Suara burung yang terdengar saling bersautan menjadi penyambut Kinan yang mulai terjaga dari tidurnya yang menurutnya begitu singkat, ia merenggangkan tubuhnya yang mulai terbiasa tidur di lantai. Kinan mengabaikan sosok lelaki yang masih tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Ia tidak mau suasana hatinya terganggu dengan keberadaan Rega, lelaki yang mau tidak mau Kinan mengakui menjadi sosok penolong akhir-akhir ini dalam hidupnya.
Kinan menatap para pembantu yang dipekerjakan oleh Rega di rumah yang benar-benar megah ini, Kinan menatapnya dari jendela kamar Rega, tampak mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Membersihkan daun-daun kering yang mulai gugur, membersihkan kolam renang yang tak jarang daun kering berterbangan dan mendarat di kolam renang. Kinan juga ingin bekerja layaknya mereka, setidaknya ia bisa mendapatkan uang meski hanya dalam status seorang sandera dari seorang mafia.
“Eungghh….”
Erangan dari lelaki yang mulai membuka matanya secara perlahan itu membuat Kinan menoleh, Kinan tersenyum pada wajah lelaki yang justru tampak dingin dan enggan untuk bersikap ramah kepada perempuan yang entah sudah berapa hari menjadi penunggu kamarnya.
“Rega!” Panggil Kinan sedikit mendekat pada lelaki yang mengabaikan Kinan dan menyibukkan diri mencari ponselnya yang seingatnya semalam ia letakkan di samping bantal tempat tidurnya.
“Bisakah aku menjadi pembantumu juga disini? aku ingin seperti mereka.” Ucap Kinan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah polosnya, mendengar permintaan Kinan lelaki yang tadi sibuk mengotak-ngatik ponselnya menoleh dengan tatapan datar pada Kinan yang sembari menunduk begitu tatapan mereka saling bertemu.
“Kamu kira aku bodoh? Jika aku mempekerjakanmu disini? kamu bisa keluar rumah kapanpun kamu mau? Begitukan maksud kamu?” Tanya Rega dengan senyum sinisnya, menambah kesan bahwa lelaki itu menaruh kecurigaan besar pada niat Kinan untuk menjadi pembantu di rumahnya.
“Tidak. Demi apapun aku tidak ada niatan seperti itu.” Ucap Kinan membantah tuduhan Rega, semuanya tidak benar. Gadis itu hanya merasa suntuk karena pekerjaannya hanya makan dan duduk di depan jendela kamar Rega. Hal itu ia lakukan semata-mata karena ia tidak bisa bergerak bebas, kakinya masih dilingkari rantai sehingga ia bergerak dengan ruang yang terbatas.
“Kamu sedang membohongi orang yang salah! Sudahlah! Kamu harusnya sadar diri. Aku memeliharamu disini, tidak untuk menjualmu kepada lelaki diluar sana yang haus akan hormone s*x mereka.” Ucap Rega segera bangkit dari tempat tidurnya dan segera mandi.
Kinan menghela nafas, lagi dan lagi permintaannya tidak dituruti oleh orang yang menjadikan dirinya hewan peliharaan di rumah megah ini. Bahkan ia hanya bisa bertemu dengan orang-orang tertentu yang memiliki hak untuk masuk ke dalam kamar Rega.
Tok…Tok..
“Rega!” Panggil seseorang dari dalam, Kinan hanya diam menunggu orang diluar itu masuk. Dia juga tidak bisa menggapai pintu kamar Rega karena rantai yang ada di kakinya terlalu pendek.
Kinan merasakan perih di pergelangan kakinya kala ia akan bergerak, ia menghela nafas melihat lilitan rantai yang tidak terlalu rapat itu lama kelamaan menggores kakinya. Kinan menoleh kala pintu kamar itu akhirnya terbuka, menampilkan Sam yang sudah berdandan rapi menghampiri dirinya.
“Dimana bosku?” Tanya Sam pada Kinan yang tersenyum kepadanya dengan mata berbinar.
“Sedang mandi.” Ucap Kinan dengan mata yang begitu antusias mengamati satu persatu hidangan yang dibawa oleh Sam kepadanya.
“Lukamu semakin menjadi sepertinya?” Tanya Sam menatap kaki Kinan yang terlihat merah karena gesekan rantai.
Ceklekk…
Seseorang dari kamar mandi keluar membuat Kinan yang tadinya akan menjawab ucapan Sam terhenti, tatapan Rega begitu dingin kepadanya. Satu-satunya orang yang disegani di rumah ini, tapi Kinan selalu bisa mengajak lelaki itu berbicara barang sepatah dua patah kata.
“Dunia sedang baik baik saja?” Tanya Rega sembari mengancingkan satu per satu kancing kemejanya.
Sam dan Kinan menatap Rega dengan seksama, menunggu Rega menjelaskan maksud dari ucapannya.
“Bagian negara mana yang hewan peliharaannya sudah sarapan mendahului majikannya?” Sindir Rega kepada Kinan membuat nyali gadis itu menciut.
Sam perlahan berdiri, ia mengurungkan niatnya untuk bercengkrama dengan Kinan sebentar. Sam tidak buta, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang special dari Kinan hingga menarik perhatian Rega. Buktinya, Rega sudah membiarkan Kinan hidup di sekitarnya tidak seperti para gadis yang lainnya yang selalu Rega buang tidak ada seminggu.
Rega melihat dari pantulan cermin, Kinan meletakkan kembali sendok yang telah ia sentuh. Gadis itu benar-benar patuh apapun yang dikatakan oleh Rega, entah mengapa raut wajah Kinan selalu berhasil membuat Rega merasa simpati.
“Makanlah!” Ucap Rega membuat Kinan yang sejak tadi menekuk kepalanya mendongak dengan pandangan senang.
Kinan menyendokkan satu suap demi suap nasi ke perutnya, memberikan makanan untuk cacing-cacing di perutnya yang mulai berdemo meminta makan kepada Kinan. Rega duduk di tepi tempat tidurnya sambal melihat Kinan yang memakan sarapannya.
“Apa kamu tidak punya keluarga?” Tanya Kinan membuat tatapan hangat Rega lenyap begitu saja. Kinan merapatkan kedua bibirnya rapat, ia merasa sudah salah berbicara.
“Tidak, bukan begitu. Maksudku bagaimana Riwayat keluargamu? Itu saja! Aku tidak ada niatan apapun.” Ucap Kinan cepat-cepat meralat ucapannya sebelum Rega terpancing emosi kepadanya.
“Jangan berbicara kepadaku seolah-olah kita adalah seorang teman!” Ucap Rega kemudian beranjak pergi meninggalkan Kinan yang memanyunkan bibirnya tidak menyangka dengan jawaban Rega.
Nampaknya, laki-laki itu benar menjadikan dirinya sebagai peliharaannya saja tanpa berniat memperlakukan dirinya sebagai manusia. Tak berapa lama, Bi Herna masuk ke dalam kamar Rega seperti biasa untuk menjalankan kewajibannya membersihkan kamar Rega.
“Pagi Kinan!” Sapa Herna yang melihat Kinan sudah bangun dan menyantap sarapannya.
“Pagi Bi Herna.” Jawab Kinan dengan senyumannya.
“Gimana masakan Bi Herna hari ini enak bukan?” Tanya Bi Herna menghampiri Kinan yang lagsung mengangguk kilat tanda setuju dengan ucapan Wanita parubaya itu.
“Bi Herna.” Panggil Kinan pada Bi Herna namun pandangannya tidak teralih dari luar jendela memandang para pembantu lain yang sedang sibuk bekerja juga.
“Kenapa?” Tanya Bi Herna mengikuti arah pandangan Kinan yang tampak terkesima dengan pandangannya diluar.
“Bagaimana bisa orang baik seperti Bi Herna terjebak disini?” Tanya Kinan menoleh pada Bi Herna dengan wajah polosnya, seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.
“Maksud kamu?” Tanya Bi Herna dengan senyumannya, ia sendiri merasa geli dengan ucapan Kinan yang terlalu berani, ucapannya seolah menganggap bahwa semua orang yang hidup di rumah ini adalah orang yang jahat, tidak menggunakan hati dan fikirannya dengan baik.
“Iya, Rega yang seperti itu. Aku tidak menyangka memiliki orang baik seperti Bi Herna dan Sam.” Ucap Kinan menjelaskan maksud dari ucapannya.
Bi Herna tidak menjawab atau mengeluarkan kalimat sekedar sanggahan, perempuan itu hanya tersenyum. Kemudian mengusap bahu Kinan pelan. Kinan pun menatap Bi Herna, menanti ucapan apa yang akan keluar dari Wanita di hadapannya itu.
“Kamu belum melihat sisi hangat dari seorang Rega, Kinan makanya kamu bisa berkata seperti itu!”
TBC