Kinan terbangun dari tidurnya kala sang fajar langsung menerobos jendela dan menyinari wajah polosnya. Wajah damainya yang sangat terlihat terlelap dalam tidurnya. Ia melihat tempat tidur di belakangnya ada seorang lelaki yang juga sedang terlelap. Tebakan Kinan benar selama ini ia dikurung di kamar bos mafia itu.
Beruntung Rega tidak macam-macam dengannya, ah bukan tidak melakukan tindakan aneh, lebih tepatnya belum. Kinan tetap pada posisinya membiarkan sang mentari menghangatkan tubuhnya yang terkulai di atas lantai yang begitu dingin tanpa sebuah selimut atau pun bantal.
KInan meremas perutnya pelan, ia lapar. Padahal semalam ia ditawari makanan oleh Sam tapi ia menolak. Sekarang ia menyesalinya, Kinan menoleh ke belakang ada beberapa roti dan buah di laci samping tempat tidur Rega. Perlahan Kinan menyeret rantai yang sudah melingkar kembali di pergelangan kakinya.
Ia benar-benar pelan agar suara rantai tidak terdengar, sampai ia menggapai sebuah toples dan jeruk. Belum sampai hati membawa keduanya, sebuah tangan tiba-tiba mencekalnya dari balik selimut membuat Kinan memekik pelan, Rega tengah mencekal pergelangan tangannya dengan mata elang kini tertuju lurus pada Kinan yang menatapnya dengan penuh ketakutan.
“Ini masih pagi.” Desis Rega mengcekeram tangan Kinan dengan keras membuat Kinan meringis kesakitan berusaha melepas tangan Rega yang menggenggam tangannya.
“Aku hanya lapar.” Jawab Kinan tersenyum canggung, Rega tertegun perlahan tangannya melepaskan genggamannya.
Membiarkan tangan Kinan meraih toples biscuit dan satu buah jeruk. Rega diam memandang perempuan yang menjadi tawanannya ini. Bukannya memangis meminta dibebaskan justru seperti menikmatinya. Rega dibuat bingung dengan sikap Kinan.
Nyawanya belum terkumpul, Rega fikir Kinan akan mengambil pistol yang ia sembunyikan di bawah bantalnya hingga sikap siaganya langsung keluar begitu saja. Perempuan itu hanya mengambil makanannya. Sudah seperti peliharaannya bukan.
Kinan merasa diperhatikan, ia memilih duduk membelakangi Rega yang masih setia menatapnya. Kinan tidak peduli, yang jelas ia sedikit kagum pada Rega yang membiarkannya tidak kelaparan di tempat.
“Apa kamu tidak ada niatan ganti baju?” Tanya Rega dengan nada sarkas membuat Kinan menoleh padanya dengan wajah polosnya.
“Ada, tapi aku tidak mau memakai baju yang kamu tawarkan kemarin.” Jawab Kinan membuat Rega tersenyum.
Rupanya perempuan yang terpaut usia yang jauh dengannya itu cukup gigih sampai benar-benar tidak mau menuruti keinginan Rega. Padahal di rumah ini, setuju atau tidak setuju semua menuruti keinginan Rega tak terkecuali atau dia mendapatkan imbasnya.
“Apa kamu tidak memiliki baju yang tidak terpakai?” Tanya Kinan dengan wajah polosnya tanpa rasa berdosa menatap wajah Rega yang menatapnya angkuh.
“Menarik!” Ucap Rega dalam batin kemudian menghampiri Kinan membuat Kinan terkejut dengan kedatangan Rega disampingnya.
“Kamu piker kamu sedang menginap di rumah temen kamu?” Desis Rega menarik rambut Kinan dengan kasar membuat Kinan mendongakkan kepalanya kesakitan.
“Sakit!” Rengek Kinan kesakitan begitu Rega menariknya kembali lebih keras membuat KInan menjerit kesakitan.
Rega melepaskan tangannya melihat mata Kinan yang berkaca-kaca sedangkan Kinan menghela nafasnya yang memburu, Kinan sepertinya salah sasaran dalam mengajaknya berdamai. Kinan dapat merasakan hati yang membeku ketika Rega duduk disampingnya tadi. Dibandingkan Sam, Rega lebih kejam dari prasangkanya.
“Apa kamu sering pergi malam?” Tanya Kinan masih belum jera mengajak bicara Rega layaknya teman kenalan yang harus ia akrabi itu.
“Memang kenapa? Apa urusan kamu?” Tanya Rega dengan sinis, tatapannya benar-benar tidak biasa melihat sikap Kinan yang tidak ada rasa takut. Padahal ia sedang berada dalam ruangan hanya berdua dengan seorang lelaki yang lebih tua darinya.
Rega tidak melihat saja, wajah ketakutan Kinan sejak tadi berusaha ia tutupi. Perempuan itu gugup dikala ia menatap wajah Rega dari dekat.
“Bisakah kamu membelikanku beberapa makanan? Kamu mengurungku disini tanpa sesuatu yang bias dimakan.” Ucap Kinan memelas, Rega diam. Tak ada niatan untuk membalasnya, ia justru menggelengkan kepalanya melihat sikap Kinan yang aneh.
“Jangan meminta aneh-aneh, kamu itu tidak lebih dari b***k sekarang seharusnya kamu menyadari itu.” Ucap Rega membuat Kinan bungkam.
“Ya aku tahu! b***k pun juga perlu diberi makan.” Ucap Kinan tak mau kalah.
Bukan tidak tahu diri, Kinan hanya mencoba penasaran sedingin apa lelaki dihadapannya ini. Dia dijadikan sebagai sandera tapi tidak ada penyiksaan yang berrarti selain jambakan keras pada rambutnya yang Panjang atau cekalan di tangan, atau rantai yang sedang melingkar di kakinya.
“Kamu mati disini pun aku tidak peduli.” Ucap Rega dingin beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamarnya.
Terus berbicara dengan Kinan lama-lama akan membuatnya gila, tidak, Kinan yang gila tidak ada rasa takut sama sekali padahal ia sedang dijadikan sandera di rumah Rega. Entah kapan gadis itu akan digunakan.
“Ya lebih baik aku mati daripada pekerja pada lelaki iblis sepertimu!” Ucap Kinan tanpa takut menatap Rega kesal.
“Lelaki iblis!” Gumam Rega dengan senyum sinisnya, baru saja ia akan memutar knop pintu tapi dihentikan oleh Kinan.
“Tidak terlalu buruk juga.” Ucap Rega dengan senyum membuat Kinan mati kutu, sepertinya lelaki itu sudah tidak memiliki hati, perasaan yang peka sama seperti manusia pada umumnya.
“Dasar Gila!” Umpat Kinan dengan lirih namun Rega masih dapat mendengarnya.
Rega hilang kesabaran ia berbalik badan dan menghampiri Kinan yang membelalakkan mata dengan kedatangan Rega secara tiba-tiba. Rega menjambak keras rambut KInan membuat Kinan menahan sakit pada tarikan rambutnya.
“Bisakah bersikap sopan pada majikanmu?” Tanya Rega dengan lembut namun tatapannya bak seorang psikopat yang siap menghabisi Kinan kapanpun.
Kinan mengangguk lemah, ia ketakutan dengan sikap Rega yang mengancamnya itu. Runtuh pertahanan Kinan untuk bersikap sok pemberani di hadapan Rega.
“Bagus!” Ucap Rega membelai pipi Kinan layaknya pujian pada hewan peliharaannya.
Rega keluar kamar, Kinan bernafas lega begitu Rega tak benar-benar menghabisinya sekarang juga. Kinan menatap sendu, hutan yang mulai terlihat kehijauan dan begitu asrinya kala sang mentari sudah menampakkan diri seutuhnya.
Rupanya, menjadi tawanan Rega tak seberuntung yang ia bayangkan. Berkumpul dengan Asfar dan saudara tirinya saja membuatnya hampir mati apalagi sekarang ia Bersama dengan mafia kota yang rupanya markas persembunyiannya di tengah hutan.
Rega keluar kamar di pagi buta tak seperti biasanya, menghampiri Bi Herna yang sedang berada di dapur mengawasi pegawainya. Semua mata tertuju pada Rega yang berdiri di dapur di pagi buta, semuanya tampak kagum, meski hati Rega sekeras batu namun tak dipungkiri paras yang dimiliki lelaki itu sungguh membuat jatuh setiap insan yang melihatnya.
“Rega? Kamu tumben sudah disini?” Ucap Bi Herna pada Rega yang diam, meski tampak tidak peduli namun satu-satunya orang yang dapat meredakan amarahnya untuk saat ini adalah wanita tua disampingnya.
Herna, pengasuhnya semasa ia balita memilih ikut hidup dengan Rega karena sanak keluarganya sudah hilang sejak tragedy bencana alam yang terjadi di kampung halamannya. Bias dibilang mereka sama-sama sebatang kara, ah tidak Rega masih memiliki neneknya yang tak pernah ia anggap keberadaannya.
“Oh ya! Bibi mau tanya? Kenapa bisa ada perempuan itu di kamarmu?” Tanya Herna membuat Rega sedikit tercengang karena rupanya wanita itu mengetahuinya.
Para pelayan yang mendengar ucapan Herna tampak menoleh sekilas pada Rega, mereka sama-sama terkejut karena rupanya ada seorang perempuan di kamar Rega. Mereka hanya bisa menebak dan menebak karena memang hanya Herna yang diperbolehkan Rega untuk membersihkan dan mengurus keperluannya setelah itu baru Sam.
“Bi Herna tahu ?” Tanya Rega justru bertanya balik pada Herna.
“Kalau Bi Herna tanya, berarti Bi Herna tahu Rega.” Ucap Herna gemas dengan sikap Rega yang pintar mengeles dan mengalihkan topik ketika ia menghindari pertanyaan.
“Dia mainan baruku.” Gumam Rega teringat wajah polos Kinan saat mengambil jeruk di laci samping tempat tidurnya.
“Mainan? Dia manusia Rega.” Ucap Herna kesal.
Entah Herna tahu lingkungan Rega begitu berbahaya, bisnis yang dijalankan juga tidak jelas. Tetapi ia masih mau tinggal di sisi Rega. Bahkan tak jarang ia menasehati Rega yang seorang bisa dikatakan penjahat criminal.
“Iya! Nanti kalau aku bosan bisa aku buang kapan saja.” Ucap Rega memilih duduk di meja makan sambal beberapa kali memasukkan hidangan yang baru matang itu ke mulutnya.
“Dia itu perempuan yang membayar kurang belanja Bi Herna kemarin.” Tegas Bi Herna membuat Rega berhenti mengunyah makanannya, bengong menatap Herna dengan wajah terkejut.
“Bi Herna serius, dia yang perempuan kasir itu?” Tanya Rega sekali lagi memastikan ia masih tidak percaya dengan ucapan Bi Herna.
“Iya makanya Bi Herna tanya kenapa dia ada disini. Kalaupun perempuan lain, seperti yang sering kamu tiduri itu Bi Herna tidak peduli!” Jelas Bi Herna dengan wajah kesal sedangkan Rega benar-benar dibuat terkejut.
“Dunia benar-benar sempit!” Tambah Bi Herna semakin membuat Rega diam memandang kosong keluar.
TBC