Gelombang Perasaan 2

1753 Words
    Chria menciumku dengan penuh gairah. Bibirnya terus mencium bibirku atas dan bawah secara bergantian. Menyesapnya hingga menimbulkan bunyi khas orang yang sedang berciuman. Ciuman yang membuatku terlena. Perlahan kugerakan bibirku kaku mengikuti Chris. bisa kurasakan senyuman Chris disela-sela ciuman kami.     Aku bisa merasakan bibir Giselle bergetar mengikuti gerak bibirku. Gerakannya begitu tidak berpengalaman. Tanpa kusadari aku tersenyum senang. Kugigit bibirnya agar dia memberi akses pada lidahku untuk memasuki mulutnya. Ini sangat memabukkan, aku sangat menyukainya. Ciumanku beralih pada rahangnya, kemudian turun ke lehernya. Kusesap leher putihnya, mencoba membuat kiss mark disana. “Chris...” ucapnya sambil menahan bahuku, mencoba menghentikanku. Kulihat wajahnya memerah, bibirnya agak bengkak. Namun, matanya terlihat berkaca-kaca. Rasa takut jelas terpancar dari sorot matanya.     “Giselle... aku...” ucapku terbata. Tak sanggup berkata lagi melihatnya ketakutan karena ulahku.     “kamu ngapain leherku Chris?” ucapku sambil menutup area leherku yang tadi dicium Chris. Leherku yang dikecup Jimin masih terasa panas.     “ah.. aku, maaf Giselle. Aku tidak...” sebelum Chris menyelesaikan ucapannya aku berlari meninggalkannya sendiri. Aku bahkan tidak peduli Chris memanggil-manggil namaku.     “ah sial!kenapa aku lepas kendali seperti itu!” ucap Chris kesal sambil mengacak rambutnya. Kutatatp arah kepergian Giselle. Kenapa kau membuatku seperti ini Giselle? Aku gak mau merasakan perasaan ini lagi. Aku tidak mau tersakiti lagi. ***      Aku mengipasi wajahku yang terus terasa hangat sedari tadi. Untungnya Chris tidak ikut kelas ini, kalau dia ikut mungkin aku akan semakin salah tingkah. Ciuman tadi sungguh diluar ekspektasiku. Harusmya aku marah karena Chris berani menciumku padahal aku bukan orang spesial untuknya. Tapi begitu bibirnya menyentuh bibirku, tubuh terasa tersengat. Perasaan marah tadi tergantikan dengan sensasi baru yang belum pernah kurasakan. Membuatku merasakan bibirnya lagi dan lagi.     “kamu kenapa sih? Dari tadi kipas-kipas mulu?” tanya Anna aneh melihat tingkahku.     “gerah” balasku singkat.     “masa sih? Padahal ac di ruangan ini nyala kok” jawab Anna semakin heran.     “ssstt, nanti profesor Na denger” ucapku meredam rasa heran Anna. Tapi malah membuat Anna semakin penasaran. Ia memicingkan matanya kearahku.     “bukankah tadi dia izin untuk meninggalkan kelas lebih awal dan meminta kita tetap disini untuk mereview materi?” tanyanya penuh selidik. “kamu gak merhatiin ya?” kali ini aku tak bisa mengelak. Terkadang Anna memang peka melihat tingkahku.     “apa karena Daniel?” tanyanya lagi.      “bukan. Itu...”     “terus apa?” tanyanya memotongku     “Anna... aku akan cerita. tapi gak disini” ucapku pelan.     “apa sih. Bikin penasaran...”     “enggak disini Anna. Terlalu banyak orang”     “oke kalo gitu setelah ini kita ke taman belakang ya. Disana gak terlalu banyak orang” aku hanya mengangguk pada Anna. Anna sepertinya sibuk membalas pesan yang masuk ke ponselnya.     “sedang berkirim pesan dengan siapa?” tanyaku     “Kevin” singkatnya     “apa?! Sejak kapan kamu dan Kevin bertukar nomor?!” tanyaku tak percaya pada ucapan Anna.     “sejak aku tau dia dan kak David sepupuan. Aku meminta nomornya dan kami terus berhubungan sampai sekarang” jelasnya. Kemudian aku teringat Chris.     “apa Chris juga punya nomormu?”     “enggak. Tapi Kevin meminta nomormu karena cuma kamu yang gak ikut” Jadi Kevin yang meminta nomorku kemudian memberikannya pada Chris.     “maaf Giselle, aku memberikan nomormu pada Kevin tanpa izinmu” ucapnya begitu melihatku diam saja.     “ya, tidak apa-apa” ucapku pelan.     “apa dia menghubungimu? Dia bilang dia akan menghubungimu..”     “emm.. iya” ucapku tak begitu meyakinkan.     “terus?”     “ya dia mengajakku ke pesta itu..” jawabku. Meskipun bukan Kevin yang memintanya, tapi Chris.     “terus jawabanmu?”     “aku gak tau. Hari itu juga orangtuaku akan pergi ke Amerika. Dan aku belum tahu jam berapa penerbangannya.”     “hmm, ya sudah. Kalo kamu mutusin buat pergi beritahu aku. Pestanya jam 8 malam” jawabnya. Lalu kami melanjutkan lagi review materi yang harus dikumpulkan hari ini. ***     “apa?!” jadi dia menciummu tadi?!” ujarnya berteriak heboh. Aku melihat sekelilingku takut-takut ada yang mendengar obrolan kami.     “sst, pelankan suaramu sedikit Anna..” ucapku sambil memperingatkannya.     “oh maaf. Bagaimana Chris bisa cium kamu?” bisiknya pelan.     “ saat itu ada orang yang mengaku sebagai pacarnya, tapi Chris menyangkal dan bilang memangnya kenapa kalau aku dan dia pacaran. Dia juga melindungiku dari orang itu”     “dia menciummu di depan orang itu?”     “engga, dia membawaku pergi menjauh dari tempat itu. Saat itu aku kecewa karena kusangka dia udah punya pacar. aku juga gak tau kenapa ingin melampiaskan kekesalanku tapi dia tiba-tiba menciumku” ucapku sambil merona merah. Anna terkesiap mendengar ceritaku. Mulutnya menganga lebar dan matanya membesar.     “jangan-jangan dia suka padamu” simpulnya.     “jangan ngaco, gak mungkin lah..” ucapku tak percaya jika Chris suka padaku.     “kenapa gak mungkin? Kamu cukup cantik Giselle..” jujurnya padaku     “aku bukan tipe idealnya..” ucapku merendah. “kau tau perempuan yang melabrakku tadi sangat cantik dan seksi. Dia bahkan cukup populer di kampus”     “dari mana kau tau tipe idealnya? Tipe idealnya atau bukan kau juga cantik Giselle. Percayalah dengan dirimu. Ada orang lain juga yang menyukaimu..” tukasnya.     “benarkah? Siapa itu?” tanyaku penasaran     “Daniel” jawabnya tegas     “haish, kamu meledekku. Kami hanya murni berteman” ucapku manyun.     “aku serius. Dia sepertinya menyukaimu..” Anna yakin akan pernyataannya. “lalu apa kamu menyukai Chris?” tanyanya lagi. Aku hanya menjawab dengan mengendikan bahuku dan itu membuat Anna gemas.     “jadi apa jawabannya? Ya atau gak?” desaknya padaku.     “aku gak tau..” tukasku. Aku memang tidak mengetahui bagaimana perasaanku sendiri pada Jimin.     “bagaimana perasaanmu saat dia menciummu tadi?”     “hmm, bibirnya terasa lembut dan basah” jawabku jujur. Anna menepuk jidatnya.     “maksudku apa ada perasaan lain, seperti ada gejolak perasaan di hatimu seperti gelenyar aneh, perutmu seperti banyak kupu-kupu yang beterbangan. Kau tau itu yang kurasakan saat aku berciuman dengan pacarku dulu. Bagaimana denganmu? Kamu begitu juga?”    Mendengar penjelasan Anna aku yakin aku merasakan hal seperti itu juga. Tapi aku tak mau mengakuinya.     “hmm, aku gak tau. Waktu itu aku fokus pada rasa kagetku. Jadi aku gak tau gimana rasanya” bohongku.     “begiukah? Kau tau kata orang jika kau merasa ada gelenyar aneh saat berciuman, itu artinya kau memang ditakdirkan untuk orang itu. Karena walaupun kau mencintai dan mencium banyak orang tapi tak merasakan itu berarti tidak ditakdirkan untuk bersama” ucapnya panjang lebar.     “woooow, imajinasimu begitu tinggi Anna” ucapku meledeknya.     “aku serius. Untuk apa aku bohong,” bantahnya     “sepertinya kamu terlalu banyak nonton drama korea. Serius, otakmu penuh imajinasi sekarang” aku lagi-lagi meledeknya lalu tertawa.     “issh...” Anna memanyunkan bibirnya.     “udah ah ngomongin ciuman mulu. Lapar nih ke kantin yuk..” ajakku     “traktir..” pintanya manja.     “iya-iya..” ucapku pasrah.     “apapun yang aku mau ya?ya? sekalian merayakan ciuma,,,” aku membekap mulut Anna.     “mau kutraktir apa enggak? Hm?” ancamku padanya. Anna mengangguk sambil mengacungkan jari membentuk tanda piece. Aku melepas tanganku.     “ciuman pertamamu dengan Chris!” ucapnya keras lalu berlari. Aku mengejarnya yang berlari kearah kantin. ***     Begitu sampai kantin, Anna langsung pergi ke counter makanan untuk memesan makanan kita berdua. Sedangkan aku mencari tempat duduk yang nyaman. Sambil menunggu Anna, aku bermain dengan ponselku.     “kau sendirian disini Gisellw?” tanya seseorang yang ternyata Kevin. Chris mengikutinya di belakang.     “Anna sedang mengambilkan makanan” jawabku sambil mencuri pandang ke arah Chris.     “kalau gitu kita duduk disini saja. Chris kau ambil makanan sana” suruhnya pada Chris. Kevin langsung duduk di depanku. Chris masih berdiri mematung, menatap kearahku yang yang sedang memainkan ponsel.     “kenapa diam saja ? cepat sana” ucap Kevin tak sabar begitu melihat Chris diam saja. Dia pergi dengan sedikit menggerutu karena Kevin menyuruhnya.     “nah, Giselle. Bisakah kau ikut pada pesta yang diadakan Chris? ini hanya pesta biasa saja, kami mengundang beberapa teman kami juga teman-teman di kelas” cecar Kevin padaku.     “hm, aku sebenarnya ingin ikut. Tapi pada hari itu ibuku akan ke Amerika. Jadi aku ingin menghabiskan waktu dengan ibuku sebelum pergi” jelasku pada Kevin.     “jam berapa ibumu pergi? Kau bisa ikut setelah mengantar ibumu kan?” tanyanya lagi.     “justru itu, aku belum tau jadwal penerbangannya”     “begitu, kau bisa memberitahuku jika kau bisa ikut. Biar aku bisa menjemputmu. Kau punya nomorku kan?” ku jawab dengan gelengan kepala. “oh berikan ponselmu” pintanya padaku. Kuberikan ponselku padanya. Dia mengetikan nomornya disana, kemudian menghubungi ponselnya sendiri.     “nah, ini nomorku. Aku sudah menyinpannya di daftar kontakmu” ucapnya sambil mengembalikan ponselku.     “apa kau sudah punya pacar Giselle?” tanyanya lagi. Sepertinya Kevin ini suka sekali berbicara.     “ti...” belum juga kuberbicara, Chris yang datang memotongku.     “apa yang kalian bicarakan?” tanyanya sambil menyerahkan burger dan cola pada Kevin kemudian duduk di sampingnya. Anna menyusul kemudian dengan membawa dua mangkuk jajamyeon.     “aku hanya bertanya jika dia sudah punya pacar apa belum. Dan Chris kau serius membeli burger untukku?” tanyanya pada Chris.     “aku malas mengantri” ucapnya asal.     “haah, kau benar-benar” Kevin menghela napas kesal.     “kalau kau mau kau bisa tukar denganku Kevin” tawarku padanya.     “benarkahkah?” ucapnya dengan mata berbinar. Aku mengangguk yakin kemudian menukar makananku dengan Kevin.     “aku sedang gak mau makan mie” jelasku padanya. Sedangkan Chris masih memperhatikanku     “waah, kau memang malaikatku Giselle” ucap Kevin senang.     “cih, malaikat apanya..” bisik Chris pelan.     “kau bilang sesuatu Chris?” tanya Kevin pada Chris. Chris hanya mengendikkan bahu. Kemudian menatapku lagi. Kali ini mataku bertemu matanya selama beberapa detik. Kualihkan pandanganku pada burgerku. Sedangkan Anna yang melihat itu hanya tersenyum sendiri dan menyenggol sikutku.     “ehem, jadi Kevin. Apa kak David ikut pesta itu?” Tanya Anna begitu aku memelototinya karena dia masih saja menggodaku.     “ya, sudah kutanyakan. Dia akan ikut, tapi sepertinya hanya mampir sebentar saja” ucapnya dengan mulut penuh makanan. Kulirik Anna yang sedang tersenyum senang. Aku yakin keputusannya sudah bulat untuk ikut.     “kamu gimana?” tanya Chris yang sedari tadi diam dan mempehatikanku. Pandangan matanya lurus kearahku.     “tenang saja Chris, aku yang akan menjemputnya,” ucap Kevin.     “hah?!” dia melotot kaget kearah Kevin. Kevin mengedipkan sebelah matanya kearahku. Sontak hal itu membuatku salah tingkah dan membuat pipiku sedikit memerah. Chris yamg melihat itu langsung marah pada Kevin.     “apa-apaan kau Kevin!”     “aku hanya jujur Chris. apa itu salah?”     “kenapa sampai harus menjemputnya?!”     “hei Giss, jadi kau ikut?” bisik Anna di sela-sela perdebatan mereka.     “sebenarnya aku sudah memutuskan untuk ikut. Tapi setelah mengantar ibuku” bisikku pada Anna.     “kau mengerjaiku? Kenapa aku susah-susah membujukmu dari kemarin?” bisiknya kesal. Aku hanya tersenyum mengejek kepadanya.     “kalau kalian masih lama disini, aku pergi duluan. Ada buku yang harus kukembalikan” ucapku sambil beranjak berdiri.     “kita bertemu di kelas saja” ucap Anna.     “bye Giselle” ucap Kevin diiringi dengan suapan besar mie kedalam mulutnya. Aku menatap Chris sekilas kemudian pergi.     “kenapa kau masih disini? Bukankah ingin menyusulnya?” goda Kevin pada Chris     “kenapa aku harus menyusulnya” bohong Chris pada Kevin     “kau tau, ada orang lain juga yang menyukai Giselle” sambung Anna.     “aku gak suka sama Giselle” balas Chris     “oh, bukankah dia yang bertengkar dengan Chris di kantin waktu itu? Sepertinya mereka akan menjadi pasangan yang cocok” ucap Kevin sambil melirik Chris. bisa kulihat rahang Chris mengeras. Perasaan tidak suka terbaca jelas di wajahnya.     “sudahlah dia gak ada hubungannya denganku. Aku ke toilet dulu” ujarnya sambil beranjak pergi meninggalkan Anna dan Kevin.     “dasar bodoh” ucap Kevin kearah Chris yang menjauh.     “jadi mereka saling menyukai” ucap Anna      “huh? Kau tau juga?” tanya Kevin pada Anna.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD