Seorang lelaki tengah berdiri menatap pemandangan luar, mengikuti apa yang dilakukan oleh Kinan setiap hari. Lelaki yang baisanya masih bergelud dengan selimut kini sedang menikmati secangkir kopi. Matanya tidak teralihkan dari gerbang rumahnya sejak tadi, ia terus melirik jam dan gerbang depan secara bergantian.
Tidak hanya Rega, tapi Kinan di pagi hari sudah dibuat seperti orang bingung karena Rega yang sudah lama berdiri disampingnya. Kinan tidak mau bertanya kepada lelaki disampingnya itu, menurut Kinan jawaban lelaki itu akan justru membuatnya semakin pusing karena ulahnya.
“Sebenarnya apa yang kamu lakukan disini!” Tegur KInan mulai kesal dengan keberadaan Rega yang mengganggu ketenangannya. Padahal Rega hanya diam saja namun Kinan mulai terusik dengan keberadaan lelaki itu.
“Apa aku mengganggumu?” Tanya Rega dengan wajah tanpa bersalah dan tampak dingin, melihat raut wajah Rega, Kinan hanya tersenyum lembut ia tidak mau memancing emosi Rega yang tidak stabil itu.
“Tidak, lanjutkan saja!” Ucap Kinan ramah membuat Rega mengangguk setuju bahwa yang dilakukannya itu tidak menganggu siapapun sebenarnya.
“Kamu tidak ada niatan keluar?” Tanya Kinan dengan ramah membuat Rega menatapnya tajam, mendapat sorot mata Rega yang menandakan lelaki itu mulai emosi Kinan segera menundukkan pandangannya. Sedangkan Rega mengulum senyumnya dalam diam, rupanya lelaki itu sedang mengerjai Kinan.
Senyuman Rega semakin mengembang begitu seorang yang dinantikan muncul di balik gerbang yang berdiri tinggi di depan halaman rumahnya. Berbanding terbalik dengan Kinan, raut wajah Kinan berubah melihat siapa yang telah datang. Kinan memejamkan matanya, tidak menyangka mengapa ayah dan saudaranya terus mengusik hidupnya padahal sangat jelas kini Kinan benar-benar melemparkan dirinya jauh dari keluarganya.
“Mengapa ayahku terus datang ke rumahmu?” Tanya Kinan membuat Rega langsung menoleh Kinan dengan tatapan girang, ah tidak lebih tepatnya tatapannya menakutkan seperti iblis yang meminjam raga seorang manusia.
“Rega! Dia datang lagi!” Celetuk seseorang setelah menerobos masuk ke kamar Rega tanpa sebuah ketukan siapa lagi jika bukan Sam, mendengar ucapan Sam, lelaki yang bernotabene seorang bos mafia itu berjalan keluar kamar dengan salah satu tangannya yang ia masukkan ke dalam kantong celananya.
Melambaikan tangan kepada Kinan hanya bisa diam menatap Rega yang melarikan diri dari pertanyaannya. Rega pun menuruni tangga Bersama Sam yang berjalan disampingnya, seperti biasa Sam adalah satu-satunya anak buah Rega yang benar-benar begitu dekat dengan Rega tidak peduli bagaimana kondisi mental lelaki itu, Sam tak memiliki rasa takut sedikit pun.
“Kamu benar-benar akan memberikan uang kepada ayah tiri Kinan?” Tanya Sam memastikan Rega yang meraih tas kecil tanpa menghentikkan langkahnya untuk menuju ke gerbang.
“Tentu saja!” Ucap Rega dengan penuh percaya diri.
“Bukankah itu justru merugikan kita?” Tanya Sam dengan wajah tidak percaya atas keputusan yang diambil oleh bos mafia.
“Aku hanya memberikan pelajaran saja, kamu akan mengerti nanti. Tidak banyak!” Ucap Rega dengan wajah santai seolah ia tidak merasa rugi.
“Baiklah kita lihat saja nanti!” Ucap Sam pasrah, sampai sekarang ia belum dapat melihat maksud dari keputusan yang diambil oleh Rega.
“Rupanya anda masih tertarik dengan tawaran saya?” Tanya Rega yang tiba-tiba muncul dari balik gerbang membuat Asfar dan Hilda langsung menoleh kepada Rega dan Sam yang menemui mereka.
“Tentu saja, aku sudah menunggu lama. Aku kira kamu akan mengingkari janjimu!” Ucap Asfar tanpa rasa malu masih saja menagih apa yang telah dijanjikan seorang yang kaya raya seperti Rega, yang telah menjual putri tirinya.
“Tidak tahu malu!” Desis Sam cukup lirih, rupanya Rega masih bisa mendengarnya buktinya lelaki itu turut serta menyeringai Asfar.
“Apa kamu sudah membawa uangnya? Aku tidak punya waktu cukup banyak!” Ucap Asfar tidak sabaran membuat Rega semakin tidak habis fikir dengan sikap yang ditunjukkan oleh Asfar.
“Ini!” Ucap Rega menyodorkan tas kecil kepada Asfar, begitu menerimanya Asfar segera membukanya dan Hilda pun menunggu ayahnya membuka tas berwarna merah itu.
“Apa kamu sedang menghinaku? Atau kamu sedang bercanda?” Tanya Asfar dengan wajah geram menahan emosi, ia tidak mengira ia sedang dipermainkan oleh bos mafia. Hilda pun tampak terperangah dengan jumlah uang yang diberikan Rega kepadanya.
“Tidak, aku tidak sedang bercanda!” Tegas Rega dengan senyum bodohnya. Asfar menatap Rega dengan wajah tidak percaya, bagaimana bisa lelaki dihadapannya itu hanya memberikannya lima juta saja atas penjualan putrinya.
“Tapi ini hanya lima juta?” Tanya Hilda masih menawar atas uang yang diberikan Rega kepadanya, sedangkan Sam menatap Rega, ia sendiri tidak mengetahui jumlah uang yang diberikan kepada keluarga Kinan denagn nominal tersebut.
“Apa kau berharap aku memberikan uang kepadamu dengan jumlah uang yang besar?” Tanya Rega dengan wajah yang tadinya diiringi dengan senyuman seketika beruabh dengan tatapan tajam menusuk sampai dalam mata Asfar.
“Kamu menjual putriku dengan jumlah lima juta?” Tanya Asfar masih tidak percaya sedangkan Rega dengan senyumannya ia tetap diam dan berusaha bersikap tenang menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai muak dengan manusia tidak tau diri itu.
“Tentu saja! Memang kelebihan apa yang dimiliki oleh putrimu? Dia hanya dari keluarga miskin yang tidak diurus dengan baik!” Hardik Rega dengan wajah merah padam, senyumannya yang hanya sebuah senyum palsu pun ikut lenyap ditelan emosinya yang mulai menggebu dan membakar dadanya.
Asfar pun dibungkam tanpa kata, ia kehilangan semua kata-kata yang tadinya memenuhi otaknya dan berusaha mendesak keluar. Hilda pun tampak ketakutan dan enggan untuk ikut campur.
“Kecuali kalau putrimu itu memiliki kelebihan yang memikat hati para lelaki!” Ketus Rega dengan nada sarkas. Sam yang mendengarnya saja hanya diam, ia sendiri tidak kuasa mendengar Rega mengucapkan kata-kata yang begitu tajam. Sam yakin jika sampai Kinan mendengarnya gadis itu akan bersedih, padahal yang memberikan perintah untuk mengunci Kinan di kamar Rega adalah dirinya sendiri, sebuah keputusan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
“Dasar b*****h gila!” Umpat Asfar dalam hati menatap Rega dengan wajah yang kalut menahan emosi.
Tanpa Asfar ucapkan pun Rega mengetahui jika lelaki yang sudah ditumbuhi uban di kepalanya itu marah kepadanya. Rega sudah bertemu dengan berbagai macam kepribadian seseorang, apalagi hanya seorang Asfar, Rega dengan mudah membaca jalan fikir Asfar sejak pertama kali mereka bertemu.
“Jadi anda mau menerimanya atau tidak? Segeralah pergi dari rumahku aku tidak ada waktu meladeni anda, pekerjaanku cukup banyak!” Ucap Rega dengan nada sinis, mengusir Asfar dan Hilda yang segera pergi dari rumah megah Rega.
“Ah iya, aku menerimanya! Aku berterimakasih atas uang ini!” Ucap Asfar segera melenggang pergi.
TBC