Bab 13 Pengganggu

1032 Words
Andra melepaskan pelukannya dan menangkupkan wajah Naurin. Menatapnya dalam. Naurin membalasnya dengan tulus. Kali pertama Naurin menatap Andra cukup lama. Mereka saling bersitatap tanpa kata. "Naurin, jangan bersedih lagi. Saya akan selalu buatmu bahagia," ucapnya lembut. "Terima kasih, sudah hadir di hidupku dan selalu buatku nyaman dan aman," balas Nauirm lembut. "Umm. Sekarang, istirahat, ya. Kamu pasti lelah seharian ini." Andra merebahkan tubuh Naurin dan menyelimutinya hingga ke d**a. Menatap Naurin dan mengecup puncak kepalanya mesra. "Tunggu dulu!" Naurin mencegah Andra berlalu. Pria itu menautkan kedua alisnya. "Ada apa, Sayang?" tanyanya penasaran. "Kenapa kamu sudah kembali? Katanya mau ketemu klien?" "Tadinya memang mau ketemu, tapi ditunda karena ada masalah dari pihak mereka." Andra beralasan, padahal, dia sendiri yang membatalkannya karena khawatir dengan Naurin yang pulang sendirian. "Bukan karena aku?" curiga Naurin. Andra membuang kasar napasnya dan duduk di samping Naurin. Kemudian tersenyum penuh arti. "Salah satunya. Namun, memang benar ada pembatalan hari ini karena masalah. Selain itu, aku juga khawatir denganmu. Untung mereka membatalkannya, jadi saya bisa kembali. Benar saja, bukan? Kamu di ganggu sama mantan suamimu itu," jujurnya pada akhirnya. Naurin menghela napas kasar. "Maaf, aku selalu membuatmu khawatir. Aku ...." "Tidak perlu meminta maaf, menjagamu adalah kewajiban saya sebagai suami. Tidak perlu sungkan." "Iya, tapi ...." "Sudahlah, Sayang. Jangan berdebat lagi. Tidur, ya sudah malam," ucapnya. Andra mengecup mesra puncak kepala Naurin dan merebahkan diri di sampingnya. Menyudahi obrolan mereka dan terlelap melepas penat. ~~~ Sementara itu di tempat lain, seorang pria tampak mengamuk di ruang kerjanya. Menyibak semua isi di meja hingga menghambur ke lantai. Suara gemuruh terdengar saat benda-benda itu jatuh menyentuh lantai. "Sial! Keterlaluan kamu Naurin! Beraninya memukul dan menghinaku dan membela pria itu!" serunya dengan geram. "Aku tidak akan rela melepaskanmu dan tidak akan membiarkanmu bersama pria itu! Kamu hanya milikku, Naurin. Aku akan merebutmu kembali dari pria itu! Tunggu saja sampai aku bisa melakukannya!" monolognya geram. *** Keesokan harinya, Naurin pergi ke minimarket untuk membeli kebutuhan rumah yang habis. Kebetulan hari libur, jadi ia memanfaatkannya untuk berbelanja. Sementara Andra, ada tugas keluar kota untuk beberapa hari. Ketika sedang asik memilah dan memilih barang-barang belanjaannya, tiba-tiba ada yang menarik tangan Naurin dan membawa paksa wanita itu, menjauh dari keramaian. Lepaskan aku! Lepaskan!" Naurin meronta, ia berusaha keras melepaskan genggaman orang itu. Setelah menemukan tempat cukup sepi, orang itu melepaskan genggamannya. "Kamu!" "Kenapa? Kamu terkejut?" tanyanya sedikit ketus. "Apa pukulan kemarin belum membuatmu jera? Mau apa kamu membawaku ke sini? Mau aku pukul lagi?" tanyanya ketus. "Jangan terburu-buru begitu. Aku hanya ingin bicara denganmu," ucapnya santai. "Aku tidak punya waktu meladenimu!" "Tapi aku punya waktu. Apa kamu takut suamimu itu melihatmu denganku?" Naurin tersenyum remeh. Sebenarnya ia malas meladeni laki-laki b******k itu. Namun, ia juga sadar tidak akan bisa menghindarinya. "Kenapa harus takut? Memang aku berbuat salah? Oh iya, berbuat salah, salah karena aku bertemu denganmu!" ucapnya dingin. "Bukankah kamu ingin dimanja dan disayang? Aku bisa melakukannya sekarng. Asal kamu mau kembali padaku." Kembali padamu? Mimpi! Aku tidak butuh perhatian dan kasih sayang darimu! Bukankah kamu sudah membuangku? Untuk apa kamu repot memungut ku kembali?" Kalimat Naurin semakin meninggi. Wanita itu sangat kesal dengan pengganggu yang terus mengganggunya setiap saat. "Naurin!" "Kamu ini kurang kerjaan, ya? Ganggu aku terus tiap hari. Kenapa? Kamu nyesel berpisah dariku? Enggak rela aku dapat pria yang lebih baik segalanya darimu? Apa kamu dicampakkan kekasihmu sampai mengejarku kembali?" cecar Naurin sambil menahan kesal. "Aku hanya kasihan padamu. Begitu frustasinya berpisah dariku, malah mencari pria liar untuk menemanimu. Kalau kamu kembali padaku, aku akan memuaskanmu. Tidak perlu cari pria liar untuk menemanimu," sarkas pria itu meremehkan. Nauien tersenyum kecut, ia mengepalkan kedua tangannya dan menahan geram. "Apa yang kamu tertawakan?" "Aku sedang menertawakan hidupmu. Kamu uang tidak rela melepaskan aku dan menyesal, bukan? Makanya kamu terus mencari dan mengejarku." "Naurin!" "Tidak perlu berteriak padaku! Dengar baik-baik! Aku sudah menikah dengannya. Dia bukan pria liar seperti yang ada dalam pikiranmu! Dia suami sahku! Jadi, aku sarankan kamu menjauh dan menghilang dari hidupku, selamanya!" seru Naurin dengan geram. Wanita itu melangkah pergi setelah cukup lama berdebat. Pria tersebut merasa kesal dengan sikap Naurin. Ingin mengejarnya. Namun, ia mendapat panggilan telepon yang membuatnya mengurungkan niatnya. ~~~ Naurin melenggang cepat, hatinya sakit dan kesal dengan sikap pria itu yang selalu menguji kesabarannya. Ya, dialah Jeno, mantan suami yang telah memporak-porandakan hidupnya. Tidak pernah membiarkan Naurin hidup tenang walau sebentar saja. "Dasar Jeno b******k! Kenapa selalu muncul di hidupku? Benar-benar menjengkelkan! Geramnya!" omel Naurin saat tiba di rumah. Wanita itu mengurungkan niatnya berbelanja. Dia kembali ke rumah dengan hati kesal dan menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Suara ketukan pintu dan salam tidak dihiraukan. Sesorang masuk menghampirinya, ia terkejut mendapati wanita itu yang begitu kacau. "Sayang, kamu kenapa? Katanya tadi belanja? Kok sudah pulang? Mana belanjaannya?" tanyanya penasaran. Naurin terkejut dan segera bangkit. Merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Ka--Kak Andra. Kok sudah pulang? Katanya tiga hari lagi?" Bukannya menjawab, Naurkn malah balik bertanya dengan gugup. Melihat suaminya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya. "Saya merindukanmu, jadi cepat kembali. Kebetulan urusannya sudah selesai, jadi bisa cepat pulang. Tidak jngin memelukku?" jelasnya sambil merentangkan kedua tangannya. Naurin tersenyum. "Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu," Ucapnya sambil memeluk Andra. Andra membalas pelukan Naurin. Untuk sesaat, mereka larut dalam buaian. Melepas rindu yang meski belum lama mereka berpisah, tetapi begitu merindu. Setelah cukup lama saling berpelukan, Andra melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Naurin. Menatap wanitanya dengan begitu lembut dan tulus. Ada kerinduan mendalam di balik kedua mata elangnya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku," protesnya. Naurin menghela napas kasar danenelan ludahnya. Kemudian, ia beranikan diri menatap Andra. "Aku .... tadi aku bertemu Jeno di minimarket. Tiba-tiba dia menarik tanganku dan memaksa untuk bicara. Ya aku jadi bete dong," jelasnya smabil memajukan bibirnya. Andra tertawa gemas melihat istrinya yang imut itu saat merajuk. "Kenapa malah tertawa?" tanya Naurin sedikit kesal. "Kamu lucu kalau lagi marah begitu," godanya sambil menjawil hidung Naurin. "Kamu meledeku?" kesal Naurin smabil membuang muka. "Jangan marah saya hanya bercanda. Sayang, kamu tapi nggak papa, bukan? Jeno nggak nyakitin kamu, 'kan?" ucapnya sambil memperhatikan wajah dan tubuh Naurin. Andra takut terjadi apa-apa pada wanita itu setelah bertemu dengan Jeno dan tidak ada dirinya yang menjaga Naurin. "Aku ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD