Nafasku sesak, pandanganku gelap dan tanganku terikat. Aku berusaha menjerit tapi mulutku tertutup. Yang kuingat tadi aku sedang bermain dengan Kak Sari sambil mengantar kue pesanan Bik Imah ke kampung sebelah menggunakan sepedaku. Kampung Bik Imah melewati kebun pohon sawit. Tapi kami dicegat, beberapa pemuda yang sedang berkumpul di kebun sawit. Banyak botol minum yang tergeletak, kulihat mata mereka merah. Dan aku mencium aroma bau, seperti bau kecoa. Aku jijik, takut. Aku dan Kak Sari segera memutar arah, karena kami takut melewati jalan tersebut. Awalnya Mamak tak mengizinkan kami yang mengantarnya, tapi karena aku dan Kak Sari bersikeras untuk menolong Mamak, maka Mamak pun mengizinkan. Biarlah kami tak jadi mengantar kue tersebut. Sebenarnya hari masih siang, tetapi karena ini daera

