Bab 2. Perasaan Yang Aneh

1302 Words
Lorong hotel itu terlihat lengang. Tidak ada satupun yang terlihat sedang melintas, seolah tidak ada lagi kepentingan, selain istirahat dan tidur. Tujuan Leon kali ini adalah salah satu kamar presidential suite, tempat target keduanya bersembunyi, dari sebuah kenyataan hidupnya, sebagai seorang politisi korup. Kali ini langkah Leon lebih pelan tetapi penuh perhitungan. Tangan kanannya menggenggam senjata api kecil berperedam, di dalam saku blazer kargo yang ia kenakan. Tatapan matanya tajam, menuju ke salah satu kamar mewah, di bagian paling ujung, lantai 8, salah satu hotel berbintang. "Sial!" desis Leon. "Dalam satu hari aku harus eksekusi dua orang, segila itu kah aku?" Ia pun lantas mengusap kasar wajahnya dan mengumpat, merasakan penyesalan terdalam karena perbuatannya. Andai saja Elena tidak dimanfaatkan Rafael untuk memenuhi ambisinya yang kejam. Dalam benak Leon tergambar jelas, potongan memori masa kecilnya bersama Elena, sampai akhirnya ia dan adik kesayangannya itu melihat kedua orang tua mereka yang meregang nyawa, entah karena sebab apa, yang jelas, sejak saat itu Leon memutuskan untuk menjadi seorang polisi, dan terwujud saat ia dewasa. Tujuannya hanya satu, menyelidiki penyebab kematian tragis kedua orang tuanya dan memburu pelakunya. Leon bukan anggota polisi biasa. Ia adalah seorang agen rahasia yang cukup terlatih dan salah satu orang pilihan utama sang atasan, dalam setiap tugas berat yang dipercayakan padanya. Mirisnya, sekarang ia justru menjadi seorang penjahat yang cukup berbahaya. "Aduh!" pekik seorang gadis, membuyarkan lamunan Leon. Pemuda itu terkejut, ia lantas menepi, memberikan jalan pada gadis yang kini membuatnya terpaku, karena sedang menatapnya sembari menyipitkan mata, menatap Leon, curiga. "Maaf," ucap Leon. Jantungnya berdebar kencang saat mengingat jika gadis itu adalah sosok yang ia lihat sedang bicara dengan target pertama dan sempat menghalangi bidikannya. Tatapan mata gadis itu seketika membuat darahnya membeku. Ada sesuatu disana, yang cukup menggetarkan hati Leon. "Makanya lihat-lihat kalau jalan!" gerutu gadis itu, yang lalu melanjutkan langkah sembari mengomel pelan. "Maaf," ucap Leon, sekali lagi. Leon menatap punggung gadis itu hingga menghilang. Ia lalu buru-buru melangkah untuk melanjutkan misinya yang kedua sembari mengusap dadanya, mengusir desiran halus yang cukup mengganggunya. Leon berhenti tepat di depan kamar yang ia tuju. Ia memerhatikan sekelilingnya sebentar, sebelum akhirnya ia membuka pintu dengan mudah, sedikit curiga ia masuk tanpa suara bagaikan bayangan, lalu menutup dan mengunci pintu dari dalam. Kedua matanya berkilat, menatap tajam pada target keduanya yang sedang duduk manis, menikmati minuman keras di tangannya. Pria itu terkejut, lalu tersenyum pada Leon. "Masuk lah, aku sudah menunggu," ucap pria itu. Leon mengernyit heran, namun ia melangkah mendekati pria itu dengan sikap waspada. "Tenang, aku hanya sendirian di sini, wanita ku sudah ku suruh pergi," celetuk pria itu sembari terkekeh. "Duduk lah!" titahnya kemudian. Leon tetap berdiri diam, menatap tajam pada sang target, membuat pria itu lantas terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke, aku tahu waktumu tidak banyak," ucap pria itu. "Ambil dan lihat foto itu, lalu lakukan tugasmu dengan benar. Aku sudah membayar mahal untuk tugas ini." Leon memicingkan satu matanya, menatap pria itu lalu beralih pada selembar foto di atas meja, menampakkan wajah seorang gadis yang sangat cantik, yang cukup membuat jantung Leon kembali berdetak dengan begitu kencang. "Gadis ini ...," desisnya dalam hati. Ia lalu menyimpan foto itu ke dalam saku kiri, dan perlahan mengeluarkan tangannya yang menggenggam senjata, mengarahkan secara langsung ke wajah politisi itu. "Woah, gayamu cukup keren!" puji pria itu sembari tersenyum lebar. Namun bukan senyum bangga dan ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Leon. Pemuda itu justru menarik pelatuk dengan cepat, menembakkan timah panas yang kini bersarang tepat di dahi sang politisi itu. Pria terhormat itu terdiam untuk selamanya dengan luka menganga, tepat di dahinya, tanpa ia mampu bicara atau mempunyai waktu untuk menghindar. Leon menatapnya dingin dan tajam. Ia menyimpan kembali senjatanya ke dalam saku, lalu pergi dalam senyap, sebelum sosok lain yang benar-benar ditunggu oleh pria itu datang dan memergokinya. Setelah yakin aman, Leon masuk ke dalam lift dan melepas plastik yang membungkus sepatunya, lalu menyimpan ke dalam saku. Ia tidak boleh lengah atau meninggalkan jejak apapun disana. Hari ini ia beruntung, karena bisa masuk dengan mudah, tanpa harus susah payah mencongkel kunci. "Terget kedua, selesai!" desis Leon, sembari duduk menikmati kopi panasnya, di restoran, seberang hotel megah itu. Ia menatap gedung bertingkat itu dengan nanar melalui jendela kaca dan tersenyum pahit, saat tiba-tiba terjadi keributan disana. Ia yakin jika sudah ada yang menemukan jenazah pria terhormat itu. "Ada apa itu, ribut-ribut?" tanya Leon, iseng, pada beberapa pemuda yang baru saja masuk ke dalam restoran dengan wajah takut. "Ada pembunuhan," jawab salah satu diantara mereka, pelan dan sedikit berbisik. Dahi Leon mengernyit, pura-pura heran. "Jangan bercanda!" "Lihat saja sendiri kesana, Tuan, sebentar lagi polisi dan ambulans datang, kami sengaja kesini untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka." "Apa kalian terlibat?" "Nggak lah! Kami cuma nggak sengaja lewat di depan kamarnya waktu seseorang berteriak dan keluar dari kamar itu sambil berlari." "Lalu, kau masuk kesana untuk melihat?" Para pemuda itu saling tatap dengan raut wajah bingung dan takut. Salah satu diantaranya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu, acuh tak acuh. Salah satu yang lainnya mengajak pergi dari Leon. Leon mengangguk paham. Ia lalu membiarkan mereka pergi dan duduk di salah satu sudut restoran. Saat sirine ambulans terdengar dari kejauhan, Leon beranjak dari duduknya, melangkah ke kasir untuk membayar kopinya. Namun saat tepat di depan meja kasir ia tertegun dan terpaku, menatap wajah cantik seorang gadis, yang bertabrakan dengannya saat di hotel. "Halo, Tuan, apakah masih ada yang mau dipesan?" tanya gadis itu, sambil tersenyum hangat, tetapi sedetik kemudian senyum itu lenyap berganti tatapan tajam. Jantung Leon berhenti berdetak. Senyum itu menimbulkan desiran halus dan samar, dalam hatinya. Ada sekelumit perasaan aneh yang kini mengganggunya. "Tuan ...?" tegur gadis itu sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Leon. "Oh, maaf," ucap Leon sembari berdehem pelan. "Berapa semuanya?" tanyanya kemudian. "Hanya kopi dan setangkup roti bakar?" Leon mengangguk, tanpa menatap gadis itu. Ia merogoh saku, mencari lembaran uang yang sudah ia siapkan sebelumnya, namun sayang, plastik pembungkus sepatunya ikut keluar dari saku dan terjatuh tanpa ia sadari. "Totalnya sekian, Tuan," ucap gadis itu, sembari memberikan nota tagihan pada Leon, yang langsung dibayar dengan cepat. Setelah selesai, Leon buru-buru pergi. "Kembaliannya, Tuan!" teriak gadis itu, yang lalu melangkah keluar dari meja kasir, menyusul Leon. Sayangnya ia sudah ketinggalan jauh, Leon sudah menghilang dalam pekatnya malam. "Dasar manusia aneh!" gerutu gadis itu, yang lalu melangkah masuk ke dalam restoran, menuju tempat kerjanya. "Apa ini?" gumam sang gadis. Ia membungkuk mengambil plastik milik Leon yang terjatuh lalu membuangnya ke tempat sampah sambil menggelengkan kepala. "Kebiasaan buruk, buang sampah sembarangan!" desisnya, jengkel. "Mbak Maya, ada petugas polisi yang datang ingin menanyakan sesuatu," ucap seorang pelayan restoran, yang datang buru-buru, melapor pada gadis itu yang dipanggil Maya. "Polisi? Ada apa memangnya?" tanya Maya, heran. Pelayan restoran itu menggelengkan kepala, tidak paham. Dengan terpaksa, Maya kembali keluar untuk menemui petugas itu. "Apakah ada yang datang kesini, Nona?" tanya petugas itu sembari menatap penuh selidik pada Maya. Maya tertawa kecil. "Banyak yang datang, Pak, bisa Anda lihat sendiri," jawabnya sembari menunjuk ke dalam restoran, yang memang sedang ramai pengunjung malam itu. Petugas itu tertegun, menyadari kesalahan pertanyaannya. Maya menyeringai. "Apa Nona melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitar tempat ini dan hotel itu?" tanya petugas itu lagi. "Tidak ada, Pak. Sedari siang saya di dalam dan tidak memerhatikan di luar. Saya sibuk dengan pesanan online juga," jawab Maya. "Kalau tidak percaya Anda bisa bertanya pada semua karyawan saya," imbuhnya, tegas. Petugas itu menghela napas panjang. Ia lalu menuliskan sesuatu pada buku catatannya. "Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Maya. "Seorang politisi sekaligus publik figur ditemukan tidak bernyawa, di salah satu kamar hotel itu," jawab petugas, sembari menatap tajam pada Maya, yang saat itu terlihat sangat terkejut. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang menatap dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat sebelum akhirnya ia menghilang, karena melihat beberapa petugas berpencar, mencari sesuatu di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD