Seorang lelaki sedang menghisap putung rokok di antara jari-jemarinya, ia tengah berfikir Bersama semilir angin menyerbu udara dingin melintas, sejenak terasa sangat ngilu menusuk bagian tulang tapi tidak bertahan lama. Ketika anak buahnya sibuk mencari mangsa di malam hari, Rega justru sibuk men-scroll beranda social media yang tidak Bernama itu. Tidak ada postingan apapun, hanya sebagai hiburan semata untuk Rega.
Entah bagaimana bisa tiba-tiba nama Kinan ada di daftar teman yang disarankan, Rega memicingkan kedua matanya kemudian sengaja membuka akun milik Kinan, akun itu tidak terkunci seperti pada umumnya para gadis-gadis yang berlagak misterius, ada beberapa foto hanya saja foto itu foto tanpa ada orang di dalamnya, hanya sebuah pemandangan dan tidak ada caption khusus.
“Ternyata!” Gumam Rega menyadari mengapa Kinan bersikeras meminta izin Rega untuk membiarkan ia keluar sejenak. Rupanya gadis itu sangat menyukai memotret meski hanya dengan handphone yang resolusinya tidak terlalu jelas, standar.
“Sam!” Panggil Rega pada Sam yang sejak tadi ikut dengan anak buah lain menunggu diluar mobil.
Merasa dipanggil oleh Rega, Sam menghampiri dengan sedikit berlari sedikit membungkuk agar dapat berbicara dengan Rega yang berada di dalam mobil. Rega pun mengisyaratkan Sam untuk mendekat dengan Bahasa tangannya.
“Ada apa Ga?” Tanya Sam semakin mendekat pada Rega.
“Kamu sudah mencari tahu? Apakah keluarga Kinan melapor pada polisi?” Tanya Rega dengan wajah datarnya yang hanya dibalas gelengan dari Sam.
“Belum ada Ga. Sudah sebulan semenjak Kinan menjadi sandera tidak ada laporan kehilangan dari keluarganya.” Jelas Sam pada Rega yang justru memandang jauh ke lain arah tampak sedang memikirkan sesuatu sedangkan Sam masih setia berdiri di samping mobil menunggu pertanyaan selanjutnya dari Rega.
“Kamu sudah mencari tahu latar belakang dia bagaimana?” Tanya Rega, rupanya dia belum cukup puas dengan informasi yang disampaikan anak buahnya kepadanya.
“Sudah Ga!” Jawab Sam kemudian mencoba mengingat-ingat sejumlah informasi yang ia dapatkan.
“Dia tinggal dengan Ayah dan saudara tirinya, seperti yang dikatakan BI Herna, dia bekerja di sebuah swalayan dengan rekan kerjanya.” Jelas Sam membuat Rega memandang Sam dengan wajah yang sedikit merasa ada yang janggal dengan yang disampaikan sahabat sekaligus anak buahnya itu.
“Ayah dan saudara tiri? Dimana orang tuanya?” Tanya Rega masih terus menggali sampai ke dasar informasi seputar Kinan, gadis yang menjadi anggota sandera baru di rumahnya.
“Sudah meninggal semua Ga!” Ucap Sam, ia sendiri merasa sangat salut dengan kehidupan Kinan yang rupanya cukup sulit namun gadis itu tidak menampakkan keadaannya demi mencari simpati dari beberapa orang.
“Pantas saja, dia tidak merengek untuk segera dipulangkan.” Gumam Rega sedikit lirih bahkan Sam yang berdiri disampingnya saja tidak mendengar dengan jelas.
“Gimana Ga?” Tanya Sam menanyakan ucapan Rega yang tidak bisa ia dengar cukup jelas.
Bukannya mengulangi ucapannya justru Rega menggeleng dan mengibaskan tangannya menandakan tidak ada yang akan ia ucapkan lagi. Sam pun hanya mengangguk sekalipun ia tidak sepenuhnya percaya bahwa rasa penasaran Rega hanya sampai di situ saja.
Benar yang dikatakan Sam, sepeninggal Sam yang Kembali bergabung dengan pada anak buah lainnya, rega menatap akun Kinan yang masih ia buka melalui akun social media miliknya. Rasa penasaran Rega semakin menggebu dan ia tersenyum ambigu, entah rencana apa yang akan ia lakukan kedepannya kepada Kinan.
“Ternyata cukup menarik untuk dijadikan sebuah mainan.” Gumam Rega tertawa sinis.
Siapa yang cukup menarik? Siapa yang dijadikan mainan? Siapa lagi jika bukan Kinan. Semenjak kehadiran Kinan, Rega justru sering menghabiskan waktu di kamarnya juga ia sudah jarang membawa perempuan pulang. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya yang sampai sekarang tidak bisa definisikan dengan baik.
“Ga! Kalau malam ini cukup sampai disini aja gimana? Langit gelap sekali.” Ucap Sam membuat Rega mendongak, baru menyadari jika langit sudah tertutup awan hitam, bintang-bintang bahkan bersembunyi tidak berani memunculkan diri mereka.
Rega hanya mengangguk tidak banyak bicara, ini masih terlalu pagi untuk Kembali namun juga tak bisa dilanjutkan. Rega tak sabar untuk segera pulang, bertemu dengan mainan baru yang ia simpan di kamarnya. Ah bukan, lebih tepatnya peliharaan baru yang ia simpan bahkan tak segan ia juga merantai kakinya.
Seperti biasa hanya kabut yang selalu ia temui di perjalanan pulang juga mobil-mobil para anak buahnya. Tak lupa melintasi rumah neneknya yang terhalang pagar tinggi, Rega hanya meliriknya sebentar dan segera bergegas menuju rumah.
Rega melihat beberapa makanan yang tersedia, ia mengambilnya dan membawanya menuju kamarnya. Lampu gelap, begitu dinyalakan ada seseorang meringkuk di samping jendela kacanya tanpa sebuah selimut. Rega menyodorkan piring kecil yang ia bawa kepada gadis yang masih tertidur pulas. Sayup-sayup ia membuka mata dan matanya berbinar kala menemukan makanan di hadapannya. Hidupnya benar-benar seperti hewan peliharaan, menunggu sang tuan memberinya makan dan menemani tuannya beraktivitas.
Satu hal yang membuat Kinan terheran, Rega membiarkan Kinan membawa ponselnya tidak berniat menyitanya apalagi merusaknya. Setidaknya ada hiburan dikala orang-orang membiarkan dirinya di dalam kamar sendirian. Kinan melirik Rega yang sejak tadi memandangnya tajam seperti menyimpan sesuatu yang akan disampaikan.
“Sekarang aku tahu mengapa kamu tidak meminta pulang.” Tawa sinis Rega yang dibuar-buat seolah menutupi bahwa ia sedang mengajak bicara Kinan saat ini.
“Kamu seorang sebatang kara rupanya?” Sindir Rega membuat Kinan menatapnya tajam tampak tidak terima dengan ungkapan Rega yang keluar dari mulutnya begitu saja.
“Apa aku benar?” Tanya Rega sekali lagi membuat Kinan muak. Ia berlagak seperti hewan peliharaan tak mengerti Bahasa tuannya, ia memilih bungkam daripada harus menerima siksa fisik dari gila yang terkadang bersikap manis, kadang juga temperamen kepadanya.
Kinan tidak menampiknya, Rega benar. Saat ini ia memang sebatang kara. Kedua orang tuanya telah meninggalkan dirinya di dunia fana, hidup dengan seorang ayah dan saudara tirinya justru membuatnya tertekan dan kehilangan tempat untuk berpulang. Dijadikan seorang sandera justru membuatnya sedikit merasa aman karena ia tidak perlu menerima siksaan di setiap pulang kerja seperti dulu, namun satu hal Kinan merindukan dunia luar? Ia sudah lama berdiam dalam bangunan yang tertutup di tengah hutan belantara. Semua orang yang ia temui tidak ada yang membantunya, semua hanya patuh dengan perintah seorang lelaki iblis yang kini sedang memejamkan matanya dihadapan Kinan.
Kinan menikmati pemandangan dihadapannya, baginya mata elang Rega yang terpejam tampak damai dan teduh meninggalkan kesan tersendiri kepadanya hingga membuat ia merasa Rega yang memungutnya dari kegelapan meski terkadang lelaki itu juga yang meredupkan cahaya di kehidupan Kinan.
TBC