AWAL PERUBAHAN

1047 Words
“Karena kamu menyukaiku!” Ucapan Kinan membuat waktu disekitar Rega berhenti secara mendadak, Rega terlena dengan pandangan Kinan yang menurutnya terlalu naif. Bagaimana tidak, hanya sikap dingin seperti yang ditunjukkan oleh Rega seperti biasanya mampu membuat Kinan menyimpulkan bahwa lelaki itu menyimpan rasa untuknya. Bagi Kinan sendiri, dia bukan tanpa alasan mengambil sebuah kesimpulan ia menyadari sendiri bagaimana para pelayan penasaran dengan dirinya, bagaimana para pelayan yang begitu iri dan sangat menginginkan pergantian posisi dengan Kinan. Semuanya semakin Kinan rasakan setelah Rega untuk pertama kalinya membawanya keluar untuk memberikan gertakan dengan cara menunjukkan Gudang tempat Rega menyekap para sandera sebelum Kinan. “Itu hanya bayanganmu saja!” Ucap Rega setelah tertawa sumbang memenuhi sudut ruangan, bersamaan dengan cekikan di leher Kinan yang dilepas begitu saja, Rega melangkah mundur menjaga jarak dengan Kinan yang langsung tersungkur bersandarkan dinding. “Aku akan memperlakukanmu lebih kejam agar matamu tidak buta!” Ucap Rega membuat KInan menatap Rega dengan tatapan yang menurut Rega sulit diartikan. “Ada apa dengan diriku?” Tanya Kinan pada hatinya, ia memukul pelan dadanya Ketika ada rasa ngilu yang tiba-tiba saja menyerang dirinya. “Bukan aku yang menyimpan perasaan kepadamu! Tapi kamu yang menyimpan perasaan kepadaku!” Ucap Rega tidak mau kalah, ia sangat yakin Kinan mencoba lembut kepadanya karena gadis itu menyimpan rasa kepadanya. “Dasar gadis tidak tahu diri!” Tandas Rega kemudian berlalu meninggalkan Kinan yang diam dengan matanya yang panas dan sudah dipenuhi dengan air matanya. Langkah Rega terhenti, ia teringat sesuatu hal membuatnya memutar langkahnya kembali mendatangi Kinan yang langsung terduduk tegap siaga untuk mencegah Rega melakukan hal-hal lain kepadanya. “Ah satu lagi!” Ucap Rega membuat Kinan mendongak dengan tatapan menunggu, apa yang sebenarnya yang difikirkan oleh lelaki di hadapannya itu. “Kamu harus tidur denganku!” Ucap Rega membuat Kinan terkejut, bulu kuduknya berdiri semua. “Kenapa? Aku tidak berniat untuk bekerja disini lagi! Dan juga terbebas dari sini!” Bantah Kinan tidak terima dengan keputusan Rega yang menurutnya tanpa sebab itu. “Memang, kamu tidak melakukan itu! Tapi kamu keluar dari kamarmu.” Ucap Rega dengan tatapan sinisnya, dia menampilkan diri bahwa dirinya tetap menang dalam hal apapun. “Kamu gila! Kenapa kamu tidak menyebutkan kemarin?” Tanya Kinan tak mau kalah dengan hukuman yang Rega berikan yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali. “Terserahku! Keputusan sebenarnya ada pada dirimu Kinan! Seharusnya kamu menyadari sendiri bagaimana perilaku seorang sandera seperti kamu!” Ucap Rega dengan tatapan penuh amarah, ia menekankah apa yang ia katakan disini. sebuah peringatan Kinan agar perempuan itu tidak berbuat sesuka hatinya. “Aku akan membebaskanmu kalau kamu mau tidur denganku! Bukankah itu sesuatu yang mudah?” Tanya Rega pada Kinan yang langsung menggeleng, tidak gadis itu masih memegang prinsipnya, ia tidak akan melakukan sesuatu yang menjijikkan sebagai hal yang untuk ia tukar dengan kebebasan. “Kalau kamu tidak mau aku tidak masalah!” Ucap Rega meninggalkan Kinan yang terdiam di dalam kamar kosong. Tak lupa, Rega mengunci Kinan di dalam agar gadis itu tidak bisa bergerak bebas. Rega menaiki lantai tiga, bagian rumah yang tak pernah ia singgah sebelumnya. Rega merenung, tatapannya jauh ke pemandangan yang menyuguhkan warna hijau dimana-mana. Rega tidak menyangka keberadaanya disini mengubah segalanya, kepribadian hangat yang diwarisi Rega dari ibunya perlahan lenyap sampai akhirnya sosok Kinan datang ke hidupnya. Sampai sekarang Rega sendiri tidak menyangka mengapa ia bertindak begitu jauh kepada Kinan, ia menyadari bagaimana perlakuannya pada Kinan yang terbilang masih menggunakan hati Nurani. Membuat beberapa pelayan penasaran, Rega tahu segalanya hanya saja ia memilih menjadi tuli dan buta. Ia tidak tahu hal apa yang menahannya untuk tidak bertindak kasar terlalu jauh pada sosok Kinan, membuat gadis itu perlahan menerima keberadaan Rega yang terkadang tidak stabil temperamennya. Sosok Kinan perlahan mengubah hidup Rega meski tidak terlalu dalam, Rega kini sering ebarda di rumah. Dunia malamnya benar-benar direnggut untuk mengawasi Kinan, ada tarikan dari Kinan yang mampu mengunci Rega di dalamnya. Lamunan Rega redup begitu sebuah dering telepon memecah keheningan di sebuah ruangan yang terletak di lantai tiga yang tak pernah ia jamah. “Halo!” Nada dingin di ucapkan oleh lelaki yang baru saja menempelkan benda pipih itu di telinganya. Tatapannya dingin, lurus memanah pada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya, tepatnya di tepi jalanan hutan. Wow… ternyata kamu tidak lupa denganku, Rega! Aku sudah keluar dari penjara! Ucapan sosok laki-laki terdengar dari sambungan telepon, kalimat yang menggema di telinga Rega menuntun lelaki itu untuk menatap sebentar arlojinya. Lebih tepatnya Rega melihat tahun yang ditampilkan di arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Oh ya selamat! Ada apa kamu menghubungiku?” Tanya Rega dengan senyum palsunya berubah dingin begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Mari berbisnis lagi! Aku bisa menawarkan harga tertinggi. “Kamu tidak berubah sama sekali! Rupanya terjebak di dalam bui selama beberapa tahun lalu tidak membuatmu jera!” Ucap Rega memainkan jari jemarinya. Tentu saja, bisnis terlarang ini yang membuatku kaya! “Kamu membutuhkan Wanita seperti apa? Aku sedang tidak ada tawanan untuk sekarang.” Jelas Rega membuat sosok di sambungan telepon tertawa menggelegar. Jangan berbohong Rega! Aku tahu kamu memiliki gadis disampingmu sekarang! “Tidak ada siapa?” Tanya Rega yang menahan diri untuk tidak terpancing pada respon sosok disambungan telepon. Aku Marco Himawan. Apa yang tidak ku ketahui. Jangan berbohong! Atau kamu memakainya untukmu sendiri? “Jaga mulutmu! Apa yang kamu bicarakan?” Tanya Rega dengan raut wajah menahan emosi yang ia sembunyikan dibalik senyum sinisnya. Aku mau gadis yang Bernama Kinandya Ayu! Aku akan membayarnya berapapun! Rega diam, tangannya mengepal kuat kala nama Kinan disebutkan oleh Marco. Pikirannya kalang kabut mencoba menerka-nerka bagaimana lelaki seusianya itu tahu bahwa Kinan menjadi sanderanya sekarang. Ia marah, kala Marco mengucapkan bahwa ia memakai Kinan untuknya sendiri. Mengapa? Mengapa dia marah? Bukankah bisnis terlarang yang bertahun-tahun ia lakoni itu memang seperti itu. Menyandera para gadis lemah untuk ia jual. “Bagaimana kamu tahu tentang Kinan?” Tanya Rega bertanya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin agar Marco tidak curiga bahwa Rega sedang menahannya agar ia tidak tertarik dengan sosok Kinan. Kamu tidak perlu tahu, kamu cukup menjualnya kepadaku! “Aku akan mengaturnya untukmu!” Ucap Rega memutuskan sambungan telepon. Tatapannya kosong, biasanya ia segera merelakan para sanderanya tapi tidak untuk Kinan. Ia terdiam, apa yang harus ia lakukan sekarang! Hatinya menahannya untuk tidak melepas Kinan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD