Hilda melihat ayahnya yang sejak bangun tidur sudah berkutik dengan mobil tuanya seperti akan berpergian. Dengan raut wajah lesu dan kantong mata yang benar-benar menghitam dari hari semakin hari membuat orang-orang pun bisa melihat bahwa Asfar adalah seorang pecandu minuman keras dan judi yang terlarang, meraup habis harta yang ditinggalkan istrinya hanya untuk judi.
Bertubi-tubi kekalahan yang ia alami tidak membuatnya jera untuk berjudi. Hari semakin hari semakin suram karena tidak ada masa depan yang diimpikan atau usaha yang dilakukan hanya berfoya-foya. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan anak sulungnya, bermalas-malasan bertumpu pada Kinan.
Kini tulang punggung mereka menghilang, dalam keadaan di sandera Kinan tidak merasakan keadaan yang mendesaknya justru ia merasa bebannya menghilang kala ia tidak perlu bekerja kepada sang ayah dan kakak tirinya, tidak ada tekanan meski terkadang sikap sang mafia membuatnya setengah mati menahan rasa ketakutan.
“Ayah mau kemana?” Tanya Hilda mendekati sang ayah yang sedang memanasi mobil tuanya.
“Ayah harus kembali ke tempat kemarin Hilda.” Ucap Asfar menatap Hilda dengan penuh percaya diri.
Rupanya penolakan Rega yang enggan untuk meladeni kedatangan Asfar tidak cukup membuat Asfar mundur, ia tetap bersikap untuk datang dan meminta imbal balik atas penculikan yang dilakukan Rega terhadap Kinan.
“Memang ayah sangat yakin kalau Kinan benar-benar diculik mereka?” Tanya Hilda yang justru beranggapan bahwa mafia itu tidak menculik saudara tirinya.
“Iya, ayah sangat yakin. Ayah tetap akan kesana sampai bos mafia itu mau untuk menemui ayah. Hilda!” Ucap Asfar dengan tegas bahwa ia akan tetap kesana sampai mereka bersedia menemui Asfar dan tentu saja, tujuan utama mereka akan memberikan keuntungan dengan penculikan Kinan.
“Kamu mau ikut?” Ajak Asfar melihat Hilda yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu mobil tanpa berniat untuk masuk ke mobil.
Hilda tampak berfikir Panjang, akhirnya ia menuruti ajakan ayahnya. Mereka melajukan mobil tuanya menuju ke rumah megah yang berdiri di tengah hutan belantara. Asfar sangat yakin jika pemilik rumah itu adalah orang yang sangat kaya raya dilihat dari bagaimana bisa rumah megah itu berdiri sendiri dan dibangun menjulang tinggi.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai ditempat kemarin mereka datang, keadaan masih sama dengan kemarin, pintu gerbang rumah itu tertutup rapat tak membiarkan orang yang berlalu Lalang dapat mengintip apa yang terjadi di dalam rumah. Asfar menepikkan mobilnya, bergegas menekan bel disamping gerbang.
Berkali-kali ia tetap menekan bel pintu sampai seorang lelaki muncul, Asfar mengingatnya itu adalah lelaki yang juga ia temui. Asfar menatap lelaki itu dengan tatapan dingin begitu juga dengan lelaki itu menatap Asfar dengan tatapan datar. Seolah lelaki itu sudah tahu bahwa lelaki parubaya itu akan datang kembali.
“Kamu lagi kamu lagi, Pak! Saya sudah bilang bos saya nggak mau menemui.” Ucap Sam yang rupanya membukakan gerbang lagi dan lagi.
“Saya akan tetap menunggu.” Ucap Asfar bersikeras tetap menunggu ketersediaan Rega untuk menemuinya.
Mendengar kekeras kepala Asfar, Sam hanya menghela nafas rupanya yang diucapkan Rega benar lelaki ini akan datang. Dalam hatinya, ia sempat terbesit perasaan lega karena Kinan akan dijemput oleh keluarganya untuk pulang. Perasaan macam apa itu, apakah bisa dikatakan bahwa perasaan Sam adalah salah satu bentuk penghianatan yang ia lakukan terhadap bos mafia, Rega.
“Sebenarnya niat bapak kesini itu apa?” Tanya Sam mencoba menanyakan tujuan Asfar datang kemari.
Sangat jarang warga sipil yang memberanikan diri untuk datang ke markas para mafia yang selalu menjadi pemilik jalan, meski itu hanya asumsi mereka. Mereka adalah kelompok yang sangat dihindari dan memilih mengalah setiap ada permasalahan yang melibatkan mereka.
“Saya hanya ingin bertanya apakah benar Kina nada disini.” Ucap Asfar berlagak bahwa ia mencari Kinan.
“Kinan?” Tanya Sam berpura-pura tidak mengenal nama gadis yang disebutkan, Sam melirik gadis yang terlihat seumuran dengan Kinan yang hanya diam dan menyerahkan semuanya kepada ayahnya, ia hanya mengikuti ayahnya disampingnya.
“Iya Kinan, putri saya!” Ucap Asfar berlagak seperti seorang ayah yang benar-benar merasa kehilangan putrinya.
“Tidak ada nama Kinan disini!” Tegas Sam masih saja menutupi keberadaan Kinan.
“ Ada apa ini?”
Suara seseorang yang muncul dari belakang Sam, tepatnya setelah gerbang pintu dibuka menyita perhatian mereka. Hilda terdiam, ia mengagumi dengan penampilan lelaki yang muncul, tampan satu kata yang mewakili perasaan yang Hilda.
“Ini bos, bapak ini bersikeras mencari anaknya disini.” jelas Sam kepada Rega yang memandang lelaki parubaya dan gadis disampingnya secara bersamaan.
“Oh jadi kamu bos mafianya, kamu menculik putri saya kan?” Tanya Asfar langsung memberikan pertanyaan tanpa basa-basi.
“Anda ini ayah Kinan?” Tanya Rega dengan wajah tenang namun cukup dingin, Hilda semakin terpesona begitu melihat Rega dari jarak yang dekat.
“Iya, dimana kamu sembunyikan Kinan?” Tanya Asfar dengan memasang raut wajah berlagak marah.
Sayangnya topeng yang dipasang Asfar tidak berlaku dihadapan Rega, lelaki itu sudah sangat hafal membaca mimic beberapa orang karena ia adalah seorang pembisnis sekalipun bisnis itu adalah sesuatu yang terlarang.
“Kalau ada mencari putri anda sebaiknya anda ke kantor polisi!” Tegas Rega membuat Asfar menggeram, ia mengepalkan tangannya.
Lelaki di hadapannya benar-benar angkuh. Ia fikir dengan memasang wajah memelas ia akan segera mendapatkan tujuannya sejak ia berniat untuk datang kesini. Asfar mencoba menghela nafas, ia mencoba sedikit bersabar agar emosinya tidak gampang tersulut.
“Kenapa? Anda baru mencarinya sekarang? Kenapa langsung kesini? Tidak ke kantor polisi dulu? Disini bukan untuk laporan orang hilang!” Tegas Rega sekali lagi membuat Asfar benar-benar kehabisan kata-kata, rupanya Rega tidak bisa ia tipu seperti ia menipu para rekan-rekan judinya.
“Tapi saya yakin bahwa dia ada disini!” Tegas Asfar membuat Rega diam menatap nyalang pada Asfar yang langsung mengalihkan pandangannya begitu mendapat pandangan yang tajam dari Rega.
“Sam! Tutup gerbangnya, saya tidak ada waktu luang!” Tegas Rega pada Sam yang baru saja ia berbalik badan untuk masuk kembali ke rumahnya.
“Tunggu! Apakah kamu sudah menjual Kinan ke orang lain?” Tanya Asfar segera mengucapkan maksud tujuannya, seringaian muncul di wajah Rega kemudian segera ia hilangkan begitu ia membalik badan untuk menatap Asfar.
“Iya, saya sudah menjualnya! Kalau anda mau menebusnya anda bisa menghubungi lelaki yang membelinya.” Tegas Rega membuat Asfar terkejut, ia menggeleng tidak-tidak bukan ini yang ia inginkan. Ia tidak ada niatan untuk menembusnya sama sekali.
“Ah, tidak. Saya tidak mampu untuk menembusnya, saya hanya ingin meminta uang hasil penjualan Kinan. Karena Kinan adalah anak saya!”
TBC