“Ah saya tidak ada niatan untuk menebusnya.” Ucap Asfar langsung menolak begitu Rega melontarkan bahwa Asfar bisa menebus dengan uang apabila menginginkan Kinan kembali.
Rega dan Sam saling melempar pandang begitu mendengar Asfar yang begitu cepat menolak. Rega hanya menahan dirinya agar ia tidak terlalu etrlihat bahwa ia sedang menertawakan tingkah laku dari seorang lelaki yang mengaku sebagai ayah dari Kinan. Sam memilih diam, menunggu Rega yang mengambil Langkah selanjutnya lebih tepatnya apa yang akan dilakukan oleh Rega setelah sangat tampak kentara bahwa sejak awal niat Asfar datang bukan untuk menebus, melainkan untuk berbagi hasil.
“Anda ini benar ayah dari Kinan?” Tanya Rega sengaja menampakkan raut wajah yang bahwa ia meragukan kebenaran bahwa ia adalah ayah dari Kinan.
“Iya tentu saja!” Ucap Asfar tampak angkuh dan sangat kentara kurang senang dengan sikap Rega yang berlagak meragukan Asfar.
Hilda hanya diam, ia memilih menjadi penonton dalam percakapan ayahnya dengan Rega. Lebih tepatnya ia sedang menikmati pemandangan yang disuguhkan, salah satu ciptaan Tuhan yang ia tidak mau sia-siakan keberadaannya.
“Bagaimana mungkin seorang ayah justru menjual anaknya sendiri.” Sindir Rega dengan seringaian di wajahnya ia justru membuang muka, ia menatap Sam dengan tatapan merendahkan sedangkan Sam ikut tersenyum.
Mendengar ucapan Rega, Asfar merasa dipojokkan sehingga ia merasa gelagapan kehabisan kata-kata. Hilda menarik ujung baju ayahnya untuk segera menyelesaikan perdebatan antara Asfar dan Rega. Asfar menatap Rega dengan tatapan seperti bingung, ia sedang mencari kalimat yang pas.
“Itu urusan saya! Kamu nggak perlu ikut campur. Saya cumin meminta uang hasil kamu menjual putri saya!” Ucap Asfar sedikit menaikkan nada bicaranya, ia lakukan untuk menutupi rasa gugup yang menghinggapi dirinya.
“Anda butuh berapa?” Tanya Rega menantang Asfar dengan wajah dinginnya, Sam hanya mengulum senyum sinis kala melihat perubahan raut wajah Asfar yang sangat tampak senang bukan kepalang.
“Apakah saya bisa meminta sesuai keinginan saya?” Tanya Asfar mulai tidak tahu diri membuat Rega bisa mengetahui bagaimana sebenarnya hubungan Asfar dengan Kinan.
Rega sedikit melirik ke atas tepat pada jendela kamarnya yang ia yakini bahwa Kinan sedang memperhatikannya dari atas sana. Rega mulai malas berhadapan dengan Asfar ia kemudian meninggalkan mereka secara tiba-tiba.
“Hey! Aku belum selesai berurusan denganmu!” Pekik Asfar yang melihat Rega melangkah pergi meninggalkannya.
“Datanglah besok! Aku akan memberikan uangnya!” Ucap Rega kemudian menghilang dibalik gerbang, Sam hanya memperhatikan raut wajah Asfar yang langsung berubah drastis. Hilda sedikit kecewa karena tidak bisa memandang dengan seksama Rega.
Rega segera masuk ke rumah dan kemudian menuju kamarnya, tak lupa sebelum masuk seeperti biasa ia membawa beberapa buah untuk camilan penyegar pencernaannya di pagi hari.
Benar seperti dugaan Rega, Kinan sedang mengintip ayah dan saudara tirinya yang perlahan pergi meninggalkan rumah megah Rega. Kinan mendengar suara pintu di buka, ia tahu itu Rega karena tidak ada sapaan.
Sebulan hidup di rumah megah Rega, Kinan mulai hafal dengan rutinitas yang terjadi di rumah ini sayangnya sampai sekarang Rega tidak mengizinkan Kinan untuk keluar tetap saja rantai masih terlingkar di pergelangan Kinan, dan hal itu tidak menghadirkan rasa simpati dalam benak Rega sama sekali.
“Selain kamu tidak diinginkan di keluargamu, kamu juga dijual oleh ayah tirimu!” Ketus Rega dengan senyum sinisnya berusaha mengajak bicara Kinan membuat Kinan menghela nafas.
Ia pikir akan mudah untuk menarik simpati seorang lelaki sedingin Rega namun kenyataannya salah, sangat sulit seperti mengikis sebuah batu butuh jangka waktu yang Panjang. Kinan memilih diam, dia tidak membantahnya karena yang dikatakan Rega benar.
“Sungguh menyedihkan!” Sindir Rega yang datang duduk bersila disamping Kinan membuat Kinan terkejut dengan kedatangan Rega seperti yang Sam lakukan setiap memberikan sarapan untuk Kinan.
“Daripada kamu sibuk mengomentari hidup seseorang lebih baik kamu perhatikan saja hidupmu yang kelam itu!” Tandas Kinan mampu membuat Rega diam dan benar-benar menusuk relung hatinya, ia membantung garpu untuknya memakan beberapa potongan buah.
Kinan terkejut, ia tidak menyangka kata-kata yang ia ucapkan akan sukses membuat Rega marah. Kinan melihat raut wajah Rega yang merah padam. Kinan menyesali ucapannya yang tanpa berpikir panjang.
“Maaf!” Ucap Kinan lirih menyesali ucapanmu.
Rega tertegun sebentar begitu Kinan meminta maaf, padahal Kinan mulai terpancing karena ucapan dari Rega sendiri yang tidak enak didengar. Rega menyodorkan mangkuk yang berisikan potongan buah pada Kinan, Kinan menatap Rega yang langsung memalingkan mukanya. Lelaki itu terlalu memberatkan gengsinya daripada menunjukkan rasa pedulinya terhadap Kinan.
“Habiskan!” Tegas Rega kemudian menatap pemandangan yang setiap hari Kinan nikmati meski tidak ada yang berubah disana.
Kinan tanpa sungkan pun mengambil mangkok yang disodorkan oleh Rega kemudian menyuapkan satu potong ke dalam mulutnya dengan hati-hati, fikirannya terasa sedikit ragu-ragu sebenarnya, namun ia memilih diam daripada menambah kegaudhan antara Rega dan Kinan.
“Ayahmu meminta tebusan atas penculikan dirimu!” Ucap Rega memulai percakapannya setelah ia menenangkan fikirannya untuk tidak terpancing dengan ucapan Kinan.
“Lalu?” Tanya Kinan ia sendiri belum mencerna ucapan Rega dengan baik.
“Tunggu!”
Ucapan Kinan tiba-tiba membuat Rega menelan kembali kalimatnya. Ia menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya, Kinan masih mencoba mencerna ucapan dari Rega. Tidak mungkinkan bila ia salah mendengar, pendengarannya sampai saat ini masih baik-baik saja.
“Ayah bersedia menebusku?” Tanya Kinan mengartikan ucapan Rega, Rega pun dengan sangat sabar menatap Kinan yang rupanya salah mengartikan.
“Bukan. Lebih tepatnya ayahmu meminta uang hasil aku menjual kamu! Aku mengatakan sudah menjualmu kepada pembeli bisnisku.” Ucap Rega sambil memainkan jari-jemarinya jujur entah mengapa tiba-tiba perasaan tidak enak muncul dalam benak Rega Ketika menjelaskan maksud kalimatnya pada Kinan yang kini terdiam membisu.
Waktu berhenti, Kinan kehilangan selera makannya seketika, ia fikir dengan perlakuan ayahnya dan saudara tirinya Ketika Kinan di dalam rumah adalah yang paling buruk. Rupanya sisi paling keji masih ada, bagaimana bisa ayahnya datang kesini jauh-jauh bukan untuk menjemputnya atau sekedar memintanya pulang meski hanya basa-basi, namun justru datang dengan muka yang tebal untuk meminta hasil penjualan.
Kinan masih berusaha memaksa mulutnya untuk terbuka, menyuapkan buah dengan terpaksa mencoba mengelabui Rega yang sejak tadi menatapnya, mencoba menjelaskan lewat raut wajahnya bahwa ia sedang baik-baik saja.
“Lalu kamu akan memberikannya?” Tanya Kinan menoleh kepada Rega dengan wajah yang benar-benar sayu, wajahnya benar-benar tidak bisa berbohong.
“Entahlah! Aku akan menjualmu dengan harga berapa?” Tanya balik Rega memandang Kinan dari atas sampai bawah seolah sedang menentukan harga pas yang sesuai dengan diri Kinan.
TBC