jauh dari kota dan menyeramkan ini.
“Argghh…” Pekik Kinan kala tiba-tiba Rega mengcekeram tangannya dari belakangnya. Menariknya untuk berdiri.
“Jangan menguji kesabaran aku.” Bisik Rega dengan penuh penekanan semakin membuat Kinan bergedik ngeri.
Takk..
Ponsel Kinan jatuh tiba-tiba membuat Rega mengambilnya sedangkan Kinan menggigit bibir bawahnya sejak tadi ia terus menunduk tidak berani menatap Rega. Kinan mengangkat wajahnya menatap lelaki itu yang memilih duduk di tepi ranjangnya, menatapnya dengan tatapan bak elang menemukan mangsanya.
“Tampan.” Batin Kinan sedikit tersenyum membuat Rega justru memandang aneh gadis di hadapannya.
Meski usia mereka terpaut jauh, tapi bagi Kinan wajah Rega cukup tampan. Kinan duduk kembali membelakangi Rega yang masih setia menatapnya. Dari tatapannya sangat jelas lelaki itu sedang menyelidiki apa yang sebenarnya difikirkan oleh Kinan.
“Kalau kamu jadikan aku sebagai sandera. Percuma, keluargaku bukan orang kaya.” Ucap Kinan pada Rega yang kini sudah berbaring di tempat tidurnya.
“Aku sudah tahu.” Bohong Rega membuat Kinan langsung menoleh.
“Kamu tahu? Ayahku dan Hilda?” Tanya Kinan dengan mata terkejut, Kinan ingin mendekat tapi rantai di kakinya menahannya. Rega hanya mengangguk menunggu apa yang akan dikatakan Kinan sebenarnya.
“Jangan beri tahu mereka aku disini.” Ucap Kinan dengan wajah seperti cemas, Rega semakin dibuat tidak mengerti.
“Sudahlah jangan menguji kesabaranku, pakai baju itu!” Titah Rega menunjuk baju, masih bisakah disebut baju, begitu transparan dan juga terlalu pendek dibagian bawah. Baju itu bahkan tanpa lengan.
“Aku nggak mau pakai baju seperti itu.” Tolak Kinan membuat Rega bangkit dari tempat tidurnya menghampiri Kinan yang langsung mundur, siaga jika Rega melakukan kekerasan kepadanya.
Rega menarik Kinan untuk mendekat, mengangkat wajah Kinan untuk mendekat padanya dengan cengkeraman di kedua pipi Kinan menggunakan satu tangan. Nyali Kinan benar-benar menciut begitu menatap mata Rega lebih dekat benar-benar menyeramkan rupanya.
“Aku tidak segan-segan mencekikmu jika kamu membantah.” Ancam Rega melepas kasar tangannya membuat Kinan gugup.
“Aku akan melepas rantai di kakimu tapi kamu harus memakainya.” Ucap Rega kemudian menunduk melepas rantai di kaki Kinan.
Bukannya lari, Kinan masih diam di tempatnya, berada di sekitar Rega rupanya cukup menakutkan menurutnya. Rega menyodorkan pakaian berwarna merah maroon itu kepada Kinan. Kinan menerimanya dengan berat hati.
“Aku ke kamar mandi.” Ucap Kinan dengan kegugupannya.
“Ganti disini!” Titah Rega duduk di tempat tidur menghadap Kinan.
“Laki-laki Gila!” Batin Kinan menatap Rega dengan wajah marahnya.
“Nggak!” Tolak Kinan membuat Rega menatapnya tajam. Rupanya gadis yang ia jadikan sandera lumayan keras kepala dan nyalinya cukup berani untuk membantahnya. Beberapa gadis yang ia sandera bahkan sampai memohon kepada Rega, sedangkan Kinan sejak tadi tidak ada unsur menyinggung untuk meminta dipulangkan.
“Jangan memancing emosi aku!” Ucap Rega memperingatkan bahwa sikap Kinan membuatnya marah.
“Aku tidak memancing kemarahanmu, tapi aku nggak mau!” Ucap Kinan masih dengan sikapnya. Tidak peduli Rega yang kembali berdiri untuk menghampiri Kinan namun perempuan itu segera lari ke kamar mandi menguncinya disana.
“Oh, kamu masih sebentar disini! Kamu masih berani melawan. Kalau kamu sudah lama bakal ikut permainan yang aku buat!” Ucap Rega dari luar pintu kamar mandinya.
Rega mencoba membukanya namun rupanya Kinan menguncinya dari dalam. Rega beberapa kali mengetuk pintu tetapi Kinan terduduk lemas di pojokan. Ia benar-benar mempertaruhkan segenap nyalinya untuk melawan Rega.
Gedoran pintu membuatnya semakin dirundung ketakutan, sedangkan Rega tidak menyerah. Laki pula jika Kinan berniat kabur tidak akan bisa karena jendela kamar mandi itu dibagian atas sudah ada teralis semuanya.
Rega memutuskan pergi keluar kamarnya, lebih baik ia menghabiskan waktu dengan wanita di kamar bawah yang sudah ia bawa pulang daripada meladeni sanderanya yang bersikap aneh. Tak lupa ia membawa ponsel Kinan agar gadis itu tidak akan menghubungi siapapun untuk menjemputnya pulang.
Kinan mendengar suara pintu tertutup itu artinya lelaki itu sudah pergi, Kinan keluar kamar mandi bermaksud menemukan ponselnya yang Kinan ingat jelas lelaki itu buang di tempat tidurnya. Namun hasilnya nihil, rupanya lelaki itu telah membawanya.
“Tampan tapi iblis!” Gumam Kinan memandang rembulan yang tampak jelas dari kamar Rega.
Ia kesan pertama Kinan melihat wajah Rega memang tampan tapi perlahan hilang dengan sikap Rega yang menurutnya menakutkan itu. Ia membaringkan badannya, mulai terpejam dengan rasa penat yang menjalar di tubuhnya. Dinginnya lantai tak membuat dirinya untuk tetap berjaga di malam hari. Kinan mulai terlelap tidur, seolah melupakan dimana ia sekarang.
Membayangkannya cukup lucu, Kinan bersembunyi di tempat ia disandera setidaknya disini ia tidak perlu menghasilkan uang untuk tetap diijinkan tinggal. Tidak perlu menghadapi saudara tirinya yang selalu memerasnya, Hilda lebih tua dibandingkan Kinan namun Kinanlah yang menjadi tulang punggung keluarga semenjak ibunya meninggal.
***
Wanita dengan balutan selimut dalam dekapan Rega, ia terpejam namun tak tertidur. Mereka sama-sama menggunakan selimut. Baju mereka berantakan dimana-mana. Termasuk pakaian dalam mereka.
“Kenapa kita melakukan disini?” Tanya wanita yang sejak tadi tangannya tidak bisa diam, beramin-main di d**a bidang Rega.
“Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?” Tanya Rega justru ikut penasaran.
“Bukankah kamar kamu diatas Ga?” Tanya Amel mendongak menatap Rega.
“Iya, ganti suasana aja.” Ucap Rega dengan senyumannya, mereka yang mengenal Rega dengan baik pasti paham bahwa senyumannya tadi adalah palsu.
“Bohong, pasti kamu nyembuyiin sesuatu kan?” Tanya Amel tidak percaya membuat Rega menggeleng pelan mencoba menyakinakan Amel.
“Nyembuyiin apa sih Mel?” Tanya Rega dengan senyuman manis, senyuman maut yang selalu ia gunakan untuk menggait beberapa wanita diluar sana.
“Jangan bohong, aku bisa periksa sekarang.” Ucap Amel yang langsung ditahan dekapan erat Rega membuatnya leleh dan tak bisa berkutik.
“Dasar Gampangan!” Umpat Rega dalam hati melihat reaksi Amel yang menjadi agresif itu. Memang saat ini yang berada dalam dekapannya adalah Amel, tapi ia tidak menolak bayangan wajah Kinan yang tersenyum aneh ketika menatapnya tidak bisa pergi begitu saja dari Rega.
Ada apa sebenarnya?
TBC