Ada perasaan bersalah pada Om Arfan. Salahkah jika aku masih mengharapkan Kak Bram. Yang aku lihat dari wajah dan gerak-gerik tubuhnya jelas ia masih mencintaiku. Tapi aku takut ge er. Selama Om Arfan berangkat ke Singapur aku pun masih sering di hubungi oleh Om Arfan dan Kak Bram tentunya. Ting ... "Dek, rencana besok abang pulang ke Padang, rindu hati ini ingin berjumpa denganmu Dek," isi pesan Kak Bram. Huft.. "Adek, lagi pulang ke Ombilin Kak. Lagi bantuin Etek di kampung," balasku berbohong. Tak mungkin aku jujur, karena waktu libur belum usai. Jika Kak Bram mengajakku jalan dan ada Om Arfan di rumah, alasan apa yang harus ku ucapkan. "Ok Dek, jadi minggu depan saja Kakak pulang. Tunggu Kakak ya Dek," balasnya. "Ia kak,"balasku singkat. Semoga saja hal ini tidak menimbulkan

