"Ta!"
"Iya, Ibu?" Anta sedang bersiap untuk pergi saat ibunya duduk di tepi kasur. Laki-laki itu memang jarang menutup pintu kamar jika tidak sedang tidur.
"Menurut kamu, Nayla itu cantik, nggak?" Martina menunjukkan wajah penuh harap. Berharap kali ini Antariksa akan menunjukkan reaksi berbeda pada gadis yang diperkenalkan dengan cara terselubung beberapa hari yang lalu itu.
Anta mendesah kecil, lalu menoleh dengan senyuman tipis. "Menurut Ibu?"
"Cantik,” jawab wanita itu tanpa curiga sedikit pun dengan sikap putranya.
"Menurut Anta juga cantik," sahut Anta cepat. "Soalnya dia cewek, Bu. Kalau cowok baru ganteng, kayak anak Ibu yang satu ini." Laki-laki itu mengaduh saat satu bantal melayang dan membentur kepalanya.
"Kamu itu, kalau diajak ngobrol serius, becanda mulu!" Antariksa malah terkekeh, seperti menikmati wajah kesal sang ibu.
"Lagian Ibu nggak capek apa jodoh-jodohin aku terus?" Anta kembali merapikan penampilannya. Kaos hitam polos, celana jeans biru, dan—jam, satu benda yang wajib melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya capek, lah! Kamunya nggak pernah serius kalau Ibu kenalin! Coba kalau mau serius, pasti udah dapet istri, kan!"
Lagi-lagi bibir laki-laki itu malah terkekeh. "Ibu, aku diam bukannya nggak bergerak. Bentar lagi juga bakalan bawa calon mantu," ujarnya santai.
"Halah." Sang ibu mencebikkan bibir. "Kamu ngomong kayak gitu udah dari setahun yang lalu, Ta! Tapi mana buktinya?"
"Kasih Anta waktu enam bulan, Bu. Pasti Anta kenalin satu calon mantu idaman Ibu."
"Kalau dalam enam bulan nggak ada?" Ada nada meremehkan di sana.
"Anta ngikut apa kata Ibu, deh,” ujar laki-laki itu tanpa memikirkan risiko yang bisa timbul dari ucapannya ini.
"Bener? Ibu yang nyariin jodoh, ya?"
Meski ragu, laki-laki itu hanya bisa mengangguk. Setidaknya dia punya waktu untuk sedikit bernapas. Ia tahu, maksud sang ibu sebenarnya baik. Mungkin hanya caranya saja yang sedikit salah. Mencari jodoh seperti sedang mengikuti perlombaan.
“Inget, ya, enam bulan. Nggak boleh lebih, kurang boleh.” Setelah mengatakan itu, Martina keluar dari kamar Antariksa yang hanya bisa tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga satu notifikasi pesan masuk, dan mampu membuat bibir itu tersenyum kian lebar.
Viona :
Re, jadi nganter, kan?
Antariksa pun segera membalas pesan itu dan menyambar jaket serta kunci mobilnya.
*
Anta sadar jika terkadang dia terlihat seperti laki-laki yang begitu takut dan terlalu takluk pada ibunya. Bahkan saat menentukan calon istri, Anta tidak akan melanjutkan aksi pendekatannya jika ibunya berkata tidak.
Bukannya dia tipe 'anak mami' yang tidak bisa menentukan pilihannya sendiri, atau pun terlalu takut untuk mengambil keputusan. Hanya saja, bagi seorang Antariksa, menikah itu bukan hanya perihal menyatukan dua hati, tetapi tentunya lebih dari itu.
Ada keluarga besar yang juga disatukan di sana. Tidak bisa untuk dipikirkan nanti. Justru semua hal yang berkaitan dengan apa yang akan terjadi nanti, harus ia pikirkan sejak sekarang. Ia tidak mau antara ibu dan istrinya kelak, akan terjadi konflik yang tidak mengenakan, seandainya ia tidak memikirkan kecocokan itu sedari awal. Ia tidak mau ada drama seperti sinetron yang sering ibunya tonton, di kehidupan rumah tangganya kelak. Percekcokan antara mertua dan menantu misalnya? Atau, mertua yang sering menggunjingkan menantunya karena merasa tidak cocok atau sebaliknya, mungkin.
Anta tahu jika konflik dalam setiap rumah tangga tidak akan bisa dihindari. Namun, paling tidak dengan mencari wanita yang cocok dengan ibunya, ia sudah berusaha meminimalisir konflik besar terjadi. Yah, dia sangat berharap istrinya kelak menjadi menantu kesayangan seperti Karina, istri Argan, saudara kembarnya. Dan jika boleh, ia ingin wanita di sebelahnya ini yang kelak menjadi pendamping hidup.
“Maaf, ya, Re. Aku malah jadi ngrepotin kamu.” Viona menunjukkan sebuah ringisan tidak enak, yang malah membuat wajah wanita itu tampak semakin cantik. Ditunjang dengan penampilannya yang modis, Viona terlihat begitu memikat.
“Nggak papa, aku juga lagi free, kok. Biasalah, pengangguran,” kekeh Anta di ujung kalimat.
Viona ikut tertawa lirih. “Percaya, pengangguran yang banyak acara, dan bisa menghasilkan berjuta-juta dalam sebulan, ya, Pak.”
Keduanya baru mengenal selama tiga minggu, tetapi langsung bisa akrab seperti ini. Entah bagaimana akhir dari kisah ini, yang pasti Anta akan mengusahakan yang terbaik.
“Abis dari sini mau ke mana lagi?” Antariksa mulai melajukan mobilnya untuk ke luar dari pelataran butik tempat Viona mengurus sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan tadi.
“Gimana kalau makan dulu?” usul Viona tanpa malu-malu. Hal yang langsung dibalas anggukan oleh Antariksa. Satu hal yang ia sukai dari wanita ini adalah, Viona tidak pernah merasa repot untuk menjaga image dengan bersikap malu-malu kucing.
*
“Jujur aku nggak bisa masak. Yah, hanya sebatas ngerebus mie sama air paling,” kekeh Viona dengan suara merdu disela makan siang itu.
Antariksa yang sejak tadi terus mencuri pandang pada wajah Viona ikut tertawa lirih. “Kamu sibuk mungkin, bukannya nggak bisa, tapi nggak sempet belajar?”
“Pernah belajar,” jawab Viona sembari membasahi tenggorokannya dengan air mineral, “tapi ya gitu, hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Malah lebih ke hancur.” Viona tertawa, tetapi Antariksa hanya tersenyum tipis.
Sebenarnya laki-laki itu sedang mengingat wejangan sang ibu soal mencari calon istri.
“Punya istri itu kalau bisa yang bisa masak. Biar suaminya enggak keseringan jajan di luar. Kayak Karina tuh contohnya, Argan mana pernah makan makanan di luar? Ke kantor aja bawa bekel.”
Antariksa hanya bisa meringis saat kalimat itu melintas. Jadi, apa Viona akan masuk dalam kandidat calon menantu ibunya? Namun, masa iya hanya karena tidak memiliki bakat memasak akan langsung tercoret? Apalagi, attitude yang Viona tunjukkan cukup baik. Dan dari segi berpakaian pun wanita ini sangat sopan. Hal-hal yang Antariksa ingat dari daftar nama gebetan yang pernah ditolak mentah-mentah dari sang ibu sebagian besar adalah karena faktor kesopanan yang minim.
“Tapi jaman sekarang kan banyak bumbu instans, ya, seharusnya si bisa membantu aku yang nggak punya bakat masak kayak gini.” Kalimat itu menyentak lamunan Antariksa tentang kandidat calon istri versi ibunya.
“Nanti kalau udah berkeluarga, aku bakalan coba masak kok. Yah, walaupun rasanya nggak akan spesial karena bukan dari racikan sendiri.” Wanita itu tersenyum lalu segera menandaskan makan siangnya.
Antariksa yang mendengar itu ikut tersenyum. “Kalau yang jadi suaminya aku nggak jadi masalah. Tetep bakalan jadi spesial karena diolah dengan cinta.”
Bukannya tersipu malu seperti wanita yang tengah digoda, Viona malah tertawa geli, dengan caranya yang elegan. Sepertinya apa pun yang Viona lakukan selalu terlihat menawan di mata Antariksa.
“Lagi ngode, Mas?”
Anta mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman tertahan. “Kalau yang dikode mau.”
Kembali menunjukkan tawa renyahnya, Viona pun meneguk air mineralnya hingga tandas. “Udah ah ngelawaknya, balik yuk!”
Bukannya ikut berdiri Antariksa malah menahan lengan Viona. “Kalau yang tadi itu bukan lawakan, gimana?” kata laki-laki itu dengan wajah serius.
Viona yang mendapat pertanyaan semacam itu sempat tertegun, sebelum akhirnya memberikan senyum lembut. “Buktiin kalau itu memang serius.”
Antariksa melebarkan mata dengan antusias. “Caranya?”
Viona tampak mengerucutkan bibir ke marah samping. “Harus aku ajarin banget?”
“Ini berarti beneran aku boleh deketin kamu?”
Viona malah berlagak tengah berpikir, lalu tertawa lirih saat mendengar decapan keluar dari bibir lawan bicaranya.
“Kamu pikir aku bakalan mau diantar ke mana pun sama sembarang laki-laki?”
Kali ini kening Antariksa berkerut, mencoba mengartikan kalimat itu dengan benar. “Jadi lampu hijau ini ceritanya?”
Viona menggeleng dengan senyum yang terus membingkai wajah cantiknya. “Baru lampu kuning.”
Antariksa mengangguk-anggukan kepalanya, lalu tersenyum lebar. “Akan segera aku ubah menjadi hijau.”
“Silakan Bapak Regi.” Setelahnya keduanya bangkit dan meninggalkan rumah makan setelah membayar makanan yang mereka nikmati.
*
“Kamu tinggal sendiri?” Semenjak percakapannya tadi, keduanya semakin terlihat santai dan terbuka satu sama lain.
Viona mengangguk, “Tadinya sama kakak, tapi sekarang kakakku balik ke Medan, tinggal sama keluarga.”
“Kamu asli Medan?” Antariksa baru tahu fakta ini. Karena dari segi mana pun, Viona lebih terlihat seperti orang Sunda.
Wanita itu tersenyum sebelum balik bertanya. “Memang pantesnya orang mana?”
“Aku pikir kamu orang sunda,” jawab Antariksa sesekali menoleh untuk sekadar menangkap senyum yang terukir di bibir Viona, lalu kembali fokus pada jalanan padat di depannya.
“Sebenarnya memang asli Bandung, tapi papa dapat kerjaan di Medan, dan sekarang menetap di sana.”
“Oh, jadi kamu dua bersaudara?” Antariksa ingin tahu banyak hal tentang Viona dan ia rasa harus dimulai dari sini.
“Iya, aku cuman beda dua tahun sama Kak Vanesa.” Viona mengatakan itu sembari memandang wajah Antariksa, seperti tengah menunggu sesuatu.
“Vanesa?”
Viona mengangguk, “Nama kakakku, kamu kenal?”
Antariksa tampak mengingat, tetapi langsung menggeleng bingung mendengar pertanyaan itu. “Enggak.”
“Oh.” Ada sedikit aura aneh yang Viona tampilkan, tetapi hanya sekejab.
“Sering balik ke Medan dong berarti?” tanya Antariksa untuk kembali membangun obrolan karena entah mengapa wanita di sampingnya tiba-tiba saja menjadi pendiam. Bahkan Viona sejak tadi terus melempar pandang ke luar jendela.
“Nggak sering, si, paling satu tahun sekali. Biasalah, kerjaan susah banget ditinggalinnya.”
Anta hanya mengangguk karena kini tengah fokus untuk membelokkan mobilnya.
“Kalau kamu?” tanya Viona. Antariksa hanya bergumam karena masih fokus pada kemudinya.
“Kalau aku kenapa?” tanya laki-laki itu setelah laju mobilnya sudah kembali pada jalanan lurus.
“Kamu berapa bersaudara?” tanya Viona sembari memperhatikan wajah Antariksa yang sesekali tampak bergerak ke arahnya.
“Aku tiga bersaudara,” jawab Anta sembari menopangkan sikunya pada sandaran mobil. “Yang terakhir cewek, dan satunya lagi kem—“ Kalimat itu terputus karena ponsel Antariksa berdering tepat saat mobilnya menepi di depan apartemen sederhana yang Viona tempati.
“Kamu angkat aja, aku langsung turun, ya.”
Antariksa mengangguk, lalu segera mengangkat telepon dari Karina setelah Viona sudah menutup pintu dan terlihat berjalan ke arah apartemennya.
“Kenapa, Rin?” tanya Antariksa seraya melajukan mobilnya.
“Ta, mau ngerepotin kamu lagi,” keluh suara di seberang. Antariksa yang sudah bisa menebak arti dari kalimat itu hanya mengiyakan tanpa meminta penjelasan lebih lanjut.