Bab 15 Perusuh

1057 Words
Naurin tersenyum miring. Menghela napas untuk mengaturnya, ia benar-benar sangat malas meladeni Wita yang membuatnya semakin sakit hati. Wita semakin kesal dibuatnya, ia ingin Naurin panas dengan ucapannya dan marah. Wanita seksi itu sengaja ingin memancing amarah Naurin. "Kenapa diam? Apa ucapanku benar? Jalang sepertimu memang bisa melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang kamu mau. Begitu sudahlah hidupmu setelah berpisah dari Jeno sampai kamu rela menjual diri seperti ini demi mendapatkan kehidupan yang layak?" hinanya. Naurin naik pitam, kedua tangannya mengepal. Emosinya mulai tinggi. Wanita itu balik badan dan .... Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Wita, meninggalkan bekas gambar tangan di sana. Wita mendelik, ia memegang pipinya yang terasa perih dan panas. Wajahnya bersemu merah, napasnya bergemuruh menahan amarah. "Dasar jalang! Beraninya kamu menamparku!" pekiknya. Wita menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan Naurin. Darahnya berdesir. Emosinya meledak. Wanita seksi itu hendak membalas, tetapi dengan cepat Naurin meraih tangan Wita dan mencengkeram kuat. "Sebelum bicara sadar diri. Apa kamu merasa dirimu suci? Kamu itu pelakor, berbuat tidak senonoh di depanku. Tidak tahu malu dan tidak punya harga diri. Naik ke ranjang suamiku dan merayunya. Lebih pantas kamu yang di bilang jalang, bukan aku!" ucapnya, penuh penekanan di akhir kalimatnya. "Kamu benar, aku bersama pria kaya, tetapi aku lebih terhormat darimu karena tidak merebut suami orang dan merusak rumah tangganya seperti kamu. Seharusnya kamu sadar dan tobat, sebelum ajak menjemputmu!" lanjut Naurin dingin. "Lebih baik jaga tanganmu baik-baik. Jangan sampai aku patahkan bukan hanya lenganmu, tetapi juga jemarimu yang indah ini menurutmu!" ancam Naurin. Wanita itu menghempaskan kasar tangan Wita dan berlalu, membuat Wita kesal dibuatnya. "Dasar jalang! Berani kamu melawan ku! Tunggu sampai aku bisa menghancurkanmu lagi!" geramnya. Wita mengepalkan kedua tangannya. Giginya bergemeletuk ketika ia kaitkan. Tampak kemarahan di balik matanya yang menatap punggung Naurin yang semakin menjauh. ~~~ Naurin melangkah cepat hingga tidak memperhatikan langkahnya, ia menabrak Andra yang baru saja keluar dari toilet dan dengan cepat menangkap dan memeluk Naurin erat. "Sayang, hampir saja kamu jatuh. Kenapa tergesa begitu?" ucap Andra yang masih memeluk Naurin. Naurin menghela napas kasar. "Maaf, aku tidak memperhatikan jalan sampai menabrakmu," ucap Nauron pelan. Andra melepaskan pelukannya dan memegang lembut kedua lengan Nauron dan menatapnya intens. "Tidak apa. Untung saya yang kamu tabrak. Naurin, kamu kenapa? Wajah kamu tampak memerah, apa terjadi sesuatu denganmu?" cecar Andra dengan curiga. "Aku ... tadi ketemu perusuh, dia buat aku kesal. Jadi aku buru-buru pergi darinya," jelas Naurin sedikit terjeda. "Perusuh? Siapa? Jeno?" tanyanya semakin penasaran. "Bukan. Dia ... kekasihnya Jeno. Perempuan yang sudah merusak dan menghancurkan rumah tangga ku dan menjadi duri dalam hatiku," jelasnya kembali. "Maksudmu--kekasihnya Jeno? Apa dia membuat masalah padamu?" cecar Andra semakin penasaran. "Dia memakiku, dia sebut aku jalang yang naik ke ranjang pria kaya demi mendapatkan uang. Dia bilang aku frustasi berpisah dari Jeno hingga mencari pria liar. Aku geram, lalu menamparnya. Namun, dia tidak Terima dan terus memakiku," jelasnya dengan kesal. Naurin memajukan bibirnya sambil melipat tangannya ke d**a. Mengadu kepada Andra tentang apa yang menimpanya. Andra menghela napas sedikit kasar, mencoba tetap tenang meski hatinya sangat kesal dengan cerita Naurin. Pria itu meraih kedua dngan Naurin dan menggenggamnya. "Apa tanganmu sakit? Tangan mana yang digunakan untuk menampar?" tanyanya lembut sambil memeriksa telapak tangannya. "Ini." Andra mencium lembut telapak tangan Naurin dan mengusapnya. Meniup pelan, lalu menatap dalam wajah istri kesayangannya tersebut. "Masih sakit?" tanyanya lembut. Naurin menggeleng. "Lain kali jangan gunakan tanganmu untuk memukulnya. Kalau tanganmu sakit dan terluka bagaimana? Kamu akan kesulitan menyentuhku," ucap Andra setengah menggoda. "Kamu lagi goda aku?" "Bukan menggoda. Hanya mengingatkan. Kalau tangan kamu sakit, saya nggak bisa cium." "Kamu!" "Sudah jangan marah lagi. Kita makan siang, lepas itu, lanjut belanja. Kamu boleh belanja apa pun yang kamu suka sepuasmu. Kemudian, kita pergi ke tempat manapun kamu suka, oke." Setelah sedikit berdebat, Naurin akhirnya luluh dan mengangguk. Hatinya tidak lagi kesal karena bujuk rayu Andra yang membuatnya tenang kembali. ~~~ Sementara itu di tempat lain, tampak Wita mengamuk, ia menghempaskan seluruh isi meja saat tiba di rumah. Wanita itu berada di kamar dan terlihat kesal. "Dasar jalang sialan! Awas saja, aku akan buat perhitungan denganmu nanti!" geramnya. "Aku tidak akan biarkan kamu bahagia dengan siapa pun. Kamu tidak pantas mendapatkan itu semua. Hanya aku yang boleh bahagia! Orang sepertimu hanya boleh menderita dan meratap saja!" monolognya sambil mengepalkan kedua tangannya. ~~~ Jeno tampak uring-uringan di kantor. Wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat. Sean masuk ke ruang Jeno setelah mendapat izin darinya. "Permisi, Tuan. Ada beberapa dokumen yang harus Anda tandatangani. Silakan, Tuan, " ucap Sean sambil menaruh berkas di meja Jeno. "Apa ada perkembangan? Bagaimana penyelidikanmu?" tanya Jeno sambil menutup berkas. "Belum ada bukti pasti mengenai Nona Naurin sudah menikah atau belum. Namun, saya sering melihat Nona Naurin bersama seorang pria dan tampak mesra," jelas Sean. "Kurang ajar! Naurin keterlaluan! Apa dia begitu kesepian hingga pergi bersamaku pria liar!" geram Jeno sambil mengepalkan tangannya dan meninju meja. "Selidiki laki-laki itu. Pastikan berita akuratnya! Terus awasi Naurin!" perintahnya. "Baik, Tuan." Sean pamit undur diri dengan sedikit bingung. Apa sebenarnya yang diinginkan Jeno sampai harus terus meminta Sean menyelidiki Naurin dan Andra? "Sampai kapanpun, aku tidak akan rela kamu bersam pria lain! Kamu hanya milikku! Hanya aku yang boleh menyentuh dan memperlakukanmu apa saja! Tidak akan aku biarkan kamu bahagia dengannya!" ucap Jeno. Hari-hari Naurin sepertinya tidak akan tenang. Ada dua pengganggu yang terus meneror dan membuatnya naik darah. Harus ia hadapi meski ia tidak ingin dna berusaha untuk menghindari. Jeno dan Wita tidak akan begitu saja membuat hidup Naurin tenang dan damai. Ada saja gebrakan yang mereka keluarkan untuk membuat hidup Naurin uring-uringan. Andra pun harus lebih waspada dan siaga menjaga Naurin agar tetap terlindung dan hatinya tetap tenang. Sehingga taruma Naurin dapat terobati dan ia kembali normal seperti sedia kala. *** Andra berada di kamar bersama Naurin. Mereka tampak berbicang ringan sambil bercanda. Untuk sesat, kesedihan Naurin berkurang. "Aku bersyukur memiliki kamu. Kamu selalu bisa buatku tersenyum. Kami sangat baik dan begitu tulus padaku. Semoga akan terus seperti ini, selalu bersama untuk selamanya," ucap Naurin lembut. "Saya juga bersyukur akhirnya kita bisa bersatu kembali. Meski akan ada banyak rintangan yang akan kita lalui. Namun, saya yakin, kita mampu melaluinya. Kamu juga sudah membalas ketulusanku. Kamu tahu, kamu itu sangat penting dan berharga untukku. Apa pun akan saya lakukan demi membahagiakanmu. Akan tetapi, ada yang lebih penting." "Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD