TAWARAN

1058 Words
Kinan menjadi sangat tertarik akan rumah megah Rega, bukan tertarik untuk melihatnya melainkan untuk bekerja disana. Selain menjadi sandera milik Rega, Kinan menjadi bahan perbincangan hangat para pelayan. Ada yang berdecak kagum ada pula yang menghujatnya meski berani hanya dibelakang. Rega mengetahui semua yang terjadi di rumah megahnya namun ia hanya membisu agar tidak memperpanjang masalah. Lagi pula, sudah menjadi hal yang biasa siapa yang pernah masuk di kamar Rega adalah hanya beberapa orang saja. Alasan Rega membatasi orang yang dapat masuk ke kamarnya adalah menghindari hal-hal yang justru menambah segala sesuatunya semakin rumit. “Ternyata dia biasa saja.” Gunjing Sarah kepada rekan kerjanya tanpa menghentikkan tangannya yang sedang menjalankan pekerjaannya. “Em… relative.” Gumam Nina yang masih setia mencuci sprei di rumah megah Rega. “Tapi Tuan Rega sangat terlihat memperlakukan dia istimewa,” Gumam Sarah masih saja tidak terima dengan perlakuan Rega kepada Kinan. “IYa, benar! Kamu ingat dulu Ketika Tya. Bagaimana Rega menyekapnya di Gudang tanpa ampun.” Ucap Nina mulai terhanyut dengan ucapan Sarah yang memancing untuk membicarakan tuan rumahnya itu. “Apa yang kalian bicarakan!” Tegur Herna dari belakang membuat Sarah dan Nina menunduk takut, Herna adalah kepala pelayan di rumah Rega. Herna memandang satu persatu pelayan yang tadi ia tegur, ia sudah mengira bakal terjadi hal seperti ini karena sejak kedatangan Kinan di rumah ini saja sudah menjadi topik hangat meski mereka belum mengetahui sosok Kinan. Baru kemarinlah, Rega mengajak gadis itu keluar dari kamarnya untuk pertama kalinya. Itu pun, dilakukan atas kemauan Rega sendiri. Karena bila keinginan yang lain dapat dengan jelas tidak akan ada yang berani sekalipun itu adalah permintaan Kinan sendiri. “Jangan sampai Rega mendengar pembicaraan kalian tadi!” Tegur Herna lagi, Sarah dan Nina hanya mengangguk takut. Herna kemudian mengantar makanan ke kamar Rega untuk lelaki yang mungkin saja belum bangun dan untuk gadis yang membuat penasaran beberapa pegawai di rumah ini. Herna sangat menikmati momen-momen yang tidak pernah terjadi sebelumnya semenjak kedatangan Kinan. “Kinan!” Bisik Herna begitu membuka pintu kamar menampilkan Kinan yang menoleh dengan wajah segarnya. Seperti biasa hanya duduk termangu disamping jendela. Sedangkan Rega masih dengan mata terpejam, lelaki itu selain memiliki temperamen yang tidak stabil juga jam tidur yang benar-benar berantakan. “Bi Herna, bisa ajak aku keluar lagi? Aku bosan!” Ucap Kinan merengek seperti anak kecil kepada Bi Herna yang langsung menggeleng cepat, ia tidak mungkin berani untuk mengajak Kinan yang bernotabene sebagai sandera seorang Rega. Melihat respon Bi Herna yang tampak ketakutan hanya membuatnya merasa pasrah dan tidak berharap lebih. Satu-satunya ia bisa tahan di rumah ini adalah Rega, kunci dari semua masalah. Selain itu, Kinan bisa berumur panjang disini juga. “Berikan kepada dia nanti jika dia bangun ya!” Ucap Bi Herna pada Kinan yang hanya mengangguk lemah, ia sibuk memperhatikan para pegawai yang sedang sibuk di rumah belakang Rega. Rega perlahan membuka mata, menangkap Bi Herna yang sudah menghilang dibalik pintu menyisakan Kinan yang sedang menyantap sarapannya dengan kondisi tangan diborgol. Rasanya badannya mulai mati rasa karena tidak bisa bergerak bebas. Rega pun mengambil sebatang rokok sebagai awal ia memulai harinya. “Kamu sudah bangun? Bi Herna menyuruhku memberikan ini kepadamu.” Ucap Kinan sambil mengarahkan matanya kea makanan yang ada di depannya. Kinan tidak menyadari sejauh ini, bahwa mengapa Bi Herna selalu membawakan sarapan miliknya dan juga Rega secara bersamaan. Bi Herna mengambil inisiatif itu agar Rega tidak sarapan sendiri lagi, selalu sendiri mungkin sesekali lelaki itu merasa kesepian karena tidak memiliki teman yang sesungguhnya. “Sudah ku bilang berapa kali bahwa jangan mengajakku untuk mengobrol seperti kamu mengobrol dengan temanmu!” Ketus Rega sambil beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Kinan hanya mengangkat kedua bahunya, ia tidak peduli menganggap apa yang dikatakan Rega sudah biasa. Dia tidak setakut dulu, dia mulai terbiasa dan mulai melihat sisi lembut dari seorang kepala mafia, Rega Andrian. Tak berapa lama, Rega keluar dengan wajah segarnya sedangkan Kinan hanya melirik gerak-gerik Rega dengan diam. Ia sibuk dengan makanannya, rega duduk dihadapan Kinan, mungkin lelaki itu sedang berbaik hati dan ia menyantap sarapan yang sudah dibawakan oleh Bi Herna. “Berhenti merengek kepada Bi Herna untuk mengeluarkanmu! Di rumah ini yang berhak mengeluarkanmu hanya Aku.” Tegas Rega membuat Kinan yang tadinya menunduk sibuk dengan makanannya mendongak dengan alis terangkat sebelah. “Kamu mendengarnya?” Tanya Kinan mengeryit membuat Rega menatapnya tajam tanpa berkedip. “Kamu pikir? Kamu yang bodoh! Merengek di dalam kamarku!” Ledek Rega membuat Kinan hanya memanyunkan bibirnya. “Lalu bagaimana? Sekarang kamu sudah mendengarnya apa kamu akan menurutiku?” Tanya Kinan dengan wajah berbinarnya, wajah yang Rega benci karena ia merasa menjadi manusia lagi. “Tidak!” Ucap Rega pendek membuat Kinan rasanya ingin melempar sendok ke wajah dingin Rega yang sama sekali tidak menunjukkan wajah berdamai. “Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa seperti mereka?” Tanya Kinan dengan wajah memandang keluar jendela tepatnya menatap para pegawai di rumah Rega yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. “Tidak ada!” Ucap Rega pendek membuat Kinan menggenggam sendoknya dengan kuat lebih tepatnya menahan emosinya. “Aku serius Rega!” Gertak Kinan dengan nada tinggi membuat Rega menatap Kinan dengan tajam, Kinan merutuki dirinya yang tidak bisa mengendalikan emosinya sampai membentak seorang Rega. “Kalau kamu ingin seperti mereka? Ada yang harus kamu tukar untuk kebebasan dariku.” Ucap Rega membuat Kinan menyipitkan matanya, ia mulai melihat ada hal yang tidak beres yang ditawarkan oleh Rega kepadanya. “Apa? Apa yang mereka tukar agar bisa bekerja denganmu?” Tanya Kinan mulai penasaran. “Tubuhnya misalnya.” Ucap Rega dengan pengucapan yang terdengar menggantung seolah dia sedang berfikir agar tidak mengatakan hal yang salah. “Tubuhnya? Maksud kamu semua karyawanmu disini pernah tidur denganmu?” Tanya Kinan hati-hati, ia menyakinkan dirinya bahwa yang dikatakan tidak benar. Namun, melihat reaksi Rega yang mengangguk dengan wajah penuh dengan kemenangan membuat Kinan tidak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa selain kejam Rega juga lebih keji dari dugaannya. “Kamu memang nggak waras!” Umpat Kinan dengan wajahnya penuh ketidakpercayaan dengan apa yang telah diperbuat oleh Rega. “Memang sejak dulu sudah ku pertegas bahwa sikapku seperti ini semuanya mengerti kecuali kamu, Kinan!” Tandas Rega meluapkan keresahan hatinya. “Aku?” Tanya Kinan dengan wajah terperangah, lebih tepatnya ia tidak tahu letak kesalahannya dimana sampai Rega sepertinya begitu kesal dengannya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD