Naurin yang baru saja keluar dari toilet terkejut karena sudah di hadang oleh Andra di pintu depan tempat itu.
"Ke--kenapa Anda ada di sini?" tanyanya.
Naurin sedikit gugup dengan kedatangan Andra yang tiba-tiba itu.
"Kebetulan lewat. Kamu kenapa? Matamu merah, habis nangis?" tanyanya penasaran.
"Ahh, ini--mata saya tadi kelilipan," bohong Naurin.
Andra tersenyum tipis, ia mendekat dan menatap lekat Naurin. Pria itu tak lantas percaya dengan perkataan Naurin yang hanya beralasan saja.
"Kamu pikir saya baru mengenalmu? Saya tahu kapan kamu bohong dan jujur. Kamu habis menangis, bukan?" cecar Andra.
Naurin menunduk sambil meremas ujung roknya, seperti yang biasa ia lakukan saat tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"My little star,"
Naurin mendongak pelan, setiap kali panggilan itu diucapkan Andra, selalu membuat jantung Naurin berdegup kencang, darahnya berdesir dan tubuhnya sedikit bergetar.
"Ka ...."
"Saya permisi."
Andra menarik sebelah tangan Naurin dan mendorong pelan ke arah dinding. Mengunci tubuh wanita itu hingga Naurin kesulitan bergerak.
"A--apa yang Anda lakukan? Tolong lepaskan saya. Tidak enak jika ada yang lihat," Pintanya pelan dengan gugup.
"Katakan dengan jujur baru saya lepaskan."
Naurin terdiam. Sungguh, ia tidak ingin Andra tahu, pasti ia akan dicecar lebih dalam lagi olehnya.
"Harus saya cari tahu sendiri?"
"Sebaiknya Anda jangan ikut campur. Ini masalah pribadi saya."
Naurin tetap kukuh tidak ingin memberitahukan Andra, ia tidak ingin Andra menjadi kesal dan sudah pasti akan mencari laki-laki yang bertemu Naurin di kafe beberapa waktu lalu.
"Apa dia yang sudah membuatmu menangis? Kamu bertemu dengan laki-laki b******k itu?"
Andra terus mencecarnya. Bahkan ia. Mencurigai seseorang yang membuatnya emosi jiwa.
Naurin menatap Andra tajam, ia terkejut karena ternyata Andra tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"An ...."
"Naurin," panggilnya lembut.
Naurin membeku, lidahnya kelu. Tidak ingin mengeluarkan satu patah kata pun kepada Andra.
"Baik, jangan salahkan saya jika saya mencari tahunya sendiri. Kamu tahu, bukan? Saya paling tidak bisa melihat wanita yang saya sayangi menangis seperti ini," ucapnya tegas.
"Jangan. Anda jangan mencari tahu. Saya akan ceritakan semua pada Anda, tapi tidak di sini," cegah Naurin.
"Baik. Ikut ke ruangan saya."
Andra menarik pelan sebelah tangan Naurin dan menuntunnya ke arah ruangannya.
Setibanya di sana, Andra mengunci pintu dan mendudukan Naurin di sofa, lalu ia melangkah mengambil dua botol air mineral dari dalam lemari pendingin. Membuka tutupnya dan menyerahkan satu botol kepada Naurin.
"Minum dulu supaya kamu tenang," ucapnya lembut.
"Terima kasih."
Naurin menenggak air itu hingga habis setengah botol dan menaruh sisanya di meja.
"Sudah tenang? Mau cerita?" tanyanya lembut. Naurin mengangguk.
"Aku bertemu dia di kafe tadi," jujurnya lirih.
"Apa yang dia katakan padamu? Kenapa kamu sampai menangis seperti itu?"
Lagi, Andra bertanya untuk yang ke sekian kalinya. Naurin menghela napas sedikit kasar, berusaha untuk menenangkan hatinya yang tak menentu.
"Dia ... dia tidak banyak bicara, hanya--"
"Apa?"
"Katanya, dia mencariku dan memaksa ingin bicara denganku. Namun, aku menolak dan berlalu meninggalkan dirinya sendiri di sana," jelas Naurin.
"Syukurlah, dia tidak menyakitimu, lalu kenapa kamu menangis?"
"Karena ... dadaku terasa sesak dan hatiku sakit tiap kali bertemu dengannya."
"Kamu harus bisa melupakannya."
Naurin terdiam. Rasa sakit itu kembali menjalar, menembus hingga ke dalam sukmanya. Perasaannya campur aduk tak menentu.
Wanita itu mendongak dan tersenyum tipis. Kembali ia meratap getir nasib diri dan pernikahannya.
"Seandainya dulu saya tidak menerima perjodohan itu, mungkin, saya akan bahagia denganmu. Namun, sepertinya itu tidak mungkin. Kita juga tidak akan bisa bersatu.
" Maksudmu?"
"Sudahlah. Saya mau kembali kerja."
Naurin bangkit dari sofa dan melangkah ke arah meja kerjanya dengan gontai. Andra tidak mencegahnya juga tidak mau terus memaksanya. Pria itu tidak ingin Naurin semakin sedih dan tertekan.
Naurin, meski saya tidak tahu bagaimana kamu menjalani hidup selama tiga tahun pernikahanmu dengan laki-laki b******k itu. Namun, saya berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu. Menunggumu sampai kamu benar-benar bisa menerima saya sepenuh hati seperti dulu.
Andra membatin sambil menatap punggung Naurin yang semakin menjauh dari pandangannya. Merasa iba dengan Naurin.
~~~
Jeno tampak kesal, ia mengamuk dan menghempaskan semua barang-barang yang ada di meja kerjanya. Kedua tangannya mengepal dan ia tinjukan ke meja. Melampiaskan kekesalannya.
"Aku akan mencari dan bicara padamu. Tidak akan aku biarkan laki-laki mana pun mendekatimu. Hanya aku yang boleh mendapatkanmu," monolognya pelan.
Jeno menekan tombol pada telepon yang berada di mejanya yang tidak ikut menjadi sasaran kemarahan Jeno.
"Sean, ke ruanganku sekarang!"
"Baik, Tuan."
Tak berapa lama kemudian, Sean tiba si ruangan Jeno dan duduk berhadapan dengan Jeno setelah pria itu memberikan izin.
"Ada apa Tuan memanggil saya? Apa ada tugas?" tanyanya pelan.
"Aku mau kamu segera cari dan temukan wanita itu dan bawa kepadaku!" perintah Jeno.
"Baik, Tuan. Saya akan mencari tahu tentang keberadaan Nyonya Muda dan segera saya laporkan kepada Anda," jelas Sean.
"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" tanyanya dingin.
"Ini berkas yang Anda minta, Tuan."
Jeno mengambil berkas itu dan membacanya, ia tampak tersenyum puas melihat isinya.
"Bagus. Terus awasi dia, jangan sampai lengah!"
"Baik, Tuan."
Usai memberikan laporan, Sean pamit undur diri. Jeno menjatuhkan tubuhnya pada kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing.
***
Naurin tampak sibuk di ruangannya. Andra tampak memperhatikan sejak tadi. Pria itu sedikit gemas dan kesal. Pasalnya, Naurin sama sekali belum menyentuh minuman dan makanan yang Zio bawakan atas perintah Andra.
Pemuda itu mendekati Naurin dan berdiri di hadapannya. Kemudian, ia menutup paksa laptop Naurin. Wanita itu terkejut dan menatap kesal ke arah Andra.
"Apa yang Anda lakukan?" tanyanya sedikit kesal.
"Kamu belum makan dan minum apa pun semenjak datang. Belum sarapan juga pastinya. Saya sudah membawakan kamu makanan dan minuman, tetapi kamu belum menyentuhnya sedikit pun," oceh Andra.
"Saya belum haus dan lapar. Nanti saya makan."
Naurin menjawab malas. Kemudian, ia kembali hendak membuka laptop. Namun, dengan cepat sebelah tangan Andra menahannya.
"Saya bilang makan sekarang. Saya tidak ingin kamu sakit dan pekerjaan menjadi terbengkalai. Saya tidak mau dikatakan sebagai Bos yang tidak memperhatikan karyawannya. Makanlah dulu baru bekerja lagi," pintanya.
"Saya ...."
"Apa saya harus memaksamu?"
Naurin mendengkus kesal. Kemudian, ia mengambil makanan di meja dengan malas dan memakannya. Andra duduk di hadapan Naurin, memperhatikan wanita itu dengan gemas.
Pipi Naurin tampak mengembung karena mulutnya terlihat penuh dan dengan susah payah ia menelan makanannya.
Naurin yang merasa diperhatikan, menghentikan aktivitasnya dan menatao tajam ke arah Andra.
"Kenapa menatap saya seperti itu?"