Naurin merasa bingung dengan kalimat terakhir Andra. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu karena bingung mau menjelaskannya pada Naurin.
"Apa yang lebih penting, Kak?" tanya Naurin pelan.
"Emm, anu ...itu. Saya--boleh melakukan kewajiban saya sebagai suami?" ucap Andra sedikit terjeda dan tersendat.
"Maksud kamu?"
Naurin mengerutkan alisnya, ia benar-benar tidak paham maksud Andra.
"Maksudku--sejak kita menikah, kita belum pernah melakukan--emm, itu ... hubungan yang biasa dilakukan pasutri. Kamu--nggak keberatan kan jika kita mencobanya sekarang?" ucapnya hati-hati takut Naurin marah.
"Maksud kamu--kita ...."
Kalimat Naurin terjeda. Naurin menyatukan dua telunjuk tangannya sebagai kode. Andra yang paham mengangguk.
"Ahh, kalau kamu tidak mau, tidak apa. Kita bisa mencobanya lain kali kalau kamu sudah siap," jelas Andra pelan.
"Emm, aku ... aku mau mencobanya. Tapi, pelan-pelan, ya. Aku baru pertama kali," ucap Naurin dengan malu-malu sambil menunduk malu.
"Emm, aku janji akan pelan-pelan. Kalau sakit kamu bilang, ya?" ucap Andra pelan. Naurin mengangguk.
"Boleh saya mulai sekarang?" tanyanya ragu. Naurin kembali mengangguk.
Andra mulai menyentuh Naurin perlahan dan sangat hati-hati, ia tidak mau Naurin merasa takut dan sakit. Jantungnya berdegup kencang. Mereka sama-sama baru pertama kali melakukannya.
Andra melakukannya dengan perlahan hingga Naurin merasa nyaman, meski sempat ada drama dan ketegangan di awal. Namun, mereka menikmati dan menghabiskan malam berdua dengan penuh cinta.
***
Pagi harinya, Andra sudah bangun terlebih dahulu. Pria itu menyiapkan makanan untuk mereka sarapan. Meski ada asisten rumah tangga, tetapi Andra ingin melakukannya sendiri karena ia merasa senang da puas sekali tadi malam.
Dua jam berlalu, Naurin masih terlelap. Andra masuk ke kamar sambil membawa baki berisi makanan dan segelas s**u. Menaruhnya di atas nakas. Kemudian, ia menatap wajah Naurin yang tampak kelelahan melayaninya semalaman.
Pria itu mengusap lembut kepala Naurin dan mencium puncak kepalanya. Naurin sedikit menggeliat dengan sentuhan Andra. Lelaki tersebut tersenyum gemas. Kemudian, ia mencium bibir Naurin lembut.
Naurin membuka kedua matanya perlahan dan sedikit terkejut, mendapati suaminya tengah menatap dirinya sambil tersenyum.
"Good morning, My little star," sapanya lembut.
Naurin kembali menggeliat sambil sesekali meringis menahan sakit terutama di area sensitifnya.
"Masih sakit?" tanyanya lembut. Naurin mengangguk.
"Maaf, lain kali saya akan lebih lembut," ucapnya sedikit merasa bersalah.
"Kamu bilang tidak sakit? Tapi ternyata ...."
"Maaf, Sayang. Nanti kamu akan terbiasa dan tidak sakit lagi," ucapnya pelan.
"Sekarang bangun dulu, sarapan. Lepas itu saya akan bantu kamu berikan obat pereda nyeri. Hari ini, kamu tidak usah masuk kerja. Saya memberimu cuti," jelasnya.
"Emm, tapi hari ini ada rapat dan ...."
"Semua akan di tunda sampai kamu sehat kembali. Saya akan mengatur kembali jadwalnya. Sekarang, terpenting kamu sembuh dulu, ya. Ayo makan, nanti keburu dingin," jelasnya sambil mengusap lembut kening Naurin.
"Hati-hati," lanjut Andra.
Pemuda itu membantu Naurin duduk dan membuat posisinya nyaman. Kemudian ia hendak mengambil baki di nakas.
"Aku mau mandi dulu, baru sarapan," ucap Naurin pelan sambil berusaha turun dari ranjang.
"Saya bantu ke kamar mandi, ya."
"Tidak usah. Aku bisa sendiri."
"Tida usah malu. Sudah melihat semua masih saja malu," goda Andra.
"Kak Andra!"
"Jangan marah, saya bantu ya. Janji cuma antar aja, kok," bujuk Andra.
Naurin mengangguk. Andra menggendong Naurin dan membantunya ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat dalam bathtub dan mengatur suhunya agar Naurin nyaman.
"Sudah siap. Kamu mandi dulu. Saya mau bersiap ke kantor," ucap Andra. Naurin mengangguk.
Usai mandi, Naurin sarapan dengan Andra. Kemudian, pria itu berpamitan untuk ke kantor.
"Saya berangkat kerja dulu. Sebentar lagi, akan ada orang salon datang. Kamu bisa spa dan pijat biar kembali rileks. Ini uang jajan untukmu. Kamu bisa pakai sepuasmu. Sandinya ulang tahun kamu. Lakukan apa yang kamu suka," jelas Andra sambil memberikan black card kepada Naurin.
"Tidak usah. Simpan saja. Uang yang kamu kasih kemarin masih ada. Belum aku pakai," tolak Naurin lembut.
"Tidak apa. Kamu simpan saja. Kamu harus menghabiskannya."
"Kamu nggak takut uangmu habis? Kalau aku habiskan semua bagaimana?"
"Ya bagus dong. Tugas kamu memang harus menghabiskan uangku. Tugasku mencarinya kembali. Sekalipun habis uangku, asal untuk kamu aku sangat ikhlas sekali. Ambil lah," jelas Andra.
"Tapi ...."
"Sudahlah, Sayang. Nanti saya telat ke kantor jika harus berdebat terus denganmu. Ingat kata-kata saya! Saya akan lakukan apa pun untuk membahagiakanmu. Jadi, ini bagian dari saya bahagiakanmu. Oke! Saya berangkat dulu. Assalmualaikum," jelas Andra sambil berpamitan.
"Waalaikumsalam."
Andra melangkah bersama Zio asistennya. Setelah berpamitan dengan Naurin dan melakukan ritual pagi. Cium kening, pipi, dan bibir. Tidak lupa pelukan hangat dari Naurin. Dengan begitu, Andra menjadi semangat bekerja.
~~~
"Ada apa pagi-pagi sudah ajak bertemu?" tanya Jini saat tiba di kafe.
"Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan Tante," jelas Wita.
"Hal penting? Apa?"
"Tante tahu nggak? Aku kemarin ketemu siapa?"
"Siapa?"
"Naurin Tante."
"Apa? Di mana?"
"Di mal. Tante tahu nggak, Naurin itu sekarang sudah punya cowok liar yang kaya raya. Pakaiannya bagus, dia juga belanja banyak banget. Terus, ya, Tante, Naurin itu sombong banget tahu nggak sih. Dia tampar aku dan pergi gitu aja. Ih, jalang itu nyebelin banget, Tante," cerita Wita yang sengaja dibuat-buat.
"Apa? Kamu serius, Wit?"
"Serius Tante."
"Dasarnya jalang! Belum lama cerai dari Jeno, sudah berani bawa pria liar, mana kaya lagi. Benar-benar nggak tahu malu," oceh Jini yang mulai terpancing ucapan Wita.
"Untung, ya, Tante. Jeno itu sudah cerai dengan Naurin. Kalau belum, pasti habis uang Jeno sama jalang itu," pancing Wita.
"Kamu benar, Wit. Awas aja kalau sampai Tante ketemu sama jalang itu. Tante akan hajar dan permalukan dia. Biar semua tahu, dia itu perempuan jalang yang suka main gila dengan pria liar!" geram Jini.
"Betul Tante. Kita buat itu jalang tidak berani lagi menampakkan wajahnya."
Wita terus memprovokasi Jini. Hatinya senang selalu di dukung wanita tua itu yang memang tidak pernah menyukai Naurin sejak dulu.
~~~
Naurin benar-benar memanjakan diri. Lepas spa dan pijit di rumah, Naurin pergi ke pusat perbelanjaan setelah mendapat izin dari Andra. Berbelanja, nonton, dan makan siang di sana. Menikmati libur yang diberikan Andra, ia juga membeli barang untuk hadiah Andra.
Dua pasang mata tanpa ia sadari tengah memperhatikannya dari kejauhan. Tampak tidak suka melihat kesenangan Naurin.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat ke wajah cantik Naurin. Membuat wanita itu terkejut bukan kepalang. Kedua matanya membulat sempurna sambil memegangi wajahnya yang terasa perih dan memerah.
"Kamu!"