Malam hari, seperti biasa kegiatan Rega adalah turun ke jalanan kota untuk mencari mangsa. Meminta uang mereka, kemudian mereka akan memberikannya demi keselamatannya. Seperti biasa juga, Rega hanya menunggu anak buahnya bekerja. Ia menunggu di Lorong gang sempit tak terlihat dengan topi yang ia kenakan.
Rembulan menampakkan diri membuat permukaan bumi Sebagian mendapatkan cahaya terang darinya, tak terkecuali Rega. Ia tampak terlihat dari ujung jalan raya, karena cahaya rembulan cukup meneranginya. Ia teringat pada situasi rumahnya sekarang, tidak lebih tepatnya ia teringat dengan sosok yang terkunci di rumahnya.
Tidak terkunci, lebih tepatnya Kinan sendiri yang mengunci dirinya di kamar mandi. Mencoba menutupi tubuhnya yang terbuka, kemudian berlanjut untuk menghindar dari Rega. Padahal itu kamar mandi Rega. Rega mengalah meskipun bisa saja dalam sekali hentakan, dobrakan pada pintu bisa membukanya. Namun, Rega tak kunjung melakukannya. Lelaki itu ingin melihat seberapa lama Kinan dapat bertahan di ruangan sempit yang dingin itu.
Rega fikir, mungkin hanya beberapa jam perempuan itu akan keluar. Namun sampai detik ini tengah malam, Rega tak kunjung mendapatkan laporan dari anak buahnya yang sedang di rumah bahwa gadis itu sudah keluar.
“Ga!” Panggil seorang lelaki yang menghampirinya dengan santai.
“Ada apa?” Tanya Rega langsung merespon, ia tidak sadar jika ia terlalu bersemangat menanggapi panggilan Sam.
Mungkin, Rega fikir Sam menghampirinya untuk memberikan laporan terkait dengan situasi rumah namun melihat wajah Sam yang datar membuat Rega menghela nafas.
“Kata Bi Herna, Kinan belum mau keluar sampai sekarang.” Ucap Sam membuat Rega membuang muka, memutuskan kontak mata dengan Sam. Lebih tepatnya, lelaki itu tidak mau Sam membaca kegundahan hati yang ia rasakan.
Rega memejamkan matanya, ia beranjak berdiri dan berjalan membuat Sam spontan langsung mengikutinya dari belakang. Rega tiba-tiba berbalik menatap mata Sam membuat Sam merasa bingung ada apa sebenarnya dengan Rega.
“Bilang sama Daniel, Daniel yang urus masalah disini. Aku pulang dulu!” Ucap Rega membuat Sam mengangguk.
“Sendiri saja kah Ga?” Tanya Sam membuat Rega menghentikkan langkahnya sejenak, lelaki berwajah dingin itu tampak berfikir.
“Kamu ikut lebih baik!” Ucap Rega membuat Sam langsung menyusul Rega, masuk mobil dan tak menunggu lama untuk segera menancap gas.
Mobil melaju, sesekali Sam melirik Rega yang tampak menatap luar dengan pandangan yang sulit diartikan. Sam sedang berperang dengan fikirannya apakah dugaannya selama ini benar atau sesuai dengan ucapan Rega saja bahwa itu hanya pendapat Sam saja.
Rega memijat pelipisnya sedikit, merilekskan pikirannya yang tiba-tiba terasa terbebani begitu mendengar laporan dari orang rumah bahwa gadis yang ia sandera tidak kunjung keluar kamar. Jalanan menuju hutan belantara htampak sepi membuat Sam berani untuk menambah kecepatan, mobil mewah Rega melintasi hutan yang tampak gelap dengan kecepatan tinggi.
Rega melirik sebentar karena mobil melintas dengan cepat pada rumah neneknya yang tampak terang dan hening. Neneknya tidak tinggal sendirian, Bersama seorang pelayan yang memang ditugaskan Rega untuk menjaga neneknya bersiaga apabila ada serangan tiba-tiba. Tentunya hal ini diluar sepengetahuan neneknya, Rega benar-benar tidak mau neneknya berfikiran yang aneh tentangnya. Cukuplah neneknya mengetahui jika Rega marah kepadanya karena larangan neneknya.
Mobil sampai di rumah berakhir juga lamunan sejenak Rega, ia segera keluar rumah dan segera masuk rumahnya. Menaiki tangga dengan Langkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya. Kinan tak kunjung keluar juga. Sam hanya diam, ia tidak mau bertindak sebelum ada perintah dari bos besarnya.
“Kinan!” Teriak Rega sambal berusaha menekan knop pintu kamar mandi yang rupanya masih terkunci dari dalam.
“Kinan!”
“Kinan!”
Tiga kali suara Rega menggema di sudut kamarnya, Sam hanya diam. Sam sejak tadi tidak berhenti menatap raut wajah Rega yang pertama kali ia lihat. Tampak begitu khawatir, Rega mencoba mendobrak pintu kamar mandi. Sam pun ikut turut serta, ia melihat Rega yang tampak kewalahan.
Pintu pun roboh karena tenaga Rega dan Sam. Pintu terbuka menampilkan seorang gadis dengan pakaian terbuka bagian tubuh belakangnya terlihat, tengah tersungkur dalam keadaan tak sadarkan diri. Rega segera merengkuh Kinan, menggendongnya keluar kamar mandi. Rega dengan singgap membaringkan tubuh lemah Kinan dan menarik selimutnya agar tak terlihat bagian tubuh Kinan.
“Gimana Ga?” Tanya Sam ikut cemas menatap Kinan yang masih setia memejamkan matanya dengan wajahnya yang pucat.
“Panggil dokter Arif sekarang!” Ucap Rega akhirnya memutuskan untuk menyuruh Sam menjemput dokter Arif, dokter langganan yang selalu menjadi langganan Rega.
Bi Herna datang dengan membawa nampan yang berisikan air hangat dan juga handuk kering. Rega memundurkan badannya sedikit untuk memberi jalan Bi Herna menyeka tubuh Kinan. Begitu membuka selimut, Rega membalikkan badannya tidak menatap Kinan. Bi Herna tersenyum melihat tingkah Rega yang benar-benar terjadi sekali ini saja.
“Astaga!” Ucap Bi Herna tak sengaja melihat ada beberapa luka di Pundak Kinan.
Mendengar suara Bi Herna, Rega membalikkan badannya. Ia tertegun melihat bekas luka yang dimiliki Kinan. Ia mulai berfikir bahwa Kinan mungkin mengalami masa-masa yang sulit beberapa waktu yang lalu.
“Kamu juga Ga! Ngapain pakek acara merobek baju dia segala!” Omel Bi Herna menyeka wajah Kinan yang tampak tidur dengan damainya.
“Tak seharusnya dia memakai pakaianku kan Bi, Bi Herna tahu sendiri pakaian apa yang biasa yang dikenakan seorang sandera di rumah ini.” Ucap Rega mengingatkan Bi Herna, ia masih tidak mau mengakui bahwa Kinan pingsan adalah karena kesalahannya.
“Tapi dia beda Rega! Dia nggak sama dengan perempuan yang sering kamu ajak pulang.” Bantah Bi Herna membuat Rega diam. Ia selalu tidak bisa melawan begitu mendengar kekesalan Wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.
Bi Herna dulunya adalah seorang janda muda, yang tidak dikaruniai anak pada pernikahan pertamanya. Sampai sekarang ia menjadi seorang Wanita yang ikut pada keluarga Adrian, sampai Rega besar pun Wanita parubaya itu pun memilih Rega kemana-mana.
“Dia memang berbeda!!” Gumam Rega begitu lirih sampai Bi Herna yang ada di belakangnya menoleh memastikan bila tadi Rega mengucapkan sesuatu.
“Kamu bilang apa?” Tanya Bi Herna penasaran.
Rega menggeleng, ia berbohong dan tidak mau berterus terang apa yang sebenarnya ia katakana tadi. Bi Herna selesai menyeka Kinan, ia keluar kamar untuk membuang baki yang ia gunakan untuk menyeka.
Rega mendekat menatap lekat Kinan yang masih pingsan dengan muka yang lebih fresh dibandingkan pertama kali ia menemukan gadis itu yang tak sadarkan diri di kamar mandi. Rega merekatkan Kembali selimut Kinan agar gadis itu merasakan kehangatan. Rega mengulum senyumnya, lelaki itu tampaknya tak sadar dengan yang dilakukannya. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi pandangannya.
“Dasar keras kepala!” Ucap Rega sembari mengusap kepala Kinan.
Kinan perlahan membuka matanya, Rega yang terkejut dengan kesadaran Kinan segera beranjak berdiri dan menjauh. Kinan membuka matanya pelan-pelan, bayangan lelaki bertubuh tegap yang ia tangkap pertama kali. Ia yakin dia adalah Rega, tenaganya masih lemah. Ia hanya bisa memandang sayu pada lelaki yang menatapnya dari kejauhan.
Kinan tak bisa memandang dengan jelas wajah Rega saat ini, ia mengulurkan tangannya bermaksud memanggil Rega. Baru saja mengangkat tangannya Bi Herna sudah datang mendekat pada Kinan menawarkan untuk meminuman teh yang sengaja ia buat.
Kinan menerima sodoran tangan Bi Herna dengan lemah, matanya perlahan bisa menatap jelas Rega yang menatapnya dalam diam. Kinan sedang berbicara dengan pikirannya, ia tidak mimpi Ketika ia tak sadarkan diri memang Rega yang mengangkatnya.
Dokter Arif datang dan Sam mengikutinya dari belakang, kedatangan mereka memutuskan kontak batin antara Rega dan Kinan yang rupanya sejak tadi saling menatap. Arif menatap sekilas Rega yang tampak membisu ditempat, Arif segera mendekat pada Kinan yang tampak lemah tak berdaya.
“Dia hanya mengalami dehidrasi saja.” Ucap Arif setelah memastikan bahwa tidak ada luka serius pada Kinan.
Begitu selesai pemeriksaan Sam pun mengantar Arif untuk menuju ke ruang tamu, Rega menyilangkan kedua tangannya menatap Kinan. Kinan pun memilih memejamkan matanya, entah mengapa menatap Rega yang sedang berdiam diri saja membuat hatinya bergetar hebat, bak kupu-kupu di perutnya berterbangan.
TBC