Failed Blind Date

1855 Words
Giseele, ayo kemari! Kemarilah! Kak, tunggu aku Kak! Giselle ayo kita bertemu lagi nanti. Tunggu Kak, kau mau pergi kemana? Aku ikut Oppa... Sampai jumpa Giselle... Bruk! Bruk! Bruk! Aku terperanjat dari tidurku. Aku menutup telingaku dengan bantal lalu kembali tidur. Melanjutkan mimpiku dengan seorang pangeran tampan bak dewa Yunani. “Giselle! Giselle! Mau sampai kapan kau tidur hah! Kau tidak tahu ini sudah siang! BANGUN!! Sret Ibu menarik selimutku dengan beringas. Aku masih tidak ingin bangun karena sudah sangat lelah dengan tugas kuliahku semalam. Kenapa ibuku tidak pengertian sekali sih. Kututupi telingaku dengan bantal dan mencoba kembali tidur. Namun gagal, ibuku semakin buas dan semangat membangunkanku. “Giselle Wijaya, apa kau lupa hari ini kau ada kencan jam 4 nanti dengan Rio Bratawijaya?! Jangan berani-berani kau bilang lupa! Cepat bangun, mandi dan berdandanlah yang cantik. Ibu sudah siapkan segalanya untukmu.” “Ibu, aku tidak pernah berjanji bertemu dengan lelaki bernama Rio Bratawijaya Aku bahkan tidak mengenalnya. Mengapa ibu menyuruhku bertemu dengan orang yang tidak kukenal sih! Kenapa bukan ibu saja yang bertemu dengannya!” “Itu salahmu karena kau tidak pernah membawa laki-laki ke rumah atau mengenalkan seorang lelaki tampan pada Ibu! Ibu jadi bertanya-tanya apa kau suka sesama jenis! Apa kau tidak tertarik pada lelaki?! Kau ingin ibumu mati karena malu anak gadisnya yang berusia 21 tahun  belum pernah berkencan!             “Itu bukan salahku bu! Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliahku. Lagian aku juga punya standar tinggi soal laki-laki!” Sewotku tak kalah heboh.l             “halah sok-sokan standar tinggi, bilang aja gak ada yang deketin kamu kan! Satpam kampus aja gak mau deketin” cerocos ibuku tak mau kalah             Sial. Aku mendecih kesal. Ibuku memang benar. Jarang sekali lelaki-lelaki tampan kampusku mendekatiku. Kalaupun mendekatiku, itu hanya untuk urusan tugas kuliah saja. Setelah urusan tugas selesai, mereka pergi begitu saja. Dasar b******k! Apa kurangku, padahal aku lumayan ini cantik.             “Heh, ini malah ngelamun! Cepetan mandi, nanti keburu kesini si Rio!” Ibuku mencubit-cubit kakiku agar aku segera beranjak dari tempat tidur             “Iya-iya, tapi jangan sambil nyubit dong! Sakit bu!” Rengekku.             “Ya makanya cepatan mandi. Jangan lamban gitu dong” omel ibuku lagi             Aku berjalan kaki dengan diikuti oleh pelototan ibuku. Sedangkan aku hanya merengut sambil berjalan menuju kamar mandi. Ibuku masih menggerutu kecil diatas tempat tidurku dqan merapikannya. Tidak ada yang bisa membantah ibuku jika dia sudah seperti itu. Bahkan ayahku sendiri pun hanya akan menurut pasrah dan mengiyakan segala keinginan ibu.                                                 *** Aku sedang menyisir rambutku lalu aku dengar bunyi bel. Dia pasti sudah datang. Aku merasa sedikit gugup karena ini pertama kalinya bagiku. Apa yang harus kulakukan saat dengannya? Seperti apa dia ya? Namun lamunanku buyar ketika teriakan ibu dari bawah. “GISELLE!CEPAT TURUN SAYANG?! DIA SUDAH DISINI ! Aku langsung membereskan semua dan mengambil tas serta handphoneku. Tak lupa aku mengecek diriku sekali di depan cermin sebelum keluar dari kamarku. Kuturuni anak tangga secara perlahan dan sedikit mengintip ke arah ruang tamu. Kulihat dia memakai t-shirt putih polos dan celana hitam. Sedangkan ibuku tersenyum-senyum seperti seorang remaja jatuh cinta. Cih, apa-apaan ibuku. Kenapa dia senyum-senyum kayak gitu, sedikit genit pula. Kalau Ayah tahu pasti cemburu berat. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena posisi dia membelakangiku, sayang sekali. Tanpa sadar, asisten rumah tangga yang kebetulan lewat juga ikut berdiri di belakamgku. “Non, lagi ngapain disini? Gak kesana Non?” tanya Bi Min heran melihat kelakuanku yang seperti tukang ngintip ini. “ih, Bi Min ngagetin aja! Kenapa tiba-tiba ada dibelakang sih” protesku pada Bi Min yang ikut nimbrung di baliik tembok. Mendengar keributan kecil di belakang, Ibu langsung mendongakkan kepala kearah sumber keributan. “Giselle, ayo kesini. Kamu sedang apa sih disitu. Sini duduk” titah Ibuku melihatku yang sedang mengintip dibalik tembok. Merasa malu karena ketahuan, aku melirik Bi Min degan muka kesal. Secara gak langsung Bi Min yang menyebabkan aku ketahuan. Bi Min hanya cengegesan sambil buru-buru balik ke belakang. Aku berjalan perlahan kearah ibu dan lelaki itu dengan sedikit menundukkan wajah. “Rio, ini Giselle anak perempuanku. Kuharap kau bisa akrab dengannya” ucap ibuku lembut pada lelaki yang bernama Rio itu. Aku menatap Rio kebetulan dia menatapku juga. “Hai, Giselle” sapanya datar sambil menatapku.  Sudut bibirnya sedikit terangkat. Seolah dipaksakan untuk tersenyum. Aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sediktpun. Kami berdua pun terdiam karena tidak ada yang memulai pembicaraan. “kenapa kalian diam saja? Tidak apa-apa, mengobrol saja. Anggap saja aku tidak ada” sambar ibuku memecah keheningan yang kami ciptakan. Aku melirik ibuku heran. seharusnya ibuku saja yang kencan buta dengannya. Ibuku terlihat lebih semangat daripada aku. “hmm.. bolehkah aku mengajak Giselle pergi ke tempat bermain bowling? Aku berjanji tidak akan sampai malam” tanyanya langsung. “oh, kau sudah mau pergi? Tidak apa-apa, kalian bermainlah sepuasnya sampai malam. Tidak perlu meminta izinku” jawab ibuku girang. Ia lalu tersenyum penuh kemenangan padaku. Apa? Apa-apaan itu. Ada apa dengan ibuku. Aku merasa seperti aku sedang dijual pada lelaki oleh ibu kandungku sendiri. Aku kemudian pamit pada ibuku dan mengikuti Rio keluar menuju mobilnya.                                                                   *** Selama 15 menit perjalanan, kami hanya berdiam diri. Dia fokus menyetir sedangkan aku diam memikirkan bagaimana memulai percakapan dengannya. Suasana canggung melingkupi kami berdua. Sesekali aku tertunduk memainkan jemariku, lalu melihat keluar jendela. Aku terus melakukan itu berulang-ulang. Mengobrol apa ya enaknya? Perkenalan diri? Engga kan tadi udah. Apa dia sudah punya pacar? Duh, kok langsung ke arah sana sih. Baru juga ketemu... apa aku... “Giselle..” panggilnya pelan. Aku tetap diam dan sibuk dengan memikirkan topik pembicaraan yang pas. "Giselle” panggilnya lagi. Eh? Aku terkejut karena dia tiba-tiba memanggil namaku. “ya? Kenapa Rio?” jawabku spontan. “apa yang sedang kau pikirkan, hm? Kau begitu gelisah” liriknya sambil kembali fokus menyetir. “aah, aku hanya sedikit gugup. Aku gak tau harus ngobrol apa sama kamu,” jujurku. Yeah, memang itu sumber masalahku. Aku kurang mampu mengangkat topik yang menarik. Ia terkekeh mendengar jawabanku. “kenapa begitu? Santai aja. Sepertinya kita seumuran. Berapa umurmu sekarang?” “21, kamu?” “aku 23. kau kuliah dimana?” “aku mahasiswa jurusan desain di Universitas Seoul. Kalau Kakak?” tanyaku balik. “Universitas Seoul?! Aku juga mahasiswa disana?!” pekiknya. “wah, benarkah?! Ternyata dunia memang sempit,” “ya. Aku mahasiswa jurusan bisnis..” Dan begitulah. Obrolan kami mengalir begitu saja. Kami membicarakan kampus kami, primadona di jurusan masing-masing sampai makanan enak di sekitaran kampus. Tak terasa, kami sudah sampai di tempat bowling. Tempat kencan pertama kami. Atau menurutku begitu.             “Rio!” teriak seseorang. Perempuan lebih tepatnya. Ia berlari kearah Rio lalu memeluknya. “kenapa lama sekali? Apa jalanan macet?” tanyanya pada Rio sambil memeluk pinggangnya. Rio hanya tertawa sambil mencubit gemas kedua pipi perempuan itu. Lalu tanpa diduga, ia mengecup mesra bibirnya. Aku hanya diam menatap mereka.             “Giselle, kenalkan. Dia Kiana, pacarku” Rio mengenalkan kami berdua.                                                                         ***             Aku sesekali melirik pada Rio dan Kiana yang sedang bermain bowling. Mereka begitu terlihat bersenang-senang dan tidak terganggu kehadiranku. Aku merasa seperti nyamuk diantara mereka. Untungnya, Rio juga mengajak teman-temannya yang lain untuk ikut bermain. Jadi aku tidak merasa begitu kesepian. Tapi kan tetap saja, kenapa dia ikut kencan buta kalau sudah punya pacar. Apa dia tidak mengkhianati pacarnya? Apa pacarnya tidak cemburu? Huh! Dasar ... “kau merasa cemburu?” tanya seseorang menghampiriku. “oh, aku gak apa-apa kok,” sahutku. Aku sendiri bahkan tidak tahu aku merasa cemburu karena apa atau pada siapa. “jangan bohong. Aku bisa lihat ekspresimu” balasnya. Aku memilih untuk tidak menjawabnya. Aku tidak tahu siapa namanya karena dia datang terlambat. Jadi kuabaikan saja dia. Dia juga hanya diam saja dari tadi sambil memerhatikan yang lain. “jika kau coba merebut Rio dari Kiana, lebih baik lupakan saja. Aku gak akan tinggal diam” ujarnya tajam. “apa yang kau katakan! Aku gak sebodoh itu untuk merebut pacar orang,” ucapku kesal. “tapi sepertinya kau cemburu melihat mereka,” dia melihat kearah Rio dan Kiana. Aku pun otomatis melihat kearah yang sama. Sepertinya dia salah paham. “bukan cemburu, aku hanya merasa kesal saja.” Ujarku cepat sambil melempar bola bowling. Sialnya, lagi-lagi aku hanya menjatuhkan satu pin. “sudah kubilang...” “kau salah paham!” jawabku kesal. Semua mata kini tertuju padaku. Oh s**t! Suaraku terlalu keras. Aku merutuki diriku, kenapa aku membiarkan emosi menguasaiku. Bahkan Rio dan Kiana menatapku heran. Rio bahkan berjalan menghampiriku dengan wajah cemasnya. “Giselle, ada apa? Kenapa kalian bertengkar? Daniel apa kau membuatnya marah?” tanyanya sambil menatapku dan juga Daniel. “Bro, kau membuat seorang gadis marah lagi,” ucap Tian “dan dia memang selalu begitu. Itu keahliannya, hahaha..” sambung Arya sambil melakukan tos dengan Tian. Mereka tertawa seolah itu hal yang lucu. “Daniel, kenapa? Kenapa membuatnya marah?” kali ini Kiana ikut bertanya. Daniel hanya diam saja sambil menatapku. Ia seolah melimpahkan semua masalah padaku. Aku menghela napas. Aku harus menyelesaikan ini. Aku gak suka menjadi pusat perhatian. “baik, ayo kita selesaikan di tempat lain,” tegasku sambil berjalan keluar arena. Mereka semua saling bertatapan kemudian mengikutiku keluar. *** “jadi Daniel menganggapmu cemburu pada Rio dan Kiana? Dan kamu mau merebutku dari Kiana?” ulang Rio. Kami sekarang berada dia sebuah kafe dekat dengan arena bowling. aku memilih tempat yang nyaman untuk berbicara dengan mereka. Kebetulan kafe ini agak sepi jadi aku agak lelauasa tanpa tontonan orang-orang. “ralat. Aku gak berniat merebutmu dari Kiana. Aku masih takut karma. Kelak jika aku punya pacar, aku juga gak mau dia direbut dariku” tegasku. “dan aku kesal bukan karena cemburu. Karena kamu gak kasih tau kalo kamu punya pacar. Aku merasa seperti nyamuk diantara kalian,” jelasku sambil menyeruput ice cappucino. Bisa kulihat mereka semua menatapku. Termasuk Daniel, ada sedikit rasa bersalah dimatanya. “maaf. Ini juga salahku. Kalau saja aku menolak lagi permintaan mamaku. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa karena penolakanku,” ungkap Rio sedih. Jadi mama Rio dan ibuku bersekongkol menjodohkan kami? Apa mamanya tidak tahu Jinwoo sudah punya pacar. pikirku dalam hati. “mamamu melakukannya lagi Rio? Kupikir dia sudah menerima Kiana,” tanya Tian pada Rio. “kau tau mamaku. Dia tidak akan menyerah sampai Kiana sejajar dengan keluargaku. Yang bisa kulakukan hanya bersama Kiana dan mendukungnya” ucap Rio sambil menatap Kiana intens. “melakukannya lagi? Apa maksudnya?” tanyaku penasaran. “mama Rio sering menyuruhnya berkencan dengan wanita kenalannya. Tapi dia tetap bertahan denganku. Aku sudah terbiasa, makanya aku biasa saja waktu dia membawamu kemari.” Kali ini Kiana yang menjawab. “Kiana berasal dari keluarga biasa saja. Mama Rio menganggapnya sebagai gold digger karena dia mendekati Rio yang berasal dari keluarga kaya. Kenyataannya bukan begitu. Justru Rio yang mendekati Kiana duluan. Kalau saja kau Rio, gak ketemu Kiana mungkin dia gak menderita karena ulah mamamu,” ucap Daniel sedikit menyindir Rio. “Daniel!” bentak Kiana. “ini bukan salahnya. Ini pilihanku dan aku memilih untuk bersamanya. Kumohon jangan membahas ini lagi,” “sudahlah. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman yang dia buat,” tunjukku pada Daniel. “aku gak mau terlibat terlalu jauh dalam masalah percintaan kalian,” kututup pembicaraan tersebut, sepertinya mereka juga tidak ingin membahas kembali. “maaf Giselle. Maafkan aku ya. Aku malah membuatmu gak nyaman dan malah membahas masalahku dan Rio,” Kiana meminta maaf padaku dan menggenggam tanganku. “kuharap kita semua bisa berteman denganmu,” ujarnya tulus. Aku hanya mengangguk mengiyakan Kiana. Aku tidak keberatan dengannya. Dengan mereka semua. “benar. Apa kalian tau? Aku juga baru tau dari ibunya tadi kalo dia belum pernah pacaran sama sekali” seringai Rio. “ibunya berusaha mencarikannya pacar” tambahnya lagi sambil tersenyum geli. HAH! Apa yang ibuku bicarakan dengannya tadi?! Batinku. “KAU SERIUS?!” seru mereka heboh. Bahkan Daniel membulatkan matanya terkejut. Sedangkan Tian dan Arya malah heboh sendiri. “Yura, kalau kamu ingin punya pacar kamu bisa memilihku. Aku cukup bisa diandalkan,” ujar Arya malu-malu. “denganku saja Giselle. Kau lihat kan aku lebih tampan dari Arya,” sambar Tian tak mau kalah. Setelah itu mereka malah ribut sendiri, mengklaim diri mereka lebih tampan. Sedangkan aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. aku tertawa melihat tingkah mereka yang seperti ank kecil berusia 5 tahun. Tanpa Giselle sadari, ada sepasang mata yang menatapnya lekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD