SEPERTI SETITIK CAHAYA

1052 Words
Sebuah mobil memasuki gerbang rumah mewah di tengah hutan, pemiliknya siapa lagi jika bukan sang bos mafia, Rega Adrian. Pemilik nama Rega itu keluar mobil dan membiarkan Sam memarkir mobilnya di garansi rumahnya. Rega masuk ke rumah disambut dengan tatapan para pelayan yang sekilas tampak gelisah. Rega mengabaikannya, dengan Langkah panjangnya ia menaiki tangga menuju kamarnya begitu memasuki kamarnya langkahnya terdiam sejenak. Matanya tertuju pada rantai yang tergeletak tanpa ada sebuah yang terikat dengannya. Gadis yang berbulan-bulan menjadi sandera hilang tidak ada di kamar Rega. Rega dengan wajah yang berapi-api menggertakkan giginya, ia masih membeku ditempatnya kemudian disusul oleh Sam yang juga terkejut dengan ketidakadaan Kinan di kamar sang bos. Sam langsung berjalan menuju jendela, ia mencoba mencari dimana gadis itu dan bagaimana bisa melepaskan rantai yang ada di kakinya. “Ga!” Panggil Sam begitu matanya tertuju pada satu titik, yaitu kolam renang di bawah. Rega langsung terburu menghampiri Sam, entah bagaimana bisa ada perasaan yang sedikit mendinginkan pikirannya begitu tahu Kina nada di sana. Rega pun berbalik segera menuju kolam renang, para pelayan bergedik ngeri melihat raut wajah Rega yang berubah. Para pelayan yakin aka nada kemarahan besar di rumah Rega. “Bi Herna yang melepaskan rantai di kaki Kinan?” Tanya Rega begitu sampai di kolam renang, meski ia mengajak bicara Bi Herna namun matanya tertuju pada Kinan yang sibuk merendamkan kakinya di kolam renang. Raut wajah Kinan berubah seketika, ia merasa takut dengan kedatangan Rega yang merusak suasana kebahagiaan yang sedikit menghiasi harinya saat ini. Kinan melirik Sam dengan tatapan takut dan Sam hanya tersenyum kecut, menandakan laki-laki itu tidak bisa menolongnya saat ini. “Siapa yang mengizinkanmu keluar?” Tanya Rega dengan tatapan tajamnya pada Kinan yang menunduk takut, ia bungkam tidak bisa menjawabnya. Ia hanya memainkan air di samping tangannya yang ia masukkan juga ke dalam kolam renang. “Bi Herna…!” “Bukan salah Bi Herna, aku yang meminta kepadanya.” Potong Kinan mendongak menatap Rega dengan tatapan sayu, dia tidak mau karena keinginannya mempersulit orang yang membantunya. Rega yang mendengarnya pun menatap mata Kinan dengan menghela nafas panjangnya. “Bi Herna tetap awasi dia!” Tegas Rega kemudian pergi meninggalkan Kinan yang mengedipkan matanya berkali-kali, ia tidak menduga respon Rega diluar dugaannya. Ia fikir lelaki itu akan marah kepadanya namun justru tampak datar dan terkesan tidak peduli. Tidak hanya Kinan yang dibuat membeku namun orang-orang disekitarnya pun ikut terperangah melihat respon Rega. Sam segera mengikuti Rega dibelakangnya, Rega tahu bahwa perlakuannya membuat beberapa orang disekitar tampak memandangnya aneh. Diam-diam lelaki itu mencoba merenungkan apa yang sebenarnya fikirannya lakukan? Mengapa ia tiba-tiba merasa kehilangan jati dirinya sendiri. “Rega tidak menghukumnya?” Tanya Sarah pada Nina yang mengangguk pelan, mereka terlalu tertegun melihat kejadian yang mereka simak sejak tadi. “Kinan! Rega tidak marah kepadamu!” Ucap Bi Herna tampak senang sedangkan Kinan hanya tersenyum canggung. “Apa Neng Kinan memiliki hubungan dengan Den Rega?” Tanya Pak Mahfud yang kembali menghampiri Kinan, rupanya sejak tadi lelaki itu menyimak semua yang tengah terjadi tadi. “Bi Herna, Kinan mau kembali ke kamar!” Ucap Kinan membuat Bi Herna mengangguk dan mengantar gadis yang berjalan sedikit tertatih karena goresan rantai di kakinya yang baru saja lekas pulih. Kinan berjalan beriringan dengan Bi Herna yang setia menuntunnya pelan, mata Kinan tertuju pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Kinan tahu Rega tengah di dalam dan juga Sam. Kinan menghentikan langkakhnya mencoba mengintip untuk mengetahui kamar apa yang terletak di sebelah kamar Rega. “Rega!” Panggil Kinan pelan membuat dua orang di dalam kamar menoleh secara bersamaan hanya saja raut wajah yang ditampilkan berbeda. Sam yang tampak terkejut dan takut, sedangkan Rega hanya menatapnya dingin membuat Kinan tersenyum canggung, sepertinya ia tengah salah Langkah. “Sam! Tinggalkan kami berdua!” Tegas Rega membuat Sam langsung keluar kamar bersamaan dengan Rega yang menarik Kinan yang sejak tadi diambang pintu untuk masuk ke dalam kamar yang baru ia tahu. “Sudah puas bersenang-senang?” Tanya Rega dengan senyum sinisnya, Kinan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Firasatnya mengatakan akan ada kejadian buruk yang datang kepadanya melihat raut wajah Rega yang tersenyum tetapi menakutkan. “Aku tidak kabur dan aku hanya di kolam renang sejak tadi.” Ucap Kinan menjelaskan kepada Rega agar tidak mengundang kemarahan lelaki itu. Rega hanya tertawa sumbang menambah suasana mencekam memenuhi kamar membuat Kinan memundurkan langkahnya. “Kamu melewati batas Kinan? Berapa kali ku katakan bahwa kamu harus sadar, kamu hanyalah gadis yang aku sandera disini!” Tegas Rega menggertak Kinan agar gadis itu tidak bertindak sesuka hatinya seolah ia memiliki senjata untuk mencegah Rega melakukan suatu hal kepadanya. Kinan tidak menghiraukan peringatan dari Rega, Kinan dengan ketakutan yang ia balut dengan ketakutan memilih berjalan sambil matanya menyimak satu persatu benda yang ada di kamar itu. Sedangkan Rega semakin geram dengan tingkah Kinan yang tampak tidak ada rasa takutnya dengan gertakan darinya. “Kinan!” Tegur Rega dengan tatapan dinginnya menarik tangan Kinan dengan paksa, tatapannya begitu tajam siap menusuk mata Kinan dengan pandangan mematikannya, siapapun akan mundur setiap Rega menggunakan cara pandangnya bake lang siap memangsa ular di daratan. “Aku bisa membunuhmu! Kapan saja! Tidak ada yang menghalangiku! Keluargamu pun sudah menjualmu kepadaku!” Tegur Rega membuat hati Kinan sakit, ucapan Rega seakan mengingatkannya pada suatu fakta dimana ayah tirinya tidak berniat mencarinya justru menjualnya dengan harga yang menandakan betapa tidak berartinya dirinya. “Kamu diistimewakan oleh Rega!” “Ada hubungan apa Kinan dengan Rega!” “Aku begitu penasaran mengapa Kinan sangat diistimewakan oleh Rega!” “Tidak, kamu tidak akan menyakitiku!” Ucap Kinan yakin begitu ia teringat dengan beberapa ucapan para pelayan terutama Bi Herna yang selalu penasaran terhadap Kinan karena mendapatkan perlakuan berbeda dari sandera sebelumnya. “Kenapa? Apa yang aku tidak bisa hah? Kamu hanya gadis rendahan yang naif!” Ucap Rega mendekati Kinan, membuat gadis itu perlahan melangkah mundur mencoba mempertahankan adanya jarak diantara mereka. Rega tidak menyerah ia terus mendekat pada Kinan yang kini berada dalam kungkungannya. Rega mencekik leher Kinan tidak begitu kencang namun dapat membuat jantung Kinan berdegup kencang, desiran darah di tubuhnya membuat Kinan merasa lemas. Rega melihat ada ketakutan di mata Kinan. “Cepat katakan apa yang membuat kamuy akin aku tidak akan menyakitiku!” Gertak Rega mengencangkan cekikan di leher Kinan membuat nafas Kinan begitu tercekat. “Karena kamu menyukaiku!” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD