KREEEKKK…
Kinan membelalakkan matanya begitu ia merasakan kulitnya terasa diterpa angin. Kinan semakin terkejut melihat bajunya yang dirobek oleh Rega. Ah bukan, lebih tepatnya baju lama Rega yang Kinan gunakan untuk baju ganti sudah tidak berbentuk karuan. Kinan diam, ia menatap mata Rega dengan ketakutan luar biasa. Sedangkan Rega menatapnya dengan tatapan nanar.
Bak singa yang kelaparan siap untuk menerkam dirinya kapan saja. Kinan menahan baju yang sobek itu tidak akan terlepas dan menampilkan pakaian dalamnya. Kinan meneteskan air matanya, ia bukan Wanita kuat. Ia tetap lemah, ditambah menjadi tawanan mafia membuat Kinan harus berusaha sekuat mungkin untuk tetap bertahan hidup.
“Apa yang kamu lakukan?” Pekik Kinan dengan suara parau menatap nyalang pada Rega dengan mata yang sudah bercucuran air mata.
“Sudah ku katakan, kamu itu hanyalah sandera tidak seharusnya kamu bertindak seperti kamu sedang liburan!” Hardik Rega dengan tatapan yang semakin menyala, wajah Kinan yang kacau, air mata yang bercucuran tidak membuat hati Rega bergerak untuk menyadari bahwa tindakannya sangat keterlaluan.
Entah mengapa kemarahan membuat Rega benar-benar buta dan bertindak seperti bukan manusia yang dikenal memiliki hati dan fikiran. Rega menarik lengan Kinan kasar begitu Kinan menahan bajunya.
“Seharusnya kamu tahu bagaimana seorang pemuas nafsu bertindak bukan?” Tanya Rega dengan kalimat kasar yang membuat hati Kinan berdesir, ia berdesir bukan karena ia terlena dengan suara khas milik Rega. Tapi ia merasa ketakutan dengan sikap Rega seperti lelaki yang haus akan sebuah kegiatan orang dewasa.
KREEKKK…
Lagi-lagi Rega dengan sekali hentakan membuat baju itu benar-benar terbelah menjadi dua bagian dibagian belakang membuat Kinan terkejut dan spontan lari ke kamar mandi. Ia tak bisa menutupi tubuh bagian belakangnya yang terbuka. Melihat Kinan yang berlari terbirit-b***t membuat Rega segera menutup kamar mandi bermaksud menghalangi sayangnya tangannya bisa menggapai setelah perempuan itu masuk ke kamar mandi.
Brakk…braakk…
Rega menggedor pintu kamar mandi dengan keras agar Kinan membukakan pintu untuknya. Sayangnya Kinan dengan sekuat tenaga mengunci pintu itu agar tidak terbuka. Ia menangis terisak cukup keras. Benar, ia disini adalah sandera yang kapan saja bisa Rega gunakan dan lelaki itu buang sesuka hatinya. Seharusnya Kinan tidak mengharapkan bahwa Rega selamanya akan menjadi pelindungnya. Sekalipun ada Sam, kekuasaan berada di tangan Rega dimana mau tidak mau Sam harus menuruti perintah bosnya.
“Kita lihat sampai kapan kamu bertahan di dalam sana!” Teriak Rega menantang Kinan yang tidak peduli dengan teriakan Rega.
Rega menggebrak pintu kamar mandi yang Nampak dikunci Kinan dari dalam. Lelaki itu melenggang pergi keluar kamar dengan wajah merah padam. Sam yang melihatnya menghampiri bosnya yang duduk dengan nafas tidak teratur.
“Ada apa Ga?” Tanya Sam menawarkan sebatang rokok yang ditepis pelan, lelaki itu tidak nafsu untuk menghisap rokok hari ini.
“Siapa yang memberi baju lamaku padanya?” Tanya Rega tampak geram membuat Sam menunduk patuh.
“Maaf, tapi itu aku!” Ucap Sam membuat Rega mendongak dengan tatapan marahny, beruntungnya ia bisa menahan emosinya untuk tidak memukul Sam sekarang juga.
“Ada apa denganmu Sam? Apa kamu sekarang beralih menjadi pahlawan kesiangan untuk sanderaku?” Tanya Rega dengan senyum sinisnya, tampak tidak suka dengan keputusan yang diambil Sam.
“Maafkan kelancanganku, ku piker dia istimewa menurutmu.” Ucap Sam mengungkapkan alas an mengapa ia sangat menghargai Kinan yang tetap enggan memakai pakaian yang diberikan oleh Rega. Menurut gadis itu pakaian itu terlalu terbuka.
“Istimewa darimana?” Tanya Rega tidak mengerti dengan ucapan Sam.
“Ah ternyata tidak.” Ucap Sam dengan senyum canggungnya begitu melihat respon Rega tidak sesuai dengan bayangannya.
“Tapi sudah terlanjur bagaimana?” Tanya Sam tak bisa menutupi kecemasannya karena telah mengambil keputusan yang salah.
“Nggak masalah, bajunya sudah kurobek.” Ucap Rega santai meneguk anggur yang berada di sampingnya.
“Robek?” Tanya Sam seperti tidak menduga bahwa Rega akan sekejam itu.
Ah tidak, Rega memang kejam sesuai dengan dugaannya. Hanya saja bagi Sam perlakuan Rega pada Kinan tampak berbeda. Tentu saja, maka dari itu Sam mengira Kinan adalah seseorang yang istimewa.
Bagaimana tidak istimewa menurut Sam, Kinan cukup lama tinggal dalam kamar. Apalagi Kinan merupakan tawanan pertama yang disandera di kamar Rega langsung, makanan pun terjaga, juga Kinan masih bisa memegang ponselnya. Bagaimana tidak istimewa? Sedangkan perempuan lain, sudah tak berbentuk beberapa jam sampai di rumah ini. Mereka di kurung di bawah tanah, paling parah mungkin Rega membuangnya di jalanan menuju hutan belantara.
Sam meneguk salivanya begitu, bibi Herna masuk menemui Rega dengan Langkah terburu-buru. Ia yakin perempuan parubaya itu akan membahas tentang Kinan. Sam benar-benar merutuki dirinya sendiri karena salah mengambil Langkah.
“Dimana dia?” Tanya Herna pada Rega yang tampak tenang dengan kedatangan Bi Herna.
“Dia siapa Bi Herna?” Tanya Sam melihat kepanikan Bi Herna.
“Gadis di kamar Rega, Kinan dimana dia?” Tanya Bi Herna lebih melempar pandangan ke Rega.
“Masih di kamar.” Ucap Rega tenang, sedangkan Sam menunduk. Dia tidak mau ikut campur masalah dengan Bi Herna. Meski Bi Herna adalah kepala pelayan di rumah ini tetap saja perempuan ini adalah sosok yang paling disegani oleh Rega, apapun yang diucapkan Bi Herna benar-benar diperhatikan oleh Rega. Rega benar takluk karena dia adalah sosok yang mengasuhnya begitu kedua orang tuanya berpisah dan juga ia tinggal di rumah neneknya dulu.
“Ya ampun Rega. Kenapa lagi dengan dia? Bi Herna Cuma minta satu hal, jangan macam-macam dengan Kinan. Selain Kinan, Bi Herna tidak akan ikut campur lagi. Terserah Rega.” Ucap Bi Herna memohon kepada Rega, sedangkan Rega menghela nafas tampak sangat malas menuruti permintaan Wanita disampingnya yang tengah menatapnya dengan tatapan benar-benar menarik simpati Rega.
“Oke!” Jawab Rega membuat Bi Herna langsung tersenyum senang sedangkan Sam, dia tercengang dengan perubahan yang cukup kilat Rega.
Bi Herna pergi, sedangkan Sam hanya diam. Menganggukkan kepalanya, tanpa ia bicara setelah melihat situasi yang ada antara Bi Herna dan juga Rega kini Sam paham mengapa Kinan tindak mendapat perilaku yang sangat kasar mungkin hanya ancaman atau cengkeraman sedikit keras.
“Kamu tahu sekarang kenapa aku tidak bisa berbuat banyak dengan Wanita itu?” Tanya Rega pada Sam yang hanya menunduk tersenyum.
“Kamu masih enggan untuk mengunjungi nenekmu?” Tanya Sam teringat pada nenek Rega begitu tak sengaja matanya menatap sebuah foto usang dimana ada senyum tulus dari seorang Wanita beruban dan juga lelaki yang sudah tua sedang menggendong cucunya.
“Nanti, aku pasti mengunjunginya. Situasi sedang tidak mendukung. Akan lebih merepotkan jika mereka mengetahui bahwa aku masih memiliki keluarga yang tinggal sendiri.” Ucap Rega tampak berfikir jauh. Berpendapat bahwa saat ini lebih baik seperti ini, ia merenggangkan hubungan antara seorang nenek dengan cucu. Demi keamanan neneknya.
Mungkin menurut neneknya, Rega telah melupakannya dan juga Rega telah terlibat pada sebuah bisnis gelap. Rega tidak peduli, rasa pedulinya terhadap keluarganya hanya bisa dirinya saja yang melihatnya.
Kegelapan di hatinya benar-benar menutupi sosok asli Rega yang dulunya terkenal dengan keramahannya. Sayangnya, Ketika malam itu terjadi saat dimana mereka merenggut nyawa kakeknya. Rega seperti dirasuki oleh roh pangeran kegelapan. Ia bertindak sesuka hatinya, membabi buta. Bagaikan manusia yang hidup tanpa ada fikiran dan perasaan dalam dirinya.
“Kamu saja sering-sering berkunjung kesana.” Ucap Rega membuat Sam mengangguk, ia tidak mau membantah lagi. Masalah keluarga Rega cukup rumit membuat Rega tumbuh menjadi pribadi yang dewasa sebelum waktunya. Ia bisa menahan emosinya yang meledak-ledak, mengecoh musuhnya bahwa ia hanya seorang lelaki bodoh yang hanya bisa diam dan tersenyum.
“Kapan kita akan melakukan penyerangan?” Tanya Sam yang masih saja berdiri disamping Rega membuat Rega meliriknya dengan berdecak kesal.
“Bisakah kamu duduk Sam? Sudah berapa kali harus kubilang!” Hardik Rega tak menyukai dengan sikap Sam yang terlalu menghormatinya.
Padahal Rega menegaskan pada anak buahnya, meski dipanggil dengan bos besar tapi mereka semua adalah rekan. Sayangnya, tidak ada yang menurutinya semuanya begitu takluk kepadanya membuat Rega kesal.
Melihat Rega yang sudah menatapnya kesal, akhirnya Sam mengalah dan segera duduk disamping Rega.
“Itu gampang, bakal kita atur tanggal mainnya.” Ucap Rega dengan sinis, senyumannya bak iblis yang mempunyai sejuta rencana yang tidak diketahui secara pasti apa yang akan terjadi?
***
BRAAKKK…
Seorang lelaki tengah mendobrak sebuah pintu melihat seorang gadis dengan pakaian yang hampir terbuka tengah tersungkur lemah tak berdaya, dia tidak sadarkan diri dengan tubuh dingin dan juga wajahnya pucat. Lelaki itu menggendong gadis itu kemudian dibaringkan di tempat tidurnya, ia menarik selimut dengan tergesa. Menutupi seluruh tubuh gadis itu agar tidak terlihat.
“Gimana Ga?” Tanya seorang lelaki yang ikutan panik melihat kondisi gadis itu yang tak sadarkan diri.
“Panggil dokter Arif kesini!” Ucap Rega berpura-pura masih tenang.
Padahal dalam hatinya ada sedikit kecemasan yang ia sendiri sedikit meragukan apakah benar dengan yang ia rasakan. Ia menatap intens, tubuh lemah, bibir pucat. Hati Rega sedikit tergerak untuk sekedar menyisihkan anak rambut yang sedikit mengganggu pandangannya pada wajah Kinan.
“Dasar keras kepala!”
TBC