Bab 7 Rumah Mewah

1081 Words
Andra tersenyum tanpa melepaskan tatapannya kepada Naurin, membuat wanita itu semakin kesal dibuatnya. "Anda pikir saya badut? Lucu, ya?" kesalnya. Andra menghela napas sedikit kasar dan menangkup kan wajah Naurin yang masih mengembung itu. "Kamu ini masih saja lucu dan menggemaskan saat menyantap makanan seperti ini. Pipimu mengembung seperti ikan buntal, tapi tetap imut dan lucu. Saya suka." Andra berkata sambil mengoyangkan pelan pipi Naurin. Wanita itu mendengkus kesal. "Jangan marah lagi. Lanjutkan makannya. Saya tidak akan mengganggumu lagi. Lepas itu, ikut saya menemui seseorang," jelasnya sambil kembali ke kursinya. "Bertemu seseorang? Siapa?" ulang Naurin penasaran. "Nanti kamu akan tahu setelah bertemu." Naurin menghela napas sedikit kasar, ia melanjutkan makannya tanpa banyak bicara. Tidak ingin banyak bicara dan malas berdebat dengan Andra. *** Satu jam berlalu, Andra membawa Naurin ke sebuah villa mewah dengan bangunan perpaduan antara Bali dan Jepang. Tiang bebatuan yang berdiri tegak di depan yang menyatu dengan pagar pintu masuk atau biasa disebut bedogol. Berfungsi sebagai pintu masuk atau gate guardian statue. Menurut kepercayaan bisa menyeimbangkan energi negatif dan positif sebelum memasuki pekarangan rumah. Bangunan rumahnya dibuat seperti rumah Jepang khas dengan gaya minimalis, fungsional, dan harmonis dengan alam. Menggunakan material kayu, tatami atau tikar jerami, serta pintu geser Shoji atau fusuma. Nuansanya begitu asri dan sejuk. Jauh dari hidup pikuk perkotaan yang banyak polusi. Naurin melirik dan memperhatikan ke arah sekitar hatinya penuh tanya. "Rumah siapa ini?" tanyanya penasaran. "Orang tuaku." "Apa? Orang tuamu?" tanyanya terkejut. "Umm. Saya mau pertemukan kamu dengan mereka. Sudah lama sekali tidak bertemu. Mereka merindukanmu," jelasnya lembut. "Apa? Tidak! Saya tidak mau! Mereka pasti membenci saya dan tidak mau menerima saya." Naurin memang baru mengetahui tentang vila itu. Dulu, kedua orang tua Andra tinggal di kota dan rumahnya tidak sebesar dan semewah itu. Wanita tersebut menolak, ia tidak ingin bertemu dengan orang tua Andra karena merasa bersalah dengan mereka. "Itu hanya perasaanmu saja. Mereka tidak membenci dan menyalahkanmu. Justru. Mereka merindukanmu." "Aku tidak mau! Aku mau pulang saja." Naurin balik badan, ia hendak melangkah. Namun, Andra menarik sebelah tangan Naurin dan menggenggamnya erat. Membawa Naurin melangkah masuk. "Masuklah. Mereka sudah menunggu kita datang," jelasnya pelan. "An--" Andra terus menuntun tangan Naurin, meski wanita itu meronta. Mereka berhenti di ruang keluarga. "Assalamualaikum, Ma, Pa. Ligat, siapa yang saya bawa," sapa Andra memberitahu. "Waalaikumsalam. Naurin!" "Naurin!" "Kak Naurin." Dena, Dayana, dan Dakari yang merupakan Ibu, Adik, dan Ayah dari Andra berkata dengan terkejut secara bersamaan. "A--Assalamualaikum, Om, Tante, Dayana," sapa Naurin sedikit gugup. Mereka berdiri dan menghampiri Naurin. Dena meraih kedua tangan Naurin dan menggenggamnya erat. "Waalaikumsalam. Apa kabar, Sayang? Sudah lama sekali kamu tidak ke sini. Tante kangen banget sama kamu." Dena menatap senang ke arah Naurin. Semua di luar ekspetasi Naurin. Wanita itu terkejut bukan kepalang atas sikap keluarga Andra yang tidak pernah ia bayangkan. "Sa--saya baik-baik saja. Tante bagaimana kabarnya?" tanya Naurin kembali. "Alhamdulillah, Tante juga baik-baik saja. Duduk, Sayang. Kita ngobrol." Dena menuntun Nauirn dan membawanya duduk di sofa ruang keluarga tersebut. Andra, Papa, dan Dayana mengekor dan ikut duduk bersama. "Om, Tante, saya mau minta maaf atas yang terjadi tiga tahun lalu. Saya telah menyakiti kalian dan mengambil. Keputusan yang salah. Saya .... " "Naurin, kami sudah tahu semuanya. Kami tidak menyalahkanmu. Semua salah ayahmu yang terlalu egois hingga kamu jadi seperti ini sekarang. Sayang, maafkan kami tidak bisa berbuat banyak untuk menolongmu. Kami ...." "Jadi, Om dan Tante sudah tahu tentang ... perceraian ku?" "Iya, Sayang." "Apa Kak Andra yang cerita?" "Iya, aku sudah ceritakan semua pada Mama dan Papa. Itu kenapa saya mengajakmu ke sini." Andra, Dena, dan Naurin terlibat percakapan. Wanita itu sedikit terkejut karena ternyata, kedua orang tua Andra sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi pada Naurin. "Kami tidak tahu yang terjadi dengan rumah tanggamu hingga kalian berpisah. Namun, kami tidak menyalahkanmu atas pernikahanmu dengannya. Naurin, kita tetap keluarga. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Kami tetap memperlakukanmu seperti anak sendiri." Dakari, ayah Andra yang sejak Naurin datang hanya diam pun angkat bicara, ia menjelaskan semuanya dan meyakinkan Naurin. Naurin menatap satu per satu orang-oeang itu. Hatinya terasa sakit dan rasa bersalah itu semakin menjalar. Tidak terasa, Naurin pun meneteskan air mata. "Hey, kenapa menangis?" Andra yang duduk di samping Naurin memperhatikan wanita itu yang tiba-tiba menangis. Andra refleks meraih wajah Naurin dan menangkupkannya. Kemudian, menyeka perlahan air matanya. Kenapa kamu selalu baik padaku, padahal aku sudah menyakitimu? Sangat berbeda sekali dengannya. Semenjak kami menikah, tidak sedikitpun dia menghapus air mataku, apalagi keluarganya, tidak hangat seperti ini. Saya semakin merasa bersalah dengan kalian. Naurin membatin, air matanya semakin luruh. Hatinya semakin sakit dengan kebaikan Andra dan keluarganya. Naurin selalu merasa aman dan nyaman berasa di tengah-tengah mereka. Wanita itu selalu merasa, ini lah yang di sebut 'rumah' "Hey, kok tambah deras air matanya? Kamu ...." "Tolong jangan seperti ini. Saya semakin merasa bersalah dan sedih. Kalian terlalu baik untukku," sela Naurin. "Sayang, apa kamu lupa tadi Tante dan Om bilang apa? Jangan merasa bersalah. Om dan Tante tidak menyalahkanmu. Kamu bisa jadikan kami tempat berbagi dan curahan hati. Kami siap mendengarkannya," jelas Dena kembali. "Terima kasih, Tante." Naurin memeluk erat tubuh Dena dan tak kuasa menahan air matanya hingga terjatuh kembali untuk yang ke sekian kalinya. Andra mengusap-usap punggung Naurin, berusaha untuk menenangkannya. ~~~ Setelah semuanya tenang dan berbincang bersama, Naurin serta Andra kembali pulang. Wanita itu tertunduk dan diam tanpa kata semenjak keluar dari rumah orang tua Andra. Pria yang duduk di sebelahnya itu meraih tangan Naurin dan menggenggamnya. Mengusap pelan punggung tangan Naurin. "Saya perhatikan, semenjak kita keluar dari rumah itu, kamu seperti ini, diam dan menunduk. Apa suasana hatimu sedang buruk? Maaf, jika saya tidak memberitahukan kamu, jika saya mau negajakmu ke rumahku," jelas Andra. Naurin mendongak dan menatap ke arah Andra. Kedua matanya masih sembab karena menangis tadi. Andra menghela napas berat dan tangannya beralih ke wajah Naurin. Menangkupkannya sambil kedua ibu jarinya mengelus lembut wajah sayu milik Naurin. "Kenapa Anda melakukan semua ini? Saya ssmakin merasa bersalah jika Anda dan keluarga Anda terus begitu. Saya ...." "Naurin, saya tulus mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang, perasaan itu tidak akan berubah. Saya tidak pernah merasa senyaman ini ketika bersama wanita. Hanya denganmu saya merasa nyaman," jelasnya. "Naurin, bisakah kita memulai dan membuka kembali lembaran baru dan melupakan semua masa lalu menyakitkan. Saya tidak peduli dengan masa lalumu. Izinkan saya merawat lukamu hingga sembuh. Menghapus semua trumamu. Beri saya kesempatan untuk bisa menanam kembali bunga-bunga cinta di hatimu yang gersang," lanjut Andra tanpa melepaskan tangkapannya. "Aku ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD