Seorang gadis yang tertidur beralaskan sebuah kain kasap mata, lebih tepatnya ia tidur di atas lantai dingin tanpa sebuah alas melindunginya dari dinginnya angin yang perlahan tertiup menusuk tulangnya, menghadirkan sebuah rasa ngilu yang berlarut-larut setiap malam. Namun, gadis itu tidak peduli ia sibuk memeluk dirinya sendiri mencoba mengajak bersahabat dengan sang malam. Kinan membuka matanya dengan perasaan senang, ia tersenyum. Ia tidak pernah menanti pagi begitu tidak sabarnya seperti sekarang. Bahkan dengan mata yang masih mengerjap, gadis itu sudah tersenyum kala sinar sang Mentari perlahan menusuk rongga-rongga ruangan kamar Rega. Gadis itu belum tersadar pada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi, lebih tepatnya menatap Kinan dengan begitu lekat. Tidak hanya dirinya saj

