3. Marsya yang ceria

1531 Words
“Om Anta!” Teriakan itu disambut oleh senyuman lebar oleh Antariksa. Bahkan laki-laki itu merentangkan tangan guna menyambut keponakannya yang terlihat menggemaskan dengan dua kuncir rambut yang masih terlihat rapi itu.   “Kok lama, si?" Zea, gadis kecil berusia lima tahun itu mengerucutkan bibir dengan gaya lucu.   "Maaf, ya, Om tadi ada perlu. Kan sekarang Om udah datang. Kita beli es krim, mau?" Mata Zea seketika berbinar dan melompat ke pelukan Antariksa.   "Maaf banget ya, Sya, jadi ngrepotin kamu," ujar laki-laki itu saat menyadari keberadaan Marsya, guru Zea yang selalu menemani keponakan cantiknya ini saat harus menunggu.   "Nggak masalah, Gi, udah tanggung jawab aku juga, kok." Wanita berambut sebahu itu menunjukkan senyum ceria yang langsung menular.   "Om, ajak Bu Marsya beli es krim juga!" celetuk Zea tiba-tiba dengan nada antusias.   Antariksa yang mendengar itu segera menoleh ke Marsya untuk meminta pesetujuan. "Gimana? Itung-itung buat ucapan terima kasih."   Wanita di depannya tampak mengangguk tanpa ragu. "Tapi kalau buat tanda terima kasih, masak cukup sama es krim?"   Antariksa mengernyit bingung mendapat kalimat blak-blakan itu. Dirinya belum terlalu terbiasa dengan cara wanita di depannya ini bercanda. Melihat itu, wanita berkaca mata itu pun seketika tertawa geli.   "Becanda, Gi, ya ampun, serius banget kamu. Bentar aku ambil tas." Antariksa hanya tertawa kecil dan membiarkan wanita itu masuk untuk mengambil tas.   "Bu Marsya itu lucu, Om," celetuk Zea lagi. Membuat perhatian Antariksa teralih.   "Oh ya? Asyik dong berarti orangnya." Laki-laki itu menggendong Zea ke arah mobil. Membuka pintu belakang, lantas mendudukkan gadis kecil itu dengan nyaman.   "Iya, seruuu banget orangnya," jawab Zea dengan cara menggemaskan. Anta pun hanya bisa tertawa kecil dan segera menutup pintu. Membuka pintu penumpang depan saat melihat kedatangan Marsya.   "Wah saya merasa seperti cinderela loh, Mas Regi." Antariksa tidak menanggapi, hanya tertawa kecil sembari menutup pintu saat Marsya sudah duduk nyaman di tempatnya. Bersama dengan wanita ini, rasanya memang dunia terasa menyenangkan. Selalu ada tawa, tawa da juga tawa.   *   "Bu Guru, kata Mama besok Zea mau diajak ke taman safari, Bu Guru mau ikut?" Zea berceloteh sembari menyendok es krim dalam cup-nya.   Mendengar itu dua orang dewasa yang sejak tadi memperhatikannya tertawa lirih.   "Wah, pasti seru ya, Zea mau lihat binatang?" Marsya menyambut perkataan Zea dengan penuh antusias. Hal yang memancing Antariksa untuk mengamati wajah wanita yang duduk di depannya ini.   Gadis kecil dengan rambut hitam itu menganggguk kencang. "Nanti kalau Bu Guru ikut kan Zea bisa nanya-nanya."   "Bu Guru pengin ikut, si. Tapi nggak bisa, Sayang." Marsya mengusap sisa es krim yang menempel di sudut bibir Zea dengan cara yang begitu lembut.   Antariksa yang melihat itu seketika tersenyum. Dan wejangan sang ibu tentang calon istri yang menyayangi anak-anak seketika melintas. Jika ibunya bertemu dengan wanita ini pastilah akan terjadi kehebohan. Kehebohan karena ibunya akan langsung menyuruh dirinya mendekati wanita ini.   Tentu saja Antariksa akan menolak karena sedikit pun tidak merasakan getar di jantungnya. Jujur Marsya cantik, dan juga mudah memancing siapa pun untuk tertawa saat sedang bersama. Wanita ini cocok dijadikan teman mengobrol apalagi saat perasaan lawannya tidak sedang baik-baik sjaa. Namun, untuk dijadikan pasangan hidup entah mengapa tidak ada bayangan untuk ke sana. Setiap kali memikirkan masa depan malah wajah Viona yang terpampang jelas di matanya.   "Om ikut juga kan besok?" Pertanyaan itu menyentak fokus Antariksa yang sejak tadi melamun.   "Ikut ke mana?" tanya laki-laki itu sabar. Mencoba memberikan seluruh perhatiannya pada Zea.   "Ke taman safari, Om!"   "Enggak lah, Om udah pernah, lagian nanti mobilnya jadi sempit," ujar laki-laki itu dengan mimik wajah yang dibuat sedih. Kali ini gantian Marsya yang terlihat memperhatikan wajah laki-laki itu.   "Om ini gimana, si, kan sekarang mobil papa Zea gede!" Zea memperagakan ukuran besar dengan melebarkan tangannya.   "Oh gitu, ya, berarti nanti kapan-kapan Bu Marsya ikut, ya!" timpal Marsya yang merasa gemas dengan tingkah muridnya ini.   Zea mengangguk berkali-kali. "Nanti Bu Marsya ditemenin OM biar nggak malu."   Mendengar itu, Marsya dan Antariksa hanya bisa tertawa geli.   *   "Kamu suka anak-anak ya, Gi?" Pertanyaan itu muncul saat Antariksa tengah mengantarkan Marsya untuk pulang.   Laki-laki itu tidak langsung menjawab, mengintip Zea yang sudah terlelap dari kaca tengah mobil. "Ya, mereka menggemaskan. Kamu sendiri sudah lama jadi guru TK?" tanyanya balik sembari menoleh sekilas ke samping dan mendapati anggukan kepala Marsya sebagai jawaban.   "Dari dulu memang suka anak kecil. Dan punya cita-cita jadi guru TK. Seneng si akhirnya bisa kesampaian." Marsya mengatakan itu dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya. Jenis senyuman yang langsung menular, terbukti dari Antariksa yang kini ikut melebarkan senyum.   "Cocok si, kamu ceria gitu orangnya. Pasti mudah deket sama anak-anak."   Marsya tertawa lirih sebelum menjawab. "Ya gitulah, anak kecil lebih mudah dipahami dari pada orang dewasa kalau menurut aku. Mereka itu masih polos, belum punya pikiran buruk. Asyik aja saat mereka menanyakan banyak hal yang kadang buat kita bingung untuk ngejawabnya gimana."   Antariksa tersenyum, lalu kembali teringat wejangan sang ibu. Laki-laki ini benar-benar yakin jika Marsya adalah sosok wanita yang akan disukai oleh ibunya. Namun, untuk apa juga dirinya memikirkan ini? Bukankah target yang sedang dirinya kejar adalah Viona? Laki-laki itu menggeleng pelan, mencoba untuk tidak lagi memikirkan kandidat calon ibunya.   "Makasih, ya, Gi." Marsya mengatakan itu sembari membuka sabuk pengamannya.   Antariksa tidak langsung menjawab karena tengah melongok ke arah luar. "Rumah kamu yang mana?" Di samping mobilnya kini hanya ada deretan pertokoan.   Marsya malah tertawa lirih. "Aku lewat gang situ, jalan pintas, kalau pakai mobil nanti muter kejauhan."   Antariksa pun menggerakkan matanya ke arah yang wanita itu tunjuk. "Itu sepi loh," katanya seraya menoleh ke arah marsya yang sudah bersiap untuk turun.   "Itu nggak panjang kok gangnya, ada yang jualan juga di sana, jadi aman."   "Beneran?"   "Duh, nanti aku salah paham loh sama kekhawatiran kamu ini." Marsya mengatakan itu sembari tertawa. Antariksa pun ikut tersenyum.   "Nggak papa kok beneran. Udah biasa lewat situ. Kalau ada preman juga udah akrab aku sama mereka." Antariksa mengernyit ngeri mendengar penuturan itu. Marsya malah tergelak melihat ekspresi yang laki-laki itu tunjukkan.   "Becanda Gi, astaga! Becanda. Aman kok aman."   Antariksa piun berdecap kesal, tetapi ada senyum yang membayang di bibirnya kali ini.   "Kamu hati-hati loh." Antariksa mengangguk dan Marsya segera turun dari mobil.   Antariksa tidak langsung pergi, melainkan menunggu wanita itu menyeberang jalan. Lalu beberapa menit kemudian baru melajukan mobil saat merasa yakin tidak ada yang terjadi pada wanita itu.   *   "Maaf ya, Ta, aku ngerepotin terus." Sambutan itu Antariksa terima dari Karina. Wanita dengan wajah teduh itu menampilkan wajah tidak enak pada laki-laki yang menjadi iparnya ini.   "Nggak papa, Rin, kalau gue bisa mah. Takutnya kalau guenya pas nggak bisa aja." Antariksa membaringkan pelan tubuh mungil Zea ke atas tempat tidur.   "Aku usahain besok-besok nggak gini lagi." Karina benar-benar menunjukkan wajah penuh penyesalan. Melihat itu Antariksa pun tidak tega untuk menyalahkan wanita ini.   "Ya udah nggak usah dipikirin. Argan belum pulang?" Pertanyaan itu Antariksa keluarkan bersamaan dengan keduanya yang berjalan keluar dari kamar Zea.   "Belum, Mas Argan pulangnya malem terus sekarang. Biasalah abis naik jabatan."   Antariksa hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tentu saja dirinya tahu soal Argantara yang sudah naik jabatan padahal baru bekerja di tempat baru ini beberapa bulan. Hal yang selalu dibesar-besarkan oleh ayah mereka dan secara tidak langsung menyindirnya. Padahal uang yang dirinya dapat dari hasil jual beli barang seperti sekarang ini cukup menguntungkan. Namun, entah mengapa pekerjaan yang dirinya pilih ini tidak juga mendapat pengakuan. Dan lagi, dirinya juga membuka usaha frozen food yang sudah memiliki dua cabang.   "Mau makan dulu? Aku abis masak," tawar Karina sebelum Antariksa berjalan ke luar.    Dulu, masakan Karina adalah menjadi yang terfavorit untuk laki-laki itu. Wanita yang menjadi cinta pertamanya ini memanglah sosok yang sangat mengagumkan. Pintar memasak, mengurus rumah, penyayang, menantu yang begitu dicintai ibunya. Bukan karena baru ada satu menantu di keluarganya, tetapi Karina memang wanita yang mudah sekali dicintai. Namun, sayangnya wanita ini bukan jodoh yang Tuhan ciptakan untuknya.   "Enggak, Rin, gue udah makan tadi." Antariksa tidak sepenuhnya berbohong. Meski alasan yang sebenarnya dirinya tidak mau lagi terjadi kesalahaman. Sejak Argantara tahu jika dirinya pernah menaruh hati pada Karina, entah mengapa selalu ada tatapan curiga yang saudara kembarnya itu berikan padanya. Padahal perasaan untuk Karina sudah lama sekali Antariksa kubur dan tidak sedikit pun tersisa. Kini saat melihat wajah cantik itu yang Antariksa lihat adalah Karina kakak iparnya, bukan Karina teman masa kecil mereka yang diam-diam dirinya cintai.   "Ya udah gue langsung pulang, ya!"   Karina mengangguk dan Antariksa pun segera keluar. Bertepatan dengan itu sebuah mobil terlihat masuk ke pekarangan, dan muncul sosok serupa dengan Antariksa. Mereka nyaris sulit dibedakan, tetapi hanya dari segi wajah. Karena dari warna kulit, bentuk rambut, dan gaya berpakaian tentu saja terlihat timpang.   Argantara adalah sosok yang mewakili tokoh dalam novel yang digilai oleh banyak wanita. Mapan, tampan, berwibawa, dan jangan lupakan senyum lembut yang laki-laki itu miliki. Sementara Antariksa tidak memiliki semua sifat yang dimiliki oleh saudara kembarnya itu.   "Baru pulang lo?" Hanya pertanyaan basa-basi agar tidak terjadi kecanggungan karena kini Antariksa sedang mengikat sepatunya. Sementara Argantara tengah melepas sepatu fantofel yang tampak mengkilat.   "Jemput Zea lagi?" Pertanyaan itu bernada dingin, tetapi Antariksa sama sekali tidak terpancing untuk bersikap dingin.   "Iya, gue balik dulu." Setelahnya Antariksa memilih pergi, tidak ingin menjadi pelampiasan cemburu yang kini sudah terpancar dari sorot mata lawan bicaranya. Karina pasti memiliki cara untuk meluruhkan api cemburu yang terlihat jelas di mata suaminya itu.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD