"My little star," panggil Andra lembut.
Naurin mendongak dan menelan ludahnya. Jantungnya berdetak dia kali lebih cepat dari normal. Wanita itu sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepada Andra, ia takut akam membuat Andra cemburu dan emosi.
Kedua mata Andra memberi kode, ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan Naurin yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya ... tadi--Jeno ingin aku kembali padanya. Dia juga membuatku kesal karena dia menghinamu. Aku melampiaskan amarahku dengan memakinya, lalu pergi. Aku tidak ingin cerita padamu karena takut kamu akan kesal dan emosi. Aku ...."
"Naurin, saya mengerti perasaan kamu. Saya lebih suka jika kamu jujur. Soal emosi dan kesal. Ya, saya akui. Namun, saya masih bisa mengontrolnya. Kamu tidak perlu khawatirkan itu. Terpenting sekarang, kamu bahagia denganku. Soal Jeno, saya akan coba bicara baik-baik dengannya agar dia tidak mengganggumu lagi," jelas Andra sambil menatap dalam Naurin dan menggenggam kedua tangannya.
"Sebaiknya Kak Andra jangan menemuinya. Jeno bukan laki-laki baik. Dia mudah emosi dan aku takut dia akan menyakiti kamu," cegah Naurin khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir. Saya tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi orang seperti dia. Bagaimana pun juga, saya harus bicara dengannya. Saya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dan terancam. Jeno orang yang cukup berbahaya dan tidak mudah menyerah. Kamu percaya padaku, bukan?"
Andra berusaha meyakinkan Naurin, ia paham keresahan yang dirasakan istrinya tersebut. Andra merasa terusik dengan sikap Jeno yang keterlaluan pada istrinya.
Naurin menghela napas sedikit kasar. Memejamkan kedua matanya sejenak dan membukanya cepat. Menatap Andra dengan intens.
"Aku percaya sama Kak Andra. Janji sama aku, kamu jangan sampai terluka karena Jeno. Seperti katamu, Jeno orang yang berbahaya. Kamu harus hati-hati dengannya. Dia tidak sesederhana yang kita kira," putus Naurin.
Wanita itu menyetujuinya dengan berat hati. Namun, ia yakin Andra mampu menghadapi Jeno dengan lebih bijaksana.
"Saya janji akan baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Kak."
Andra memeluk Naurin dan mencium puncak kepalanya sambil mengelus rambutnya.
Naurin, saya berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, apalagi membuatmu terluka. Tidak akan saya biarkan sehelai rambutmu jatuh dan membuatmu sedih. Saya mencintaimu, Naurin, sangat mencintaimu.
Andra membatin sambil terus memeluk Naurin. Sejak dulu, begitulah Andra. Perasaannya tidak pernah berubah dengan Naurin, meski keduanya sempat berpisah dan meninggalkan luka dalam. Namun, kekuatan cinta keduanya telah mempersatukan mereka kembali dalam ikatan pernikahan yang suci.
***
Andra menghampiri Jeno yang tengah duduk di kafe tidak jauh dari kantornya. Terlihat sangat santai berjalan. Dengan kedua tangan berada dalam saku celananya. Jeno pun tampak santai menikmati cappucino dan kudapan sambil memainkan ponselnya.
"Jeno, bisa kita bicara?" tanya Andra pelan.
Jeno mendongak dan menatap ke arah Andra. Senyum seringai tampak di sudut bibirnya.
"Silakan duduk," jawabnya singkat.
"Apa kamu ke sini ingin melabrak ku karena kemarin aku bertemu istrimu?" tanyanya curiga.
Andra menghela napas sedikit kasar. Mengatur napasnya untuk tetap tenang menghadapi Jeno.
"Bukan melabrak. Lebih tepatnya, bicara ringan denganmu. Kenapa kamu selalu mengganggunya? Bukankah kalian sudah berpisah dan kamu yang menginginkan perceraian itu," ucap Andra santai.
Jeno kembali tersenyum. "Aku ingin dia kembali padaku. Orang tuanya sudah sepakat menjodohkan ku dengannya. Aku tidak benar-benar melepaskannya," jelasnya remeh.
"Kalian memang menikah karena perjodohan. Namun, kamu sudah resmi menceraikannya. Kamu lepaskan atau tidak, Naurin sudah menjadi istriku dan kamu harus menerima kenyataan itu," jelas lelaki itu.
"Aku masih mencintainya."
"Mencintainya? Kamu memperlakukan dia dengan buruk. Selalu menyiksanya setiap hari. Melampiaskan amarah dan meninggikan egomu. Bahkan kamu selingkuh dengan terang-terangan di depannya. Apa itu yang kamu sebut cinta?"
"Apa dia ceritakan semua padamu? Aku hanya memberikan pelajaran agar dia menjadi istri yang patuh. Kamu tahu, kami menikah sudah tiga tahun. Banyak hal yang kami lakukan. Bahkan aku sudah sering bercinta dengannya. Mencumbunya, menyentuh tubuhnya dan menikmati kebersamaan bersama. Semua tidak terhitung jumlahnya. Aku merasa kurang puas dengannya, jadi aku cari wanita lain yang bisa memuaskanku."
Andra mendelik, kedua tangannya mengepal mendengar penjelasan Jeno. Menahan amarah yang hampir memuncak.
"Memberikan pelajaran? Kamu bilang dia tidak bisa memuaskanmu? Bagaimana dia bisa memuaskanmu jika kamu saja tidur terpisah dan tidak pernah menyentuhnya sedikitpun. Tanganmu hanya kamu gunakan untuk menyiksanya kapan saja kamu suka dan mau. Bahkan ibumu mendukungmu. Kamu tidak pernah mencintainya. Kamu menikah dengannya hanya ingin menyiksa dan membuatnya menderita!" geram Andra.
Jeno tersenyum remeh. "Jadi wanita itu cerita begitu padamu. Dulu memang aku tidak mencintainya. Namun, setelah berpisah, aku jadi mencintai dan ingin mengejarnya kembali. Aku ingin dia kembali padaku dan menjadi istri penurutku!" ucapnya dengan yakin.
"Mimpi! Selama saya masih hidup, saya tidak akan pernah melepaskannya. Apalagi harus menyerahkan dia kepada laki-laki b******k sepertimu!" seru Andra.
"Kalau begitu kamu mati saja. Supaya aku bisa mendapatkannya kembali," jawabnya asal.
"Kurang ajar! Mulutmu sungguh kotor dan berbisa. Pantas saja Naurin begitu membencimu. Kamu memang bukan manusia. Bahkan hewan saja masih punya perasaan," kesal Andra, tetapi masih menahan amarah.
"Naurin sangat mencintaiku. Dia hanya kurang patuh padaku. Jadi, aku memberikan pelajaran supaya dia patuh," ucap Jeno remeh.
"Dasar nggak waras! Sakit jiwa kamu, Jeno!"
Jeno tersenyum remeh. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan kekesalan Andra. Membuat Andra semakin geram dibuatnya.
"Saya peringatkan, jangan pernah ganggu Naurin lagi! Jika kamu nekad, jangan salahkan saya bertindak kejam padamu!"
Andra bangkit dari duduk dan berkata ketus. Kemudian, melangkah meninggalkan Jeno yang masih duduk tenang di kursinya. Jeno tersenyum miris dengan perkataan Andra.
"Lihat saja. Aku akan dapatkan Naurin kembali dan aku tidak akan pernah melepaskannya!" geramnya, kedua mata Jeno menatap tajam ke asam jendela kafe dan napasnya terdengar bergemuruh menahan amarah.
~~~
Naurin tengah berada di pusat perbelanjaan, ia sedang menikmati liburannya dan membeli beberapa barang. Tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita seksi yang juga tengah berbelanja tersebut.
"Maaf, saya ... kamu ...."
"Kamu! Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Aku pikir, kamu sudah mati bunuh diri setelah berpisah dari Jeno," sarkasnya yang membuat telinga Naurin sedikit panas.
Naurin tersenyum kecut. "Apa kamu merasa kesal melihatku masih hidup sampai sekarang?" ucapnya dingin.
"Naurin, Naurin. Aku justru senang melihatmu masih hidup. Dengan begitu, aku lebih bisa menyiksamu," ucap wanita seksi itu dengan senyum menyeringai.
"Oh, begitu."
Naurin malas meladeni wanita seksi itu, ia hendak melangkah. Namun, langkahnya terhenti.
"Berani sekali mengabaikanku! Apa karena kamu sudah berpisah dengan Jeno, lantas menjadi sombong seperti ini? Sudah berhasil menggait pria kaya dan naik ke ranjangnya sampai kamu sombong sekali seperti ini?" sarkasnya.