Bab 12 Sepenggal Kisah

1041 Words
Andra datang mendekat dan langsung menepis tangan laki-laki yang hendak menyentuh Naurin itu. "Oh, jadi ini pria liar yang bersamamu? Apa kamu begitu tidak tahan bercerai denganku hingga dengan cepat mencari pria sembarangan yang bisa kamu ajak bersenang-senang bahkan tidur denganmu? Apa karena kamu tidak pernah aku sentuh, lantas kamu mencari pria lain untuk memuaskanmu?" Lagi, kalimat kasar itu lolos begitu saja dari mulut lelaki itu yang begitu menohok dan membuat sakit hati Naurin. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah pria itu hingga membuatnya terkejut dan darah segar pun menetes di sudut bibir pria itu. "Beraninya kamu menamparmu! Kamu pikir siapa dirimu? Dasar jalang murahan!" kesal lelaki itu. Plak! Tamparan itu kembali mendarat di wajah lelaki itu hingga ia memegangi wajahnya yang panas karena tamparan itu. "Kamu!" "Dia bukan laki-laki liar! Memangnya kenapa kalau aku tidur dengannya? Dia suamiku yang sah! Apa salah jika aku tidur dengan suamiku?" jelasnya dengan kesal. Laki-laki itu mendongak dan mendelik, ia terkejut bukan kepalang dengan ucapan Naurin yang begitu lantang. Pria itu tersenyum remeh. "Suami? Naurin, Naurin. Apa karena kamu tidak mau berpisah denganku dan masih mengharapkan aku hingga kamu harus mengatakan kebohongan ini? Apa kamu begitu frustasi sampai harus berakting seperti ini? Kamu dapat pria liar ini di mana?" ejeknya. "Kamu tidak percaya jika dia benar suamiku?" "Iya, tentu saja. Mana ada yang mau selain aku sama perempuan sepertimu?" "Baik, akan aku buktikan padamu jika dia benar-benar suamiku," ucapnya. Naurin menarik pelan tubuh Andra hingga mendekat ke tubuhnya dan meraih wajah Andra. Kemudian, ia mencium mesra bibir suaminya itu, membuat kedua pria itu terkejut dan mendelik. Namun, Andra yang peka membalas ciuman Naurin. Mereka saling berpagut cukup lama, membuat pria itu kesal dan langsung pergi dengan geram dan kedua tangan mengepal, meninggalkan dua insan yang tengah b******u mesra itu begitu saja. Naurin melepaskan ciumannya dan menunduk, ia malu dengan Andra meski mereka menikah sudah cukup lama. "Kamu kenapa merona begitu?" tanya Andra menggoda. "Emm, maaf, tadi itu--aku hanya ingin membuktikan padanya supaya dia tidak menggangguku lagi," jelas Naurin dengan sedikit gugup. Andra tersenyum tanpa kata. Dia gemas dengan sikap salah tingkah Naurin hingga pipinya merona merah bak tomat yang baru dipetik dari pohonnya. "A--aku janji tidak akan sembarangan menciummu lagi," sesal Naurin yang bingung. Andra meraih wajah Naurin dan menangkupkannya. Menatap lamat-lamat wajah cantik milik istrinya tersebut. "Kenapa harus malu begitu? Kita ini suami-istri yang sah secara hukum dan agama. Kamu boleh mencium atau menyentuh tubuhku. Semua ini milikmu. Mau coba menyentuh yang lain?" ucap Andra kembali menggoda Naurin. Naurin mendorong pelan tubuh Andra dan melangkah sedikit kesal meninggalkan pria itu. Naurin malu bukan kepalang dengan perkataan Andra yang begitu frontal. "Sayang, kamu mau ke mana? Hey! Tunggu saya!" Andra berseru sambil mengejar Naurin sambil tersenyum gemas melihat pola tingkah Naurin yang malu-malu tapi mau mau itu. Naurin tidak menghiraukan, ia terus melangkah tanpa banyak bicara. ~~~ Naurin tidak bicara sepanjang perjalanan. Hanya tertunduk sambil meremas ujung pakaiannya. Andra terus membujuk Naurin dan meminta maaf. Berharap Naurin mau memaafkannya. "Sayang, maafkan saya. Saya hanya bercanda dan menggodamu, tidak bermaksud membuatmu kesal. Jangan marah, ya. Saya janji tidak akan menggodamu seperti ini lagi," ucap Andra sambil memeluknya dari belakang saat tiba di rumah. Naurin bergeming, suasana hatinya mendadak galau. Sebenarnya, ia tidak marah dengan Andra, hanya merasa canggung dan malu. Meski mereka pernah menjalin hubungan, tetapi Andra begitu menghargai dan selalu meratukannya. Tidak pernah menyentuh Naurin tanpa seizinnya. "Sayang, saya ...." "Kak, aku tidak marah sama Kak Andra. Aku hanya merasa belum siap dan terlalu terburu-buru. Selama ini, kamu tidak pernah sembarangan langsung menyentuhku tanpa izin. Namun, aku malah ...." "Sayang, tanpa izin pun kamu boleh menyentuhku. Apa kamu lupa? Kita ini suami-istri. Sudah saya katakan apa pun boleh kamu lakukan pada tubuh ini." Andra melepaskan pelukannya dan menghadapkan tubuh Naurin menghadapnya. Menangkupkan wajah Naurin dan meyakinkan wanita itu. Kemudian, tangannya beralih menggenggam tangan Naurin dan menuntun perlahan sebelah tangan wanita itu ke wajahnya. "Tatap saya. Saya sangat suka kamu sentuh. Boleh saya cium kamu?" ucapnya lembut. Naurin mengangguk pelan. Andra mencium bibir Naurin lembut. Mencumbunya hingga membuat Naurin melayang. Belum pernah ia rasakan sensasi seperti ini. Jangankan bercinta, berciuman seperti ini pun tidak pernah. Andra melepaskan ciumannya dan kembali menangkupkan wajah Naurin. Mengusap lembut jejak air liur yang tertinggal di bibir Naurin dan menatapnya dalam. "Ini pertama kalinya aku melakukannya. Seumur hidupku, kamu laki-laki pertama yang menciumku," ucap Naurin pelan. "Apa dia tidak pernah menyentuhmu sama sekali?" tanya Andra penasaran. Naurin menggeleng. Wanita itu melepaskan tangan Andra dari wajahnya dan melangkah ke arah ranjang. Kemudian duduk di tepinya. Naurin menghela napas sedikit kasar. "Semenjak aku menikah dengannya, dia sama sekali tidak pernah menyentuhku. Kami tidur terpisah. Bahkan, ketika malam pertama pun, dia pergi dan membiarkan aku sendiri di kamar," jelas Naurin. Raut wajahnya berubah sedih, kala ia harus kembali mengingat masa lalu yang menyakitkan itu. Andra mendekat dan duduk di sampingnya. "Lalu, bagaimana luka-luka di tubuhmu bisa seperti ini? Apa dia menyiksamu?" tanya Andra kembali semakin penasaran. Naurin menghela napas kasar. Dia mencoba untuk menahan air matanya. Sebenarnya, ia tidak ingin cerita pada Andra. Namun, cepat atau lambat Andra pasti akan mengetahuinya. "Dia selalu melampiaskan amarahnya padaku. Menyiksaku jika aku tidak patuh padanya. Dia bahkan berani selingkuh terang-terangan di depanku. Membawa wanita lain untuk b******u dan menjalin kasih dengannya tanpa memedulikan perasaanku sedikit pun. Dengan wanita itu dia begitu lembut dan menyayanginya. Sedang denganku, dia tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang istri. Dia menganggapku seperti hewan peliharaan yang harus selalu menurutinya, jika tidak, dia akan menyiksaku hingga puas." Naurin menceritakan sepenggal kisah hidupnya yang menyakitkan saat bersama dengan laki-laki yang menikahinya tiga tahun lalu. Andra geram dan terenyuh mendengar cerita Naurin. Wanita yang seharusnya di manja dan di ratukan, malah diperlakukan seperti hewan peliharaan yang bisa diperlakukan sesukanya. "Dasar b******n psikopat! Beraninya dia memperlakukanmu seperti ini! Kamu tenang saja, saya akan membalas setiap penderitaan yang kamu alami. Saya akan memperlakukanmu layaknya istri, memanjakanmu, bahkan meratukanmu selamanya. Saya akan selalu mencintai dan menyayangimu, seumur hidupku." Andra memeluk erat tubuh Naurin dan berkata dengan yakin. Sungguh, hati Andra benar-benar sakit dan terluka. Dia tidak rela, wanita yang sangat disayanginya hidup menderita dan disakiti pria hingga sedemikian rupa. Meningalkan luka dalam hingga trima dan sulit untuk terobati. Ada penyesalan yang terselip di dalam hati Andra. "Saya ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD