“Berapa?” Tanya Rega kembali bersuara setelah menunggu cukup lama, menunggu gadis yang sejak tadi hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Apanya?” Tanya Kinan memandang malas Rega.
Kinan tahu bahwa lelaki itu tidak akan mendengarkan saran dari Kinan, gadis itu kira percuma ia menyuarakan pendapatnya terlalu buang-buang tenaga bila ia akan mengeluarkan pendapatnya.
“Terserahmu! Jangan temui dia lebih baik.” Ucap Kinan membuat Rega mengerutkan alisnya mendengar ucapan Kinan bukanlah jawaban dari pertanyaannya.
“Aku hanya tanya berapa harga kamu? Menemuinya atau tidak itu adlaah urusanku.” Ucap Rega dingin.
Kinan menoleh dengan pandangan tidak mengerti, ia merasa sikap Rega benar-benar tidak stabil. Ia akan berubah baik, kemudian mendadak akan marah tanpa sebab tak jarang Kinan sering menerima perlakuan benar-benar seorang hewan peliharaan.
Kinan bahkan sampai sekarang belum bisa mengetahui dengan pasti sikap yang bagaimana yang dimiliki seorang Rega. Bahkan untuk latar belakangnya saja, Kinan tidak mengetahuinya seolah tidak hanya tembok bangunan rumahnya yang tinggi namun juga beberapa orang yang bekerja disana pun juga buta akan hal mengenai sosok Rega.
“Berikan harga yang paling rendah untuk ayahku.” Ucap Kinan begitu Rega beranjak berdiri untuk merenggangkan otot punggungnya yang membuatnya tidak betah untuk sekedar duduk bersila.
Rega mulai tertarik dengan obrolan mereka, lelaki itu membuang niatnya untuk merebahkan diri, ia memilih duduk bersandarkan bibir tempat tidurnya setidaknya dapat menopang punggungnya.
“Kenapa?” Tanya Rega dengan senyum sinisnya.
“Dia akan kembali segera kembali dan meminta uangmu terus. Jadi persingkat saja waktumu untuk segera menjualku. Aku sudah muak dengan ini semua.” Ucap Kinan parau membuat Rega semakin kegirangan.
“Bagus! Aku suka sesuatu hal yang menyerah seperti ini.” Ucap Rega semakin bersemangat sedangkan Kinan tidak terlalu menghiraukan ucapan Rega, ia sibuk dengan fikirannya mengenai sikap ayahnya dan juga saudara tirinya.
Rega menatap gadis yang duduk membelakanginya sekarang, Rega sendiri bingung dengan dirinya. Ia merasa kehilangan jati dirinya, dimana Rega yang terkenal bengis, dimana Rega yang pemarah dan tak sungkan menghancurkan seisi rumah, dimana? Dimana sosok itu?
Rega benar-benar merasa asing pada dirinya yang sebelumnya semenjak gadis Bernama Kinan itu muncul dihidupnya. Tatapan mata yang tak bisa Rega lupakan dari sosok Kinan, pertama kali Rega melihat tatapan penuh harapan seolah ia masih dianggap seorang manusia yang memiliki hati dan Nurani yang belum mati.
“Bukankah kamu ingin bekerja disini?” Tanya Rega teringat pada permohonan Kinan, Kinan menoleh dengan senang hati. Ia berfikir Rega akan memberikan izin, harapannya pupus begitu melihat raut wajah Rega yang tampak mengejek, yang Kinan ketahui lelaki itu tidak akan merubah ucapannya.
“Iya apa kau mengizinkannya?” Tanya Kinan bersemangat berani mendekati Rega dengan menyentuh lembut lengan Rega membuat Rega sedikit terkejut tanpa bas abasi ia menarik rambut Kinan dengan keras.
“Arrgghh….” Erang Kinan kesakitan dikala Rega menarik rambutnya tanpa ampun.
“Aku memang terlalu membiarkanmu bernafas sampai kamu tidak sadar diri kamu adalah seorang sandera disini.” Tukas Rega membuat Kinan mengangguk cepat, gadis itu memohon dengan uraian air matanya dalam diam menahan sakit seperti rambutnya akan terlepas dari akarnya.
Rega melepas dengan kasar cengkramannya, ia beranjak mengambil sesuatu dari laci. Kinan menghela nafas berkali-kali mengatur nafasnya agar kembali stabil. Belum sempat ia bernafas dengan leluasa, Rega kembali mendekati dirinya menarik kedua tangannya dengan cepat dan memasang borgol di pergelangan tangan Kinan. Kinan memandang kedua tangannya yang sudah terborgol dan tidak bisa melakukan apa saja. Kinan hanya bisa terisak pelan, ia benar-benar merasa kebingungan karena setiap yang ia lakukan dengan hati-hati tetap membuatnya merasa melakukan kesalahan fatal.
“Kalau seperti ini! Kamu bisa merenungkan diri dan merasakan bagaimana menjadi seorang sandera sesungguhnya.” Ucap Rega dengan senyumannya, bukan senyuman lembut justru menurut Kinan senyuman milik Rega yang kini ia lihat adalah senyuman paling menakutkan yang pernah ia lihat.
Rega meninggalkan Kinan yang sekarang meratapi tangannya yang sudah terpasang sebuah borgol. Ia tidak bisa bebas bergerak, ia benar-benar terisak dan merasa Rega adalah sosok yang tidak bisa ia taklukan. Rega memutuskan turun, ia menghampiri mobil yang biasa ia gunakan disana sudah ada Sam yang duduk di kursi bagian pengemudi.
“Kita mau kemana Ga?” Tanya Sam begitu Rega sudah duduk di sampingnya.
“Ke Pelabuhan sekarang!” Titah Rega begitu singkat.
Sam segera menyalakan mobilnya dan segera menancap gas sesuai tujuan yang dikatakan oleh Rega. Rega tidak menikmati perjalanannya seperti kelihatannya, lelaki itu sibuk memandang jauh keluar mobil sedang memikirkan sesuatu hal.
“Kamu pikirkan saja hidup kamu yang perlahan suram itu!”
Kalimat yang diucapkan Kinan kepada Rega benar-benar menganggu fikirannya. Padahal ia tidak akan memikirkan setiap apapun yang dikatakan orang lain tidak akan mempengaruhi dirinya, namun karena ucapan seorang Kinan, Rega tidak bisa menghindar untuk tidak memikirkannya. Sebenarnya siapa Kinan? Sampai Rega tidak bisa menepis bayangan Kinan kepadanya.
“Kita mampir ke rumah nenek aku dulu Sam!” Celetuk Rega setelah terbangun dari lamunannya, Sam melirik sebentar namun langsung mengangguk.
Tentu saja, Sam akan terheran. Rega begitu membenci neneknya yang menurutnya menghalangi langkahnya untuk menjalankan bisnis mendiang kakeknya. Entah tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Rega ingin mengunjungi neneknya.
Sam pun tidak mengajak Rega untuk mengobrol, melihat raut wajah Rega yang sepertinya sedang tidak berselera. Mobil memasuki sebuah rumah dengan perkarangan yang luas. Rega menatap dalam rumah neneknya dari sudutnya, ia baru menyadari bangunan neneknya terlalu tua. Kemana saja dirinya sampai tidak menyadarinya.
“Ga!”Panggil Sam begitu mobil berhenti namun Rega tak kunjung untuk segera turun.
Merasa Namanya dipanggil, Rega keluar dari mobilnya menatap sekeliling rumah neneknya yang tetap sama seperti dulunya. Rega tak kunjung melangkah kakinya lagi untuk segera masuk. Ia masih bimbang apakah keputusannya untuk datang ke rumah neneknya sudah benar. Rega kemudian dengan ragu-ragu menekan bel yang terletak disamping pintu.
“Mas Rega!” pekik seseorang yang membukakan pintu dan terkejut dengan kedatangan Rega yang sebelumnya tidak pernah ia duga.
“Silahkan masuk Mas! Nenek ada di dalam.” Ucap Siti, asisten satu-satunya di rumah neneknya yang sekaligus menjadi teman setiap harinya untuk berbincang dengan Cahyaning, Nenek dari Rega dan seorang ibu dari mendiang putranya Bernama Adrian.
Rega hanya tersenyum sekilas kemudian, bergegas masuk dan melihat neneknya yang perlahan dengan Langkah yang begitu pelan tidak selincah dulu keluar kamarnya sambil menatap Rega yang tampak enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun kepada neneknya.
“Rupanya kamu masih ingat kalau kamu memiliki seorang nenek yang masih hidup?”
TBC