"Masih bagus itu kondisinya, paling tinggal dipoles dikit." Antariksa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan itu. Matanya jeli memeriksa setiap inci sepeda motor bekas yang kini ada di depannya.
"Kebetulan banget kemarin ada yang nanyain ini," ujar Antariksa pada laki-laki yang kini tengah duduk sembari menghisap sebatang rokok itu.
"Lo bawa aja dulu, gue mau pergi bentar lagi." Bang Burhan berdiri sembari menginjak puntung rokok yang sudah tersisa sedikit. Antariksa pun segera membawa motor bekas tersebut ke sebuah bengkel langganan untuk dipoles agar kondisinya semakin terlihat baik.
Sebenarnya Antariksa belum lama bekerja sama dengan Bang Burhan, tetapi laki-laki berdarah batak itu sudah sangat mempercayainya. Semua berawal dari dirinya yang bisa menjual lima buah motor dalam sattu bulan, hal yang membuat laki-laki berkumis itu langsung mempercayakan Antariksa untuk mengambil motor tanpa modal. Uang pembayaran motor akan Antariksa serahkan setelah laku, dan tentu saja sudah dipotong untung oleh laki-laki itu.
Bagi Antariksa kepercayaan adalah harga mahal yang tidak boleh dirinya sia-siakan. Itu kenapa dalam menjalankan bisnis seperti ini dirinya berusaha untuk jujur. Lagi pula, saat kita jujur dan tidak membuat banyak kesalahan, ke mana pun kita pergi, langkah yang kita lakukan akan terasa lebih ringan.
Laki-laki yang mengenakan kaos putih dipadu kemeja kotak hitam itu duduk sembari memperhatikan motornya yang sedang dipoles. Sesekali menimpali kalimat tanya yang keryawan bengkel itu berikan. Sampai matanya menangkap sesuatu yang menarik di kejauhan. Bibir Antariksa tersenyum saat melihat hal yang sebenarnya sudah menjadi pemandangan biasa setiap kali dirinya tengah duduk di bengkel ini. Dikejauhan, seorang wanita dengan hoodie hitam selalu saja terlihat tengah membagikan makanan pada beberapa orang. Ada pengamen, tukang parkir, dan penjaja makanan kaki lima yang terlihat bahagia saat diberi sebungkus plastik entah berisi apa.
Jika biasanya Antariksa hanya puas dengan menjadi penonton, dan itu pun dari kejauhan, entah mengapa kali ini dirinya tertarik untuk mendekat. Ingin sekali melihat seperti apa sosok yang selalu ia kagumi itu.
"Permisi, Mbak!" Antariksa yakin jika itu wanita dari postur tubuh yang kini terlihat. Meski hampir setengah tubuh dan wajahnya tertutup hoodie.
"Ya?" Benar saja, itu wanita dengan suara lembut yang terdengar menenangkan.
"Boleh ngobrol sebentar?" Entah hanya perasaannya saja, atau memang sosok di depannya ini terasa familier. Antariksa seperti pernah melihat wanita ini di suatu tempat.
Ada senyum canggung yang wanita itu berikan, wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup tudung hoodie dan juga memakai kaca mata dengan lensan gelap.
"Ada perlu apa ya, Mas?"
"Mau nanya-nanya soal yang Mbak lakuin ini." Antariksa mengedik ke arah orang-orang yang tengah menikmati makan siangnya. Tidak langsung menjawab, wanita itu malah terlihat kebingungan.
"Kalau ini kegiatan amal, boleh saya ikutan?" Antariksa tertarik dengan kegiatan amal seperti ini. Dirinya sering menyisihkan beberapa dari penghasilannya untuk orang-orang yang kurang mampu.
Wanita di depannya tampak berpikir, sebelum menjawab, "Sebenarnya, ini saya lakukan sendiri, setiap hari Jumat."
"Mas bisa lakuin sendiri kok kalau mau, nggak perlu gabung sama saya," ujar wanita itu lagi sembari melepas kaca mata serta tudung hoodie yang terpasang. Saat itulah Antariksa tertegun, bukan karena wanita di depannya ini begitu cantik, tetapi lebih ke rasa familier yang semakin muncul di benaknya.
"Mbak Marisha?" Wanita di depannya tampak menunjukkan senyum, lalu mengangguk.
Antariksa mengembus napas lega, akhirnya orang yang selama ini dirinya cari ketemu. Ini tentang insiden kecelakaan tidak sengaja yang waktu itu Antariksa lakukan. Dia yang tanpa sengaja menabrak wanita ini saat membawa makanan. Marisha sudah memberikan nomor telepon, tetapi nomor itu terhapus dari ponselnya entah bagaimana caranya.
"Nomor yang Mbak kasih ke saya terhapus hari itu. Jadi saya kebingungan untuk nemuin Mbak untuk tanggung jawab."
Marisha menunjukkan senyuman tipis sembari menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga dengan gerakan canggung. "Nggak papa, Mas, nggak perlu tanggung jawab segala. Lagian, waktu itu saya juga salah."
"Nggak bisa gitu, saya nggak tenang kalau belum tanggung jawab. Saya yang waktu itu buru-buru dan nabrak, Mbak. Apa waktu itu saya menimbulkan masalah?"
Marisa tampak meringis, satu jawaban yang sudah Antariksa terima tanpa wanita itu bersuara.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus semuanya?" Antariksa benar-benar merasa bersalah saat ini. Dan dirinya tidak akan melepas tanggung jawab begitu saja.
"Waktu itu sebenarnya hari pertama saya mengirim katering untuk karyawan kantor. Tapi kerjasama saya yang baru mulai langsung diputus karena kejadian itu."
Antariksa tidak tahu harus berkata apa, karena jelas ini adalah kesalahan fatal. Dirinya baru saja memutus rejeki orang lain.
"Kantor apa itu? Mungkin saya bisa bantu?"
Marisha segera menggeleng untuk tawaran itu. "Nggak perlu, saya udah mendapat gantinya kok, Mas."
"Terus kalau gitu, apa yang bisa saya lakukan untuk menebus semuanya?"
Marisha tersenyum cangggung, "Seperti yang saya katakan tadi, semuanya nggak perlu karena saya sudah nggak mempermasalahkan itu."
"Bagaimana kalau saya traktir makan aja?" tawar laki-laki itu. "Mungkin nggak sepadan dengan apa yang sudah saya kacaukan, tapi seenggaknya rasa bersalah saya bisa berkurang dengan cara ini."
Marisha tampak menimbang, lalu segera mengangguk.
"Mbak tunggu sini, saya ambil motor dulu." Antariksa segera kembali ke bengkel saat Marisha menjawab dengan anggukan kepala. Beruntung motornya juga sudah selesai dipoles sehingga tidak perlu memanggil taksi online.
*
"Maaf, nggak usah panggil, Mbak. Cukup Marisha aja," ujar wanita yang kini duduk berhadapan dengan Antariksa itu dengan raiut canggung saat mengatakan itu. Marisha ini tipe wanita yang akan selalu terlihat gugup di kesempatan apa pun.
Antariksa yang baru saja selesai memesankan makanan untuk mereka membalas dengan senyuman. "Oke, saya juga nggak perlu dipanggil, Mas. Kamu boleh panggil saya Regi, atau Anta juga boleh."
Marisa tampak mengangguk, lalu tersenyum tipis. Sejak tadi terus melempar pandang ke mana pun asal tidak pada lawan bicaranya. Wanita ini sepertinya tipe yang susah berhadapan langsung dengan orang lain.
Antariksa yang merasakan kecanggungan itu hanya tersenyum tipis. Memilih memeriksa ponselnya guna melihat apakah orang yang ia kirim pesan sejak beberapa jam lalu sudah membalasnya. Ini tentang motor yang tadi dirinya ambil dari Bang Burhan. Bulan lalu ada seseorang yang menanyakan motor ini padanya.
Hening menjadi penghias acara makan siang yang sedikit terlambat itu. Antariksa yang bingung untuk membangun topik, juga Marisha yang seperti lebih menikmati keheningan ini dari pada mereka harus mengobrol. Dalam diam itu Antariksa mencuri pandang pada wajah cantik di depannya.
Wajah polos dan juga menunjukkan keramahan ini mirip sekali dengan Karina. Jika ibunya bertemu dengan wanita ini dan tahu apa yang sudah Marisa perbuat, pastilah wanita ini akan menjadi kandidat yang sempurna. Namun, sayangnya hati Antariksa sama sekali tidak bergetar. Marisha pastilah tipe membosankan yang tentu saja tidak akan pernah cocok untuk dirinya jadikan kandidat calon istri.
*
"Makasih banget, ya, Regi untuk traktirannya," ujar Marisha setelah turun dari motor dan kini sudah berdiri di depan gang menuju kontrakannya.
Antariksa mengangguk, sembari menjawab, "Sama-sama. Oh ya, nanti aku juga bakalan bantuin promo katering kamu itu."
Marisha kembali menunjukkan senyum canggung. Sepertinya itu adalah ciri khas wanita ini. Hal yang sungguh kurang Antariksa sukai, dirinya lebih suka wanita yang agresif dan tidak malu-malu seperti ini.
"Sebenarnya nggak perlu, malah jadi ngrepotin kamu nanti."
"Nggak masalah kok," ujar Antariksa cepat. "Saya banyak kenalan yang mungkin bisa bantu gantiin kerja sama kamu yang terputus itu."
Marisha kembali menunjukkan ringisan tidak nyaman. "Padahal saya juga udah nggak masalah loh."
Antariksa tidak lagi mendebat. "Kamu jalan dulu aja, saya tunggu sampai kamu sampai di ujung lorong."
Marisa memang harus melewati lorong yang cukup panjang sebelum sampai di kontrakan yang berada di baliknya.
"Nggak papa kalau kamu mau pergi sekarang, saya sudah biasa sendiri."
"Kamu nggak takut?" Pertanyaan itu membuat niat Marisha untuk memutar tubuh urung.
"Tempat itu kan sepi." Antariksa merasa dejavu karena baru kemarin dirinya juga mengatakan hal sama pada Marsya. "Kenapa pada nggak takut, si?"
Marisha yang mendengar kalimat tanya itu malah kebingungan. "Saya udah biasa kok. Dan memang nggak pernah terjadi hal buruk," jawabnya kemudian.
Antariksa hanya menganguk, dan mempersilahkan wanita itu untuk berjalan lebih dulu. Tadi niatnya ingin mengantar sampai depan rumah, tetapi Marisha menolak dengan alasan enggan dijadikan bahan gosip. Jam menjelang sore ini adalah jam rawan di mana ibu-ibu biasanya tengah nongkrong dan akan menggosipkan apa pun yang terlihat di depan mata.
Setelah memastikan Marisha aman, laki-laki itu pun mulai melajukan sepeda motornya. Tadi dirinya mendapat pesan balasan jika seseorang ingin melihat motornya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, laki-laki itu segera memacu kendaraan roda dua itu ke tempat yang sudah dibagi ke ponselnya.
Seorang laki-laki tampak menunggu di tempat yang sudah mereka janjikan. Tentu saja tempat ramai karena Antariksa tidak mau mengambil risiko. Berjualan barang-barang seperti ini harus hati-hati jika tidak ingin celaka. Cara mengantisipasi tindak kejahatan yang mungkin bisa saja terjadi, hal yang selalu Antariksa terapkan adalah bertemu di tempat ramai.
"Mas Indra, ya?" sapa Antariksa yang langsung dibalas anggukan ramah oleh orang bernama Indra itu.
"Masih bagus mas barangnya," ujar Antariksa lagi setelah mereka selesai berbasa-basi singkat. Sang calon pembeli sekarang sedang memeriksa motor dengan detail.
"Buat saudara saya sih ini, Mas. Itu dia, biar orangnya yang nyoba sendiri."
Antariksa menoleh ke arah laki-laki itu mengedikkan kepala. Dan senyum familier itu menyambutnya.
"Dunia sempit banget ya ternyata?" ujar wanita yang mengenakan kaca mata itu dengan senyuman lebar. Hal yang langsung menular ke Antariksa, laki-laki itu tertawa kecil untuk apa yang terjadi.
"Jangan-jangan kita jodoh lagi, Gi. Ketemu terus."
Antariksa tidak membalas, hanya tersenyum lalu menyerahkan kunci pada Marsya untuk mencoba motor yang dirinya tawarkan.