AKU TIDAK SAMA

1184 Words
Setelah ucapan Kinan mengajak rega untuk menikah, lelaki itu menghilang. Dia tidak Kembali sampai sang fajar menampakkan diri. Kinan masih terlelap dengan selimut yang ia dekap erat karena semalam embun dingin menerpa kulitnya diiringi angin malam. Kinan mengeliyatkan tubuhnya, merenggangkan otot di tubuhnya. Ia menoleh ke samping untuk memaqstikan bahwa Rega tidak Kembali semalam. Ia duduk, menatap kakinya yang tak lagi di rantai. Kinan melangkahkan kakinya di balkon kamar Rega menatap indahnya pagi di tengah hutan belantara. Ia menatap kolam renang, ada sepasang kekasih yang sedang berenang Bersama, terkadang mereka saling b******u mesra. Kinan menatap dari kejauhan dengan tatapan jijik. Begitu menyadari dengan jelas siapa yang tengah berenang di pagi hari, Kinan buru-buru mengalihkan pandangannya. Kinan memutar balik badannya, memilih menatap pemandangan asri di sekitar rumah mewah itu. Kinan seakan melupakan ia sudah berganti baju entah sejak kapan, ia sangat ingat betul bahwa setelah keluar dari kamar mandi ia mengenakan baju yang sudah disobek di bagian belakang oleh Rega. Kinan mulai bingung, ia menduga-duga siapa yang mengganti pakaiannya. “Kinan!” Panggil seseorang dari belakang membuat Kinan menoleh. Ia menghela nafas lega begitu melihat Sam yang datang menghampirinya dengan senyumnya. Ini pertama kali Kinan melihat Sam tersenyum ramah padanya. Kinan pun memilih masuk ke dalam kamar Kembali, mengabaikan tatapan tajam yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-geriknya dari kejauhan. “Sam! Kamu tahu siapa yang menggantikan pakaianku?” Tanya Kinan mendekati Sam yang menata hidangan sarapannya. “Bi Herna, tenang saja Rega semalam tidur dibawah.” Ucap Sam menenangkan Kinan, ia tahu apa yang sedang difikirkan Kinan rupanya. “Bersama perempuan itu?” Tanya Kinan membuat Sam mengangguk masih setia dengan senyumannya. Senyumannya pudar melihat suasana mendadak Kinan menjadi seorang yang tampak kehilangan selera makannya. Sam mencoba mengingat ucapannya pada KInan, apakah ia melakukan sesuatu kesalahan sampai Kinan mendadak tampak dingin kepadanya. Sam menggeleng, ia tidak melakukan kesalahan tapi kenapa gadis dihadapannya tiba-tiba tampak enggan untuk mengobrol dengannya. “Nan?” Panggil Sam pada Kinan yang menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya yang kecil. “Hm?” Tanya Kinan yang tak bisa bicara karena ia sedang mengunyah, gadis itu merespon panggilan Sam tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan di depannya. “Apa aku menjawab sesuatu yang salah? Kenapa aku merasa suasana mendadak mencekam?” Tanya Sam membuat Kinan mndongak dan menggeleng cepat. “Enggak!” Ucap Kinan memaksa dirinya untuk tersenyum padahal ia tidak memungkiri bahwa tiba-tiba ia kehilangan kata-kata Ketika Sam memberitahu bahwa Rega tidur dengan perempuan simpanannya semalam. “Apa kamu cemburu?” Tanya Sam asal, namun ia tersenyum lebar melihat reaksi cepat tubuh Kinan yang tiba-tiba menggeleng denganc epat dan menghindari kontak mata dengannya. “Nggak! Aku tidak ada rasa kepada lelaki iblis sepertinya.” Ucap Kinan mencoba mencairkan suasana, terlanjur. Sam sudah memikirkan dugaan-dugaan yang awalnya tidak difikirkannya. Namun melihat wajah Kinan yang tiba-tiba bersemu merah bak kepiting rebus Sam yakin ada sesuatu yang Kinan sembunyikan perihal Rega. Lebih tepatnya tentang perasaan Kinan kepada bos besarnya. “Kamu tidak makan?” Tanya Kinan mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Sam menggeleng, ia tertegun ia merasa Kinan adalah gadis yang unik pertama kali ia temui. Ia bahkan tidak menyangka sandera bosnya bisa menjadi temannya kini. Sam, merasa dihargai oleh Kinan. Tidak seperti perempuan-perempuan di sekeliling Rega yang hanya mengajaknya bicara untuk suatu hal penting atau sekedar menanyakan beberapa informasi mengenai Rega. “Kenapa? Aku fikir kamu akan menemaniku makan? Makanya aku sisain di satu wadah lain.” Ucap Kinan tampak kecewa dengan penolakan Sam. “Aku sudah makan, Bersama pelayan yang lain.” Ucap Sam memberikan alasan agar Kinan tidak salah paham atas penolakannya. Sayangnya, alasan itu hanya sebuah bualan. “Benarkah?” Tanya KInan memastikan bahwa lelaki dihadapannya ini tidak sedang berbohong. “Ya. Aku harus turun terlebih dahulu! Kalau selesai kamu bisa menaruhnya disana.” Ucap Sam menunjuk lemari yang tidak terlalu tinggi itu. Kinan mengangguk kemudian menatap kepergian Sam yang menghilang dibalik pintu. Kinan mematung dikala Rega tiba-tiba masuk ke dalam kamar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, Kinan menelan ludahnya sembari menunduk agar tidak melihat d**a bidang yang tidak seharusnya ia lihat. Rega melirik sebentar Kinan yang tampak lahap menyantap masakan Bi Herna yang ia suruh antar ke kamar, tak lain untuk Kinan meski Rega yakin jika Kinan mengira bahwa yang membawakan makanan adalah Sam bukan atas perintahnya. “Kamu boleh memakai baju di lemari itu.” Ucap Rega setelah keluar kamar mandi. KInan masih menatapnya dengan tatapan bingung, rupanya ucapan Rega sedikit lambat dicerna oleh otaknya. Mengapa ia merasa gugup dikala Rega ada di sekitarnya hingga ia tidak bisa berfikir jernih. “Apa aku boleh jalan-jalan di sekitar rumah ini?” Tanya Kinan dengan hati-hati. Mendengar ucapan Kinan, Rega tersenyum dingin membuat Kinan menghentikan aktivitas makanannya. Sudah siap siaga bila Rega tiba-tiba mendekat padanya. Kinan wajar sudah siap-siap karena melihat senyum Rega yang tampak menakutkan itu. “Kamu! Wanita tidak tahu diri rupanya? Sudah dikasih hati masih minta jantung?” Hardik Rega dengan tatapan menyepelekan KInan. Kinan melangkahkan kakinya mundur begitu melihat Rega kian mendekat padanya. Sampai KInan tersandung tempat tidur dan duduk di tepinya. Rega tertawa melihat kegugupan Kinan yang disertai dengan tatapan yang tampak takut. “Aku hanya ingin berkeliling? Aku berjanji tidak akan kabur.” Ucap Kinan membuat kesepakatan dengan Rega, Rega berdiri di samping Kinan dengan tatapan seolah sedang mempertimbangkan ucapan Kinan. “Aku juga tahu kamu tidak akan kabur.” Ucap Rega lagi-lagi disertai dengan senyuman sinisnya. “Tentu saja aku tidak mungkin kabur. Bagaimana aku bisa kabur sedangkan tempat ini dikelilingi hutan belantara.” Gumam Kinan entah pada siapa yang didengar Rega samar-samar. “Aku masih disini, jika kau mau mengumpatku.” Ucap Rega menantang Kinan, Kinan hanya tersenyum menampilkan sikap polosnya, menurut pada majikannya. Padahal dalam hatinya ia mengutuk Rega sekejam-kejamnya. “Jadi bagaimana? Apa aku boleh?” Tanya Kinan dengan ucapan lembutnya berharap Rega sedikit mempunyai rasa simpati kepadanya. “Tidak!” Tolak Rega membuat Kinan berdengus tampak kecewa. Merasa usahanya gagal, ia berfikir untuk apa memohon-mohon kepada lelaki iblis di hadapannya jika hasilnya zonk. Kinan kemudian melanjutkan acara makannya, dengan wajah ditengkuk. “Aku bisa memberimu kebebasan dan uang. Asalkan…” Kinan mendongak menatap Rega, menunggu lelaki itu melanjutkan bicaranya. Rega tampak tersenyum dengan senyuman yang tidak bisa diartikan, lelaki itu mendekat membuat Kinan mencodongkan tubuhnya kala Rega mendekatkan wajahnya padanya. Sampai nafas segar menyapu permukaan wajah Kinan membuat Kinan menutup matanya. Ia terlalu takut jika Rega berada didekatnya. “Asalkan apa?” Tanya Kinan penasaran dengan ucapan Rega, sedangkan matanya masih tertutup sehingga ia tidak bisa melihat wajah Rega yang tampak puas dengan wajah Kinan yang menurutnya cukup menarik. “Asalkan kamu memberikan tubuhku untukku.” Ucap Rega setengah berbisik membuat bulu kuduk tengkuk leher Kinan merinding. Kinan bergidik ngeri spontan membuka matanya dengan cepat. Kinan menatap tajam Rega dengan kemarahan, perempuan itu menggertakkan giginya, mencoba menyembunyikan kemarahannya yang membuat rahangnya akku dan bersiap untuk mengumpat pada lelaki b******n dihadapannya ini. “Kamu gila! Aku tidak sudi! Aku tidak serendah perempuanmu itu!” Ucap Kinan dengan penuh penekanan dan sorot mata yang berapi-api, ia tidak ragu menatap mata gelap Rega. Ia terbawa emosi sampai lupa sedang berhadapan dengan siapa. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD