SEPEKAN

1261 Words
Dua manusia yang sedang menikmati kopinya di pagi hari, lelaki yang sudah berumur itu tampak membolak-balikkan koran yang ia baca berharap ada berita. Sedangkan perempuan yang merupakan anak kesayangannya tengah menscroll media social berharap saudara tirinya memberikan petunjuk sedang berada dimana dia sekarang. Siapa lagi jika bukan Hilda dan Asfar, ayahnya. Mereka sepertinya tampak kehilangan dengan ketidak beradaan Kinan di rumah. Mereka harus melakukannya semuanya serba sendiri membuat mau tidak mau Hilda lah yang melakukannya. “Hilda, Belum ada kabar juga dari Kinan?” Tanya Asfar pasa Hilda yang menggeleng pasrah. “Apa firasat ayah benar ya.” Gumam Asfar membuat Hilda menoleh dengan wajah penasraan menunggu ayahnya untuk mengatakan sesuatu yang ada dalam fikirannya. “Firasat apa?” Tanya Hilda mendesak ayahnya untuk bercerita, karena sejak tadi ia menunggu Asfar tak kunjung membuka suara. “Sepertinya Kinan sudah diculik oleh mafia kota.” Ucap Asfar, tampak menerawang jauh dari pandangannya. Ia jelas tahu bahwa jalanan yang biasa anak tirinya lalui itu adalah jalanan biasa mafia menjadikan sebagai tempat mereka memeras para warga kota. “Lagipula untuk apa mereka menculik Kinan? Kinan tidak menarik dari segi manapun.” Ucap Hilda menepis pikiran ayahnya bahwa saudara tirinya itu telah hilang. Asfar diam, dia tidak mau menanggapi ucapan anaknya yang kini sudah tumbuh besar. Hilda justru berfikir bahwa Kinan sedang kabur dari mereka mengingat ponsel gadis itu aktif semenjak hari menghilangnya dirinya. “Kalau menurut Hilda, Kinan sedang kabur dan bersenang-senang dengan teman-temannya.” Ucap Hilda dengan tatapan sinis, Asfar mengerutkan keningnya. Ia mengeleng pelan, menandakan tidak setuju dengan dugaan Hilda. Meski Kinan adalah anak yang sangat ia ingin singkirkan tetapi sebagai ayah tirinya yang sudah hidup bertahun-tahun dengannya sangat hafal bagaimana sikap Kinan yang sangat berbanding terbalik dengan Hilda. Maka dengan dasar itu Asfar sangat yakin Kinan sekarang berada entah dimana, di tempat yang seharusnya tidak bisa dijangkau manusia awam sepertinya. “Ayah mulai khawatir sama dia?” Tanya Hilda tampak tak suka dengan sikap Asfar yang banyak melamun semenjak kepergian Kinan yang tanpa meninggalkan jejak. “Kamu itu ngomong apa? Kamu tetap putri ayah satu-satunya.” Ucap Asfar dengan senyuman membujuk untuk Hilda tidak berfikir macam-macam. Tok…tok… Suara pintu diketuk, Hilda segera beranjak untuk membukanya sebelum ia mengintip terlebih dahulu siapa yang datang. Hilda berdengus kesal, ia membuka pintu hanya setengah, menandakan tamu yang tidak diundang itu tidak boleh masuk ke rumahnya. “Kalian lagi kalian lagi!” Ucap Hilda berdecak melihat beberapa hari ini Vina dan Reno sering berkunjung ke rumahnya. “Sudah berapa lagi aku bilang Kinan tidak sedang di rumah!” Ucap Hilda kesal pada Vina dan Reno yang saling pandang. “Apa benar seperti itu adanya?” Tanya Reno dengan sedikit rasa canggung meminta kepada Hilda untuk masuk sebentar saja. Mendengar pertanyaan Reno, Vina mengangguk setuju. Vina dan Reno tahu betul bagaimana hubungan Hilda dan Kinan yang tidak baik-baik saja terlebih ketika ibu Kinan meninggal dunia, rumah yang dimiliki ibunya satu-satunya berubah menjadi hak milik Asfar, ayah tirinya sepenuhnya. Kinan, dunia gadis itu langsung terbalik. Benar-benar bak terputar serratus delapanpuluh derajat. Kinan justru menjadi seseorang yang menumpang, bertugas menjadi tulang punggung. Padahal ia merupakan ahli waris dari ibunya, satu-satunya ahli waris. Pemilik rumah yang ditempati Hilda dan Asfar sekarang. “Untuk apa aku berbohong, saudara tiriku benar-benar tidak pulang setelah hari terakhir ia masuk kerja kemarin.” Tegas Hilda pada Reno dan Vina yang menatapnya intens. Menilisik apakah saudara tiri sahabatnya itu berkata sejujurnya atau hanya sebuah kebohongan belaka. “Sudahlah aku benar-benar membuang waktu berbicara dengan kalian disini.” Ucap Hilda menutup pintunya dengan keras membuat Reno dan Vina memejamkan matanya untuk tidak terkejut dengan suara dentuman keras pintu rumah Kinan. “Siapa Da?” Tanya Asfar begitu melihat putrinya yang tak sepenuhnya membuka pintu rumah mereka. “Itu teman-teman kerja Kinan.” Ucap Hilda kemudian naik ke atas masuk ke dalam kamarnya yang terletak di lantai dua. Berbeda dengan kamar Kinan yang terletak di lantai dasar dekat dengan dapur. Asfar menatap dua insan yang seusia anak tirinya pergi meninggalkan rumahnya. Asfar menatapnya dari balik jendela yang kacanya tidak menembus dari luar. Dari wajahnya tampak keduanya gusar, Asfar yakin dengan firasatnya jika anak perempuannya benar-benar tidak ada di kota. Asfar yakin Kinan telah diculik oleh mafia untuk membantu bisnis mereka. Reno tampak khawatir, begitu juga Vina beberapa kali menghubungi ponsel Kinan yang tetap aktif namun tidak ada jawaban. Pesan-pesan yang dikirimkannya pun tidak dibaca sama sekali. “Kinan, kamu dimana sih?” Tanya Vina berbicara pada ponselnya seolah Kinan bisa mendengarnya begitu juga dengan Reno tampak menscroll social media Kinan, berharap Kinan mengunggah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai petunjuk. Ddrrttt…ddrrtttt… Kinan is calling… Mata Vina terbuka lebar ia menepuk Pundak Reno begitu keras membuat Reno kesal namun berubah seketika saat matanya menatap nama seseorang yang tertera yang tengah menghubungi Vina. “Angkat! Angkat Vin.” Ucap Reno tidak sabar. “Halo, Kinan kamu dimana?” Ucap Vina begitu menggeser icon hijau ke atas. Halo, Vina. Kayaknya aku udah nggak bisa bekerja lagi. “Kenapa?” Tanya Vina terkejut begitu mendengar ucapan sahabatnya dari seberang sana melalu telepon. “Kinan, ini Reno. Kamu dimana? Aku akan jemput kamu sekarang.” Ucap Reno menyela obrolan. Menekan icon loudspeaker agar semuanya dapat mendengar dengan jelas. Nggak usah Kak Reno. Aku baik-baik saja, jangan cari aku lagi ya! tapi aku nggak bisa mengatakan dimana aku sekarang. Nan? Kamu ngomong sama siapa? “Kok ada suara laki-laki?” Tanya Vina pada Reno dengan berbisik. Baru saja Reno akan mengatakan suatu hal, panggilan itu terputus. Lebih tepatnya Kinan mematikan dengan sengaja. “Apa mungkin dia diculik?” Tanya Vina membuat Reno menggeleng cepat. “Tapi suara dia sangat jelas kalau dia baik-baik saja.” Ucap Reno kembali mengingat suara Kinan yang tampak santai berbicara dengan mereka berdua. “Terus gimana dong Kak Ren?” Tanya Vina yang mendadak cemas, padahal harusnya ia merasa lega karena Kinan sudah memberikan kabar, meski tidak mengatakan dimana keberadaannya sekarang. “Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari Kinan aja gimana?” Tanya Reno membutuhkan usulan dari Vina yang akhirnya mengangguk menurut. Tidak selesai begitu saja, Reno terus berfikir dan menerka-nerka dimana keberadaan gadis pujaannya itu sekarang. Apa benar perempuan itu sedang di sandera atau bagaimana? Entahlah Reno tidak bisa menebaknya dengan jelas, terlalu janggal bila diculik tapi Kinan dapat menghubunginya dan seperti sedang berada di sebuah rumah. “Apa Kinan memiliki kenalan sebelumnya Vin?” Tanya Reno pada pada Vina. “Kenalan gimana Kak? Maksudnya?” Tanya Vina mencoba menanyakan kembali maksud dari ucapan Reno yang menurut Vina kurang jelas saja. “Maksud aku dia dekat dengan seorang lelaki?” Tanya Reno akhirnya mengutarakan sesuatu yang sejak tadi mengusik pikirannya. “Setahu Vina sih nggak Kak!” Jawab Vina dengan wajah polosnya. Ada kelegaan, dalam hati Reno. Ia fikir tadinya bisa jadi Kinan melarikan diri dengan seorang lelaki. Memulai hidup baru dari sana. Apa yang sedang difikirkannya sebenarnya bukan? Terlalu rumit dan berlebihan. “Kak Reno jangan mikir yang aneh-aneh loh!” Ucap Vina memperingatkan Reno yang terlalu tenggelam dengan lamunannya sampai ia berfikir yang tidak-tidak. “Ngomong apa sih kamu nggak!” Bantah Reno. Dia menepis tuduhan Vina. “Ayok kita cari amunisi dulu!” Ajak Reno mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Vina untuk makan terlebih dahulu. Karena hari libur mereka tidak istirahat justru sibuk mencari Kinan yang hamper sepekan menghilang dengan misterius. Hari ini baru saja gadis itu dapat dihubungi, anehnya justru Kinan meminta secara tidak langsung untuk Reno dan Vina mencari dirinya. Memberikan kabar, bahwa ia dalam kondisi yang aman. Ya benar aman, terlindungi di dalam sebuah kandang singa, kecerobohannya menilai seseorang mengantarnya kesana. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD