Laki-laki itu baru memasuki sebuah rumah bangunan tua setelah sekian lama tidak pernah bersinggah barang sebentar, padahal dia memiliki keluarga disana namun tidak menggoyahkan dirinya untuk bersinggah sekedar menanyakan sebuah kabar. Hatinya perlahan membeku karena setiap ia datang hanya amarah dan kalimat-kalimat yang dilontarkan pemilik rumah kepadanya.
Dia adalah cucu kesayangan dan putra tunggal seseorang yang menjadi salah satu orang kaya raya, sayangnya sikap yang begitu kaku seperti batu di setiap masing-masing anggota keluarga membuat hubungan mereka renggang. Kini keluarga besar tersebut hanya tinggal seorang nenek dan juga cucu yang masih saling beragumen. Kalau pun tidak ada obrolan mereka masih berperang dingin.
“Masih ingat rupanya kamu dengan nenekmu yang masih hidup ini?”
Ucapan seorang terdengar membuat sang cucu menoleh melemparkan tatapan sama dinginnya dengan sang nenek yang menghampirinya dengan langkahnya yang semakin hati-hati. Rega menghela nafas, setiap kedatangannya selalu tidak disambut dengan baik.
Batu bertemu batu tidak akan menemukan titik terang, Cahyaning benar-benar sosok yang tegas dan Rega adalah seorang lelaki yang selalu membangkang dan enggan untuk dituntun setiap jalan hidup yang ia jalani.
“Aku kemari bukan untuk mendengarkan ucapan Nenek!” Ketus Rega meninggalkan neneknya yang menatapnya dengan wajah merah padam, Rega mengabaikannya dan memilih menuju kamar yang dulu ia tempati semasa remaja dulu. Sam yang melihat Rega menaiki tangga menuju kamarnya, memilih untuk tidak mengikutinya dan ia memilih duduk menemani nenek dan Siti di ruang tengah.
Rega cukup lama berdiri di depan kamar yang pintunya tertutup, ia membukanya perlahan. Kondisinya masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah, bersih karena mungkin setiap hari hanya Mbak Siti yang membersihkannya.
Rega menatap getir foto-foto yang dipajang di dinding, foto Bersama kedua orang tuanya semasa ia kecil, foto dengan kakek dan neneknya. Rega benar-benar merasakan kehangatan setiap menatap satu persatu foto masa lalunya. Rega membuka buku-buku koleksinya yang selalu ia rajin baca setiap ada waktu luang.
Kamar inilah yang menjadi saksi bisu, bahwa Rega pernah menjadi manusia yang setiap langkahnya mempertimbangkan apapun dengan hati dan fikirannya dengan baik-baik. Tidak seperti sekarang, entah menghilang dan lenyap kemana kepribadiannya itu. Rega tidak menemukan setelah sekian lama memilih hidup sendiri dan mengangkat kaki dari rumah neneknya.
Kepribadiannya seperti berulang dan memulai dari awal Ketika Kinan mulai masuk dalam hidupnya tanpa sebuah permintaan dari sosok Rega sendiri. Apakah akan kembali seutuhnya seperti sedia kala? Mata lelaki itu mulai berkaca begitu menatap jendela keluar. Kenangan-kenangan dari rumah mulai memutar sendiri dalam otaknya tanpa sebuah persetujuan ini.
Begitu lanjang, sampai membuat Rega ingin sebentar saja merasakan hangatnya pelukan sang nenek yang kini bak musuhnya. Musuh yang tidak bisa ia hilangkan, karena ada perasaan yang mencegahnya untuk berbuat melampaui batas, satu-satunya hal yang ia lakukan adalah berpura-pura tidak peduli demi keselamatan neneknya. Rega benar-benar berharap neneknya menikmati hari tuanya tanpa merasakan keresahan.
Dongeng sebelum tidur yang selalu ia dengar dari neneknya ini berubah dengan sebuah kalimat yang memicu sebuah pertengkaran diantara seorang nenek dan cucunya itu. Rega hanya tersenyum getir kemudian menuruni tangga dengan tatapan kosong tidak menyadari dengan tatapan beberapa orang yang menunggunya di ruang tengah.
“Ayo Sam!” Ucap Rega dengan dingin tanpa membalas tatapan neneknya yang sengaja memperhatikan cucunya yang kini sudah tumbuh dewasa.
“Rega!” Panggil Cahyaning mencoba menghentikkan sang cucu yang baru saja bersinggah sebentar sudah akan pergi lagi.
Rega menghentikkan langkahnya tidak berniat membalikkan badannya dan menatap neneknya yang kini sedang menatapnya. Sam pun hanya berdiri dalam diam dibelakang sang bos tanpa bermaksud bersuara, ia tidak mau mengusik ketenangan dan mencampuri perang dingin satu keluarga itu.
“Nenek belum selesai bicara kamu terburu-buru sekali?” Tanya Cahyaning dengan nada ketusnya membuat Rega hanya menghela nafas panjang.
“Apalagi yang perlu dibicarakan? Rega rasa sudah cukup semuanya!” Tegas Rega kemudian melangkah pergi meninggalkan neneknya yang hanya diam dan menahan emosinya yang membuatnya mendadak pusing.
Cahyaning hanya bisa memandang diam, menyaksikan Rega yang masuk ke mobil dan mobil itu perlahan meninggalkan rumahnya. Cahyaning hanya diam dalam tatapannya yang begitu sayu, keegoisannnya tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya ia fikirkan dan ia inginkan.
“Nyonya!” Panggil Siti membangunkan Cahyaning dari lamunannya.
Setiap Rega berkunjung dan lelaki itu sudah pulang meninggalkan Cahyaning sendiri lagi berdiam diri di rumah megah. Banyak melamunkan suatu impian yang belum bisa ia wujudkan sampai sekarang. Cahyaning menyimpannya dalam diam tanpa membiakan semuanya mengetahuinya tanpa terkecuali asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi di rumahnya.
“Aku hanya menginginkan dia nyaman disini sama seperti dulu! Tapi mulutku selalu mengatakan yang sebaliknya dan mungkin menyakiti hatinya!” Gumam Cahyaning kepada Siti yang membereskan alat makannya.
“ Tuan Rega mungkin buru-buru Nyonya!” Ucap Siti mencoba menghibur sang majikannya meski ia sangat yakin itu tidak berhasil.
Cahyaning hanya tertawa getir mendengar penuturan sang pembantu, kata yang ia hafal diluar kepala tanpa ada unsur sengaja. Cahyaning di usianya yang sudah lansia namun ia masih memiliki kemampuan yang tidak sembarang orang miliki. Seperti sekarang, ia masih mengingat dengan jelas kalimat yang selalu saja digunakan Siti untuk menghiburnya.
Sedangkan, seorang lelaki yang dalam perjalanan ke Pelabuhan terdekat tampak terdiam dengan pandangannya benar-benar jauh, entah apa yang ia fikirkan. Sama halnya dengan sang nenek, setiap kepulangannya dari rumah sang nenek ia akan banyak diam dan bagusnya para anak buahnya sangat mengerti situasi itu sehingga tidak akan ada menganggunya.
“Ga!” Panggil Sam membuat Rega menoleh dengan tatapan malasnya.
“Apa kamu akan benar-benar memberikan uang kepada ayah Kinan?” Tanya Sam begitu melihat Rega yang menatapnya tanpa sebuah kalimat.
“Lihat saja besok apa lelaki tidak punya muka itu berani untuk datang kembali kesini!” Ucap Rega seperti sudah menyiapkan bila ayah dari gadis yang ia sandera datang untuk menagih apa yang telah dijanjikan Rega kepadanya.
Selain itu, Rega juga mempertimbangkan kalimat yang diucapkan Kinan kepadanya. Apakah ia akan menuruti lelaki yang sengaja memeras dengan mengandalkan bahwa ia telah menjual putrinya kepada lelaki yang haus dengan hubungan seksual itu.
“Apa kamu yakin dia ayah dari Kinan?” Tanya Rega balik kepada Sam membuat lelaki yang sedang mengemudi itu tampak berfikir.
“Tidak, sepertinya itu hanya lelaki yang mengetahui soal Kinan yang kita culik dan berusaha memanfaatkan keadaan. Perlakuannya kepada Kinan tidak seperti umumnya seorang ayah yang mencari anaknya. ” Ucap Sam pada Rega sejak kedatangan Asfar kemarin, Sam tampak ragu jika Asfar adalah ayah dari Kinan berbekal dengan perlakuan yang dilakukan Asfar tidak lazim seorang ayah dan anaknya.
“Kenyataannya, dia memang ayah tiri Kinan, Kinan sendiri yang memberitahuku.”
TBC