“Lalu dimana mereka semua sekarang?”
Pertanyaan Kinan membuat Rega terdiam, melirik Kinan dengan tatapan dingin menandakan lagi dan lagi Kinan salah melangkah lagi. Kinan mengulum bibir bawahnya dengan rapat, ia lagi-lagi harus merasa bersalah karena berhasil membuat Rega yang tadinya sudah berbuat baik kepadanya kini harus menampilkan raut wajah yang marah kembali.
“Kamu ingin mengetahuinya?” Tanya Rega dengan tatapan yang tajam namun diiringi dengan seringaian yang hadir bersamaan.
Kinan sedikit memundurkan tubuhnya, memberikan jarak lebih jauh. Dari tatapan mata lelaki itu Kinan merasakan bergedik ngeri, tatapan yang justru tampak menakutkan menurutnya. Rega melihat gerak-gerik Kinan yang tampak bersiaga bila kapanpun Rega tiba-tiba akan menyerangnya.
“Ayo kutunjukkan, akan kubuat kamu menerima perlakuan yang sama sekarang.” Ucap Rega dengan senyumannya lagi-lagi yang terlihat seperti seringaian iblis.
Kinan menatap tangan yang diulurkan Rega untuknya, ia hanya menggeleng pelan. Ia tidak mau menerimanya, ia juga tidak bermaksud memancing emosi Rega lagi, entah mengapa setiap Kinan menanyakan sesuatu hal yang menggali kehidupan Rega sebelum datangnya dirinya, lelaki itu akan marah dan bertindak kasar kepadanya.
Beruntungnya Kinan, Rega hanya akan menjambak rambutnya atau kalau tidak hanya ucapan-ucapan kasar yang keluar dari mulutnya. Tidak seperti sandera sebelumnya, Rega tidak akan kira-kira untuk menyiksa sampai sang sandera akan memohon agar Rega menghentikkan Tindakan bodohnya itu.
“Aku hanya menanyakan tidak bermaksud memancing emosimu!” Ucap Kinan meralat dan menjelaskan maksud ucapannya.
“Iya aku tahu! Sekarang aku akan menunjukkan sanderaku sebelum kamu.” Ucap Rega bertindak seolah tindakannya benar.
“ Aku sungguh minta maaf bila ucapanku membuat kamu marah lagi.” Ucap Kinan meminta maaf sambil menatap tangan yang masih setia Rega ulurkan untuknya.
“Cepatlah aku tidak suka, gadis yang bertele-tele.” Ucap Rega ketus, menarik tangan Kinan dengan kasar membuat Kinan mau tidak mau ia harus berdiri.
Rega tampak menggertakkan giginya menahan diri agar ia tidak terlalu menunjukkan bahwa dirinya sedang menahan emosi. Kinan pun tidak buta, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Rega sedang marah terlihat dari rahangnya yang mengeras. Begitu Kinan berdiri, Rega membuka rantai yang melingkar di kaki kiri milik Kinan. Dengan sedikit terburu, Rega menarik KInan agar ikut dirinya untuk keluar kamar pertama kalinya.
Kinan yang awalnya merasa kesakitan, ia melupakannya sejenak. Setiap sudut ruangan Rega yang tertangkap apda pandangan matatnya membuat Kinan melupakan rasa perih di sekujur tubuhnya meski hanya sejenak. Kinan merasa sangat asing dengan lingkungan sekitarnya kini, ia tiba-tiba merasa takut karena suasana tampak hening dan juga keadaan sangat gelap. Lampu yang diletakkan tidak bisa menerangi seluruh ruangan.
Untuk pertama kalinya semua pelayan di rumah megah Rega melihat sosok gadis yang sudah alam disandera di kamar Rega. Semua mata tertuju pada Kinan, Kinan melihat Bi Herna tampak tersenyum sedangkan Kinan tampak gugup tanpa sadar ia justru menggenggam tangan Rega membuat Rega tertegun sejenak. Entah mengapa setiap perlakuan Kinan mampu membuatnya merasakan gejolak aneh.
“Apa kamu takut?” Tanya Rega dengan nada sinis menatap raut wajah Kinan dan juga Kinan yang mendadak diam tidak seperti saat Kinan berada di kamar Rega.
“Rega!” Panggil Kinan dengan lembut membuat Rega lagi-lagi merasakan gejolak aneh dan desiran aneh yang silih berganti menghampiri dirinya.
“Kita mau kemana?” Tanya Kinan yang semakin ketakutan karena Rega membawanya keluar rumah menuju sebuah ruangan kosong yang begitu gelap ditambah hari yang gelap jauh dari jangkauan cahaya lampu.
“Kamu ingin tahu kan bagaimana nasib mereka yang menjadi sanderaku?” Tanya Rega lagi-lagi mengingatkan Kinan akan pertanyaannya sebelum ia keluar dari kamar Rega setelah sekian lama.
“Iya maksud aku nggak perlu kamu bawa aku kesini segala!” Tegas Kinan semakin membuat Rega senang karena akhirnya menemukan titik kelemahan seorang Kinan.
Meski begitu ia tidak membatalkan niat awalnya, ia membuka pintu yang usang dan banyak debu. Pintu terbuka, menampilkan beberapa perabotan yang tidak terpakai, bahkan Kinan sangat yakin di dalamnya terdapat berbagai hewan dan serangga yang sedang reuni, mungkin. Rega melangkah kakinya namun Kinan mencegahnya dengan genggamannya yang sangat kuat.
“Aku nggak mau masuk!” Tolak Kinan begitu Rega masih saja berusaha menarik dirinya untuk masuk ke dalam.
“Kenapa? Kamu sendiri yang memintanya sekarang? Aku bilang masuk!” Paksa Rega menarik tangan Kinan sampai akhirnya gadis itu terseret ke dalam ruangan yang sangat pengap itu, sepertinya ruangan ini sangat lama tidak di buka.
Kinan melihat sekeliling ruangan itu dengan tatapan tenganga, benar-benar ada tempat bekas orang disekap disana. Rega sengaja perlahan menarik tangannya dari genggaman Kinan, namun Kinan buru-buru menggenggam erat tangan Rega agar tidak terlepas.
“Kamu menyekapnya disini?” Tanya Kinan dengan wajahnya yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.
Sedangkan Rega bukannya menjawab justru mengendikkan kedua bahunya dengan senyumannya, dari respon Rega, Kinan tahu bahwa Rega tidak menepis asumsi Kinan bahwa lelaki itu menyekap sanderanya disini. ada bekas tali, alat makan disana yang sudah berdebu.
“Lalu dimana mereka sekarang?” Tanya Kinan yang masih penasaran tanpa rasa takut masih berani menanyakan keberadaan para korban sandera yang dilakukan oleh Rega.
“Apa aku juga harus menunjukkan kuburan mereka?” Tanya Rega dengan wajah sinisnya membuat Kinan bergedik ngeri dan menghempaskan kasar tangannya, dengan Langkah tertatih ia meninggalkan Rega sendiri di Gudang yang begitu gelap itu.
Rega tertawa menggelegar melihat ketakutan Kinan, ia pun mengejar Kinan karena ia takut apabila Kinan mengambil kesempatan untuk kabur. Namun, dugaannya salah Kinan masih berada diluar menunggunya diluar, setidaknya keluar dari Gudang itu.
Rega menghela nafas menghampiri Kinan yang sengaja membelakangi ruangan gelap itu, begitu menyadari keberadaan Rega, Kinan menoleh dengan wajah pilunya membuat Rega mengeryitkan dahinya. Mengapa raut wajah Kinan seperti itu.
“Ada apa?” Tanya Rega dengan nada dingin membuat Kinan menunduk.
“Mereka salah apa? Sampai kamu dengan keji membunuh satu persatu mereka?” Tanya Kinan masih tetap menunduk tidak berniat untuk mengangkat wajahnya yang sengaja ia sembunyikan. Ia menyembunyikannya bukan tanpa sebuah alasan, Kinan mendadak kehilangan kata-kata setiap matanya bertemu dengan mata hitam milik Rega.
“Kamu dapat informasi darimana sampai menanyakan sesuatu hal yang sepertinya kamu tidak mengetahuinya sebelumnya?” Tanya Rega mulai merasa sedang diintrogasi oleh Kinan saat ini.
“Aku Cuma penasaran!” Ucap Kinan sedikit gugup kala Rega menaruh curiga kepadanya.
“Kamu tidak perlu memerdulikan yang lain. Cukup pikirkan saja nasibmu kedepannya akan seperti apa.” Ketus Rega menarik kembali tangan Kinan untuk kembali ke kamar lagi.
TBC